Bisa dilihat dari hasil observasinya pak Dhe,

Pemboran artesis pertama yang dilaporkan di Jakarta adalah di Benteng Prince 
Frederick tahun 1848 dengan kondisi artesis positif (flowing well) dengan 
ketinggian +2,4 meter... sayang sampai kemarin cari-cari sumur ini masih belum 
ketemu :(.. hanya saat ini muka airtanah di wilayah ini berdasarkan data pada 
sumur pantau adalah artesis negatif - 25 meter

Semarang... ini saya masih mencari informasi sumur tertuanya (mohon info dari 
rekan-rekan jika mengetahuinya), hanya ada data pada sumur pantau yang dibuat 
pada tahun 1970 memiliki kondisi artesis positif juga dengan ketingian +1,5 
meter saat ini telah menjadi artesis negatif -18 meter

Bandung.. pemboran pertama dilaporkan di stasiun Kereta Api Bandung dengan 
kondisi artesis positif dengan ketinggian + 4 meter .. saat ini juga telah 
menjadi artesis negatif.

Data pendukung lainnya adalah dengan menghitung head pada minimal 3 
piesometer/sumur pantau yang diletakkan pada sistem akifer yang sama dengan 
kedalaman yang berbeda. Untuk di Jakarta ini bisa dihitung di kompleks sumur 
pantau Senayan sedangkan untuk di Semarang ini bisa dihitung di komplek "kecil" 
sumur pantau di Distamben Jawa Tengah. Hanya untuk detail perhitungan dengan 
metode ini, mungkin kita diskusikan di gelanggang lain saja pak Dhe, agar tidak 
terlalu sulit untuk rakyat.


Salam,
Fajar (2114)
"Mohon dikoreksi jika ada yang memiliki data lebih akurat... terimakasih"

 


________________________________
 From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>

 
Mas Fajar,
Menarik sekali mengenai perubahan kawasan resapan ini. 
Apakah nilai (angka) resapan ini diukur atau diperkirakan berdasarkan 
parameter lithologi, tutupan lahan dll ? Maksud saya, apakah ada usaha (hasil) 
pengukuran jumlah air yang meresap setelah hujan, dan jumlah air yang menjadi 
runoff. 
 
Salam RDP

Kirim email ke