Parlemen di Taiwan dan Korea Selatan kalau debat lebih serem dari 
Senayan...pakai pukul-pukulan fisik segala.
Korea Selatan yang katanya tahun 70 an masih berada dibelakang Indonesia sejak 
perang Korea selalu diperintah diktator militer. Ingat nama-nama Park Chung 
Hee, Chun Do Hwan, Roh Tae Woo dan lain-lain. Mereka semua diakui memerintah 
dengan tangan besi. Park dan Chun terbukti bahkan terbukti bersalah melakukan 
kejahatan kemanusiaan dan dijatuhi hukuman mati walaupun kemudian mendapat 
pengampunan menjadi seumur hidup. Soal korupsi, tahun 80 an mereka juga tidak 
bersih-bersih amat. Konglomerat2  (Chaebol) mereka seperti beberapa chairmannya 
malah diseret ke pengadilan karena korupsi.
Jepang ? Saat ini masih hangat berita mengenai pabrik kamera beken Olympus yang 
dicurigai keras merupakan wadah cuci uang Yakuza. Katanya inipun cuma the tip 
of the iceberg ....
Dengar cerita dari mas Noor Syarifuddin yang baru melawat dan nyantri kilat di 
Mumbai dan Bangalore bahwa India itu jauh lebih kumuh dan miskin dari kita. 
Korupsi disanapun tidak kalah juga dengan tanah air, politik juga awut-awutan 
dan sangat primordial. Tapi kata beliau, saat bicara dengan para CEO maupun man 
on the street, mereka sama-sama optimis dan sama-sama concern untuk memajukan 
negaranya meskipun tanpa peran negara. Di gurun pasir sini kehadiran 'mafia 
hindustan' sangat terasa. Posisi dari penjaga toko sampai CEO mereka dominasi 
dan mereka sangat aktif memelihara dan mengembangkan jaringannya. Teman-teman 
yang di project engineering sering cerita bagaimana engineer-engineer dan 
konsultan India itu selalu aktif mempromosikan personel, bahan dan peralatan 
dari negaranya.
Point saya ? Anggap saja main bola. Kalau penyerang main jelek, tidak bisa 
bikin gol bahkan salah tendang ke gawang sendiri, apakah gelandang juga harus 
uring-uringan, marah-marahan, ikut-ikutan main jelek bahkan ikut bikin gol 
bunuh diri (sistem membuat kita harus begitu ) ?  
Ditulis sambil menikmati Real Madrid vs. CSKA .....Madrigal pancen oyeee.....
--- On Wed, 14/3/12, Eko Prasetyo <[email protected]> wrote:

From: Eko Prasetyo <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] No resource, become resourceful
To: [email protected]
Received: Wednesday, 14 March, 2012, 2:53 PM

Dan semua itu terjadi di negara2 yang punya resource besar tapi entah kenapa 
bisa dipimpin calo2 yang tuannya tinggal di negara2 kecil.
Coba lihat USA. Resource besar, dan negara adi daya.

Lalu coba lihat Indonesia. Meh.
Lalu coba lihat negara2 minim resource di kepulauan samudra hindia, atau di 
karibia. Apakah mereka "makmur" ?

On Wed, Mar 14, 2012 at 3:20 PM, Fadli Syarid <[email protected]> wrote:

Ada hipotesa menarik tentang negara yang punya SDA yang kaya cenderung 
mempunyai pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah 

dan hasil pembagunan yang lebih buruk di banding negara yang mempunya lebih 
sedikit SDA.
Hipotesanya di sebut Resource curse atau Paradox of Plenty bisa dilihat di 
wiki..http://en.wikipedia.org/wiki/Resource_curse


Kirim email ke