Shofi, Kata orang bijak" There is no universal silver bullet to solve this Swirr and Permeability issues". Semua pendekatan boleh-boleh saja. Secara teoritis, Swirr adalah Clay Bound Water + Capillary Bound Water. Jadi Swirr akan selalu lebih besar daripada nol, karena selalu ada air yang terikat secara elektrokimiawi di lempung dan secara fisika kapiler terjebak di rongga yang kecil. Swirr di bawah 10% untuk batuan klastik dan "water wet"? Sah-sah saja menurut saya, asal tidak nol nilai. Sekarang pertanyaannya: 1. Berapa kecil (how low can you go)? 2. Bagaimana kalau hasil pengukuran Porous Plate, Centrifuge, MICP dan NMR berbeda?
1. "Best practice" yang biasa saya lakukan adalah memanfaatkan data (paling tidak 50 data points) yang ada dengan mencari korelasi antara permeabilitas dan/atau porositas dengan "core saturation" (CSw atau CSo). Secara sederhana, buat crossplot CPERM (Core Perm) logaritmik di sumbu X dan CSw (Core Water Saturation) di sumbu Y. Pada nilai k ~ 0, CSw seharusnya = 1 (100%). Anda bisa lihat data CSw membentuk pola penyebaran seperti huruf Z yang landai. Asimtotik di nilai permeabilitas yang besar. Untuk mendapatkan persamaan empiris korelasi tersebut, ambil data dengan nilai Csw terendah dan berada di sekitar 5% dari populasi terbawah, buat persamaan (insert equation) secara grafis, mudah sekali jika anda pakai software Petrophysics komersial. Ilustrasinya saya buatkan di google document, semoga tautan ini bisa diakses. https://docs.google.com/open?id=1i_Yw5BEHq-gP5A51l2Mj98rWQETmRvYjmJ1R2vL0lQWyzbLTj90nmEJp8Oi- Persamaan tersebut adalah persamaan empiris yang berlaku untuk data set yang kita miliki. Berapa kecil/rendah-nya Swirr bergantung pada data tersebut. Masalah lain muncul, data-nya bias, karena orang punya tendensi untuk mengambil data "core plug" dari "spot" yang permeabilitasnya bagus dan ada minyak-nya :) Sehingga data yang ada tidak representatif. :( 2. Perbedaan hasil pengukuran Swirr dari metode yang berbeda adalah wajar. Karena prinsip kerja dan asumsi yang dipakai sudah berbeda. Data Porous Plate memang yang paling direkomendasikan. Tetapi data dari Centrifuge dan Mercury Injection (MICP) juga dapat dipergunakan dengan mengaplikasikan koreksi dan konversi (tekanan Hg) yang sesuai. Hitung tinggi kolom minyak maksimum (dari Free Water Level ke puncak struktur). Konversikan tinggi (column height) tersebut ke unit tekanan (psi atau kPa). Nilai tertinggi dari konversi ini akan menjadi limit atas data Cap Pressure yang akan dipakai. Anda tidak memerlukan data mercury yang 2500 psi Hg/Air (atau ekivalen 1350 kaki kolom minyak) atau lebih tinggi jika puncak reservoir maksimum hanya 800 kaki. Pc = h*0.433*(SG_brine - SG_oil). ~ ~( kira-kira hanya 70 psi working cap pressure). Data NMR punya kelebihan karena kita bisa membedakan "Clay Bound Water" (~ 3 ms relaxation time cut-off) dan kumulatif "Clay and Capillary Bound Water" (~33 ms cut-off). Kesimpulan, integrasikan semua data yang ada, buat referensi sendiri untuk daerah yang sedang anda kerjakan. Note: *Pc in psi, h in feet, SG_xx (specific gravity),* untuk *brine* 1 ~ 1.01 dan untuk minyak (0.72 ~ 0.8) Wassalam, -bg http://www.linkedin.com/in/bambanggumilar 2012/4/2 kartiko samodro <[email protected]> > saya pernah lihat report scal untuk clean sand reservoir, unconsolidated, > swirr bisa sampai 8% (kurang dari itu bisa menimbulkan tanda tanya ) jadi > untuk minimum swirr 10% bisa digunakan. > > > 2012/4/2 Shofiyuddin <[email protected]> > >> Rekans, >> barangkali ada yang share, berapa sih kira kira besarnya Irreducible >> water saturation (Swirr) untuk batuan klastik dan karbonat. Saya >> mendapatkan angka yang berbeda beda untuk setiap pengukuran core analysis >> (porous plate, centrifuge dan NMR). Apakah secara geologi Swirr dibawah 10% >> (pada batuan yang permeable) memungkinkan? kalo tidak, berapa yang >> reasonable? kalo dilihat hasil lab memungkinkan, tapi apakah realnya bisa >> dengan memperhatikan besarnya tekanan dan suhu reservoir? >> >> Kalo ada reference juga boleh. >> >> thanks sebelumnya. >> >> Shofi >> >> >> >

