Bung Bos, Saya usahakan untuk mendapatkan informasi ilmiah mengenai Bioreme-diation di Chevron dari sumbernya, maklum saya sudah pangsiun sebelum project ini mulai, akan saya share di maillist IAGI. Secara garis besar sbb: A. Jauh sebelum EPA lahir, praktek lapangan industri minyak dengan membuat ground pit sekitar sumur. Maksudnya, kalau ada testing kerja ulang sumur tumpahan minyak dan air formasi sementara ditampung di pits. Membuat jalanpun dengan menyiram minyak sbg pengikat soil. Saat itu blm disebut tumpahan karena masih dalam containtment, tidak langsung dibuang ke environment.
B. Sejak EPA diberlakukan difinition Spill berubah. Hydrocarbon dan formation fluids adalah toxic waste/B3. Semua B3 yang tumpah dari production System disebut Spill, walaupun dikolam halaman sendiri. Sehingga MNC segera meresponse dg banned siram minyak di jalan diganti digradable polymer. Kampanyekan program Pit closural. Ground pit digali sedalam tidak ada lagi trace minyak.. Tanah terkontaminasi dan sludge kemudian ditampung di tempat pusat penampungan limbah berizin.. Nah tumpukan limbah mau diapaan???? Setahu saya Chevron punya 2 tempat bioremidiation: wetland project utk refinery (SFO) dan bioremediation utk tanah seperti dilakukan di Bakersfield Calif. Kalau gak salah UU bioremediasi di Indonesia atas advocacy Caltex saat itu. Dari lesson learned Texaco di Colombia, ground pit di timbun tanah, atasnya tanami pohon sesuai UU saat itu. Setelah >20 tahun, real estate menggali fondasi ditmukan bekas pit... Hebooh Texaco harus bayar billions of $. C. Prosesnya simple; kerjasama expert lokal utk mencari jenis indigeneous spesies yang bisa mendegrade minyak dengan cepat, berkembang biak cepat dg pada iklim tropis... Tanah terkontaminasi di semprot dengan media nutrisi dan bakteri, dihampar pada bebrapa hektar dg alat berat, diawasi dimonitor hasilnya selama beberapa bulan.. Tujuannya semua zat yang bersifat toxic (spt benzene dll) bisa dieliminasi dibawah ambang. Project memang jangka panjang karena ribuan m3 yg harus diremediasi. D. Kejaksaan Agung melakukan SIDAK ke lokasi.. Kebetulan saat itu sedang persemaian (didiamkan agar bakteri bekerja) sehingga tidak ada kesibukan alat berat dan aktifitas lain.. Seperti nanam padi, habis tanam ya gak dicangkul terus. Thus, tidak ada kegiatan di lapangan dicap FIKTIF.. E. Siapa yang dicurigai terlibat: Semua GM Asset lapangan, yang tidak langsung berhubungan dg project biorem dan baru diangkat 2-3 th yll. jauh ssdh proyek biorem diputuskan. Padahal yg langsung terlibat adalah H SE manager dan SCM. F. Bung Bosman. Ini adalah solid waste contaminant beberpa puluh tahun yll, diproses secara kering, seperti bikin tape; beri aduk-2 aeration, kasih pupuk, diberi ragi, saccaromiceae, didiamkan beberapa bulan dimonitor dst. Tidak ada spill minyak dan nothing to do with ground water sistem. Demikian selintas bioremediation, saya menunggu info ilmiah dari Chevron.. Maaf kalau ada yg tidak akurat. Ruskamto NPA 1061 -----Original Message----- From: bosman batubara <[email protected]> Date: Mon, 7 May 2012 06:31:19 To: iagi net<[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: [iagi-net-l] Diskusi dari kasus Bioremediasi Chevron Hallo IAGI netter, Baru-baru ini di beberapa media ada pemberitaan soal korupsi di kasus bioremediasi Chevron. Saya coba simpulkan intisari berita dari yang saya baca. Kejaksaan Agung (Kejakgung) menetapkan 7 orang tersangka dalam kasus bioremediasi ini karena diduga proyek ini hanya fiktif dan merugikan negara sebanyak kurang lebih 200 M Rupiah. 5 orang tersangka berasal dari Chevron, dan dua orang lainnya dari rekanan (PT Green Planet Indonesia dan PT Sumigita Jaya). Saya mencoba mencari tahu apa yang dimaksud dengan "bioremediasi" dalam proyek ini. Saya menemukan sebuah fact sheet dari website Chevron Indonesia yang mendefinisikan bioremediasi sebagai: "sebuah proses yang menggunakan mikroorganisma atau enzim-enzimnya untuk meremediasi limbah secara selamat. Sebagai contoh bioremediasi dapat diterapkan untuk memfasilitasi proses penguraian minyak mentah dalam limbah oleh sejenis bakteri. Sebagai hasilnya, bioremediasi menjadi teknik yang terbukti paling umum digunakan dalam industri minyak untuk meremediasi, secara selamat, tanah atau air yang mengandung minyak mentah." Sayang sekali, sampai sekarang saya tidak bisa menemukan informasi lebih lanjut tentang proyek ini. Bagi saya personal kasus ini sangat menarik. Ada banyak pertanyaan yang muncul dalam kepala saya: 1. Apakah benar proyek ini fiktif? 2. Kalau tidak benar proyek ini fiktif, dimana kita bisa melihat model yang mereka buat untuk proyek ini (misalnya soil-water model, groundwater model)? 3. Dimana persisnya lokasi penerapan proyek bioremediasi ini? 4. Apa jenis kontaminannya? 5. Andai proyek ini benar fiktif, seberapa jauh kontaminan bakal menginfiltrasi soil dan akhirnya mengalami perkolasi ke aquifer? 6. Seperti apa attenuasinya (dillution, diffusion, retardation, degradation) di dalam aquifer? 7. Apa pengaruhnya terhadap interaksi dengan air permukaan, misalkan sungai atau sumur yang ada di sekitarnya? 8. Seberapa besar akuifer terkait menyumbang untuk aliran permukaan yang ada di sekitarnya (baseflow)? 9. Seberapa jauh damaknya terhadap groundwater-dependent ecosystems yang ada di sekitarnya? Dan banyak pertanyaan lagi..., Mungkin diskusi akan sangat mantap kalau kita bisa tahu dimana gerangan Chevron melaksanakan proyek bioremediasi ini dan seperti apa soil-water dan groundwater modelnya. tabik bosman batubara

