Pak Avi, 

 

Menurut saya yang berpendirian "Pokoknya Pertamina" adalah mereka yang bukan
merah putih maupun NKRI. 

 

Pertamina adalah perusahaan milik Pemerintah. Saya pernah terangkan bahwa
kepentingan Pemerintah dan Pertamina tidak selalu sejalan. Pertamina tidak
identik dengan Pemerintah.

 

Untuk memperjelas pengertian tsb. diatas saya akan ambil contoh orang tua
yang punya 3 anak, A, B, dan C. Anak A yang paling tua pingin masuk
Universitas diluar Negeri. Alasannya masuk akal. Kalau lulusan luar negeri
gampang cari pekerjaan, gaji tinggi, dsb. Namun sebagai orang tua, jalan
pikirannya lain. Kalau dia mengirim anaknya A keluar negeri dan karena
budget terbatas, maka anak kedua dan ketiga, B dan C, tidak bisa meneruskan
ke Universitas. Kalau lulusan SMA saja gaji mereka kecil. Sebagai orangtua
pikirannya ingin fair terhadap semua anaknya. Ya, kalau anaknya A bisa cari
duit cukup banyak hingga kedua adiknya nanti bisa dibiayaii untuk masuk
Universitas. Bagaimana kalau gajinya hanya pas-pasan. Bagaimana kalau dia
dapat istri yang pelit. Bagaimana kalau dia kecantol istri bule diluar
negeri. dsb. Sebagai orang tua, mereka melihat secara keseluruhan dan tidak
hanya mengikuti keinginan anaknya A.

 

Dalam contoh diatas orang tua adalah Pemerintah dan anak A adalah Pertamina.
Permintaan Pertamina untuk menjadi world class memang masuk akal hingga
dapat dukungan dari masyarakat luas perminyakan. Namun anak B mungkin dari
Angkatan Laut. Mereka bertanya kenapa modal harus diberikan kepada
Pertamina? Perbatasan Indonesia sangat porous. Pantai Indonesia yang
demikian luasnya kekurangan kapal patroli hingga ikan kita dicuri kiri
kanan. Penyelundupan mudah sekali, bahkan kapal tangker ukuran samudra bisa
keluar masuk seenaknya. Investasi di kapal-kapal pantai dan  surveilance
dari udara akan mencegah pencurian dan akan membawa keuntungan luar biasa
kepada Negara. Anak C mungkin dari Pertambangan Umum. Tambang kita dijarah
kiri kanan, tambang liar dimana-mana, wilayah kerja tumpang tindih, dan
pengrusakan lingkungan tidak terkontrol. Kalau saja diberikan budget kita
bisa mendirikan Kantor Wilayah Pertambangan dengan inspetor-inspector
Tambang hingga hal tsb. diatas bisa dihindari. Pasti divisa yang masuk
Negara jauh lebih besar daripada kalau investasi di migas. 

 


Pemerintah sebagai orang tua harus bijaksana, memikirkan secara keseluruhan
dan sebagai kesatuan. Uangnya terbatas. Selain itu, dia "risk averse", takut
mengambil risiko. Negara tidak bisa diajak "gambling". Negara ingin APBN
aman, budget dan gaji pegawai harus dibayar tiap bulan. Sedangkan anaknya,
Pertamina, jenis pekerjaanya memerlukan pengambilan risiko atau "risk
taker". Kasarnya "gambling". Diperhalus menjadi "calculated risk" dengan
menggunnakan perhitungan probability dan Expected Value. Ini adalah ciri
dari business perminyakan. Dengan perkataan lain, A, B, dan C, hanya
memikirkan sektor mereka sendiri. Jadi mereka bukan merah putih tulen (he he
he). Mereka tidak memikirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.   

 

Pedapat diatas mungkin lain dengan pendapat kebanyakan anggota IAGI? Maaf
Pak Avi kalau tidak berkenan. 

 

Salam sejahtera,

 

HL Ong 

 

 

 

From: rakhmadi avianto [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, October 18, 2012 3:47 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725
Million

 

Saya kira KEGAGALAN itu masuk resiko yg harus ditanggung, ngga mungkin dong
berhasil terus, tapi yg penting yg dilihat the whole port folionya dulu,
jangan dilihat satu satu aja. Misalnya dari Exploration reserves ADDnya brp,
tentunya reserves ADD yg di move dari P3 (hasil prospect generation) ke
P1/P2 bukan dari yg production acreage. Lah data ini kita kan tidak tahu. Yg
di sebutkan pak Ong kan lebih melihat gagal disini dan disitu, truz untung
tidak jadi masuk shg ga RUGI, ini kan sifatnya melihat kejelekannya saja.
Nah data yg komplit mengenai sepak terjang PTM ini tentu cuman bisa
diberikan oleh teman yg di PTM.

"Pokoknya Pertamina" menurut Avi adalah perlu terutama untuk blok Mahakam,
yg di Venezuela juga belum tentu jelek jadi terus terang is too soon to tell
lah, lagian ga mungkin kan orang Perancis mbelain PTM.

Ayo Pertamina maju terus pantang mundur.

Kalau kata orang bule "if you need any thing just tell me" ..... kita siap

Salam
Avi

2012/10/18 kartiko samodro <[email protected]>

Saya kira kalau memang banyak dana nganggur dan tidak terbatas justru
kesempatan bagi Pertamina untuk dapat berinvestasi dengan pertimbangan
matang dan hati hati ke seluruh pelosok dunia, sama seperti perusahaan
kelas dunia lainnya.

Tapi sekali lagi mungkin perbedaan perusahaan kelas dunia yg sudah go
public dengan pertamina yg belum go public adalah dalam menanggung
konsekuensinya.
Kalau perusahaan yg sudah go public saya kira akan lebih hati hati dan
banyak pertimbangan karena kalau sampai gagal berinvestasi maka
keuangannya juga akan langsung terganggu dan dikomplain habis habisan
oleh investornya, beda dgn Pertamina sebagai perusahaan yang
mengandalkan dana pemerintah yg mungkin tidak terbatas. Kalaupun gagal
tetap ditanggung oleh pemerintah which is ditanggung oleh seluruh
komponen bangsa melalui pajak.

Sangat mendukung Pertamina menjadi perusahaan multinasional
profesional dengan go public.


On 10/18/12, Achmad Luthfi <[email protected]> wrote:
> Pak Ong dan teman-teman IAGi,
>
> Memang sebaiknya kita suspend dulu Bravo untuk Pertamina. Seperti telah
> dipaparkan Pak Ong, bahwa Pertamina telah bermain di arena high risk dalam
> ekspansi upstream (unorganic strategy/Pertamina term), dan berbagai
> kegagalan-kegagalan telah dipaparkan Pak Ong juga. Kalau kita solid
sebagai
> bangsa dalam bernegara tentu tidak menginginkan BUMN seperti Pertamina
> mengalami kegagalan beruntun dimasa datang, karena itu minta Blok Mahakam
> bagi Pertamina adalah suatu yang mutlak perlu didukung oleh semua komponen
> anak Bangsa. Mengapa ada komponen anak Bangsa lebih pro TOTAL mendapat
> perpanjangan di Blok Mahakam ? Kurang peduli terhadap keinginan Pertamina
> untuk mengelola Blok Mahakam, ini sama dengan membiarkan kekayaan alam
kita
> dirampok oleh Perusahaan Asing, sementara Kita membiarkan Pertamina
> berkelana ke penjuru Buana menanam investasinya di High Risk Arena,
> kemungkinan gagal lebih besar. Bisa dibayangkan bagaimana bodohnya kita
> sebagai Bangsa dalam bernegara; Uang jutaan dollar Amrik milik Bangsa
> sendiri kita lempar ke luar negeri yang kemungkinan total lost cukup
besar,
> sementara keuntungan yang besar mungkin milyaran dollar Amrik kita biarkan
> dikeruk Perusahaan Asing seperti TOTAL, kita mengalami dua kali kerugian
> yang significant bahkan lebih.
> Pertamina punya dana besar, setelah minta Blok Mahakam sejak 2008 belum
> dapat kepastian maka dana yang ada di Pertamina sebagai perusahaan dinilai
> perlu diinvestasikan, akhirnya investasi jatuh ke Venezuela sementara
> Pertamina juga hunting ke Kazastan sambil tetap berharap mendapat Mahakam.
> Disadari dengan harga minyak yang tinggi tidak mudah untuk dapat membeli
> lapangan dengan cadangan dan produksi yang besar.
> Memang susah dimengerti apa maunya sebagian kalangan bangsa kita, Blok
> Mahakam dengan keuntungan dipelupuk mata tak tampak tetapi kerugian
> investasi d lautan dibiarkan.
> HAYOOOO BANGUN BANGSAKU, WUJUDKAN LAGU CIPTAAN KOESBINI....... BAGIMU
> NEGERI JIWA RAGA KAMI....
>>
>>
>> 2012/10/17 Ong Han Ling <[email protected]>
>>
>> Pak Yanto dan teman-teman IAGI yang "pokoknya Pertamina",
>>
>>
>>
>> Saya melihat tiga alasan mengapa teman-teman di IAGI memberikan "bravo"
> kepada Pertamina dalam pembelian 38% dari saham Petrodelta SA, perusahaan
> E&P, Venezuela. Karena (1) keberaniannya, (2) punya cash $725 juta, atau
> (3) mengharapkan keuntungan besar dari pembelian ini?
>>
>>
>>
>> Buat apa kita bangga kalau nantinya rugi. Jadi yang kita harapkan adalah
> keuntungan besar. Perusahaan yang menjual ke Pertamina, HNR Energia BV,
> adalah perusahaan swasta Belanda. Pasti dia jual kepada penawar yang
> tertinggi, mungkin saja lewat bidding. Dia jual dengan harga tsb. karena
> dia anggap ini menguntungkan baginya daripada kalau dia tahan. Dia juga
> punya alasan kuat kenapa mau dijual. Mungkin karena politik Chavez atau
> mungkin dia jenuh menghadapi peraturan di Venezuela, dll. Kebetulan
> perusahaan yang dipilih atau menang adalah Pertamina karena memberikan
> harga tertinggi. Mungkin juga HNR Energia BV adalah perusahaan TBK Belanda
> dan menjual di pasar stock exchange hingga semua orang bisa saja beli
> sahamnya; atau beli saham dari induknya, Harvest International Inc.
Artinya
> beli saham bukan suatu "big deal". Semua orang bisa. Yang pernah beli
saham
> mengetahui bahwa harga saham seperti yo-yo, bisa naik dan bisa turun.
>>
>>
>>
>> Dua contoh "kegagalan" yang terjadi baru-baru ini. Pertamina memberanikan
> diri bor dilaut dalam. Pertamina dengan partner StatOil ikut konsortium
> pemboran. Biaya bor diperkirakan sekitar $20-25 juta. Waktu gilirannya
> setelah dua tahun, biaya pemboran naik 3-4 kali. Padahal pemboran
> sekitarnya oleh perusahaan IOC semuanya gagal, tetapi Pertamina somehow
> tidak bisa mundur. Hasilnya negatif. Contoh  lain, tender di Papua,
> Pertamina berpartner dengan Shell dikalahkan. Protes ke ESDM, ditolak.
> Pemenang tender telah mengebor 10 well dan menghabiskan sekitar $70 juta.
> Hasil negatif. Pertamina lucky, padahal tadinya ngotot.  Memang eksplorasi
> jauh lebih tinggi risikonya dibandingkan Petrodelta yang melakukan
> explorasi dan produksi. Namun prinsipnya sama, pemenang tender blok migas
> belum bisa kita banggakan, belum tentu untung, kemungkinan untuk rugi
> besar. Memang kalau untung besar sekali.
>>
>>
>>
>> Jadi belum waktunya kita bilang "Bravo" kepada Pertamina. Hanya "waktu"
> bisa ceritera apakah pembelian ini  menguntungkan atau merugikan. Kalau
> sekarang ingin memberikan "bravo" kepada Pertamina, sebaiknya dibatasi
> karena keberanianya dan karena punya cash; bukan karena keberhasilannya
> untuk mendapatkan keuntungan bagi Negara.
>>
>>
>>
>> Maaf kalau pendapat saya berlainan dengan kebanyakan anggota IAGI.
>>
>>
>>
>> Salam,
>>
>>
>

----------------------------------------------------------------------------
----
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
----------------------------------------------------------------------------
----
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
REGISTER NOW !
Contact Person:
Email : [email protected]
Phone : +62 82223 222341 <tel:%2B62%2082223%20222341>  (lisa)
----------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the
email to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
<http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/IAGI-net> 
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any
information posted on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

 

Kirim email ke