makasih Avie

si Abah


________________________________
 From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Monday, October 22, 2012 1:12 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million
 

Bagus pak Yanto

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  [email protected] 
Date: Mon, 22 Oct 2012 05:02:12 +0000
To: iagi net<[email protected]>
ReplyTo:  <[email protected]> 
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million
Loud n clear....go head

Hs
Sent via BlackBerry® from Telstra
________________________________

From:  "Yanto R. Sumantri" <[email protected]> 
Date: Sun, 21 Oct 2012 21:58:02 -0700 (PDT)
To: [email protected]<[email protected]>
ReplyTo:  <[email protected]> 
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million

Test Test ya test

si Abah


________________________________
 From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Monday, October 22, 2012 9:05 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million
 


Cak Phie yth, 

Terkait statement p 
Ong, kita sedikit beda pak Phie, maksudnya ada yg sama dan ada juga yg 
berlainan. 

Menurut p Ong yang berpendirian “Pokoknya Pertamina” adalah mereka yang bukan 
merah putih maupun NKRI", sayapun tidak setuju.  Statemen tsb sangat 
menyesatkan, dpt diartikan, bahwa para oknum yg tidak suka pertamina dan pro 
asing mempunyai jiwa dan raga merah putih dan cinta NKRI ? Saya rasa, ini pola 
pikir yg terbolak balik. 

Pada dasarnya saya sependapat dg p Ong, bahwa "Pertamina tidak identik dengan 
Pemerintah,
kepentingan Pemerintah dan Pertamina tdk selalu sejalan", 

Pak Ong betul, apalagi kalo diibaratkan sbg hubungan antara bpk dan anak. Untuk 
jelasnya dapat diterangkan sbb :

1. Pertamina ((si anak))adalah unit kecil dalam tatanan kenegaraan, hanya 
sebuah perusahaan yg mengurus unit usaha dan tugas PSO, dg jumlah pekerja 
ribuan aja. Sedangkan pemerintah ((si bpk))
 memikirkan dan mengelola ratusan juta rakyat dan beribu2 unit usaha yg 
terkandung dalam berbagai kementrian. Karena itu kepentingannya tdk selalu 
sejalan. 

2. Jumlah dan nilai aset Pertamina sangatlah kecil, sedangkan si bpk mempunyai 
banyak aset mulai dari ribuan pulau, ratusan buah aset di departmen, hingga 
punya sumberdaya alam yg melimpah. 

3. Kepentingan  yg tidak sejalanan lain nya antara lain : untuk melanjutkan 
eksistensinya, hobi si bpk adalah menjual aset, membuat  utang luar negri, 
berfoya2, malas dan enggan berbisnis. Sedangkan si anak perlu bekerja dan 
bisnis dulu utk mencari profit untuk kemudian disetorkan kpd bapaknya, bahkan 
rela dan ikhlas juga  menjadi sapi perahan si bpk. 

4. Si bpk sangat otoriter, pemarah dan berbuat suka2 dan mungkin kejam kpd 
anaknya, namun berlaku sopan bahkan "ciut" dg orang lain ....mungkin
kebanyakan utang kalee ...... sedangkan si anak selaku "kontraktor" tdk bisa 
berbuat suka2 dan
 cukup pandai menempatkan diri. 

3. Jika si bpk ingin  membuat peraturan dalam rumah tangganya, kadangkala 
menggunakan konsultan asing, bahkan dibiayai dari dana negara asing. (Kata p 
Marwan Batubara, direktur institut energi ...?
Dalam membuat uu migas 22/2001, si bpk dpt bantuan dana dari USAID sebesar 20 
juta usd)

Sebagai penutup, saya pikir kita tdk perlu lagi berpikir dan berbicara pd level 
perusahaan. Mari kita bangun kebanggaan atas bangsa dan negara ini ....  
seperti bangganya bangsa Singapura, Jepang, Malaysia dll atas kinerja negrinya 
yg sdh mendunia, seperti airline, elektronic, industri migas  dll.... ataukah 
kita sdh cukup bangga punya utang LN yg hampir 2000 trilliun rupiiah dan negara 
terkorup?

Semoga Tuhan Yg Maha Kuasa, Allah Swt dapat menolong kita dan negri ini dari 
segala keterpurukan. 

Mohon maaf, jika ada pendapat dan perkataan yg kurang berkenan.

TA, anggota IAGI. 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
________________________________

From:  [email protected] 
Date: Sun, 21 Oct 2012 16:47:28 +0000
To: <[email protected]>
ReplyTo:  <[email protected]> 
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million

He...he...he... Ikut sharing aah.
Yang berpenderian pokoknya PERTAMINA bukan merah-putih dan maupun NKRI. 
Ini membingungkan Pak Ong, maaf............ Sekali lagi saya berbeda pendapat. 
Setuju kalau PERTAMINA tidak identik dengan Pemerintah. 
Pemerintah melayani masyarakat/rakyat, PERTAMINA sebagai tool Pemerintah. 
Contoh 2012 keuntungan di Upstream Pertamina Rp 27 trilyun, kegiatan Downstream 
tidak untung bahkan rugi termasuk untuk distribusi BBM ke seluruh pelosok tanah 
air. APA INI BUKAN AKTIVITAS MENJAGA KEUTUHAN NKRI, ini memakan biaya Rp 10 
trilyun. Jadi net profit PERTAMINA 2012 tinggal Rp 10 trilyun. Jadi PERTAMINA 
ingin memperkuat keuntungan di Upstream termasuk ingin mendapatkan blok 
Mahakam. Makin besar keuntungan, maka deviden dan pajak  yang dibayarkan ke 
Pemerintah dan menyempurnakan penugasan Pemerintah dalam PUBLIC SERVICE. 
Pernyataan Pak Ong tsb menyesatkan, maaf. 
Yang Pro Pertamina is merah putih dan nasionalis
 NKRI. 

Salam hormat,

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
________________________________

From:  Ong Han Ling <[email protected]> 
Date: Sun, 21 Oct 2012 21:37:07 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo:  <[email protected]> 
Subject: RE: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million

Pak Avi, 
 
Menurut saya yang berpendirian “Pokoknya Pertamina” adalah mereka yang bukan 
merah putih maupun NKRI. 
 
Pertamina adalah perusahaan milik Pemerintah. Saya pernah terangkan bahwa 
kepentingan Pemerintah dan Pertamina tidak selalu sejalan. Pertamina tidak 
identik dengan Pemerintah.
 
Untuk memperjelas pengertian tsb. diatas saya akan ambil contoh orang tua yang 
punya 3 anak, A, B, dan C. Anak A yang paling tua pingin masuk Universitas 
diluar Negeri. Alasannya masuk akal. Kalau lulusan luar negeri gampang cari 
pekerjaan, gaji tinggi, dsb. Namun sebagai orang tua, jalan pikirannya lain. 
Kalau dia mengirim anaknya A keluar negeri dan karena budget terbatas, maka 
anak kedua dan ketiga, B dan C, tidak bisa meneruskan ke Universitas. Kalau 
lulusan SMA saja gaji mereka kecil. Sebagai orangtua pikirannya ingin fair 
terhadap semua anaknya. Ya, kalau anaknya A bisa cari duit cukup banyak hingga 
kedua adiknya nanti bisa dibiayaii untuk masuk Universitas. Bagaimana kalau 
gajinya hanya pas-pasan. Bagaimana kalau dia dapat istri yang pelit. Bagaimana 
kalau dia kecantol istri bule diluar negeri. dsb. Sebagai orang tua, mereka 
melihat secara keseluruhan dan tidak hanya mengikuti keinginan anaknya A.
 
Dalam contoh diatas orang tua adalah Pemerintah dan anak A adalah Pertamina. 
Permintaan Pertamina untuk menjadi world class memang masuk akal hingga dapat 
dukungan dari masyarakat luas perminyakan. Namun anak B mungkin dari Angkatan 
Laut. Mereka bertanya kenapa modal harus diberikan kepada Pertamina? Perbatasan 
Indonesia sangat porous. Pantai Indonesia yang demikian luasnya kekurangan 
kapal patroli hingga ikan kita dicuri kiri kanan. Penyelundupan mudah sekali, 
bahkan kapal tangker ukuran samudra bisa keluar masuk seenaknya. Investasi di 
kapal-kapal pantai dan  surveilance dari udara akan mencegah pencurian dan akan 
membawa keuntungan luar biasa kepada Negara. Anak C mungkin dari Pertambangan 
Umum. Tambang kita dijarah kiri kanan, tambang liar dimana-mana, wilayah kerja 
tumpang tindih, dan pengrusakan lingkungan tidak terkontrol. Kalau saja 
diberikan budget kita bisa mendirikan Kantor Wilayah Pertambangan dengan 
inspetor-inspector Tambang hingga hal
 tsb. diatas bisa dihindari. Pasti divisa yang masuk Negara jauh lebih besar 
daripada kalau investasi di migas. 
                                                                                                                                                                &nbs
p; 
Pemerintah sebagai orang tua harus bijaksana, memikirkan secara keseluruhan dan 
sebagai kesatuan. Uangnya terbatas. Selain itu, dia “risk averse”, takut 
mengambil risiko. Negara tidak bisa diajak “gambling”. Negara ingin APBN aman, 
budget dan gaji pegawai harus dibayar tiap bulan. Sedangkan anaknya, Pertamina, 
jenis pekerjaanya memerlukan pengambilan risiko atau “risk taker”. Kasarnya 
“gambling”. Diperhalus menjadi “calculated risk” dengan menggunnakan 
perhitungan probability dan Expected Value. Ini adalah ciri dari business 
perminyakan. Dengan perkataan lain, A, B, dan C, hanya memikirkan sektor mereka 
sendiri. Jadi mereka bukan merah putih tulen (he he he). Mereka tidak 
memikirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.   
 
Pedapat diatas mungkin lain dengan pendapat kebanyakan anggota IAGI? Maaf Pak 
Avi kalau tidak berkenan. 
 
Salam sejahtera,
 
HL Ong 
 
 
 
From:rakhmadi avianto [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, October 18, 2012 3:47 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million
 
Saya kira KEGAGALAN itu masuk resiko yg harus ditanggung, ngga mungkin dong 
berhasil terus, tapi yg penting yg dilihat the whole port folionya dulu, jangan 
dilihat satu satu aja. Misalnya dari Exploration reserves ADDnya brp, tentunya 
reserves ADD yg di move dari P3 (hasil prospect generation) ke P1/P2 bukan dari 
yg production acreage. Lah data ini kita kan tidak tahu. Yg di sebutkan pak Ong 
kan lebih melihat gagal disini dan disitu, truz untung tidak jadi masuk shg ga 
RUGI, ini kan sifatnya melihat kejelekannya saja. Nah data yg komplit mengenai 
sepak terjang PTM ini tentu cuman bisa diberikan oleh teman yg di PTM.

"Pokoknya Pertamina" menurut Avi adalah perlu terutama untuk blok Mahakam, yg 
di Venezuela juga belum tentu jelek jadi terus terangis too soon to tell lah, 
lagian ga mungkin kan orang Perancis mbelain PTM.

Ayo Pertamina maju terus pantang mundur.

Kalau kata orang bule "if you need any thing just tell me" ..... kita siap

Salam
Avi
2012/10/18 kartiko samodro <[email protected]>
Saya kira kalau memang banyak dana nganggur dan tidak terbatas justru
kesempatan bagi Pertamina untuk dapat berinvestasi dengan pertimbangan
matang dan hati hati ke seluruh pelosok dunia, sama seperti perusahaan
kelas dunia lainnya.

Tapi sekali lagi mungkin perbedaan perusahaan kelas
 dunia yg sudah go
public dengan pertamina yg belum go public adalah dalam menanggung
konsekuensinya.
Kalau perusahaan yg sudah go public saya kira akan lebih hati hati dan
banyak pertimbangan karena kalau sampai gagal berinvestasi maka
keuangannya juga akan langsung terganggu dan dikomplain habis habisan
oleh investornya, beda dgn Pertamina sebagai perusahaan yang
mengandalkan dana pemerintah yg mungkin tidak terbatas. Kalaupun gagal
tetap ditanggung oleh pemerintah which is ditanggung oleh seluruh
komponen bangsa melalui pajak.

Sangat mendukung Pertamina menjadi perusahaan multinasional
profesional dengan go public.

On 10/18/12, Achmad Luthfi <[email protected]> wrote:
> Pak Ong dan teman-teman
 IAGi,
>
> Memang sebaiknya kita suspend dulu Bravo untuk Pertamina. Seperti telah
> dipaparkan Pak Ong, bahwa Pertamina telah bermain di arena high risk dalam
> ekspansi upstream (unorganic strategy/Pertamina term), dan berbagai
> kegagalan-kegagalan telah dipaparkan Pak Ong juga. Kalau kita solid sebagai
> bangsa dalam bernegara tentu tidak menginginkan BUMN seperti Pertamina
> mengalami kegagalan beruntun dimasa datang, karena itu minta Blok Mahakam
> bagi Pertamina adalah suatu yang mutlak perlu didukung oleh semua komponen
> anak Bangsa. Mengapa ada komponen anak Bangsa lebih pro TOTAL mendapat
> perpanjangan di Blok Mahakam ? Kurang peduli terhadap keinginan Pertamina
> untuk mengelola Blok Mahakam, ini sama dengan membiarkan kekayaan alam kita
> dirampok oleh Perusahaan Asing, sementara Kita membiarkan Pertamina
> berkelana ke penjuru Buana menanam investasinya di High
 Risk Arena,
> kemungkinan gagal lebih besar. Bisa dibayangkan bagaimana bodohnya kita
> sebagai Bangsa dalam bernegara; Uang jutaan dollar Amrik milik Bangsa
> sendiri kita lempar ke luar negeri yang kemungkinan total lost cukup besar,
> sementara keuntungan yang besar mungkin milyaran dollar Amrik kita biarkan
> dikeruk Perusahaan Asing seperti TOTAL, kita mengalami dua kali kerugian
> yang significant bahkan lebih.
> Pertamina punya dana besar, setelah minta Blok Mahakam sejak 2008 belum
> dapat kepastian maka dana yang ada di Pertamina sebagai perusahaan dinilai
> perlu diinvestasikan, akhirnya investasi jatuh ke Venezuela sementara
> Pertamina juga hunting ke Kazastan sambil tetap berharap mendapat Mahakam.
> Disadari dengan harga minyak yang tinggi tidak mudah untuk dapat membeli
> lapangan dengan cadangan dan produksi yang besar.
> Memang susah dimengerti apa maunya
 sebagian kalangan bangsa kita, Blok
> Mahakam dengan keuntungan dipelupuk mata tak tampak tetapi kerugian
> investasi d lautan dibiarkan.
> HAYOOOO BANGUN BANGSAKU, WUJUDKAN LAGU CIPTAAN KOESBINI....... BAGIMU
> NEGERI JIWA RAGA KAMI....
>>
>>
>> 2012/10/17 Ong Han Ling <[email protected]>
>>
>> Pak Yanto dan teman-teman IAGI yang “pokoknya Pertamina”,
>>
>>
>>
>> Saya melihat tiga alasan mengapa teman-teman di IAGI memberikan “bravo”
> kepada Pertamina dalam pembelian 38% dari saham Petrodelta SA, perusahaan
> E&P, Venezuela. Karena (1) keberaniannya, (2) punya cash $725 juta, atau
> (3) mengharapkan keuntungan besar dari pembelian ini?
>>
>>
>>
>> Buat apa
 kita bangga kalau nantinya rugi. Jadi yang kita harapkan adalah
> keuntungan besar. Perusahaan yang menjual ke Pertamina, HNR Energia BV,
> adalah perusahaan swasta Belanda. Pasti dia jual kepada penawar yang
> tertinggi, mungkin saja lewat bidding. Dia jual dengan harga tsb. karena
> dia anggap ini menguntungkan baginya daripada kalau dia tahan. Dia juga
> punya alasan kuat kenapa mau dijual. Mungkin karena politik Chavez atau
> mungkin dia jenuh menghadapi peraturan di Venezuela, dll. Kebetulan
> perusahaan yang dipilih atau menang adalah Pertamina karena memberikan
> harga tertinggi. Mungkin juga HNR Energia BV adalah perusahaan TBK Belanda
> dan menjual di pasar stock exchange hingga semua orang bisa saja beli
> sahamnya; atau beli saham dari induknya, Harvest International Inc. Artinya
> beli saham bukan suatu “big deal”. Semua orang bisa. Yang pernah beli saham
>
 mengetahui bahwa harga saham seperti yo-yo, bisa naik dan bisa turun.
>>
>>
>>
>> Dua contoh “kegagalan” yang terjadi baru-baru ini. Pertamina memberanikan
> diri bor dilaut dalam. Pertamina dengan partner StatOil ikut konsortium
> pemboran. Biaya bor diperkirakan sekitar $20-25 juta. Waktu gilirannya
> setelah dua tahun, biaya pemboran naik 3-4 kali. Padahal pemboran
> sekitarnya oleh perusahaan IOC semuanya gagal, tetapi Pertamina somehow
> tidak bisa mundur. Hasilnya negatif. Contoh  lain, tender di Papua,
> Pertamina berpartner dengan Shell dikalahkan. Protes ke ESDM, ditolak.
> Pemenang tender telah mengebor 10 well dan menghabiskan sekitar $70 juta.
> Hasil negatif. Pertamina lucky, padahal tadinya ngotot.  Memang eksplorasi
> jauh lebih tinggi risikonya dibandingkan Petrodelta yang melakukan
> explorasi dan produksi. Namun prinsipnya
 sama, pemenang tender blok migas
> belum bisa kita banggakan, belum tentu untung, kemungkinan untuk rugi
> besar. Memang kalau untung besar sekali.
>>
>>
>>
>> Jadi belum waktunya kita bilang “Bravo” kepada Pertamina. Hanya “waktu”
> bisa ceritera apakah pembelian ini  menguntungkan atau merugikan. Kalau
> sekarang ingin memberikan “bravo” kepada Pertamina, sebaiknya dibatasi
> karena keberanianya dan karena punya cash; bukan karena keberhasilannya
> untuk mendapatkan keuntungan bagi Negara.
>>
>>
>>
>> Maaf kalau pendapat saya berlainan dengan kebanyakan anggota IAGI.
>>
>>
>>
>> Salam,
>>
>>
>
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI
 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
REGISTER NOW !
Contact Person:
Email : [email protected]
Phone : +62 82223 222341 (lisa)
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke