Karena posisi East Natuna dekat perbatasan perairan Indonesia, Pertamina juga merasa berat mengoperasikan tanpa mitra yg tangguh, kalau sampai menanggung liabilities sendirian bila terjadi seperti apa yang dialami bp musibah kecelakaan/kebocoran sumur di teluk meksiko, Pertamina bisa bangkrut. Karena itu Pertamina perlu mitra sekelas Exxon dan Total.
Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: [email protected] Date: Thu, 25 Oct 2012 09:59:41 To: Iagi-net<[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Sense of urgency : Mahakam atau Natuna ? Betul sekali Pak Noor, penemuan gas membutuhkan proses komersialisasi yang lebih panjang, setidaknya harus ada pembeli yang cocok dan kedua belah pihak bersepakat menyangkut harga jual, tingkat plateau deliverability, lamanya supply, besaran supply per hari dan sebagainya. Nah untuk mendapatkan kesepakatan bisnis yang menguntungkan bagi Republik ini, tentu memerlukan proses negosiasi yang cerdas dan tidak terburu2 seperti yang terkesan pada statement Wamen, "Natuna lebih urgent dari Mahakam". Tahapan menuju komersialisasi yang panjang menyebabkan bisnis gas mengandung berbagai ketidakpastian, keterbatasan dan resiko, dalam hal ini revenue stream dan assurance risks harus didalami dulu. Kenapa Pertamina seakan2 dipaksa mencari partner sekarang dalam masa pemerintahan ini untuk menuntaskan negosiasi soal Natuna? Harga pasar gas dunia yang sedang melorot tidak menguntungkan Indonesia untuk bernegosiasi soal Natuna sekarang, bahkan dijadikan kartu trup untuk meminta berbagai macam insentif yang tentu saja Pertamina lah yang akan disalahkan kelak kalau hasil negosiasi itu terbukti merugikan negara. Kenapa negosiasi ini tidak kita tarik ke 10 tahun yang akan datang ketika harga gas dunia sudah pulih sehingga Indonesia punya bargaining position yang lebih baik terhadap buyers? Atau malah gas terproduksi untuk kebutuhan domestik yang juga akan semakin besar pada dekade mendatang. Begitu kira2 maksud saya Pak Noor, mengoreksi kesalahan kalimat sebelumnya :) Terima kasih, MJP Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: noor syarifuddin <[email protected]> Date: Thu, 25 Oct 2012 01:19:48 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Sense of urgency : Mahakam atau Natuna ? lho....? setahu saya yang sekarang itu juga paling banter ngalirnya 10 tahun mendatang.... :-) itulah yang kadang terlupakan: siklus migas itu panjang... pengembangan lapangan sederhana saja sekitar 3-5 tahun, jadi kalau skala Natuna saya yakin antara 7-10 tahunan lah..apalagi sampai sekarang PODnya saja belum ada... :-) salam, From: Muharram Jaya Panguriseng <[email protected]> To: Iagi-net <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]> Sent: Thursday, October 25, 2012 2:39 PM Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Sense of urgency : Mahakam atau Natuna ? Daripada memaksakan diri mengembangkan gas Natuna sekarang hanya untuk dijual murah ke negara tetangga, kenapa kita tidak menunggu momentum booming shale gas Amerika lewat untuk kita kembangkan Natuna kemudian? Katakanlah dicadangkan untuk kebutuhan domestik 10 tahun yang akan datang yang akan kekurangan seperti yang Abah sampaikan. Shale gas selain produksi per sumurnya lebih kecil, decline-nya juga akan cepat. Saya kira itu yang Paman Sam sadari makanya masih senang mengumbar ancaman untuk mendapatkan lapangan gas conventional di negara lain. Tak tanggung2 kalau betul Obama dan Armada 7 ikut bergerak he he he... Selamat idul adha 10 Zulhijjah 1433 H bagi yang merayakan. Mari rame2 kita potong koruptor...eh maaf salah... maksudnya mari kita potong sifat hewan dalam diri koruptor, save Indonesia. Salam, MJP Sent from Yahoo! Mail on Android

