Betul sekali Pak Noor, penemuan gas membutuhkan proses komersialisasi yang 
lebih panjang, setidaknya harus ada pembeli yang cocok dan kedua belah pihak 
bersepakat menyangkut harga jual, tingkat plateau deliverability, lamanya 
supply, besaran supply per hari dan sebagainya. 

Nah untuk mendapatkan kesepakatan bisnis yang menguntungkan bagi Republik ini, 
tentu memerlukan proses negosiasi yang cerdas dan tidak terburu2 seperti yang 
terkesan pada statement Wamen, "Natuna lebih urgent dari Mahakam". Tahapan 
menuju komersialisasi yang panjang menyebabkan bisnis gas mengandung berbagai 
ketidakpastian, keterbatasan dan resiko, dalam hal ini revenue stream dan 
assurance risks harus didalami dulu.

Kenapa Pertamina seakan2 dipaksa mencari partner sekarang dalam masa 
pemerintahan ini untuk menuntaskan negosiasi soal Natuna? Harga pasar gas dunia 
yang sedang melorot tidak menguntungkan Indonesia untuk bernegosiasi soal 
Natuna sekarang, bahkan dijadikan kartu trup untuk meminta berbagai macam 
insentif yang tentu saja Pertamina lah yang akan disalahkan kelak kalau hasil 
negosiasi itu terbukti merugikan negara. Kenapa negosiasi ini tidak kita tarik 
ke 10 tahun yang akan datang ketika harga gas dunia sudah pulih sehingga 
Indonesia punya bargaining position yang lebih baik terhadap buyers? Atau malah 
gas terproduksi untuk kebutuhan domestik yang juga akan semakin besar pada 
dekade mendatang.

Begitu kira2 maksud saya Pak Noor, mengoreksi kesalahan kalimat sebelumnya :)

Terima kasih,
MJP

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: noor syarifuddin <[email protected]>
Date: Thu, 25 Oct 2012 01:19:48 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Sense of urgency : Mahakam atau Natuna ?

lho....?
setahu saya yang sekarang itu juga paling banter ngalirnya 10 tahun 
mendatang.... :-)
itulah yang kadang terlupakan: siklus migas itu panjang... pengembangan 
lapangan sederhana saja sekitar 3-5 tahun, jadi kalau skala Natuna saya yakin 
antara 7-10 tahunan lah..apalagi sampai sekarang PODnya saja belum ada... :-)
 
 
 
salam,

From: Muharram Jaya Panguriseng <[email protected]>
To: Iagi-net <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Thursday, October 25, 2012 2:39 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Sense of urgency : Mahakam atau Natuna ?

Daripada memaksakan diri mengembangkan gas Natuna sekarang hanya untuk dijual 
murah ke negara tetangga, kenapa kita tidak menunggu momentum booming shale gas 
Amerika lewat untuk kita kembangkan Natuna kemudian? Katakanlah dicadangkan 
untuk kebutuhan domestik 10 tahun yang akan datang yang akan kekurangan seperti 
yang Abah sampaikan.
Shale gas selain produksi per sumurnya lebih kecil, decline-nya juga akan 
cepat. Saya kira itu yang Paman Sam sadari makanya masih senang mengumbar 
ancaman untuk mendapatkan lapangan gas conventional di negara lain. Tak 
tanggung2 kalau betul Obama dan Armada 7 ikut bergerak he he he...
Selamat idul adha 10 Zulhijjah 1433 H bagi yang merayakan. Mari rame2 kita 
potong koruptor...eh maaf salah... maksudnya mari kita potong sifat hewan dalam 
diri koruptor, save Indonesia.
Salam,
MJP
Sent from Yahoo! Mail on Android

Kirim email ke