Nah, itu dia Zi, you've got the point. Reserves yang besar menjadikan mereka memiliki bargaining position yang kuat. Kalau reserves kita besar, ente mau ngomong apa aja orang akan dengerin + ikutin. Kalau nggak, hmmm, tahu sendiri kan? Balik ke issue IUP vs KKKS, barangkali kalau ada yang punya data yang lebih tangible, akan lebih mudah untuk membedakan mana yang "emas" dan mana yang "suasa". Simplenya begini, coba potensi cadangan komoditas tambang kita di kapitalkan, lalu buatkan benchmark-nya, tambang dengan sistem IUP memberikan kontribusi ke negara seberapa banyak fulus-nya dan migas yang mengikuti model CoW lalu KKKS memberikan kontribusi berapa ke negara. Lebih realistis dan lebih nasionalis kan?
Kalau semua berbicara normatif, sampai matahari terbit disebelah barat nggak bakalan kelar diskusinya. Bambang (yang realistis saja) >________________________________ > From: "[email protected]" <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Friday, November 16, 2012 6:16 PM >Subject: Re: [iagi-net-l] IUP Vs KKKS > > >Ini bbrp yg bisa saya tangkap: >Pertama karena reserves yg "super" besar, jadi otomatis nilai ekonomis dan >resiko investasi akan berkurang. Dengan hanya menjadi partner saja puluhan MNC >rebutan tahun ini mengejar porsi share di ADCO yg kontraknya habis 2014. >Yang kedua tentunya pemerintahan yg long lasting karena mereka pakai sistem >monarki, jadi long term plan akan berjalan lancar, liat aramco yg awalnya >dibiarkan dikelola amrikiya dan saat ini sudah diakuisisi 100% setelah mereka >yakin bisa (meski dgn cara comot manpower dari negara lain spt indonesia). >Monarki juga membuat uang hanya masuk ke satu pintu, ya kasnya si Raja/ >Sultan, dan yg lain gak berani bermain kalo gak mau di penggal :) >Ketiga adalah kultur arab yg memuliakan tamu namun tidak membiarkan tamu jadi >penguasa. Coba saja bertamu ke org arab, anda akan di serving habis-habisan, >namun anda gak akan bisa masuk ke dalam rumah mereka, hanya sebatas di ruang >tamu saja (bahasa arabnya "majelis") > >Nah, dengan mengontrol 100% (baca: nasionalisasi) mereka bisa mengontrol >penggunaannya utk sebesar besarnya kemakmuran rakyatnya (sekolah gratis, gaji >lokal lebih besar dari expat dan fasilitas lainnya) > >Salam >Razi > > > > >Sent from my BlackBerry® smartphone from Omantel. >________________________________ > >From: noor syarifuddin <[email protected]> >Date: Fri, 16 Nov 2012 02:31:30 -0800 (PST) >To: [email protected]<[email protected]> >ReplyTo: <[email protected]> >Subject: Re: [iagi-net-l] IUP Vs KKKS > > >Dear Pak Razi, >Bisa dielaborate kenapa di sana pakai sistem itu..? >Sistem yang berbedadari satu negara ke negara yang lain tentu sangat >dipengaruhi "keunikan" sumberdaya alam di negara tsb. > > > >salam, > > > > > >From: "[email protected]" <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Friday, November 16, 2012 4:41 PM >Subject: Re: [iagi-net-l] IUP Vs KKKS > > >Kalo pake sistemnya middle east gimana? Semua dikuasai negara (NOC) dan MNC >hanya boleh masuk sebagai partner atau service contract. Caranya dengan >membuat banyak NOC (contoh di UAE yg punya ADCO, AdMA, ZADCO). >Operator semuanya NOC otomatis pemerintah lebih gampang mengontrol, dan MNC >partner berperan lebih ke arah sharing knowledge. > >Salam, >Razi > >Sent from my BlackBerry® smartphone from Omantel. >From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> >Date: Fri, 16 Nov 2012 10:38:56 +0700 >To: IAGI<[email protected]> >ReplyTo: <[email protected]> >Subject: Re: [iagi-net-l] IUP Vs KKKS > > >2012/11/16 Ismail <[email protected]> > > >>Semuanya kan tinggal bagaimana aturanya di persaratan IUP nya , Migas adalah >>kewenagnan Pusat tentunya IUP oleh Pusat juga bukan diserahkan ke Pemda >> >>Sent by Liamsi's Mobile Phone >> > >Coba kita berdiskusi ke arah kedepan. > >Betul sekali Pak Ismail. >Kalau menggunakan Ijin Usaha itu bukan berarti mudah dijual belikan dan BUKAN >berarti ditangani bupati. > >Satu hal yang sering kita terlewat adalah isi kontrak isi ijin atau isi dari >yang ditandatangani. Apapun namanya, apapun bentuknya. Sekali lagi ISI-nya, >bukan hanya bungkusnya. > >Pada kenyataannya, satu sisi positif yang saya lihat langsung dalam dunia >pertambangan adalah "KETERBUKAANNYA". Bulan kemarin ketika saya ke FREEPORT >bersama-sama pengurus MGEI kami melihat bahwa manajement, geologist serta >semua pegawai FMI itu sangat terbuka dengan data. Kami diajak melihat semua >data-data, sample, bahkan diajak masuk ke lokasi Grasberg dan juga ke lokasi >underground dan disitulah melihat BIJIH EMAS yang ditambang di FMI. Bahkan >staff serta manajementnya memberikan kebebasan kepada rombongan untuk >mengambil sample pada titik mana saja yang diperlukan. (tapi hand speciment, bukan satu truk bijih loo). Ini menunjukkan bahwa dunia tambang itu lebih terbuka dalam soal data ketimbang MIGAS. Pak Sukmandaru dan Arif Zardi dari MGEI dapat menambahkan. > >Dari sisi kepegawaian, saya juga melihat bahwa Geologist-geologist Indonesia >sudah mampu dan juga hampir 95%, bahkan lebih, diisi oleh Geologist Indonesia. >Pak Wahyu yang menjadi leader geolog-geolog ini sangat welcome pada siapa saja >yang ingin tahu jerohannya Grasberg. Dan ini SANGAT MEMBANGGAKAN ! > >Paling tidak fakta bahwa keterbukaan dan kepegawaian (Human Resources) >Indonesia justru lebih banyak prosentasenya dalam pertambangan dibanding MIGAS >yang menggunakan kontrak PSC. > >Kita memang patut berbangga dengan PSC, namun kalau karena perkembangan dunia, >perkembangan tata politik, perkembangan tehnologi serta perkebangan kebutuhan, >saya rasa berganti dari PSC ke Ijin Usaha bukanlah sebuah kemunduran. Toh Ijin >Ushaa bukan harus seperti Kontrak Karya. > >Mari kita design jenis kerjasama sendiri. >Barangkali jenis kerjasama dan tata kelola yg kita design nanti ini belum ada >di dunia. Indonesia sudah mengawali eksplorasi MIGAS 140 tahun yang lalu, >mengawali pembuatan PSC ... dan kita harus leading lagi menyusun tata kelola >MIGAS dengan benar ... > >Salam sukses ! > >Rovicky > > > > >

