Kalao boleh tau, berapa sih tebal batu gampingnya? Waktu musim hujan, air 
meresap, kan tidak langsung sampai ke danau, air perlu waktu untuk merembes ke 
saluran besar/gua.
Sangat wajar dan tidak aneh, kalau waktu musim hujan airnya habis, waktu 
kemarau airnya datang.
Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Franciscus B Sinartio <[email protected]>
Sender: <[email protected]>
Date: Fri, 1 Mar 2013 23:24:42 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net] Berita Geo Wisata - IAGI
Congratulation Pak ADB  dan tim.
kalau ditambah survei geofisika mungkin tambah lengkap analisanya.  mungkin GPR 
walaupun tidak akan memberikan hasil yang optimum kalau semuanya batuan 
karbonat yang mau dipetakan.  tetapi kalau berisi air mungkin bisa dipakai.  
dan tentu saja geolistrik  bisa dipakai.

selamat berkarya terus.

salam,

frank



________________________________
 From: Andang Bachtiar <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Saturday, March 2, 2013 1:09 AM
Subject: [iagi-net] Berita Geo Wisata - IAGI
 
Tarusan Kamang, Integrasi Wisata dan Riset Ilmiah
Rabu, 27 February 2013 | 01:52 WIB

MI/Yose Hendra/ip

Metrotvnews.com, Padang: Rakit itu mulai menepi. Tini, 50, juru kemudi dengan 
cekatan menujamkan gala ke sedimen keras di danau karst pada cekungan 
pegunungan Bukit Barisan tersebut. Dorongan dari tuas tersebut mempercepat laju 
rakit.

Dia tak sabar lagi hendak melarutkan diri dalam keramaian di pinggir danau 
bernama Tarusan Kamang itu. Dalam rakit itu dia membawa serta keluarganya.
Hari itu, Sabtu (23/2), warga sekitar pinggir Tarusan Kamang, Nagari Kamang 
Mudiak, Kabupaten Agam, berbondong-bondong menuju padang rumput asri dekat 
‘telinga’ danau.

Mereka begitu antusias menjadi tuan rumah yang baik bagi tamu yang datang 
seperti geolog, fotografer, planalog, dan penggiat wisata. “Tarusan ini kadang 
berair kadang kering. Terakhir kering Mei lalu. Kalau kering, tarusan berfungsi 
menjadi lapangan bola, dan kami ke ladang di perbukitan Pupuakan hanya berjalan 
kaki," jelas Tini.

Tarusan Kamang merupakan jenis danau karst. Namun, jika danau sejenis kandungan 
air tergantung intensitas cuaca, kondisi danau Tarusan Kamang berubah-ubah. 
Kadang berair, kadang kering, yang masih misteri selama ini.

Untuk memecahkan misteri tersebut, berawal gonjang-ganjing sebuah foto 'dua 
wajah' danau yang dijepret fotografer Erison J. Kambari, beberapa
orang geolog tertarik datang untuk meneliti.

Sejauh ini, masyarakat setempat menganggap fenomena tersebut sebagai siklus 
biasa yang telah ada sejak dahulu kala. Mereka menilai air yang ada diisap 
mulut goa yang ada di bibir terusan, sebab itu terkadang kering.

Menurut warga sekitar, Imran Malin Mudo, 50, ada tujuh mulut goa di bibir 
danau, di kaki bukit Pupukan. "Air yang ada di danau ini mengalir melalui
sungai bawah tanah di menuju ke Simarasok, Baso, Kabupaten Agam," ujarnya.

Dia menambahkan, rata-rata danau ini mengalami kekeringan satu kali dalam 
setahun. "Masa berair lebih lama ketimbang masa kering. Danau ini pernah berair 
terus selama 2 tahun,” ucapnya.

Menurutnya, proses berair terjadi selama satu bulan. “Air datang saja 
tiba-tiba. Tak tergantung curah hujan. Berair di saat musim kering. Kering saat 
musim hujan. Seiring itu, ikan juga bermunculan,” katanya.

Pada 2000-an, dikatakan Imran, pernah terjadi keanehan. Mula genangan air saat 
itu ditandai dengan letusan seperti dentuman meriam. Lokasi bunyinya sekitar 
'telinga' tarusan, di dekat bukit Pupukan. Terlepas dari folklor itu, danau 
Tarusan Kamang memiliki potensi wisata plus riset ilmiah berkelas dunia jika 
dikelola dengan baik.

Menanggapi hal itu, Bupati Agam Indra Catri mengatakan untuk dijadikan objek 
pariwisata memang menarik, tapi ekspektasi jangan terlalu tinggi.
Tahap awal wisat, menurutnya harus survei dulu.

Danau Tarusan Kamang, ujar Indra, memang menjanjikan karena terjadi perpaduan 
landscape natural dan kultural. “Sebelum menjadikan
tempat wisata, kita harus mempertimbangkan dulu keseriusan masyarakat, harapan 
masyarakat, budi daya yang telah dilakukan masyarakat. Setelah itu baru kita 
tata sedemikian rupa, dan bangun akses,” jelasnya.

Selain menarik untuk jadi objek wisata, danau dengan luas sekitar 0,38 km 
persegi atau 38 ha tersebut juga seksi sebagai objek studi ilmiah. Menurut
Indra, kawasan danau tersebut punya kans untuk subjek studi planologi, 
morfologi, kegempaan, geologi, geografi, vegetasi air.

"Kawasan danau merupakan jalur patahan Semangka. Ada getaran lain yang juga 
muncul di sini. Ada vegetasi yang unik. Perpaduan ini merupakan landscape yang 
mesti dieksploitasi dari hari ke hari,” tutur Indra.

Danau Tarusan Kamang selama ini dimanfaatkan warga untuk budi daya ikan, 
kubangan kerbau, memancing, dan mandi. Kala kering, ikan-ikan yang menghiasi 
tarusan banyak terperangkap dalam tambak-tambak yang dipasang sebagian warga. 
Ada beragam jenis ikan di sana seperti pantau, nila, rayo, panser, bada putih.

Misteri Mulai Terpecahkan

Ekpedisi Danau Tarusan Kamang yang dimotori penggiat wisata Sumatra Barat 
Nafrin Nafilus mendatangkan geolog ternama Andang Bachtiar, Kurnia Chalik, dan 
Purnama. Melalui ekspedisi itu, fenomena hilang timbulnya air danau selama ini 
bisa diungkap. Di balik ekspedisi itu tersirat  asa, kawasan tersebut bisa 
menjadi pusat riset plus wisata berkelas dunia.

Danau Tarusan Kamang memang unik dibanding danau sejenis di Indonesia. Menurut 
Andang, danau karst yang tiba-tiba kering dan tiba-tiba berair hanya ada dua di 
dunia yakni Tarusan Kamang dan danau di Italia.

Dalam ekspedisi tersebut, tim melakukan tracking kasar. Sisi timur danau, jelas 
Andang, didapatkan bukti nyata patahan sumatra yang masih aktif di tebing dan 
bebatuan. Runtuhan patahan dengan bekas-bekas slicken side (gores garis) pada 
bidang patahan bergerak ke arah selatan.

Di samping itu, para peneliti juga menemukan bukti bahwa padang rumput yang 
datar di tepian tarusan adalah suatu kipas alluvial, morfologi serupa kipas. 
Ujung titik kipas ada di bagian atas (apex) dan ujung setengah lingkaran kipas 
membentang di bagian bawah (obe). Keseluruhannya seolah bersandar pada suatu 
dinding lembah atau tepian suatu cekungan.

Di bagian atasnya berhubungan dengan suatu alur atau saluran yang pada 
waktu-waktu tertentu menjadi sungai. Bentukan kipas aluvial khas terjadi di 
tepian cekungan yang dindingnya merupakan patahan normal atau patahan turun.

“Kalau tidak ada alur atau saluran di atasnya, bentukan ini kami sebut saja 
sebagai faset segitiga atau triangular facet yang merupakan ciri khas jalur 
patahan normal (patahan turun),” tukasnya. Menurutnya, keduanya jenis morfologi 
yang berkembang di Tarusan Kamang.

Andang juga menemukan patahan sumatra berpijar di hampir sepanjang danau. Dalam 
riset yang dilakukan Andang pada batu gamping di barat-timur, terdapat bidang 
rekah-rekah dan kipas alluvial yang berdimensi Iebih kecil.

“Hasil tracking ke peta SRTM didapatkan bukti penunjang morfologi yang 
menguatkan dugaan bahwa Danau Tarusan Kamang selain punya sifat danau
karst juga punya komponen danau tektonik pisah renggang,” ulas Dewan Penasihat 
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ini.

Menurut Andang, batu gamping tersebut diperkirakan berumur 400 juta tahun. 
Danau Tarusan Kamang berusia sekitar 150 ribu tahun. Selain menemukan dominasi 
batu gamping kristalin termarmerkan dan terekahkan (xtallin marbleized 
fractured limestone), Andang cs juga menemukan lapisan-lapisan filit melapuk di 
dinding-dinding tempat parkir dan bongkah kwarsit di sebuah pulau kecil di 
tengah danau. "Jenis-jenis batuan yang terakhir tersebut termasuk ke dalam 
kelompok formasi kuantan yang umurnya sama tuanya dengan batu gamping xtallin,” 
jelasnya.

Pascariset awal, Andang mengatakan kering-terisi Danau Tarusan Kamang merupakan 
fenomena bejana berhubungan antara sungai-sungai bawah tanah yang ada di 
kedalaman tebing dan punggungan gunung batu gamping di bagian timur dan selatan 
danau dengan rendahan atau cekungan yang dibentuk patahan-patahan.

“Ketika muka air sungai bawah tanah surut sampai level lebih rendah dari dasar 
danau, maka danau pun mengering. Jika muka air sungai meninggi, air danau pun 
terisi,” jelasnya.

Kelanjutan penelitian, Andang mengatakan, perlu dilakukan memetakan gua-gua dan 
sungai bawah tanah (caving-speleologi expedition) Tarusan Kamang, penjelajahan 
bukit morfologi sungai di seputaran danau untuk dokumentasi aspek struktur 
stratigrafi, hasil tes dan contoh berbagai jenis air di danau, dan sekitarnya.

“Sampel-sampel batuan dan juga sedimen danau modern telah diambil untuk nanti 
dianalisis di laboratorium petrografi dan palinologi untuk menentukan sifat dan 
umur batuan maupun umur pembentukan danau,” ucap Andang.

Pada Juni atau Juli mendatang, Andang berencana membawa ahli karbonat dari 
Afrika untuk melanjutkan riset batu gamping di kawasan Danau Tarusan Kamang. 
(Yose Hendra/Was)

Kirim email ke