Pak Luthfi, Saya kira, sepertti dalam semua kasus, kita bisa terus menyalahkan UU tsb atau juga melihat dari sisi positipnya.. :-)
Tujuan policy unbundling salah satunya adalah untuk mengefisiensikan usaha hulu dan hilir, dan masing-masing pelaku diharapkan bisa lebih fokus pada pencarian cadangan migas dgn lebih efisien, begitu pula di sektor hilir seperti transporter atau distributor gas. Tujuan lainnya juga untuk menghindari konsolidasi biaya dan pajak dengan harapan penerimaan negara dari sektor migas menjadi lebih optimal. Namun memang tujuan ini belum tentu bisa tercapai apalagi kalau tujuan utama adalah meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara semudah-mudahnya... :-). salam, On 4/10/13, [email protected] <[email protected]> wrote: > > Abah dan cak Noor, > > Bisnis gas yang sekarang ini akibat UU Migas 22/2001 yg di drive IMF > menganut faham liberal dengan menerapkan "unbundling principle". Produsen, > trader, dan transporter gas tidak boleh dilakukan oleh satu entity. Produsen > gas entity tersendiri, trader gas entity tersendiri, dan transporter gas > entity tersendiri. Keekonomian lapangan mendeterminasi harga gas dari > produsen (dikontrol oleh SKK Migas), toll fee untuk transporter (dikontrol > oleh bphmigas), dan harga gas di trader (kurang terkontrol/dikontrol > langsung oleh Ditjen Migas). > Masing2 entity (upstream, midstream, downstream) mengambil profit (ada 3x > profit), dan masing entity membayar pajak (ada 3x pajak). Profit dan pajak > ini saja menambah tingginya harga gas. > Contoh untuk entity dalam implementasi "unbundling". > Pertamina; Produsen (PTM EP dan PHE dibawah Dit Hulu), Transporter (Pertagas > dibawah Dit Gas), dan Retailer (Pertagas Niaga anaknya Pertagas). > PGN; TGI/Transporter Gas Indonesia (Transporter), PGN (Retailer). > Contoh di Sumatra Selatan: dulu PGN menjual gas ke industri rata2 dengan > harga US$ 3/mmbtu karena membelinya dibawah harga itu, tahun lalu era > BPMIGAS harga gas dari produsen dinaikkan menjadi US$ 6/mmbtu, kemudian PGN > menaikkan harga gas ke industri menjadi US$ 10-11/mmbtu...wouwww (makanya > tumbuh menjamur perusahaan trader). Menteri perindustrian protest ke KESDM > dan BPMIGAS, sementara KESDM dan BPMIGAS mengklaim telah memperoleh > pendapatan negara dari pengembangan bisnis gas. Ini semua sudah menjadi > berita diberbagai surat kabar. Ini semua akibat UU Migas 22/2001 produk > tekanan IMF, UU Migas ini kudu segera direvisi tapi kementriannya kurang > bergairah. > Bandingkan dengan UU Migas yang lama: > Pertamina sebagai single buyer dan sebagai single seller, maksudnya > Pertamina membeli dari Kontraktor PSC dan Pertamina menjual ke konsumen, > jadi back to back GSPA (Gas Sales & Purchase Agreement). Contoh untuk Pabrik > Pupuk Kaltim (PKT)-4. Pertamina beli dari TOTAL (waktu itu sekitar > pertengahan 2001) dengan harga US$ 1.85/mmbtu, dan Pertamina menjual ke > PKT-4 dengan harga US$ 1.85/mmbtu. Pertamina tidak mengambil untung karena > dari mengelola PSC dapat retensi, pipa ke PKT sudah ada, pajak Pertamina > dikonsolidasi dalam split 60:40, maka harga gas bisa murah. Contoh lain gas > untuk Petro Kimia Gersik dan PJB (Pembakit Jawa Bali) di Gersik, dulu > dipasok dari Pagerungan melalui pipa TJP (Trans Java Pipeline) dengan harga > (harga di gate pagerungan + toll fee US$ 0.72/mmbtu) kurang dari US$ > 3/mmbtu. > Jadi UU Migas 22/2001 mengobrak-abrik bisnis gas yang meninggikan harga gas. > > > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > -----Original Message----- > From: noor syarifuddin <[email protected]> > Sender: <[email protected]> > Date: Wed, 10 Apr 2013 08:01:29 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net] New Discovery - > Malaysia > Abah yth, > > Silakan langsung dilihat di laman perusahaan-perusahaan tsb...kalau > saya tulis di sini nanti saya bisa kena pasal .... :-) > > Betul itu legal, tapi coba lihat margin perusahaan gas tsb... kenapa > harus sebesar itu (dan itu hanya bisa karena ada monopoli jalur > pipa)... harusnya khan mereka ambil "toll" pipanya saja dan tidak > menambah harga gasnya... > Saya yakin, kalau ada jalur, pasti perusahaan E&P dan pembeli akan > memilih end-to-end deal dan tidak pakai pihak ketiga... :-) > > ha...ha..ha iya betul tetap legal, tapi artinya mereka khan ngakali > penjual... minta gas subsidi tapi mengambil keuntungan dari gas tsb... > coba kalau setelah mereka bangun instalasi itu dan si penjual kemudian > hanya kasih "lean" gas... apa mereka tidak akan mencak-mencak lagi..? > > > salam, > > > On 4/9/13, Yanto R. Sumantri <[email protected]> wrote: >> Noor . >> >> Jadi ingin lebih tahu >> >> si Abah >> >> >> ________________________________ >> From: noor syarifuddin <[email protected]> >> To: "[email protected]" <[email protected]> >> Sent: Monday, April 8, 2013 10:22 PM >> Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net] New Discovery >> - >> Malaysia >> >> >> Abah, >> Betul, banyak yg menjerit.... Tapi kita coba lht faktanya... >> Bbrapa konsumen gas itu produknya sebagian bsr utk ekspor tapi minta >> gasnya >> harga domestik... >> BOLEH TAHU PERUSAHAN MANA ITU ? >> >> Belum lg bisnis 'makelar'an ala prshaan gas kita... Berapa persen >> keuntungan >> mrk hanya dgn menjadi perantara...? >> >> yA , ITU BENAR , TAPI BUKANKAH RETAIL GAS ITU LEGAL , KARENA BAGI >> PERUSAHAAN >> e & p NYA , MARGIN NYA DIANGGAP (??) TERLALU KECIL. >> >> FYI, bahkan saking kreatifnya ada bbrp konsumen yg mau bikin ekstraksi >> LPG >> dari gas yg mereka beli.... Sangat cerdas menurut saya.... :-)MANA >> >> BOLEH TAHU PERUSAHAAN YA DAN DIMANA ? TAPI TETP LEGAL KAN ? >> >> >> Ini ibarat orang naik mobil mewah tapi gak setuju subsidi bbm dicabut... >> >> >> Salam, >> >> On Monday, April 8, 2013, Yanto R. Sumantri wrote: >> >> Noor >>> >>> >>>Dengan harga 6- 7 dollar , pelaku industri sudah menjerit lho. >>>Lihat koran koran minggu lalu. >>> >>> >>>si Abah >>> >>> >>> >>>________________________________ >>> From: noor syarifuddin <[email protected]> >>>To: [email protected] >>>Sent: Monday, April 8, 2013 2:38 PM >>>Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net] New >>> Discovery >>> - Malaysia >>> >>>Rekans, >>> >>>Saya kira import gas akan menjadi solusi pragmatis yang paling mudah >>>dan sederhana (tinggal beli aja kok... :-) >>> >>>Tapi dengan mulai ditandatanganinya kontrak LNG ke Jepang oleh >>>produsen shale gas untuk delivery tahun 2015/2016 dengan harga yang >>>cukup tinggi dibanding harga HH (16$/mmbtu), maka sebaiknya kita mawas >>>diri.... >>> >>>kalau pasar internasional nantinya jenuh karena ekspor shale gas ini, >>>maka "berkah"nya adalah gas Indonesia harus masuk pasar >>>lokal/domestik.... tapi kalau harganya masih di bawah 7-8 $/mmbtu >>>apakah akan menjadi ekonomis untuk proyek-proyek di daerah >>>forntier?... kalau tidak, maka sudah pasti proyeknya akan tertunda >>>atau terhenti >>> >>>ibarat sakit jantung, ini adalah "pembunuh senyap" eksplorasi dan >>>eksploitasi migas kita..... silakan diterka akan berapa banyak >>>aktifitas eksplorasi dan pengembangan yang akan tertunda atau >> ditunda >>>karenanya... >>> >>> >>>salam, >>> >>> >>>On 4/8/13, H Herwin <[email protected]> wrote: >>>> Hallo Pak Rovicky, >>>> Saya rasa fokus ke shale business di Amerika lebih di dorong oleh >>>> kepentingan bisnis dibanding dengan sekadar nasionalisme. Keberhasilan >>>> shale gas memang membuat harga gas di sana (Henry Hub) menjadi sangat >>>> rendah, ini yang membuat industri di sana berpindah ke shale "wet gas" >>>> dan >>>> shale oil. Produksi liquid yang membuat shale industry di Amerika masih >>>> menarik walaupun harga gasnya sangat rendah. >>>> >>>> Iseng2 saya lihat draft corporate meeting HESS May ini di internet. >>>> http://www.transforminghess.com/ >>>> >>>> HESS mempunyai asset Shale Oil yang bagus di Bakken (17% prod, 23% >>>> reserves >>>> Hess group ada di sana) dan di emerging Utica Shale. Di >> Indonesia sendiri >>>> asset mereka relatif kurang baik dibanding asset2 HESS yang lain dan >>>> hasil >>>> ekplorasi mereka di tahun2 belakangan ini juga negative. >>>> Saya tidak punyak akses ke www.ogj.com. Apakah Pak Rovicky bisa kirim >>>> artikelnya. Export gas dari Amerika memang patut dicermati karena akan >>>> mempengaruhi harga jual gas di Asia ................... Well, seperti >>>> bapak >>>> bilang, bila harga gas sangat murah, tidak ada salahnya kita beli gas >>>> kan >>>> ?? :) >>>> >>>> Salam hangat, >>>> Henky >>>> 2013/4/5 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> >>>> >>>>> On Fri, Apr 5, 2013 at 2:24 AM, H Herwin >>>>> <[email protected]>wrote: >>>>> >>>>>> Abah, >>>>>> Kebetulan Newfield >> sedang berencana menjual portfolio mereka di Asia (Di >>>>>> Cina dan di Malaysia), walaupun mereka mungkin berubah pikiran >>>>>> setelah >>>>>> discovery ini :) Atau malah mengambil keuntungan karena nilainya jadi >>>>>> lebih >>>>>> tinggi .......... Strategi mereka ingin focul dgn shale asset mereka >>>>>> di >>>>>> USA. >>>>>> >>>>> >>>>> Wah kok strateginya mirip HESS juga ya. >>>>> Shale gas/oil di Amerika ini banyak menyedot perhatian investor lokal >>>>> untuk menanamkan di negerinya sendiri. Walau harga gas disananya jatuh >>>>> tetep saja mereka ingin mengembangkan negaranya sendiri dengan dana >>>>> sendiri >>>>> dan dipakai sendiri (setahu saya debat ijin ekspor masih berlangsung >>>>> seru). >>>>> Intinya Amerika sedang berusaha untuk mencari pasokan "energi" untuk >>>>> negerinya sendiri. >>>>> >> http://www.ogj.com/articles/print/volume-111/issue-4/special-report-lng-update/us-debate-on-lng-exports-centered.html >>>>> >>>>> Sementara saya sedang berpikir realis (walau sebagai explorer tetap >>>>> harus >>>>> optimis), sedang concern kemungkinan Indonesia menjadi net importir >>>>> LNG >>>>> (2016) dan menjadi net import energi (setelah 2025). Padahal kita >>>>> memiliki >>>>> insentive demografi atau Demography Bonus tahun 2020-2030 dimana akan >>>>> ada >>>>> 180 juta tenaga kerja siap menjadi mesin yang perlu bahan bakar dan >>>>> bahan >>>>> baku. >>>>> >>>>> Kalau pembangunan FSRU, Electric Plant, pipelines, jaringan kabel >>>>> distribusi dan infrastruktur lainnya tidak disiapkan maka akan terjadi >>>>> braindrain tenaga kerja Indonesia ke negara-negara yang mampu >>>>> memberikan >>>>> "kerja". >>>>> >>>>> Doh piye iki ? >>>>> >>>>> >> RDP >>>>> >>>>> >>> >

