Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Nugrahani <[email protected]>
Date: Mon, 8 Apr 2013 04:45:06 
To: [email protected]<[email protected]>
Subject: FW: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL



From: Nugrahani
Sent: Monday, April 08, 2013 11:44 AM
To: '[email protected]'
Subject: RE: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL


Maksudku, SKK Migas enggak membuat standard gaji utk Expat harus segini segitu. 
Soal cost rec tentu harus dihitung.
Kayaknya temen2 SDM membuat semacam pembanding, antara KKKS-KKKS  (jumlah dan 
biayanya dan skalanya,  dan dari tahun ke tahun).
Mungkin memang (berdasarkan pembanding tersebut)  yang di WTC-II itu dianggap 
ketinggian (dan disuruh diturunin… hehehehehe… - aku gak tau soal ini. Tapi 
percaya deh, ini cuman kasus khusus aja !)  sementara beberapa KKKS lain yang 
pelit pisan ama beberapa level yang di bawah – yang nasional tentunya -, kami 
minta untuk dinaikkan.
Aku gak ngerti banyak soal SDM ini.
Ada baiknya diundang saja temen2 SDM di SKK Migas dan di beberapa oil company 
untuk mendiskusikan ini, misalnya di Forum JSC atau di acara luncheon talk 
IAGI/HAGI.


Salam,
Nuning



From: [email protected]<mailto:[email protected]> 
[mailto:[email protected]]<mailto:[mailto:[email protected]]> On Behalf Of 
Yudie Iskandar
Sent: Monday, April 08, 2013 9:21 AM
To: [email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL

Mbak Nuning, coba cek lagi ke lantai HR, apa betul SKK tidak ngatur soal isi 
dompet ini, karena bagaimanapun itu masuk ke cost rec.
Yang pasti, HR BPMIGAS (skr SKK) sudah hampir 4 tahun ini ngutak ngatik benefit 
yang diterima oleh kuli-kuli minyak di WTC-II. Mereka minta benefit yg diterima 
karyawan diTURUNkan, karena ketinggian.

Salam,

Yudie
“_^
________________________________
From: [email protected]<mailto:[email protected]>
Sender: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Date: Sun, 7 Apr 2013 04:21:28 +0000
To: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
ReplyTo: [email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL



Sepengetahuanku, SKK Migas (atau BPMIGAS atau Pertamina BPPKA) enggak punya 
aturan soal nasional gajinya segini atau yg expat gajinya segitu. CMMIW. Yg 
membuat peraturan tsb adalah Pemerintah (Bappenas ?? Dept. Tenaga Kerja ?). 
Jadi mestinya enggak merujuk ke peraturan SKK Migas, melainkan ke peraturan 
Pemerintah RI (bila memang ada). Sesuai namanya, hanya Badan Pelaksana atau 
sekarang Satuan Kerja Khusus, yg bukan regulator / pembuat regulasi (itu 
tugasnya Pemerintah).
SKK Migas hanya mengevaluasi usulan KKKS, menyelaraskan dgn Peraturan 
Pemerintah.

Jadi betul, itu tergantung pada niat baik oil company-nya saja.
Sepengetahuan saya (setidaknya saat saya menjadi Ketua Tim WPnB) tidak pernah 
kami menolak ataupun mengurangi usulan gaji dari para pekerja nasional. Pd 
beberapa KKKS malahan kami yg mendorong si KKKS utk menaikkan level gaji 
pegawai nasionalnya. Dan kami juga acapkali meminta mengurangi jumlah ekspat 
dan juga gajinya, meski kadang kala tidak berhasil, dgn berbagai alasan.

Secara umum, sepengetahuan saya, jumlah expat maupun alokasi biayanya menurun 
dari tahun ke tahun. Ini bukan isu lagi, kecuali di beberapa gelintir KKKS.

Btw, bila Pertamina punya Blok di luar negeri, kayaknya Pertamina pun 
berkepentingan utk menempatkan para pegawainya (Indonesian) di posisi tertentu, 
di negara tsb (sbg Expat).



Salam,
Nuning

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From: Dyah Tribuanawati 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>
Sender: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Date: Sun, 7 Apr 2013 11:46:34 +0800
To: 
[email protected]<[email protected]<mailto:[email protected]%[email protected]>>
ReplyTo: [email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL

Yang saya tau sudah ada beberapa pers minyak di Jakarta yg bisa memberikan  
renumerasi yg setara dg expat di KL sesuai dengan skill nya, yang berarti tidak 
harus merujuk pada aturan SKK Migas dll ...
So masalah klasik Expat vs National bisa diatasi di Indonesia .. Tergantung 
niat baik oil company nya saja .... :-)

Dyah
2013/4/3 Taufik Manan <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Benar ini, masalah klasik yang "never ending". Namun perlu ada solusi 
alternatif untuk mengatasinya.

Saya setuju dengan pertimbangan globalisasi saat ini, seharusnya 
profesionalisme kita dihargai dengan paket renumerasi yang menarik. Bahkan bila 
dibandingkan dengan para ekspat, tenaga kerja Indonesia sudah dapat bersaing 
bahkan melampauinya. Ini dibuktikan dengan kesuksesan rekan-rekan kita yang 
berkarya di luar negri dan diakui prestasinya (Brain Drain). Sudah banyak 
"success story" dan dibuktikan dengan banyak rekruitmen di Timur Tengah dan 
negri jiran untuk memulangkan kembali para profesional kita di luar negri.

Namun yang paling utama menurut saya adalah kepedulian para profesional (disini 
G&G) terhadap kemajuan bangsanya dan kesejahteraan rakyatnya.

Jadi sekarang tergantung kita semuanya; apakah mau mengejar profesionalisme 
dengan paket renumerasi yang sangat menarik di luar negri atau membangun 
bangsanya dengan segala keterbatasan? Ini pilihan yang dilematis.

Kalau menurut saya, ambil pengalaman di luar negri (bagi yang pernah kerja di 
luar negri atau overseas assignment) dan ketika pulang kampung dapat 
aplikasikan pengalaman dan manfaatnya untuk dikembangkan membangun negri kita 
sendiri. Selanjutnya, terserah anda ..... karena hidup adalah pilihan kita 
masing-masing.

Semoga maju Indonesia dan sejahtera rakyatnya .... Aamiin


Salam G&G



2013/4/3 rakhmadi avianto 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>
Masalah klasik yg never ENDING .... beh
Cape deh

Avi


On Wed, Apr 3, 2013 at 3:24 PM, 
<[email protected]<mailto:[email protected]>> wrote:
[Boxbe]<https://www.boxbe.com/overview>[cid:]This message is eligible for 
Automatic Cleanup! ([email protected]<mailto:[email protected]>) Add 
cleanup 
rule<https://www.boxbe.com/popup?url=https%3A%2F%2Fwww.boxbe.com%2Fcleanup%3Ftoken%3D6OfJ71R7VluMdBUgTedbYAybA%252F8%252Be2vNYRKCL462kKgGdK7g4AaupAPD7891wMjCciY%252BFmsM9y2OarJZ6EoRoT6fRunfjsPKFMS6JFTuZ%252B%252BcHx%252FzXX9C6xN3RgJHrb7lVBCjPqLjriH8q4wYxvxPxA%253D%253D%26key%3D9HTWwx%252FwKyswBUQvn4z%252BgwM%252BNBBwjmX%252Bb0PW7XInShw%253D&tc_serial=13883010987&tc_rand=854549626&utm_source=stf&utm_medium=email&utm_campaign=ANNO_CLEANUP_ADD&utm_content=001>
 | More 
info<http://blog.boxbe.com/general/boxbe-automatic-cleanup?tc_serial=13883010987&tc_rand=854549626&utm_source=stf&utm_medium=email&utm_campaign=ANNO_CLEANUP_ADD&utm_content=001>

Pak Nyoto,
Boleh disebutkan aturan tersebut berupa SK, permen, kepmen nmer berapa?
Instansi mana yg mengeluarkan?

Rgds,
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From: nyoto - ke-el <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Sender: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Date: Wed, 3 Apr 2013 15:05:03 +0800
To: IAGI<[email protected]<mailto:[email protected]>>
ReplyTo: [email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL

Mungkin masih terbentur dengan peraturan dari Depnaker, bahwa orang Indonesia 
yg bekerja di Indonesia harus dibayar sesuai standard gaji orang Indonesai 
kecuali kalau sudah tidak berpassport hijau lagi.

2013/4/3 Dyah Tribuanawati 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>
Kita lihat saja bagaimana realisasi nya ..
Beberapa tahun yang lalu (th 2007) juga akhir tahun 2011, salah satu Perusahaan 
nasional di Indonesia datang ke KL mengadakan recruitment champaign di KL
Mereka ingin merekrut tenaga ahli level menengah ke atas untuk kembali pulang 
bekerja di tanah air. Selain wawancara, mereka juga melakukan pengumpulan data, 
berupa salary, allowance dan benefit yg diterima oleh pekerja Indonesia, yg 
tentunya nanti akan menjadi bahan rujukan kira2 paket seperti apa yg akan 
disiapkan bila ada yg tertarik untuk pulang kampung tetapi sampai sekarang 
tidak ada berita nya lagi ....


2013/4/3 Muhammad Walfajri <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Belum satu minggu berlalu, sekitar 9 KPS besar Indonesia dan Tim SKK Migas 
mengadakan recruitment champaign di KBRI Abu Dhabi selama 2 hari, 29-30 Maret 
yg lalu. Mereka mewawancara ratusan profesional Indonesia, tidak hanya yg 
berada di Uni Emirat Arab, tapi juga ada yg datang dari negara2 tetangga, 
seperti Qatar. Mereka memaparkan project2 besar di tanah air yg segera akan 
digarap, seperti project Masela Inpex, Exxon Cepu, BP Tangguh, Pertamina, dll. 
Mereka ingin merekrut tenaga ahli level menengah ke atas untuk kembali pulang 
bekerja di tanah air. Selain wawancara, mereka juga melakukan pengumpulan data, 
berupa salary, allowance dan benefit yg diterima oleh pekerja Indonesia, yg 
tentunya nanti akan menjadi bahan rujukan kira2 paket seperti apa yg akan 
disiapkan bila ada yg tertarik untuk pulang kampung dan join dgn perusahaan2 
tsb.

Di sela-sela acara tsb, teman2 HRD dan tim dari KPS diajaklah jalan2 oleh org2 
kita disini sekadar untuk melihat2 kota Abu Dhabi di pinggiran Teluk Arab yang 
indah. Kebetulan teman2 di sini banyak yg memakai mobil2 besar seperti GMC, 
Land Cruiser, dll yg katanya sempat sedikit membuat tertegun tim2 HRD tsb.

Mudah2an saja dengan kunjungan ini, SKK Migas dan pihak2 berwenang mau mengkaji 
dan merubah regulasi & system yg kurang memihak bangsa sendiri, dengan tidak 
lagi meninabobokkan expat2 di tanah air. Tapi sudah saatnya kita menjadi tuan 
rumah di negara sendiri, seperti makmurnya orang2 Emirati, Qatari, Saudi, 
Kuwaiti, Omani di negara2nya sendiri.

Salam,

Muhammad Walfajri

2013/4/3 Andang Bachtiar <[email protected]<mailto:[email protected]>>
(Perolehan keahliannya dibiayai Migas "rakyat" Indonesia, ee,..Orang Asing yg 
memanfaatkannya) - krn kita tdk menghargai bangsa senDiri (?)

ADB, geologist merdeka!

Saya muLai dg fwd-an curhatan temen saya, seorang CEO sebuah perusahaan minyak 
di Jkt:

"Minggu lalu saya sempat diskusi dg bbrp teman yg saya anggap punya otoritas di 
urusan per-migas-an kita tentang expat bangsa asing. Saya menanyakan apakah 
saya boleh memakai tenaga expat nasional (berkewarganegaraan Indonesia), dg 
tarif sama dg expat asing, daripada uangnya utk orang asing, kan lebih baik 
buat WNI. Yg saya maksud expat nasional adalah tenaga ahli WNI tapi kerja di 
luar negeri dg pengaLaman internasional di mana2. Tapi ya begitulah .. 
diskusinya gak ada kesimpulan.... Karena untuk urusan kayak begini, 
mentogh2nya: Masih beLum ada mekanismenya dlm aturan2 di permigasan kita 
u/menggaji tenaga ahLi Indonesia menyamai atau Lebih besar dr penggaJian tenaga 
ahli asing."

(Pertanyaan saya: Memangnya mekanisme yg ada itu spt apa koq sampai tdk bisa 
mengakomodasi sistim penggajian berdasarkan fungsi, keaHLian dan prestasi, 
malahan koq berdasarkan ras "indonesia" vs asing :)

Memang masaLah penggajian expat vs nasionaL-indonesia ini lucu sekaLigus bebaL 
tp nyata: sejak dulu sampai Skrg. Gak waras2 ae awak dewe iki. Contoh waktu ada 
reorganisasi suatu kumpeni PSC/KKkS asing duLu, seorang rising star nationaL 
diangkat jadi VP dan akan digaji sama dengan VP yg expat tapi ditolak oleh 
otoritas migas karena berpaspor Indonesia berdasar aturan BAPENAS tidak boleh. 
Lalu kawan ini dipindah ke headquarternya di Calgary dan tetap bekerja untuk 
blok yg di Indonesia itu, digaji standard Expat menggunakan anggaran PSC Blok 
tsb dalam "head quarter overhead". Setelah itu kawan ini ditranfer lagi ke 
Indonesia dibayar pake dolar amrik standard expat, gajinya tetap dari Calgary 
pake duit PSC (head quarter overhead) dan tidak ditolak oleh otoritas kita. 
Wkwkwkwk. Padahal dananya berasal dari sumber yang sama produksi migas di Blok 
tsb.

Nah, masihkah kita akan mengulangi kebebaLan yg sama skrg ini dg 
mereka-reKa-yasa Lagi spy bisa menghargai bangsa sendiri? ApaLagi kaLo kita 
ingat bhw skrg ini banyak tenaga ahli migas WNI yg kerja di LN, mereka jadi 
pinter krn sdh dididik dg biaya Indonesia melalui cost recovery semasa mereka 
kerja di PSC ind. Sangat sayangkan, mereka jadi pinter di Indonesia tapi yg 
menikmati malah Petronas, Arab dll. Seharusnya keahlLian mrk itu bisaLah 
dinikmati Pertamina, Medco atau PSC Ind dg tarif yg sama dg expat sesuai 
keahliannya.

Ayo dong, yang punya kuasa bikin2 aturan. Berhentilah bermain2 dg 
mendiskriminasi bangsa sendiri. Itu juga mungkin saLah satu penyebab knp gak 
kunjung bergerak maJu penemuan cadangan2 baru kita!

SaLam
ADB







Kirim email ke