Ya, sok atuh... Didiskusikan ke Wisma Mulia (divisi terkait). Pasti ada alasannya, yg saya enggak faham lah. Bisa jadi di level tertentu si nasional itu udah tingginya bukan main sementara di level lainnya (di KKKS itu juga) lebih rendah dari KKKS lainnya. Atau barangkali biayanya keseluruhan Adm-nya lebih tinggi dari 10%... Atau .. Ya.. Gak tau lah alasannya apa. Silakan ditanyain sendiri ya. Aku gak bisa jawab kenapa2nya. Hanya aku sih yakin klo itu cuman kasus khusus aja.
Salam, Nuning Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Yudie Iskandar" <[email protected]> Sender: <[email protected]> Date: Mon, 8 Apr 2013 07:38:39 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: Fw: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL Sepertinya prinsip HR emang reduce cost oom Kartiko, termasuk HR Wisma Mulia. Bagusnya kan K3S yang lain di naikin benefitnya. Bukan yang tinggi malah dipangkas. Kalo ini memang prinsipnya, mimpi kalee yee mau nyuruh balik TKI. SalamN YI P.S : Kerja lagi yu p Kartiko, rejeki mah biar aja g diatur oleh manusia kok.. “_^ -----Original Message----- From: kartiko samodro <[email protected]> Sender: <[email protected]> Date: Mon, 8 Apr 2013 14:18:52 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: Fw: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL Bukannya prinsip HR : membuat yang jelek menjadi lebih baik dan yang sudah baik harusnya dibuat lebih baik lagi ? Oleh karena itu salah satu fungsi HR adalah training yang membuat pegawai lebih baik dan berkontribusi lebih. Bukankah kalau tidak, kita malah akan bergerak mundur ? Atau memang kita terbiasa untuk berpikir mundur... Aneh juga kalau yang disampaikan Pak Yudi benar adanya , bukannya memacu yang lain untuk bergerak maju dan lebih baik , malah menarik yang sudah maju untuk mundur ke belakang hanya karena membandingkan dengan yang lebih tertinggal. On 4/8/13, [email protected] <[email protected]> wrote: > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Nugrahani <[email protected]> > Date: Mon, 8 Apr 2013 04:45:06 > To: [email protected]<[email protected]> > Subject: FW: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL > > > > From: Nugrahani > Sent: Monday, April 08, 2013 11:44 AM > To: '[email protected]' > Subject: RE: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL > > > Maksudku, SKK Migas enggak membuat standard gaji utk Expat harus segini > segitu. Soal cost rec tentu harus dihitung. > Kayaknya temen2 SDM membuat semacam pembanding, antara KKKS-KKKS (jumlah > dan biayanya dan skalanya, dan dari tahun ke tahun). > Mungkin memang (berdasarkan pembanding tersebut) yang di WTC-II itu > dianggap ketinggian (dan disuruh diturunin… hehehehehe… - aku gak tau soal > ini. Tapi percaya deh, ini cuman kasus khusus aja !) sementara beberapa > KKKS lain yang pelit pisan ama beberapa level yang di bawah – yang nasional > tentunya -, kami minta untuk dinaikkan. > Aku gak ngerti banyak soal SDM ini. > Ada baiknya diundang saja temen2 SDM di SKK Migas dan di beberapa oil > company untuk mendiskusikan ini, misalnya di Forum JSC atau di acara > luncheon talk IAGI/HAGI. > > > Salam, > Nuning > > > > From: [email protected]<mailto:[email protected]> > [mailto:[email protected]]<mailto:[mailto:[email protected]]> On Behalf > Of Yudie Iskandar > Sent: Monday, April 08, 2013 9:21 AM > To: [email protected]<mailto:[email protected]> > Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL > > Mbak Nuning, coba cek lagi ke lantai HR, apa betul SKK tidak ngatur soal isi > dompet ini, karena bagaimanapun itu masuk ke cost rec. > Yang pasti, HR BPMIGAS (skr SKK) sudah hampir 4 tahun ini ngutak ngatik > benefit yang diterima oleh kuli-kuli minyak di WTC-II. Mereka minta benefit > yg diterima karyawan diTURUNkan, karena ketinggian. > > Salam, > > Yudie > “_^ > ________________________________ > From: [email protected]<mailto:[email protected]> > Sender: <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Date: Sun, 7 Apr 2013 04:21:28 +0000 > To: <[email protected]<mailto:[email protected]>> > ReplyTo: [email protected]<mailto:[email protected]> > Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL > > > > Sepengetahuanku, SKK Migas (atau BPMIGAS atau Pertamina BPPKA) enggak punya > aturan soal nasional gajinya segini atau yg expat gajinya segitu. CMMIW. Yg > membuat peraturan tsb adalah Pemerintah (Bappenas ?? Dept. Tenaga Kerja ?). > Jadi mestinya enggak merujuk ke peraturan SKK Migas, melainkan ke peraturan > Pemerintah RI (bila memang ada). Sesuai namanya, hanya Badan Pelaksana atau > sekarang Satuan Kerja Khusus, yg bukan regulator / pembuat regulasi (itu > tugasnya Pemerintah). > SKK Migas hanya mengevaluasi usulan KKKS, menyelaraskan dgn Peraturan > Pemerintah. > > Jadi betul, itu tergantung pada niat baik oil company-nya saja. > Sepengetahuan saya (setidaknya saat saya menjadi Ketua Tim WPnB) tidak > pernah kami menolak ataupun mengurangi usulan gaji dari para pekerja > nasional. Pd beberapa KKKS malahan kami yg mendorong si KKKS utk menaikkan > level gaji pegawai nasionalnya. Dan kami juga acapkali meminta mengurangi > jumlah ekspat dan juga gajinya, meski kadang kala tidak berhasil, dgn > berbagai alasan. > > Secara umum, sepengetahuan saya, jumlah expat maupun alokasi biayanya > menurun dari tahun ke tahun. Ini bukan isu lagi, kecuali di beberapa > gelintir KKKS. > > Btw, bila Pertamina punya Blok di luar negeri, kayaknya Pertamina pun > berkepentingan utk menempatkan para pegawainya (Indonesian) di posisi > tertentu, di negara tsb (sbg Expat). > > > > Salam, > Nuning > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ________________________________ > From: Dyah Tribuanawati > <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Sender: <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Date: Sun, 7 Apr 2013 11:46:34 +0800 > To: > [email protected]<[email protected]<mailto:[email protected]%[email protected]>> > ReplyTo: [email protected]<mailto:[email protected]> > Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL > > Yang saya tau sudah ada beberapa pers minyak di Jakarta yg bisa memberikan > renumerasi yg setara dg expat di KL sesuai dengan skill nya, yang berarti > tidak harus merujuk pada aturan SKK Migas dll ... > So masalah klasik Expat vs National bisa diatasi di Indonesia .. Tergantung > niat baik oil company nya saja .... :-) > > Dyah > 2013/4/3 Taufik Manan > <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Benar ini, masalah klasik yang "never ending". Namun perlu ada solusi > alternatif untuk mengatasinya. > > Saya setuju dengan pertimbangan globalisasi saat ini, seharusnya > profesionalisme kita dihargai dengan paket renumerasi yang menarik. Bahkan > bila dibandingkan dengan para ekspat, tenaga kerja Indonesia sudah dapat > bersaing bahkan melampauinya. Ini dibuktikan dengan kesuksesan rekan-rekan > kita yang berkarya di luar negri dan diakui prestasinya (Brain Drain). Sudah > banyak "success story" dan dibuktikan dengan banyak rekruitmen di Timur > Tengah dan negri jiran untuk memulangkan kembali para profesional kita di > luar negri. > > Namun yang paling utama menurut saya adalah kepedulian para profesional > (disini G&G) terhadap kemajuan bangsanya dan kesejahteraan rakyatnya. > > Jadi sekarang tergantung kita semuanya; apakah mau mengejar profesionalisme > dengan paket renumerasi yang sangat menarik di luar negri atau membangun > bangsanya dengan segala keterbatasan? Ini pilihan yang dilematis. > > Kalau menurut saya, ambil pengalaman di luar negri (bagi yang pernah kerja > di luar negri atau overseas assignment) dan ketika pulang kampung dapat > aplikasikan pengalaman dan manfaatnya untuk dikembangkan membangun negri > kita sendiri. Selanjutnya, terserah anda ..... karena hidup adalah pilihan > kita masing-masing. > > Semoga maju Indonesia dan sejahtera rakyatnya .... Aamiin > > > Salam G&G > > > > 2013/4/3 rakhmadi avianto > <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Masalah klasik yg never ENDING .... beh > Cape deh > > Avi > > > On Wed, Apr 3, 2013 at 3:24 PM, > <[email protected]<mailto:[email protected]>> wrote: > [Boxbe]<https://www.boxbe.com/overview>[cid:]This message is eligible for > Automatic Cleanup! ([email protected]<mailto:[email protected]>) > Add cleanup > rule<https://www.boxbe.com/popup?url=https%3A%2F%2Fwww.boxbe.com%2Fcleanup%3Ftoken%3D6OfJ71R7VluMdBUgTedbYAybA%252F8%252Be2vNYRKCL462kKgGdK7g4AaupAPD7891wMjCciY%252BFmsM9y2OarJZ6EoRoT6fRunfjsPKFMS6JFTuZ%252B%252BcHx%252FzXX9C6xN3RgJHrb7lVBCjPqLjriH8q4wYxvxPxA%253D%253D%26key%3D9HTWwx%252FwKyswBUQvn4z%252BgwM%252BNBBwjmX%252Bb0PW7XInShw%253D&tc_serial=13883010987&tc_rand=854549626&utm_source=stf&utm_medium=email&utm_campaign=ANNO_CLEANUP_ADD&utm_content=001> > | More > info<http://blog.boxbe.com/general/boxbe-automatic-cleanup?tc_serial=13883010987&tc_rand=854549626&utm_source=stf&utm_medium=email&utm_campaign=ANNO_CLEANUP_ADD&utm_content=001> > > Pak Nyoto, > Boleh disebutkan aturan tersebut berupa SK, permen, kepmen nmer berapa? > Instansi mana yg mengeluarkan? > > Rgds, > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ________________________________ > From: nyoto - ke-el <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Sender: <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Date: Wed, 3 Apr 2013 15:05:03 +0800 > To: IAGI<[email protected]<mailto:[email protected]>> > ReplyTo: [email protected]<mailto:[email protected]> > Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL > > Mungkin masih terbentur dengan peraturan dari Depnaker, bahwa orang > Indonesia yg bekerja di Indonesia harus dibayar sesuai standard gaji orang > Indonesai kecuali kalau sudah tidak berpassport hijau lagi. > > 2013/4/3 Dyah Tribuanawati > <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Kita lihat saja bagaimana realisasi nya .. > Beberapa tahun yang lalu (th 2007) juga akhir tahun 2011, salah satu > Perusahaan nasional di Indonesia datang ke KL mengadakan recruitment > champaign di KL > Mereka ingin merekrut tenaga ahli level menengah ke atas untuk kembali > pulang bekerja di tanah air. Selain wawancara, mereka juga melakukan > pengumpulan data, berupa salary, allowance dan benefit yg diterima oleh > pekerja Indonesia, yg tentunya nanti akan menjadi bahan rujukan kira2 paket > seperti apa yg akan disiapkan bila ada yg tertarik untuk pulang kampung > tetapi sampai sekarang tidak ada berita nya lagi .... > > > 2013/4/3 Muhammad Walfajri <[email protected]<mailto:[email protected]>> > Belum satu minggu berlalu, sekitar 9 KPS besar Indonesia dan Tim SKK Migas > mengadakan recruitment champaign di KBRI Abu Dhabi selama 2 hari, 29-30 > Maret yg lalu. Mereka mewawancara ratusan profesional Indonesia, tidak hanya > yg berada di Uni Emirat Arab, tapi juga ada yg datang dari negara2 tetangga, > seperti Qatar. Mereka memaparkan project2 besar di tanah air yg segera akan > digarap, seperti project Masela Inpex, Exxon Cepu, BP Tangguh, Pertamina, > dll. Mereka ingin merekrut tenaga ahli level menengah ke atas untuk kembali > pulang bekerja di tanah air. Selain wawancara, mereka juga melakukan > pengumpulan data, berupa salary, allowance dan benefit yg diterima oleh > pekerja Indonesia, yg tentunya nanti akan menjadi bahan rujukan kira2 paket > seperti apa yg akan disiapkan bila ada yg tertarik untuk pulang kampung dan > join dgn perusahaan2 tsb. > > Di sela-sela acara tsb, teman2 HRD dan tim dari KPS diajaklah jalan2 oleh > org2 kita disini sekadar untuk melihat2 kota Abu Dhabi di pinggiran Teluk > Arab yang indah. Kebetulan teman2 di sini banyak yg memakai mobil2 besar > seperti GMC, Land Cruiser, dll yg katanya sempat sedikit membuat tertegun > tim2 HRD tsb. > > Mudah2an saja dengan kunjungan ini, SKK Migas dan pihak2 berwenang mau > mengkaji dan merubah regulasi & system yg kurang memihak bangsa sendiri, > dengan tidak lagi meninabobokkan expat2 di tanah air. Tapi sudah saatnya > kita menjadi tuan rumah di negara sendiri, seperti makmurnya orang2 Emirati, > Qatari, Saudi, Kuwaiti, Omani di negara2nya sendiri. > > Salam, > > Muhammad Walfajri > > 2013/4/3 Andang Bachtiar > <[email protected]<mailto:[email protected]>> > (Perolehan keahliannya dibiayai Migas "rakyat" Indonesia, ee,..Orang Asing > yg memanfaatkannya) - krn kita tdk menghargai bangsa senDiri (?) > > ADB, geologist merdeka! > > Saya muLai dg fwd-an curhatan temen saya, seorang CEO sebuah perusahaan > minyak di Jkt: > > "Minggu lalu saya sempat diskusi dg bbrp teman yg saya anggap punya otoritas > di urusan per-migas-an kita tentang expat bangsa asing. Saya menanyakan > apakah saya boleh memakai tenaga expat nasional (berkewarganegaraan > Indonesia), dg tarif sama dg expat asing, daripada uangnya utk orang asing, > kan lebih baik buat WNI. Yg saya maksud expat nasional adalah tenaga ahli > WNI tapi kerja di luar negeri dg pengaLaman internasional di mana2. Tapi ya > begitulah .. diskusinya gak ada kesimpulan.... Karena untuk urusan kayak > begini, mentogh2nya: Masih beLum ada mekanismenya dlm aturan2 di permigasan > kita u/menggaji tenaga ahLi Indonesia menyamai atau Lebih besar dr > penggaJian tenaga ahli asing." > > (Pertanyaan saya: Memangnya mekanisme yg ada itu spt apa koq sampai tdk bisa > mengakomodasi sistim penggajian berdasarkan fungsi, keaHLian dan prestasi, > malahan koq berdasarkan ras "indonesia" vs asing :) > > Memang masaLah penggajian expat vs nasionaL-indonesia ini lucu sekaLigus > bebaL tp nyata: sejak dulu sampai Skrg. Gak waras2 ae awak dewe iki. Contoh > waktu ada reorganisasi suatu kumpeni PSC/KKkS asing duLu, seorang rising > star nationaL diangkat jadi VP dan akan digaji sama dengan VP yg expat tapi > ditolak oleh otoritas migas karena berpaspor Indonesia berdasar aturan > BAPENAS tidak boleh. Lalu kawan ini dipindah ke headquarternya di Calgary > dan tetap bekerja untuk blok yg di Indonesia itu, digaji standard Expat > menggunakan anggaran PSC Blok tsb dalam "head quarter overhead". Setelah itu > kawan ini ditranfer lagi ke Indonesia dibayar pake dolar amrik standard > expat, gajinya tetap dari Calgary pake duit PSC (head quarter overhead) dan > tidak ditolak oleh otoritas kita. Wkwkwkwk. Padahal dananya berasal dari > sumber yang sama produksi migas di Blok tsb. > > Nah, masihkah kita akan mengulangi kebebaLan yg sama skrg ini dg > mereka-reKa-yasa Lagi spy bisa menghargai bangsa sendiri? ApaLagi kaLo kita > ingat bhw skrg ini banyak tenaga ahli migas WNI yg kerja di LN, mereka jadi > pinter krn sdh dididik dg biaya Indonesia melalui cost recovery semasa > mereka kerja di PSC ind. Sangat sayangkan, mereka jadi pinter di Indonesia > tapi yg menikmati malah Petronas, Arab dll. Seharusnya keahlLian mrk itu > bisaLah dinikmati Pertamina, Medco atau PSC Ind dg tarif yg sama dg expat > sesuai keahliannya. > > Ayo dong, yang punya kuasa bikin2 aturan. Berhentilah bermain2 dg > mendiskriminasi bangsa sendiri. Itu juga mungkin saLah satu penyebab knp gak > kunjung bergerak maJu penemuan cadangan2 baru kita! > > SaLam > ADB > > > > > > > >

