Maaf, saya kirim ulang via email biasa bukan attachment.

 

HL Ong

 

Teman2 IAGI,                                   Februari 9, 2014. 

Tulisan Kompas ttg. rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energy
Nasional (PP KEN) yang disusun Dewan Energy Nasional (DEN) dan disetujui DPR
28/1/2014 perlu dibahas karena pentingnya bagi kita semua.

Dua hal yang menjadi persoalan jika PP KEN dilaksanakan adalah perihal
besarnya prosentase dari  commoditas dan tentang focus dan prioritas yang
diberikan kepada alternative energy. 

 

Komposisi dari commodity energy dalam PP KEN menyerupai Negara kaya. 

Target dari PP KEN untuk tahun 2025 adalah pemakaian Oil 25%, Coal 30%, Gas
22%, dan Energy Baru dan Terbarukan atau Alternative Energy 23%. 

Besarnya prosentase commodity PP KEN menyerupai Negara kaya seperti US dan
Europe. Untuk tahun 2025, coal yang murah hanya dipakai 30% sedangkan minyak
yang perlu disubsidi sampai 25%. Bandingkan dengan China yang  pada tahun
2030 akan memakai coal sebesar 70% sedangkan minyak plus gas ditekan sampai
5% untuk pembangkit listriknya.

Indonesia dilain pihak akan menggunakan gas LNG dalam skala besar untuk
power generation. Regassing plant telah beroperasi di Teluk Jakarta. Rencana
berikutnya adalah di Jawa Tengah atau Jawa Timur, Sumatra Selatan, dan Arun
dengan  menjagakan supply LNG dari Badak dan dari Wiryagar. Ini tidak masuk
akal samasekali karena harganya sangat mahal. Seharusnya DEN, IAGI, IATMI,
atau siapapun harus mencegah hal ini. 

Coal adalah energy paling murah. Di Indonesia Biaya Pokok Produksi (BPP) PLN
untuk tahun 2010 dengan mengunakan coal harga pasar dunia cuma Rp.450/kwh
dibandingkan dengan solar dan gas alam yang disubsidi harganya jauh lebih
besar, yaitu Rp. 1,800/kwh dan Rp.800/kwh. Harga solar dan gas akan naik
20-30% kalau subsidi dihilangkan.   

Sebagai pembanding, produksi coal China 3X dan India hampir2X dari produksi
batubara Indonesia. Namun China dan India masih perlu import coal dari
Indonesia. Indonesia bangga sebagai "the biggest thermal coal exporter in
the world". Indonesia bangga pakai clean energy, yaitu gas alam dan
alternative energy, yang cukup besar. Namun apakah Indonesia siap untuk
membayar "clean energy"? Jawabannya belum karena terlalu mahal. 

Kita harus meniru China dan India, memakai coal dalam semua pembangkit
istrik. Memang beberapa kota di China terkena smog yang parah karena
pemakain coal yang berlebihan. Tapi diain pihak, pemakaian coal yang sangat
murah merupakan pemacu untuk kemajuan industrinya. Sekarang setelah China
maju, baru kota-kota mulai dibersihkan (lih.  Beijing waktu Olimpics). 

Indonesia seyogianya harus pakai low rank coal dalam semua pembangkit
listriknya. Coal diatas 4,500 kalori diekspor. Bukan sekarang dimana low
kalori coal perlu di ditingkatakan sebelum di ekspor. Suatu kebijakan yang
keliru.  

Perlu diketahui bahwa coal Indonesia "relatively clean". Kebanyakan batubara
Indonesia adalah thermal coal dengan   moisture tinggi tetapi rendah kadar
ash dan belerang. 

Selain itu, kebuthan energy  terbesar adalah di Jawa dan Bali, yang
merupakan kepulauan didaerah tropis. Asap dari pembangkit listrik bisa lewat
dengan cepat dan hujan tropis  akan membersihkannya. Contoh adalah  Cilacap
refinery yang menerima crude dari Middle East yang ditolak dimana-mana
karena kadar belerang. Penduduk sekitarnya tidak ada yang complaint. Tidak
demikian dengan China, asap yang keluar berputar-putar di pedalaman. 

Indonesia seperti China dan India masih diperkenankan, berdasarkn Kyoto
Protocol, untuk mengotori udara. Kita harus memanfaatkan kesempatan ini. 

 

Keputusan DEN memberikan prioristas kepada alternative energy perlu dikaji
kembali. 

PP KEN baru men-targetkan kenaikan alternative energy dari sekarang 6%,
menjadi 23% ditahun 2025 dan 31% ditahun 2050, kenaikan luar biasa sampai
4-5 kali hanya dalam kurun waktu 11 tahun, sesuatu yang tidak masuk akal
untuk suatu resource industry. 

Indonesia bukan kecualian. Puluhan produsen migas didunia bernasib sama
seperti Indonesia. Minyak  mulai "depleted" sedangkan kemajuan ekonomi,
menyebabkan konsumsi domestic naik exponentially. Terjadilah "gap" yang
makin lama makin besar.   

Suatu badan independent, The Association for the Study of Peak Oil atau
ASPO, yang anggotanya adalah orang2 independent terutama akademisi dari 31
Negara, memberi anjuran  tentang strategi yang perlu diambil dengan adanya
"gap" yang membesar.  Studi dari ASPO menjimpulkan suatu strategi energy
berdasarkan empat prioritas. Prioritas ke-4 atau terakir adalah Alternative
Energy.  

Sedangkan PP KEN , memprioritaskan Alternative Energy sebagai prioritas
pertama dengan menaikkannya sampai 4-5 kali dari sebelumnya. Ini
bertentangan dengan "guidance" dari ASPO. 

Textbook karangan David MacKay "Sustainable Energy without the hot air"
adalah buku yang mengambarkan kesalahan persepsi dari banyak orang tentang
sustainable (alternative) energy. Buku ini bisa di download free. MacKay
mengambarkan sangat besarnya lahan yang diperlukan untuk mengembangkan
alternative energy seperti matahari, onshore dan offshore wind farms, hydro,
biomass, wave, tide, dll. Sedangkan kebutuhan energy dalam jumlah besar di
Indonesia  terbatas di Jawa dan Bali yang lahannya mahal sekali hingga
alternative energy sukar berkembang.

Negara maju di Eropa, Canada dan akir-akir ini Australia telah meng-adopsi
Kyoto Protocol dimana emisisi CO2, adalah penyebab "Global Warming", dan
perlu dibatasi. Amerika Serikat punya US Clean Air Act. Dengan adanya
"Global warming", Negara kaya yang selama puluhan tahun telah emisi CO2,
wajib membersihkan dengan mengembangkan alternative energy yang
"sustainable" atau yang emisi CO2 kecil. Meskipun memang ada  kemajuan yang
pesat dalam pengembangan alternative energy oleh Negara-negara maju, seperti
wind energy di Germany dan Denmark, namun sampai sekarang mereka masih
sangat mahal dan perlu di disubsidi oleh Negaranya hingga  dibentuk carbon
credit dipasar bebas Eropa.     

Indonesia secara agresif ingin mengembangkan alternative energy mengikuti
jejak Negara kaya dengan dalih energy migas Indonesia sudah terkuras dan
coal mengotori udara. Indonesia tidak diminta tetapi ingin "sok green".
Pertanyaan adalah apakah kita tahu  biayanya untuk "green" dan apakah kita
sangup membayarnya?   

Amerika Serikat berkiblat pada US clean air act, dan tidak mau
menandatangani Kyoto Protocol meskipun dapat tekanan dari seluruh dunia dan
Copenhagen meeting secara jelas menyalahkan global warming adalah tingkah
laku manusia. Amerika menganaggap Kyoto Protocol terlalu mahal dan akan
menghalangi kemajuan ekonominya.  Canada memberi aba-aba ingin keluar dari
Kyoto Protocol karena dengan harga energy yang mahal, mineral resources
mereka tidak dapat dikembangkan. Australia yang akan menutup beberapa coal
generating power plant karena polusi, sekarang berpikir balik karena
dibeberapa daerah, daya beli masyarakat rendah. Artinya, "green" itu  mahal
sekali dan sebaiknya Indonesia jangan ikut-ikutan.   

Indonesia memang perlu ngomong "green" supaya tidak dimusuhi Negara lain.
Tapi jangan ikut melaksanakan "green" karena masih terlalu mahal.  

Indonesia mempunyai beberapa option untuk mengurangi suibsidi BBM. Option
yang diambil oleh PP KEN adalah membesarkan alternative energy, suatu
"unchartered territory" kalau dibandingkan dengan migas yang telah kita
tekuni lebih dari satu abad. Memang, alternative energy seperti biodiesel,
geothermal, CBM, dsb. perlu ditanggapi secara serious, tetapi tidak perlu
diutamakan dengan menaikkan dari 6% menjadi 4 sampai 5 kali  liapat. 

Apakah tidak sebaiknya kita meninjau kembali potensi migas kita yang telah
kita tekuni dan betul2 kita ketahui ada cadangannya tinggal applikasi
teknologi yang memadai?    

Sebagai akir kata, saya ingin mengemukakan tentang batubara Indonesia.
Memang menggunakan batubara menyebabakan pengotoran udara yang cukup parah.
Namun Jawa/Bali adalah pulau di daerah tropis, hujan dan angin akan
membersihkannya. Dalam keadaan sekarang, coal mempunyai potential paling
besar untuk dikembangkan. Marilah kita memanfaatkan batubara kalori rendah
yang cadangannya terjamin, berlimpah sampai 200 tahun,  berrisiko rendah,
relative bersih, harga murah, bisa bersaing di pasar International,
diperkenankan oleh Kyoto Protocol, dan pengolahannya relative murah, tinggal
carigali. 

Salam,

HL Ong

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Isamail
Zaini
Sent: Monday, 10 February 2014 6:14 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net] membingungkan...

 

Kayaknya millist ini tidak bisa ngirimkan attachment - nya ya

 

ISM

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Ong Han
Ling
Sent: 10 February 2014 16:35
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net] membingungkan...

 

Maaf saya kirim kembali attachment-nya

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
[email protected]
Sent: Monday, 10 February 2014 3:28 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net] membingungkan...

 

Kayaknya lampiranya tidak ikut.

Pada PP tsb target kedepan 2025 dalam energy mix penggunaan minyak berkurang
dari 49% menjadi 25 % disisi lain gas minimal 22 % { saat ini kira kira 50 %
dari total produksinya } batubara 30 % { saat ini hanya 25% dari total
produksinya } yg paling besar peningkatannya Energi terbarukan yg didalamnya
ada Geothermal mejadi 23 % dari target sebelumnya hanya 6 % di KEN 2006
{saat ini hanya 3% }. Pertanyanya target tsb apakah cukup realistik dg
kondisi saat ini ? Ditengah lesunya investasi dibidang ekplorasi , langkah
langkah apa yg perlu dilakukan secara konsisten untuk mencapai target tsb
dalam 10 thn kedepan ini {2025 } ini tugasnya DEN dg Pemerintah baru kedepan
atau malah akan dilakukan revisi PP KEN tsb .

Dlm PP tsb prioritas pengembangan energi mempertimbangkan kesimbangan
keekonomian , keamanan pasokan , pelestarian fungsi lingkungan dan
diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri oleh kerena itu ekpor
dikurangi bahkan di tiadakan, untuk memenuhi komitmen ini tentunya kebijakan
dalam industri energi spt migas dan batubara akan berubah terutama dlm hal
meminimalkan ekpor sampai nol persen, Pertanyaannya bagaimana dg komitmen
ekpor jangka panjang yg sdh ada apakah perlu penyusaian kembali spt halnya
di ekpor bahan mineral { adanya larangan ekpor bahan mentah } , ini semua
harus direncanakan dg matang dan dituangkan dalam Rencana Umum Energi
Nasional yg akan dibuat oleh Den baru dg pemerintah sbg kelanjutannya dari
KEN
Selanjutnya Den baru juga harus mengawal { fungsi pengendalian dan
pengawanan
Thd implemenmtasi dari KEN tsb kususnya bagaimana penjabarannya ditiap
sektoral yg biasanya saling tumpang tindih dg ego sektoralnya masing masing
, inilah tantangan Den baru nantinya apakah bisa mencapai target traget yg
telah dibuatnya sendiri tsb

Powered by Telkomsel BlackBerryR

  _____  

From: Ong Han Ling <[email protected]> 

Sender: <[email protected]> 

Date: Mon, 10 Feb 2014 13:54:18 +0700

To: <[email protected]>

ReplyTo: [email protected] 

Subject: RE: [iagi-net] membingungkan...

 

Teman2 IAGI,

 

Tulisan Kompas ttg. rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energy
Nasional (PP KEN) yang disusun Dewan Energy Nasional (DEN)dan disetujui DPR
28/1/2014 perlu diberi comment dan dibahas karena pentingnya bagi kita
semua. 

 

Saya ingin memberikan response terhadap PP KEN yang baru. Namun karena
tulisan agak panjang dan untuk mempermudah pembaca dan juga karena tidak
semua anggota berminat, saya sampaikan sebagai attachment.  

 

Coment Anda saya hargai, terutama untuk diskusi mengingat pentingnya
kebijakan energy yang efeknya baru setelah 10 tahun lagi terlihat. Seperti
sekarang kemacetan dan kebanjiran dimana-mana adalah hasil penundaan
membangun tol road dan banjir kanaal yang sudah direncanakan 10 -15 tahun
lalu.  

 

Salam,

 

HL Ong


----------------------------------------------------
Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
JAKARTA,15-18 September 2014
----------------------------------------------------
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the
use of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------


----------------------------------------------------
Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
JAKARTA,15-18 September 2014
----------------------------------------------------
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the
use of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------


----------------------------------------------------
Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
JAKARTA,15-18 September 2014
----------------------------------------------------
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the
use of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------


----------------------------------------------------
Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
JAKARTA,15-18 September 2014
----------------------------------------------------
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------

Kirim email ke