Rekan-rekan IAGI dan Pak Miko ysh,

Terimakasih atas apresiasi dan saran-sarannya

Sebagaimana sudah didiskusikan dalam seminar, sejak awal penelitian geologi
dan geofisikan TTRM di Gunung Padang murni ilmiah tidak ada hipotesa
aneh-aneh seperti keberadaan pintu Gerbang 18 meter, reactor hidro listrik,
budaya piramida dll seperti disitir dari mass media oleh Pak Miko.

Perihal 'semen purba' dan ruang-ruang di bawah pun rasanya sudah
didiskusikan dalam seminar.  Boleh saja berbeda interpretasi dan sebaiknya
memang diteliti lebih lanjut bukan sekedar di'anti-thesis'kan tanpa
dukungan data-analisa.  Terusterang saya agak heran mendengar Pak
Miko masih yakin 100% bahwa material lempung diantara batu columnar joint
ini hasil pelapukan (mengulit bawang) tanpa pernah melihat singkapan
segarnya pada kotak gali arkeologi (di bawah permukaan).  Yang pernah
dilihat dan dideskripsi oleh Pak Miko sebagai fenomena mengulit bawang
adalah material lempung diantara susunan batu-batu kolom di permukaan pada
dinding diantara teras 1 dan 2 yang sudah jelas-jelas man-made dan tentunya
sudah mengalami pelapukan. Namun material lempung tersebut menurut hemat
kami belum tentu (seluruhnya) karena proses pelapukan mengulit
bawang.  Peneliti terdahulu (ARKENAS) menganggap  dinding ini satu generasi
dengan Situs di permukaan (lapisan 1) sedangkan kami mencurigai merupakan
bagian dari Lapisan 2 di bawah permukaan yang tersingkap,  tentu hal ini
perlu dibuktikan lebih lanjut dengan sedikit penggalian.  Material lempung
yang disebut semen purba yang diperdebatkan tidak harus produk olahan yang
canggih, malah pak Andri SS lebih beranggapan merupakan semen "pozzolan"
sederhana yang bahan campurannya bisa di dapat dengan mudah dari material
batuan vulkanik di sekitar situs.  Perihal interpretasi geometri
ruang-ruang di bawah tanah, Kamipun terbuka apabila diantara rekan-rekan
ada yang punya keahlian dan penasaran ingin memproses dan menginterpretasi
 ulang data-data geofisika bawah permukaan, kami persilahkan, tentu akan
berguna untuk perbandingan, hubungi saya saja.

Hal yang perlu diklarifikasi: perihal apakah material lempung diantara batu
columnar joint itu merupakan adonan semen atau hasil pelapukan atau hasil
proses sekunder BUKAN satu-satunya penciri lapisan columnar joint di bawah
tanah situs alamiah atau tidak seperti yang disinyalir Pak Miko.  Selain
keberadaan material lempung diantara batu-batu kolomnya, fakta yang lebih
jelas adalah kedudukan arah kolom batu columnar joint-nya terhadap bidang
perlapisan.  Di Gunung Padang, dari permukaan sampai kedalaman 15 meter
isinya adalah tumpukan/susunan batu columnar joint yang kedudukan arah
kolom batunya mempunyai pola teratur sejajar dan miring terhadap bidang
lapisan (~ cooling surface ketika lava/intrusi membeku).  Columnar joint
alamiah kedudukan arah columnar joint akan selalu tegak lurus dengan
cooling surface atau arah perlapisan.  Selain itu penciri lain dari formasi
columnar joint alamiah, ukuran diameter kolom-kolom batunya relative
homogen dan permukaannya saling mengunci (interlocking), tidak ada material
lain diantaranya.  Di Gunung padang tidak demikian; ukuran diameter batu
kolomnya sangat bervariasi, besar dan kecil saling bersebelahan dan tidak
memperlihatkan "interlocking" seperti yang alamiah meskipun sepintas
terlihat sangat kompak dan rapih. Ada banyak fakta lainnya yang menguatkan
bahwa tumpukan batu-batu columnar joint setebal 15 meter itu adalah
man-made, terutama Lapisan ke-2 (kedalaman 1 - 5 meter) yang sudah digali
dan sudah menjadi data arkeologi.  Formasi batuan alamiah baru didapatkan
di bawah kedalaman 15 meteran berupa tubuh batu lava, dengan leher
intrusi terdapat di lereng tenggara situs dan tubuh batuannya berupa
seperti lidah berkedudukan memanjang  dan miring ke arah Utara.  Di bawah
lava adalah batuan tufa vulkanik yang menampakan gejala alterasi yang
kuat.  Jadi formasi tubuh lava ke bawah inilah yang menurut hemat kami bisa
dikatakan sebagai bagian dari tubuh gunung api purba.

Indikasi ruang-ruang umumnya berada di bawah level 15 meter (di dalam tubuh
lava), namun di satu-dua lokasi terlihat ruang ini berada sebagian di dalam
tubuh lava tapi bagian atasnya di lapisan tumpukan batu-batu columnar joint.
Dari lokasi, posisi dan geometri ruang-ruang inilah kami
menginterpretasikan bahwa ruang-ruang itu sudah menjadi bagian dari
bangunan; Diperkuat juga dengan kenampakan geometri permukaan tubuh lava
yang bentuknya seperti sudah di'pahat' oleh manusia.  Namun dari awalpun
kita tidak pernah mengenyampingkan kemungkinan bahwa ruang-ruang ini
berasal atau di modifikasi dari lava tunel/tube alamiah (hal ini dalam
Seminar tanggal 14 Maret di LIPI sudah dijelaskan secara panjang lebar oleh
Pak Andri SS).  Lava tunel alamiah yang sudah dimodifikasi oleh manusia
juga didapatkan di bawah tanah Easter Island (yang ada patung-patung besar
berbentuk manusia). Di Gunung Padang, untuk pastinya, tentu harus
dibuktikan dengan penggalian ke bawah atau syukur-syukur kalau dapat
ditemukan aksesnya. Perlu diingat juga bahwa tanpa keberadaan ruang-ruang
inipun, struktur bangunan Gunung padang tetap sangat luarbiasa.

Saya tidak sependapat dengan Pak Miko bahwa Tim geologi-geofisika TTRM
sudah 'masuk terlalu jauh' dalam ranah arkeologi.  Tidak pak, lahan
penelitian geologi-geofisika dan arkeologi (di TTRM) jelas, tidak ada
saling menyerobot atau menggantikan peran satu sama lain, tapi sebaliknya
saling membantu dan saling mengisi.  Pekerjaan pemboran dan survey
geofisika tidak mungkin diserobot oleh ahli arkeologi.  Sebaliknya pemetaan
situs dan pekerjaan membuat kotak-kotak gali arkeologi tetap dilakukan oleh
Tim arkeologi, ahli geologi hanya membantu deskripsi/pemerian struktur
lapisan tanah dan bebatuannya saja.  Ahli Geologi dan geofisika juga
membantu Tim Arkeologi mencari lokasi gali yang prospek berdasarkan
pemindaian geofisika bawah permukaannya.

Kelihatannya Pak Miko masih percaya bahwa situs Gunung Padang hanyalah di
permukaan di atas bukitnya saja seluas 3 hektar itu seperti kesimpulan
hasil penelitian ARKENAS, dan bahwa di bawahnya seluruh bukit Gunung Padang
adalah alamiah - sisa gunung api purba.  Silahkan saja pak, berbeda
pendapat boleh-boleh saja asal bisa dipertahankan secara ilmiah; Yang
penting jangan sampai membuat petisi untuk melarang penelitian lagi.  Petisi
mainannya orang politik pak, tidak lazim dilakukan di ranah ilmiah.


Salam Arkeo-Geologi,

DHN


2014-03-25 10:56 GMT+07:00 Sujatmiko <[email protected]>:

> Rekan-rekan IAGI yang budiman,
>
>
>
> Situs Megalitik Gunung Padang kembali merebut perhatian banyak kalangan.
> Kali ini berkat inisiatif Laboratory for Earth Hazards Puslit Geoteknologi
> LIPI yang pada Jum'at siang 14 Maret 2014 mengundang seluruh pakar TTRM
> untuk memaparkan hasil-hasil penelitiannya. Yang hadir ratusan orang,
> mewakili beragam jenis disiplin ilmu dan latar belakang. Prof Sampurno dan
> Ibu , yang walaupun jalannya tidak selancar zaman dahulu kala,  begitu
> bersemangat menapaki tangga Gedung 70 LIPI, dari lantai 1 sampai  lantai 3
> -
> - - sambil selalu bergandengan tangan mesra - - - he - - hee. Di sessi sore
> hari, menjelang  Dr. Ali Akbar memaparkan materinya, Pak Wagub Dedy Mizwar
> mendadak muncul di lantai 3. Mang Okim sempat bertutur sapa dengan beliau
> dan berbincang tentang cincin batu Gunung Padang yang pernah mang Okim
> hadiahkan di rumah dinas beliau . Selain Pak Wagub, muncul juga  Guruh
> Soekarno Putra - - - luar biasa ta' iya !!!.
>
>
>
> Mang Okim sungguh bersyukur telah diundang hadir sehingga dapat
> bersilaturahmi dan mendengarkan langsung pemaparan Pak Danny, Pak Andang,
> Pak Ali Akbar, Pak Pon, Pak Bagus Hendar, dan rekan-rekan peneliti TTRM
> lainnya. Dengan demikian maka mang Okim dapat menyimak dan mengagumi
> hipotesis dan tafsiran atas hasil pemindaian beragam  jenis peralatan
> geofisika yang super canggih. Kegembiraan mang Okim berlipat ganda karena
> hipotesis piramida budaya tidak lagi dimunculkan, demikian juga tentang
> adanya bangunan-bangunan budaya lainnya seperti pintu gerbang setinggi  18
> meter ataupun reaktor listrik hidro di lapisan budaya 4 seperti yang
> disampaikan beberapa waktu yang  lalu oleh Pak Rizky ke media online.
> Dengan
> demikian maka para pakar geologi yang hadir di diskusi ilmiah tersebut
> tampak dipuaskan karena hipotesisnya didasarkan atas asumsi-asumsi murni
> geologi dan geofisika. Mang Okim-pun langsung memberikan apresiasi atas
> kegigihan  Pak Danny dalam mengerahkan segala peralatan geofisika demi
> mendapatkan hasil yang optimal.
>
>
>
> Masalah semen purba super canggih  dan ruang kosong
>
>
>
> Terlepas dari  hal-hal yang sangat menggembirakan tersebut di atas, ada
> masalah yang masih mengganjal yaitu tentang hipotesis  semen purba dan
> adanya ruang kosong di perut Gunung Padang yang diduga kuat berisi
> "brankas". Untuk tidak memberikan kesan bahwa mang Okim menentang
> penelitian
> TTRM, maka dalam kesempatan mengajukan pertanyaan , sebagai rekan sesama
> profesi (walau sudah out of date ), mang Okim  menyarankan kepada Pak Danny
> dkk agar lebih berhati-hati dalam menafsirkan  gejala geologi di lapangan
> atau di bawah permukaan antara lain dalam  masalah semen purba  super
> canggih yang  konon diciptakan oleh manusia prasejarah pada kisaran
>  periode
> 13.000 - 23.000 tahun yang lalu.  Komposisi semen tersebut menurut hasil
> lab. konon terdiri dari 45 % mineral besi ,  41 % mineral silika, dan 14 %
> mineral lempung + unsur karbon. Selain dari itu dinyatakan juga bahwa
> kandungan besi di alam dan di pertambangan bijih besi tidak lebih dari 5 %
> (  Danny H.N. 1 April 2013 : Gunung Padang, Mahakarya Peradaban yang Hilang
> ). Pernyataan tersebut yang sampai sekarang terkesan masih diyakini oleh
> TTRM  seharusnya ditinjau ulang karena beberapa hasil eksplorasi bijih
> besi,
> baik oleh mang Okim sendiri di Sumatera Selatan, ataupun oleh tim Badan
> Geologi di Sulawesi Tengah ,  Jawa Timur, dan di daerah lain,  kandungan
> besi di batuan bijih besi berkisar dari 48 % sampai 70 %  ( berupa mineral
> hematit atau magnetit ). Sementara itu, semen Portland Gresik jenis I (SII
> 0013.18) , kandungan total unsur hematit (Fe2O3) dan magnetitnya (Fe3O4)
> tidak lebih dari 6 %.  Dan kalau kita kembali ke text book, dalam buku Rock
> & Mineral karangan  Dietrich & Skinner 1979 disebutkan bahwa : 1. Any
> sedimentary rock containing more than 15 % iron  is termed iron formation.
> Selain dari itu dinyatakan juga bahwa dalam batuan andesit-basalt
> terkandung
> secara umum 50 % SiO2 , 10 % Oksida besi , dan 6 % Magnesium . Ditambah
> dengan bukti-bukti di singkapan ( pseudo layerings dll ), maka lebih
> ariflah
> kalau tafsirannya tidak ke semen purba melainkan ke  tanah pelapukan kekar
> kolom atau " columnar weathering".
>
>
>
> Masalah lainnya yang juga bisa mengganjal adalah hipotesis tentang adanya
> "chamber " atau ruang budaya di perut Gunung Padang yang sesuai dengan
> guyonan Pak Danny di forum, ada kemungkinan berisi " brankas " ( mungkin
> hal
> inilah  yang memancing RI 1  untuk nekat berkunjung ke Gunung Padang ).
> Sebagai perbandingan, bulan lalu  mang Okim sempat mengabadikan panorama
> gunung api di kawasan  Madinah - Mekah dan mempelajarinya dari beberapa
> literatur. Di kawasan Harrat Kishb atau Padang Lava Kishb  yang luasnya
> 5980
> km2 dan terbentuk sekitar 2 jutaan tahun yang lalu ( Plio-Pleistosen ),
> terdedeksi adanya 162 Scoria Cones, 1 Shield Volcano, 9 Lava  Domes, dan 1
> Whaleback Lava Flow. Di kawasan ini ditemukan juga banyak " lava tubes "
> atau terowongan lava beragam ukuran yang oleh penulisnya dijelaskan proses
> terjadinya dengan sangat sederhana dan sangat mudah dimengerti ( termasuk
> adanya interval yang  resistivitynya lebih dari 1.000 Ohm meter yang
> berkaitan dengan weathered basalt !!!). Untuk Gunung Padang yang menurut
> Pak
> Danny terdeteksi adanya  vent atau leher  lava berikut  lidah lavanya, maka
> hipotesis lava tube mungkin lebih tepat dari pada "cultural chamber" atau
> ruang budaya.  Masukan dari mang Okim ini, yang disampaikan di forum
> diskusi
> , alhamdulilah diakomodir oleh Pak Danny sebagai suatu kemungkinan.
>
>
>
> Konsekwensi revisi hipotesis semen purba dan cultural chamber
>
>
>
> Seandainya TTRM berbesar hati dan tidak terbebani untuk merevisi hipotesis
> semen purba berusia 13.000 - 23.000 tahun yang bisa dibuktikan merupakan
> tanah pelapukan  sebagai  hasil "columnar weathering", maka seluruh
> penelitian bawah permukaan yang dilakukan oleh TTRM  akan menjadi
> penelitian
> murni  geologi-geofisika , demikian juga dengan hipotesis "cultural
> chamber"
> yang kemungkinan besar bisa merupakan " lava tube ". Sehubungan dengan
> itulah maka mang Okim menyarankan dan mengharapkan agar para pakar
> geologi-geofisika TTRM tidak menerobos masuk terlalu dalam ke ranah
> arkeologi dan apalagi mengumumkan hipotesis-hipotesis yang oleh banyak
> kalangan dianggap kontoversial  sehingga  sempat memancing lahirnya Petisi
> April 2013.  Kemaren dulu Sabtu 22 Maret 2014, mang Okim dan pak Lutfi
> diminta memandu tayangan DAAI TV di Gunung Padang.  Pada kesempatan
> tersebut
> mang Okim meneliti kembali beberapa singkapan  di kawasan Gunung Padang dan
> menjadi lebih yakin lagi bahwa Gunung Padang adalah sisa Gunung Api Purba
> yang bagian atasnya (saja) telah dimanfaatkan oleh manusia Megalitik
> sebagai
> punden berundak.  Mang Okim mohon beribu maaf kalau saran dan masukan mang
> Okim ini kurang berkenan,
>
>
>
> Salam cinta Geo-Arkeologi,
>
>
>
> Mang Okim
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ----------------------------------------------------
> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
> JAKARTA,15-18 September 2014
> ----------------------------------------------------
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
> ----------------------------------------------------
> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> ----------------------------------------------------
> Subscribe: [email protected]
> Unsubscribe: [email protected]
> ----------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others.
> In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not
> limited
> to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting
> from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with
> the use of
> any information posted on IAGI mailing list.
> ----------------------------------------------------




-- 
Danny Hilman Natawidjaja
LabEarth - Geoteknologi  LIPI, Gd.70
Komplek LIPI - Gd.70, Jl. Sangkuriang, Bandung 40135, Indonesia

----------------------------------------------------
Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
JAKARTA,15-18 September 2014
----------------------------------------------------
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------

Kirim email ke