Terima kasih atas informasi berharga ini, pak Koesoemadinata.
Fikiran kita memang harus terbuka.
Saya cuman "gregetan" ajah.... ngomongin PLTN sejak puluhan tahun yang lalu, 
sejak masih zaman Suharto.


Salam,

[cid:[email protected]]

Nugrahani

Kepala Divisi Pengawasan Realisasi Komitmen Rencana Pengembangan Lapangan 
(PRKRPL)

Gedung Wisma Mulia Lantai 39

Jl. Gatot Subroto No.42, Jakarta 12710

Telp

:

(+62-21) 29241607

EXT :

4300

Fax

:

(+62-21) 29249973





Website

:

www.skkmigas.go.id








-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
R.P.Koesoemadinata
Sent: Tuesday, January 12, 2016 4:24 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net] Fw: Pernyataan DEN di Detik

Sedikit tambahan dan ralat:
Keterlibatan saya dengan BATAN adalah tahun 2008-2009 Jarak Semarang-Karimun 
Jawa: sekitar 100 km, bukan 100 m (hahaha) RPK


-----Original Message-----
From: [email protected]<mailto:[email protected]> 
[mailto:[email protected]]<mailto:[mailto:[email protected]]> On Behalf Of 
R.P.Koesoemadinata
Sent: Tuesday, January 12, 2016 3:30 PM
To: [email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net] Fw: Pernyataan DEN di Detik

Saya pernah terlibat dengan project Batan untuk menenentukan tapak (site) untuk 
PLTN. Ternyata dalam menentukan tapak ini harus mengikuti 
persyaratan-persyaratan yang sangat ultra ketat dari IAEA, yang melibatkan 
banyak aspek kemungkinan bencara alam, khususnya gempa dan gunung-api.
Jangkauan abu gunung-api menjadi masalah. Kemungkinan gempa sangat 
diperhatikan. Adanya patahan/sesar harus diteliti dan diyakini bahwa tidak 
aktif lagi untuk masa geologi yang cukup lama. Karena PLTN harus dekat perairan 
yang cukup untuk pendinginan, maka pantai lah merupakan tapak yang biasanya 
dipilih, Ini menimbulkan masalah dengan kemungkinan tsunami rob dsb. Ingat 
Fukushima di Jepang. Juga faktor meteorologi juga harus diperhatikan seandainya 
terjadi kebocoran, partikel radioaktif akan terbang kemana. Dari pembicaraan2 
dengan para Ahli yang didatangkan dari IAEA, sangat sulit untuk mencari tapak 
yang aman di Pulau Jawa. Di lain pihak Batan meminta lokasi ini di Jawa 
mengingat pasaran tenaga listrik ini terkonsentrasi di Jawa. Dengan susah payah 
pantai Jepara dipilih, itupun masih berisiko karena disana ada sesar yang harus 
dibuktikan tidak aktif lagi. Juga rakyat setempat menolak, tetapi Gus Dur 
menganjurkan malah Karimun Jawa, suatu pilihan yang secara geologi tepat, 
karena pulau ini terdiri dari batuan metamorphic pre-Tersier  yang stabil 
secara tektonik, jauh dari kemungkin gempa atau tsunami maupun bencana 
volcanik. Namun Batan menolak karena harus dialirkan melalui kabel bawah laut 
sepanjang sekitar
100 m. Akhirnya Batan mengalihkan perhatiannya ke Jawa Barat/Banten (di mana 
saya terlibat langsung dalam pemilihan tapaknya, juga masalahnya sami mawon.
Akhirnya daerah pantai Banten utara dipilih, karena disana bupatinya 
menginginkan. Tetapi saya berpendapat masih berisiko, dengan adanya Krakatau 
dan kegempaan, dan masih ada kemungkinan tsunami, walaupun terlindung dalam 
suatu teluk.
Akhirnya dipilih Bangka, memang disini secara tektonik sangat stabil, juga jauh 
dari gempa dan gunungapi. Listriknya akan dialirkan dengan kabel bawah laut ke 
Palembang, kemudian dialirkan melalui jaringan listrik permukaan, dan kabel 
bawah laut lewat Selat Sunda  ke Pulau Jawa. Pada pemilihan tapak disini saya 
sudah tidak terlibat lagi. Memang kalau mau aman betul dan memenuhi persyaratan 
ultra-ketat  IAEA Kalimantan Tengah lah daerah yang paling layak untuk tapak 
PLTN, hanya disana tidak ada pasaran untuk listrik.
Mengenai cadangan Uranium, memang sudah terbukti ada di Kalimantan barat dengan 
cadangan yang cukup, walaupun sebenarnya kecil. Tetapi bijih uranium ini perlu 
diperkaya dan ini menjadi urusan lagi dengan IAEA (ingat Iran).
UGM pernah berhasil memperkaya uranium menjadi apa yang disebut "yellow cake", 
secara diam-diam tanpa izin IAEA, walaupun belakangan ketahuan dan jadi 
masalah. Enrichment dari uranium ini menggunakan instalasi yang rumit dan lama 
dan harus diawasi oleh IAEA. Pada akhirnya akan jauh lebih murah import aja. 
Sampai begitulah keadaulan dan ketahanan energi kita dari segi PLTN. Memang 
gagah kalau Indonesia mempunyai PLTN, menunjukkan kemampuan teknologi tinggi, 
tetapi tidak memperlihatkan kedaulatan energi kita, Jadi masalahnya PLTN itu 
bukan soal teknologi yang bisa kita kuasai. Menurut saya untuk Jawa Sumatra dan 
kepulauan volcanic lainnya mengapa tidak geothermal saja yang dikembangkan: 
bukan saja renewable dan clean energy, tetapi "inexhaustible" (tidak perlu 
diperbaharui, tidak akan habis), dan uninterruptable ( tidak akan terganggu 
siang-malam, mendung, hujan, badai dsb). Memang risiko kegagalan tinggi (tidak 
didapatkan sekali bor), biaya tinggi dsb. tetapi merupakan life-time 
investment. Sebaiknya pemerintah dapat minta investor BOT (built, operate and 
transfer) dan sementara listrik yang dihasilkan sementara itu disubsidi, sampai 
balik modal. Anggaplah subsidi ini biaya investasi jangka seumur hidup bumi, 
hanya tinggal biaya maintenance saja, ngisi ulang air dsb.
Wassalam
RPK



----- Original Message -----
From: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
To: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Sent: Tuesday, January 12, 2016 10:51 AM
Subject: [iagi-net] Fw: Pernyataan DEN di Detik


Ini daerah daerah yg pernah disurvai untuk Lokasi PLTN dari 1975 sampai 1996.
Survai tahn 1996 Menempatkan Pantai Jepara khususnya Ujung Lemah Abang menjadi 
lokasi yg layak

ISM
--------------------------------------------------------------

PARAMETER TAPAK
SITE SELECTION CRITERIA AND CANDIDATES


1st SELECTION (Karangkates Workshop, 1975).
SCREENING/RANKING FACTORS
Direct Factors: Indirect Factors:
1. Meteorology
2. Seismicity
3. hydrology
4. geology
5. population
6. urban planning
7. manpower
8. inventarization and additional data 1. Load Centre, 2. Infrastructure, 3. 
Other Power Resources

THE CANDIDATES:
1. Tanjung Pujul
2. Tanjung Pontang
3. Cabang Bungin
4. Pedes
5. Ujung Pamanukan
6. Semenanjung Muria
7. Lasem
8. Situbondo
9. Popoh
10. Pacitan
11. Pangandaran
12. Parigi
13. Pelabuhan Ratu selatan
14. Pelabuhan Ratu utara


2nd SELECTION (Karangkates Workshop, 1979).
SCREENING/RANKING FACTORS
Direct Factors: Indirect Factors:
1. Meteorology
2. Seismicity
3. hydrology
4. geology
5. population
6. urban planning
7. manpower
8. inventarization and additional data 1. Load Centre, 2. Infrastructure, 3. 
Other Power Resources

THE AREA CANDIDATES:
1. Tanjung Pujul
2. Semenanjung Muria
3. Lasem
4. Situbondo
5. Parigi


3rd SELECTION (BATAN-NIRA Site Survey, 1980-1983) SCREENING/RANKING FACTORS 
Direct Factors:
1. Territory
2. Demography
3. Geology and Seismology (Regional Geology, Volcanism, Local Geology, 
Seismicity, Seismotechtonics, Ground Acceleration and Reference Earthquakes, 
Microearthquake surveys, Tsunamis).
4. hydrology
5. Marine Geophysics and Oceanography
6. Geotechnical Engineering
7. Meteorology
8. Radioecology

THE AREA CANDIDATES RANK:
1. Semenanjung Muria (Ujungwatu site)
2. Lasem (Sluke site)
3. Situbondo
4. Tanjung Pujul
5. Parigi


4th SELECTION (BATAN-NEWJEC Site and Environmental Study, 1991-1996) 
SCREENING/RANKING FACTORS Safety aspects:
1. Surface faulting
2. seismicity
3. foundation characteristics
4. ground characteristics
5. volcanic characteristics
6. coastal flooding
7. river flooding
8. groundwater movement
9. man-induced events
10. population distribution
Economic aspects:
1. cooling water system
2. harbor facility
3. preparation for foundation of main buildings 4. access road 5. site land 
arrangement Environmental aspects:
1. land and water use
2. endangered species/historical monuments 3. ecology

THE AREA CANDIDATES RANK:
1. Ujung Lemahabang
2. Ujung Genggrengan
3. Ujung Watu
4. Ujung Bantungan
5. Ujung Blitar
6. Ujung Piring


----------------------------------------------------------------------------------------------------


________________________________

Informasi yang terkandung di dalam dokumen ini mungkin mengandung informasi 
rahasia dan untuk kalangan terbatas, dan hanya ditujukan kepada individu 
(-individu) atau badan (-badan) yang namanya tersebut diatas. Jika anda bukan 
penerima dokumen yang dimaksud, dengan ini anda diingatkan bahwa setiap 
tindakan pengungkapan, penyalinan, pendistribusian atau penggunaan informasi 
dalam dokumen ini secara tidak sah adalah perbuatan yang terlarang.

(The information contained in this electronic message may be privileged and 
confidential, and is intended only for the individual(s) or entity(ies) named 
above. If you are not the intended recipient, you are placed on notice that any 
unauthorized disclosure, copying, distribution, or use of the contents of this 
electronic message is prohibited)


----------------------------------------------------



Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact

----------------------------------------------------

Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

----------------------------------------------------

Subscribe: [email protected]

Unsubscribe: [email protected]

----------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 

posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 

In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited

to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 

from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 

any information posted on IAGI mailing list.

----------------------------------------------------

Kirim email ke