Selamat malam semuanya, berhubung tadi pesawatnya delay, akhirnya saya coba menulis sesuatu, dan tulisan di bawah ini lebih tepat sebagai curhatan atas kesan saya setelah mencoba Acer Liquid E hehehe, jujur dari hati yang paling dalam, jadi ya panjang banget isinya..... :p
------------------------------------------ Perjuanganku untuk mengalami Acer Liquid E Hari yang gelap dan mendung saat kulangkahkan kaki keluar dari bandar udara Internasional Soekarno-Hatta, kupesan sebuah taksi yang kemudian membawaku meluncur ke sebuah hotel di jalan Gatot Subroto. Hatiku gelisah ingin segera menuju JCC, tempat dimana dipamerkannya sebuah ponsel besutan Acer, bernama Liquid E, si mungil yang berlayar lebar 3,5 inchi WVGA (480 x 800 piksel). Kutertunduk lesu karena jam hotel telah menunjukkan jam dua pagi, sedikit tersentak, kuperhatikan sekali lagi, ternyata salah baca jam dari negara lain. Semangatku muncul lagi sesaat namun kembali hilang setelah memastikan waktu Jakarta menunjukkan pukul sembilan lewat limabelas menit di malam hari. Kupendam hasratku pada hari itu untuk bertemu, berkenalan, dan mengalami ponsel berprosesor Qualcomm Snapdragon 8250 berkecepatan 768 MHz, Acer Liquid E. Malam itu aku tidak bisa tidur, gelisah memikirkan esok hari, dan begitu pagi menjelang aku terlanjur mengantuk sehingga terpaksa memenuhi kebutuhan istirahatku terlebih dahulu. Siangnya, setelah waktu ibadah usai, aku persiapkan hatiku untuk segera mengalami Acer Liquid E dengan Sistem Operasi Android Eclair-nya. Kubaca petunjuk navigasi di ponselku dan ternyata jarak dari hotel ke JCC hanya 1 km lebih, sehingga kuputuskan untuk jalan kaki ke JCC sambil mencoba navigasi moda berjalan kaki pada ponselku. Ini adalah keputusan yang salah. Meskipun aku sudah berkali-kali naik gunung dan percaya diri dengan kekuatan kakiku, ternyata berjalan kaki di jalanan Jakarta tidak semudah itu, beberapa kali aku hendak menyerah namun kamera 5 Megapiksel dan pengambil video VGA Acer Liquid E selalu menyemangatiku untuk terus berjalan, hingga akhirnya hampir satu setengah jam kemudian aku sampai di JCC dengan kaki yang telah lecet-lecet, Pada dasarnya orang udik, aku terbengong di depan gedung JCC yang megah itu, tengok sana sini sambil mencari dimana pintuk masuk dan tempat beli tiketnya. Akhirnya setelah memberanikan diri bertanya dengan seseorang, ladalah, ternyata tempat menjual tiketnya ada dibelakangku. Berdebar tidak karuan rasanya jantungku mengingat akan segera bertemu dengan alat berfitur A-GPS dan berkemampuan data HSPA bernama Acer Liquid E. Setelah membayar tiket masuk sebesar lima ribu rupiah dan mendapatkan keripik singkong, mulailah aku beredar di dalam JCC. Singkat cerita, kakiku makin lecet karena aku tidak menemukan dimana dambaanku tersebut berada, hingga akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat sejenak duduk di lantai, sambil termenung, tiba-tiba kuterhenyak melihat seorang ibu berjalan dari sebelah kiri membawa kantong kertas bertuliskan AcerLiquid E, seketika itu juga aku berditi dari berlari ke arah kiri, melewati pamflet vertikal Acer Liquid E, dan akhirnya sampailah aku di tempat pujaan hatiku dipamerkan. Dengan tidak sabar kuhampiri salah satu SPG yang ada disana, kulihat dia sedang menggenggam dambaanku, kusapa dia dan kumohon restunya, hingga akhirnya aku dapat berkenalan dengan Acer Liquid E! Kuulurkan tanganku untuk mejabat dirinya yang terasa ringan pada bobot 135 gram, kuraba tubuhnya yang ternyata berbahan dasar plastik ringan berwarna hitam dengan tonjolan kamera di bagian belakangnya. Kuelus sedikit layar *capactive *nya yang telah mendukung multi sentuh. Bersamaan dengan semua itu kuperkenalkan diriku, “kenalkan, saya gunggu” dan Acer Liquid E pun menyapaku balik dengan layar utamanya yang langsung menyala setelah kusentuh tombol keras daya di sebelah kiri atasnya. Seusai berkenalan, tiba waktunya untuk mengakrabkan diri mengalami Acer Liquid E ini. Kumainkan jariku menjelajah menu serta menyentuh keempat tombol lunak yang ada di bagian bawah layarnya. Respon dan umpan balik pada layar utamanya sangat baik, menu daftar aplikasi model komedi putarnya cukup menarik, terurut berdasarkan nama aplikasi. Hampir semua aplikasi yang kucoba buka langsung terbuka dengan cepat. Sedikit penasaran dengan kapasitas riil ROM untuk penyimpan aplikasi dan sisa riil RAM untuk menjalankan aplikasi, kuminta restu sekali lagi kepada SPG untuk mengunduh beberapa aplikasi dari pasar sebagai pendukung pengujianku. Setelah restu diberikan, sekaligus kesempatanku menguji kemampuan datanya, kucoba mengunduh memakai jaringan seluler dan WiFi, dan semua aplikasi terunduh dengan lancar. Setelah aplikasi terunduh telah terpasang, ternyata sisa ROM nya dari 512 MB, yang hanya bisa dipakai sekitar 200 MB, dan sisa RAM nya dari 512 MB, tanpa aplikasi tambahan yang berjalan, masih bersisa sekitar 225 MB. Ini merupakan berita yang menggembirakanku karena berarti masih banyak aplikasi yang dapat kupasang dan kujalankan sekaligus atau dalam moda berjalan dibelakang. Kukembalikan penjelajahanku ke layar depan, kudapati beberapa pintas dan * widgets* yang menarik, beserta kertas dinding hidupnya, yang menggambarkan nama Liquid karena berujud air mengalir. Kuterhenti pada sebuah pintas berjudul Acer Settings, kuintip sedikit, ternyata isinya adalah setelah seperti halnya pada *power widget* standar Android, dengan tambahan beberapa tambahan opsi baru, misalnya *toggle* 3G/2G. Seketika itu, kumencoba mencari widget untuk Acer Setting, tidak ketemu, kutanyakan ke SPG ternyata memang tidak tersedia, sangat disayangkan. Kulanjutkan penjelajahanku mengalami fungsi kameranya, yang menampilkan menu standar kamera eclair, namun dengan kulit tampilan berbeda, berwarna krom abu-abu metalik. Setelah restu untuk mengambil gambar diberikan, kucoba memainkan tombol keras kameranya. Layarnya menampilkan fokus otomatis yang menurutku berarea terlalu lebar, akupun sedikit kecewa, si dia ternyata kurang mampu dipakai untuk mengambil gamar jarak dekat. Sedikit penasaran, kucoba buka setelan fokusnya, ternyata hanya terdapat pilihan fokus otomatis dan tak hingga, pantaslah area fokusnya lebar hampir selebar layarnya. Kekecewaanku bertambah setelah kumencoba mengambil gambar dengan menekan tombol kerasnya, ternyata penempatan tombol kerasnya kurang bagus, sehingga jariku susah menekan setengah untuk fokus tomatisnya, dan juga susah untuk menekan lebih dalam lagi untuk mengambil gambar, setelah berhasil terpencet, kuheran kenapa tak muncul kilatan penerangnya, ternyata, si dia tidak berlampu kilat! Kuberalih menengok ke moda video dan mecobanya dengan mengambil suasana di sekitar tempat si dia dipamerkan. Dengan menggunakan aplikasi sebelumnya terunduh, kukirimkan kedua hasil tes ke ponselku, yang kemudian kubuka di laptopku setelah kupulang ke hotel. Hasil kameranya serata-rata kamera 5 MP lainnya, ada gangguannya dalam keadaan gelap, dan hasil videonya standar sekali jika kulihat di laptopku. Kucoba kirimkan berkas video 720p milikku dan ternyata nemoplayer mampu menjalankannya dengan baik, meskipun kadang masih terlihat cegukan saat tingkatan rasio bingkainya meninggi, misalnya saat adegan cepat mobil balap. Sekali lagi restu diberikan untuk mencoba menerima/mengirim email serta melakukan panggilan, sehingga dengan segera kubelai layar sentuh si dia sambil mengetikkan email. Kesulitan melandaku dan sebenarnya aku cukup mampu mengetik cepat menggunakan layar sentuh, namun si dia ini agak bandel, sehingga kuharus berulang-ulang melakukan koreksi , selain itu respon dan umpan baliknya kurang begitu menyenangkanku. Ketika kumelakukan panggilan dengannya, suara penerima dapat terdengar jelas sekali, namun penerima kadang kurang dapat mendengar apa yang kuteriakkan ke mikrofon si dia yang sexy. Kualihkan penasaranku dengan mencoba A-GPS si dia, dimana beberapa waktu sebelumnya telah kuaktifkan, kulihat sinyal GPS tak didapatkan, sementara itu, ponselku yang GPS nya kuaktifkan bersamaan, memiliki 2 batang sinyal GPS. Dengan sedikit murung kucoba membuka penjelajah dan mulai mengarungi beberapa laman yang memiliki konten *flash*. Terputar dengan baik, sehingga hatiku mulai bersemangat kembali dan tiba-tiba mataku berbinar saat menatap kepala si dia, tampaklah notifikasi LED berwarna putih atas email dan panggilan yang tadi kulakukan, indah sekali, dankuyakini ini ponsel android pertama yang memiliki notifikasi seperti ini, bukan hanya menggunakan lampu LED seperti biasanya. Setelah kekecewaanku terobati oleh keindahan kepala si dia, kumohon restu untuk yang terakhir kali untuk membuka pakaian yang membungkusnya. Setelah restu turun, kubuka pakaiannya dan kuintip isinya, ada satu hal yang menarik perhatianku. Baterainya berkapasitas 1350 MaH membuatku tidak yakin akan kemampuan si dia, yang notabene akan menguras banyak sekali daya dengan keaktifan datanya, dan kuprediksi, untuk pemakai aktif sepertiku, mungkin sebelum sore hari pasti si dia akan minta makan dan minum lagi. Kemungkinan besar jika kupakai si dia sebagai utamaku, aku akan membutuhkan tambahan baterai. Setelah puas mengalami Acer Liquid E, kukembalikan si dia kepada SPG, dan aku berpamit hendak pulang ke hotel. Dalam perjalananku pulang, hatiku campur aduk, ingin meminang si dia, namun di balik fitur yang ditawarkan berlimpah, ternyata masih terdapat beberapa kekurangan yang cukup signifikan untukku. Aku pun berharap besar semoga Acer akan membagi koda sumber si dia sehingga aku tidak hanya akan memakai, namun juga dapat ikut memoles, mendidik, serta membesarkan Liquid E ini bersamaan dengan komunitasku serta komunitas Acer Indonesia sehingga semua kekecewaanku sebelumnya dapat terobati. Jakarta, JW Longue Terminal 1A gunggu -- "Indonesian Android Community [id-android]" Join: http://groups.google.com/group/id-android/subscribe?hl=en-GB Moderator: [email protected] ID Android Developer: http://groups.google.com/group/id-android-dev ID Android Surabaya: http://groups.google.com/group/id-android-sby ID Android on FB: http://www.facebook.com/group.php?gid=112207700729
