DH,
Kami yg belum berpeluang berkontribusi kongkrit coba sumbang saran yg
konstruktif di sini.
1. WARNET.ID
Tanggapan saya sebelumnya semoga bisa ditanggapi positif krn niatnya biar
rapih aja.
Kalau bisa, biar penamaan domain ID simple, diusahakan tidak sampe
bertingkat2 tiga (sebisa mungkin).
Contohnya sch.ac.id jadi sch.id itu bagus. 

Usul lagi, gimana kalau penamaan domain diusahakan seragam MAKSIMUM 3 huruf.
Misalnya semacam net.id, web.id, sch.id - jadi kalau mau jangan WARNET.ID,
mungkin WNT.ID atau WAR.ID atau WAN.ID.

Saya paham betul usulan WAR.NET.ID. Jadi maksud saya sebelumnya cuma
"menggelitik" syarat PERATURAN yg baru saja ditegaskan lagi bahwa .NET.ID
kudu pakai izin menteri. Jadi subdomain bawahnya pun berlaku gitu juga dong
kudunya.... Kecuali bisa dipakai "kecuali"...

Saya sih tidak menangkap urgency pengadaan domain war.net.id meskipun paham
betul latar belakang pengembangan warnet yg tentunya memajukan banyak
pihak, termasuk melariskan ISP. Semoga tidak blunder bahwa utk memajukan
warnet nama domain tidak jadi faktor penentu melainkan gimana caranya ISP
mendobrak GAPTEKNAS (gagap teknologi nasional) agar masyarakat awam di
daerah bisa pakai internet spt nelpon di telepon umum atau wartel.
Yg jelas, utk wartel yg mau jadi warnet, status WARTEL-nya lebih kuat dan
karena WARTEL pasti berbadan usaha PT, CV, atau koperasi, WARTEL kudu .CO.ID.
IDNIC biasanya konsisten kan?


2. WARNET vs WARTEL
Ini kasus umum tapi banyak yg belum ngeh.
WARNET bukan WARTEL - rincinya sudah dijelaskan P'Teddy.
Wartel perlu ijin Telkom segala, warnet tidak perlu.
Banyak orang mau bikin warnet pakai PKS dgn ISP (PJI) segala (tiap hari
saya lihat antri bawa akta notaris segala di bbrp ISP).
Ada bagusnya sih, krn banyak orang belum pernah tau internet mau buka warnet.
Jadi kalau pakai PKS bisa dibantu sama PJI-nya.
Tapi sebetulnya, banyak yg buka warnet dgn daftar account dial up biasa aja.
Atau pakai leased line murah yg sekalian TV Kabel (lokasi tertentu).
Jadi gak usah pakai ijin2 juga bisa. 
Mahasiswa punya account 1 di kost, pakai LAN dan modem share, jadi warnet.
Style begini yg memicu REVOLUSI WARNET di jalur Margonda, Depok.
Dalam 3 bulan pertama muncul 25 warnet, dalam 2 bulan berikutnya berkembang
100%.
Sampai sempat ngetrend perampokan komputer se-warnet model perampokan motor
jaman revolusi ojek merebak di Jkt.
Semoga bisa dipertahankan dgn tidak membuat regulasi yg menghambat bisnis
rakyat kecil ini model BPPC-nya Tommy Soeharto.

Kalau bisa, WARNET jangan disingkat Warung Network, dong. Serem deh... 
Kayak term di Margonda dan Blok M Plaza aja, deh... Warung Internet biasa
aja gitu....


3. REVOLUSI WARNET NASIONAL
Saya juga sudah reply email P'Onno ttg harapan penjamuran warnet utk
breakthrough telekomunikasi nasional.

Hambatannya kan ekonomi makro dan SDM (pendidikan) nasional aja. Selain
trend SLI pakai IP itu belum biasa dipakai bahkan oleh netter Jakarta.
Thx to PT Pos Indonesia yg dari awal sudah coba bikin warnet di tiap kantor
pos di kota2 seluruh Indonesia.
Kalau mau kembangkan warnet, extension model ini yg perlu diteruskan, tidak
sekedar buatkan domain war.net.id.
Wartel2 di daerah, perlu waktu utk kenal internet. Kalau mau dipercepat,
harus ada yg agresif PASARKAN PAKET WARNET.
Semoga tidak sampai 2 tahun warnet bisa menjamur spt wartel di berbagai
pelosok Indonesia saat ini.
Ayo dong, yang besar2 lebih agresif kembangkan pasar warnet di daerah2
pelosok Indonesia (tidak usah dilaporkan di sini).
Kalau cuman main di Jawa saja sih artikel P'Onno itu susah terwujud.


4. SERVICE IDNIC
Pak Hillman, IDNIC itu sudah berusaha keras, lho.
Dan betul kok, aturan2nya mirip dg negara2 lain.
Soalnya pihak kami pernah kejar .COM.SG juga .IT (Italia), aturannya itu
kudu badan hukum di sono (utk model .CO.ID).
Adapun ttg kualitas service IDNIC, termasuk bagus, kok.
Distribusi whois cepat dan propagasinya (tenggang waktu penyebaran domain)
juga sempet gak sampai 24 jam.
Update/modifikasi domain mis. pergantian host segala juga cepat dan dijamin
bebas hambatan krn tidak dihalang2i spt bbrp registrar yg suka ngangkangi
domain yg sudah didaftarkan biar hosting di mereka (hati2 kalau registrasi
domain lewat cabang2 VOTIV.COM krn admin contact-nya pun dikangkangi
mereka, jadi apa artinya kita bayar?).
Karenanya pihak kami usahakan mengimbangi pelayanan IDNIC yg bagus itu
dengan LANGSUNG BAYAR begitu email INVOICE IDNIC sampai (pas hard copy
sampai belakangan lewat pos biasanya kami sudah lunas duluan).

Utk registrasi yg tidak dilayani, kami juga pernah coba melanggar
syaratnya (sebetulnya  sudah baca dan tahu), meskipun kami coba saja dg
alasan yg kuat, tetap konsisten tidak diperkenankan. Mungkin kecewa spt
sifat kanak2 "pingin permen" yg tertinggal pada orang dewasa. Tapi yg
penting FAIRNESS terjaga di IDNIC.
Betul gak ya?

5. COM.ID
Masih pingin COM.ID, deh... (Ini curhat aja. Tidak usah dibahas, lho.)

Tabik,
Sulistya Putra
-WorldOne Network


At 12:23 25/03/00 -0800, Teddy wrote:
>Folks,
snip
>Lain halnya, dengan WARNET, ini malah jelas2 ada
>KEPMEN mengenai Penyelenggara Jasa Internet, dimana
>para ISP yg berijin dari Pemerintah otomatis bisa membuka
>WARNET, misal Dibawah Ijin PJI A, PJI B, etc. Tidak melulu
>TELKOM saja. Jadi dari awal, sdh dibuat sangat antisipatif
>bagi lahirnya POPs Internet di Indonesia cukup menghubungi
>salah satu PJI. Nah..keren kan.
>
>Jadi jika sekarang ada 115ribu WARTEL ingin berubah kelasnya
>jadi lebih tinggi yah kerjasama saja dgn ISP jadi WARNET alias
>Warung Network. Apa saja jajakan di situ, Aplikasi Internet
>sdh pada TAHU kan?. Tinggal tumbuhkan warnet dgn simbol2
>salah satu PJI bertebaran diseluruh negri. Asik trafficnya.
>
>Badan Usaha WARTEL mengikuti UU Perseroan dan Koperasi,
>karenanya, silahkan ambil DTT.CO.ID.
>
>Salam ahhh...,
>-Teddy
>http://www.mii.or.id
>
> 
>
>At 09:33 AM 3/25/00 +0700, Sanjaya wrote:
>>> Kalau mau dibikin war.net.id berarti perlu ada perusahaan 
>>> swasta kayak ISP
>>> bernama "WAR" utk memenuhi syarat war.net.id dan semua nama 
>>> warnet lainnya
>>> jadi subdomainnya aja.
>>> Adapun utk dibikin level dua warnet.id SAMA SEKALI BELUM PERLU.
>>> Warnet bukan institusi yg membutuhkan hal itu krn hanya salah 
>>> satu jenis
>>> usaha yg bahkan belum tentu ada badan hukumnya (ini saja 
>>> masuk di .CO.ID
>>> semua).
>>
>>Pak Sulis,
>>Sebetulnya ini bisa dianggap sama dengan sch.ac.id, di mana tidak
>>ada sekolah bernama sch yang menjadi induk dari semua sekolah.
>>
>>> Rasanya kalau warnet sampau dibikinin domain level dua begitu terlalu
>>> berlebihan.
>>> Nanti koperasi yg jumlahnya ribuan juga minta dibuatkan 
>>> domain anu.kop.id...
>>> Bagaimana dgn cabang2 usaha lainnya.... Warnet kan cuma salah 
>>> satu bidang
>>> usaha yang tidak besar dan masih subordinat ISP.
>>> Kalau konsisten, domain utk bidang usaha kan udah ada .CO.ID dan sudah
>>> difleksibelkan dgn web.id.
>>
>>Mengenai permintaan pasar, memang saya pernah bicara dengan Pak Onno
>>Purbo yang buku warnetnya laris banget tentang adanya kebutuhan itu.
>>Mungkin ini bisa membantu memberdayaan warnet yang memang merupakan
>>kepanjangan tangan dari ISP terutama untuk mereka yang belum mampu
>>punya personal account.
>>
>>Kita memang perlu masukan banyak tentang bagaimana membuat kebijakan
>>terutama misalnya untuk penambahan domain tingkat dua. Syaratnya

>>sebaiknya bagaimana. Terimakasih atas masukannya!
>>
>>Sanjaya
>>--
>>STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
>>START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
>>
>
>--
>STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
>START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
> 

--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke