Aduh, mengenaskan banget ya, Mega.. Sampai-sampai tukang gorengan pilih bunuh
diri gara-gara harga kedelai import melambung tinggi... Apa jadinya negara
Indonesia ini.. Padahal tahu dan tempe kan makanan yang bergizi dan harganya
bisa dijangkau masyarakat menengah ke bawah.. Kalau harga kedela impor tinggi
bisa-bisa kita malah mengimpor tahu dan tempe dari luar negeri. Apalagi harga
ayam, daging, dll harganya tinggi juga.. bisa-bisa rakyat Indonesia bisa pada
kelaparan semua. Bagaimana nih, pemerintah RI mengatasi masalah ini??
Salam,
Erika Dwi Kustanti
*ygprihatindgnkeadaandiindonesia*
Mega Rachmani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Siang..
Tadi pagi, aku sempatkan membaca dipojok kanan bawah koran Kompas hari ini.
Saat ini, hampir setiap hari headline news-nya adalah sakitnya Pak
harto dan Kedelai [ga' jauh dari tempe - tahu..]
Sampai kapan, masyarakat Indonesia merasa tersiksa karena tidak bisa
makan makanan yang bergizi .. yaaa.. minimal bisa makan tahu dan tempe
??
Siap-siap say good bye Tempe mendoan, kering tempe, kripik tempe, tahu
gejrot, tahu sumedang, dll... dan siap-siap ada negri lain yang
mengaku-ngaku Tempee Mendoan berasal dari negri mereka ??
Hmmm...
Happy days..^_*
Mega
=======================================================
Oleh Anita Yossihara
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/16/utama/4168477.htm
==================
Beberapa ibu rumah tangga sibuk menata kue di rumah Nuriah (40) di
Kampung Cidemang, Kelurahan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten,
Selasa (15/1) siang. Ibu-ibu itu menyiapkan makanan untuk acara doa
bersama berkait meninggalnya Slamet (45), suami Nuriah.
Sehari sebelumnya, suami Nuriah nekat gantung diri hingga tewas di
sebuah kamar kosong di rumahnya. Jasad Slamet pertama kali ditemukan
oleh istrinya yang baru pulang dari berbelanja di Pasar Badak,
Pandeglang. Tubuh ayah empat anak itu sudah menggantung di tengah
kamar, dengan seutas tali plastik melilit di lehernya.
Sehari-hari Slamet bekerja sebagai pedagang gorengan di Pasar Badak,
tepatnya di tepi Jalan Raya A Yani. Belakangan ini, kata istrinya,
pendapatannya semakin menurun.
Slamet tambah tertekan saat minyak tanah sulit didapat dan harganya
melambung. Apalagi kenaikan harga minyak tanah bersamaan dengan
melonjaknya harga sejumlah bahan pangan, seperti tepung terigu, tepung
tapioka, tahu, tempe, sayuran, dan minyak goreng.
Empat hari sebelum meninggal, Slamet pernah mengeluh kepada beberapa
wartawan yang datang untuk menanyakan dampak kelangkaan minyak tanah
dan kenaikan harga. Ia mengatakan terpaksa membeli minyak tanah dengan
harga Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per liter.
Setiap pagi sebelum berjualan, ia mengambil 2-3 liter minyak tanah di
warung milik Enjen. Slamet baru membayar minyak tanah pada malam hari,
sepulang berjualan. Namun, menurut Enjen, beberapa waktu terakhir
Slamet memang mulai kesulitan membayar minyak tanah.
Kondisi itu membuat Slamet merasa berat untuk melanjutkan usaha
berdagang gorengan. Keluhan serupa juga pernah disampaikan Slamet
kepada Ustadz Nurdin, tokoh masyarakat setempat.
Nurdin menceritakan, sebelum Slamet bunuh diri, ia pernah mengeluh
selalu merugi. "Modal yang dikeluarkan Rp 50.000 sehari, tetapi
pendapatannya cuma Rp 35.000," katanya.
Bisa jadi beban pedagang gorengan itu bertambah berat karena semua
harga bahan baku gorengan melonjak. Saat ini harga minyak goreng di
Pasar Badak mencapai Rp 11.500 per kilogram, harga tepung terigu
menjadi Rp 7.000 per kilogram, dan harga tepung tapioka Rp 3.800 per
kilogram.
Harga bahan baku gorengan lain, seperti tahu dan tempe, juga naik,
bahkan sulit didapat kan akibat harga kacang kedelai melonjak di
pasaran.
Di Pasar Badak, tempat Slamet biasa berbelanja bahan baku, tahu
berukuran sedang yang sebelumnya dijual Rp 500 sekarang menjadi Rp 750
per potong. Begitu pula harga tempe berbagai ukuran, naik rata-rata Rp
500 dari harga sebelumnya.
Dugaan bahwa Slamet bunuh diri karena tekanan ekonomi diperkuat hasil
visum di Rumah Sakit Umum Daerah Pandeglang. "Tidak ditemukan adanya
bekas kekerasan fisik sehingga kasus itu murni merupakan bunuh diri.
Besar kemungkinan penyebabnya adalah tekanan ekonomi," ujar Kepala
Kepolisian Resor Pandeglang Ajun Komisaris Besar Mamat Surahmat.
Slamet bukan satu-satunya warga masyarakat yang menjadikan gorengan
sebagai tumpuan hidup sehari-hari. Ada ribuan warga yang berharap bisa
melanjutkan hidup dengan berdagang gorengan. Namun, jika harga bahan
baku terus melonjak, apakah tidak mungkin ada warga lain yang menjadi
senekat Slamet: memilih bunuh diri karena putus asa melihat harga
bahan pangan yang semakin tak terjangkau.
Warteg juga terancam
Di Jakarta, kemarin, sejumlah warung nasi, terutama warung tegal
(warteg), diwarnai kekesalan pelanggan yang kehilangan lauk kesayangan
mereka, orek (irisan kecil tempe goreng berbumbu yang dipotong
memanjang, bercampur sedikit irisan cabai merah).
Di lingkungan penggila warteg, orek memang hampir identik dengan
warteg. Di samping murah meriah, cuma Rp 1.000-Rp 1.500, sebagai
pendamping nasi, orek memang enak.
"Saya sudah 35 tahun jualan nasi, tapi baru sekarang saya tak bisa
menyajikan orek karena tempe menghilang dari pasar tiga hari ini,"
kata Mu'min, pemilik Warung Nasi Ojo Lali, yang berlokasi di Jalan
Melati, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta
Barat.
Ketika kerusuhan Mei 1998, menurut dia, tempe dijatah, masing-masing
cuma dapat lima bantal tempe. "Zaman perang, zaman Bung Karno, zaman
geger G30S, zaman Pak Harto, enggak pernah tempe sampai hilang seperti
sekarang," katanya.
Kebetulan warungnya mengandalkan tiga menu, orek, soto betawi, dan
bakwan udang. Setiap hari warungnya yang buka pada pukul 10.00-20.00
menghabiskan antara lain tempe 15 bantal, tahu besar 15 potong, tahu
kuning 30 potong, beras setengah kuintal, dan minyak tanah 30 liter.
Karena menu orek absen, jumlah pelanggannya tiga hari belakangan
berkurang, dari sekitar 250 orang setiap harinya menjadi 100 orang.
"Menu lain boleh mewah, tapi enggak laku kalau enggak ada orek. Ambil
orek dulu, baru menu tambahan lainnya," ucap Mu'min.
"Padahal sebenarnya, meski dengan harga tinggi, kalau tempenya
ada,pasti saya beli karena pelanggan saya tidak keberatan harga orek
naik," katanya menambahkan.
Mu'min berniat menutup warungnya kalau produk tempe dan tahu
menghilang lebih dari seminggu, atau jika harga minyak tanah mencapai
Rp 7.000 per liter. "Semua pemilik warteg pasti punya niat yang sama
dengan saya," tuturnya. (WIN)
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.