GK Juga loh Meg, dideket kantor gw tukang gorengan cuma gak bawa Temp & Tahun 2 
hari aja.
Tadi dah bawa lagi, tapi harganya selangit. Goreng2an dah dipatok Rp. 750 
perbuah.

Gitu aja...........


  ----- Original Message ----- 
  From: Mega Rachmani 
  To: Milis IListeners 
  Sent: Wednesday, January 16, 2008 11:40 AM
  Subject: [IListeners] [Info] Pedagang Gorengan Memilih Bunuh Diri


  Siang..

  Tadi pagi, aku sempatkan membaca dipojok kanan bawah koran Kompas hari ini.
  Saat ini, hampir setiap hari headline news-nya adalah sakitnya Pak
  harto dan Kedelai [ga' jauh dari tempe - tahu..]
  Sampai kapan, masyarakat Indonesia merasa tersiksa karena tidak bisa
  makan makanan yang bergizi .. yaaa.. minimal bisa makan tahu dan tempe
  ??

  Siap-siap say good bye Tempe mendoan, kering tempe, kripik tempe, tahu
  gejrot, tahu sumedang, dll... dan siap-siap ada negri lain yang
  mengaku-ngaku Tempee Mendoan berasal dari negri mereka ??

  Hmmm...

  Happy days..^_*

  Mega
  =======================================================
  Oleh Anita Yossihara
  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/16/utama/4168477.htm
  ==================

  Beberapa ibu rumah tangga sibuk menata kue di rumah Nuriah (40) di
  Kampung Cidemang, Kelurahan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten,
  Selasa (15/1) siang. Ibu-ibu itu menyiapkan makanan untuk acara doa
  bersama berkait meninggalnya Slamet (45), suami Nuriah.

  Sehari sebelumnya, suami Nuriah nekat gantung diri hingga tewas di
  sebuah kamar kosong di rumahnya. Jasad Slamet pertama kali ditemukan
  oleh istrinya yang baru pulang dari berbelanja di Pasar Badak,
  Pandeglang. Tubuh ayah empat anak itu sudah menggantung di tengah
  kamar, dengan seutas tali plastik melilit di lehernya.

  Sehari-hari Slamet bekerja sebagai pedagang gorengan di Pasar Badak,
  tepatnya di tepi Jalan Raya A Yani. Belakangan ini, kata istrinya,
  pendapatannya semakin menurun.

  Slamet tambah tertekan saat minyak tanah sulit didapat dan harganya
  melambung. Apalagi kenaikan harga minyak tanah bersamaan dengan
  melonjaknya harga sejumlah bahan pangan, seperti tepung terigu, tepung
  tapioka, tahu, tempe, sayuran, dan minyak goreng.

  Empat hari sebelum meninggal, Slamet pernah mengeluh kepada beberapa
  wartawan yang datang untuk menanyakan dampak kelangkaan minyak tanah
  dan kenaikan harga. Ia mengatakan terpaksa membeli minyak tanah dengan
  harga Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per liter.

  Setiap pagi sebelum berjualan, ia mengambil 2-3 liter minyak tanah di
  warung milik Enjen. Slamet baru membayar minyak tanah pada malam hari,
  sepulang berjualan. Namun, menurut Enjen, beberapa waktu terakhir
  Slamet memang mulai kesulitan membayar minyak tanah.

  Kondisi itu membuat Slamet merasa berat untuk melanjutkan usaha
  berdagang gorengan. Keluhan serupa juga pernah disampaikan Slamet
  kepada Ustadz Nurdin, tokoh masyarakat setempat.

  Nurdin menceritakan, sebelum Slamet bunuh diri, ia pernah mengeluh
  selalu merugi. "Modal yang dikeluarkan Rp 50.000 sehari, tetapi
  pendapatannya cuma Rp 35.000," katanya.

  Bisa jadi beban pedagang gorengan itu bertambah berat karena semua
  harga bahan baku gorengan melonjak. Saat ini harga minyak goreng di
  Pasar Badak mencapai Rp 11.500 per kilogram, harga tepung terigu
  menjadi Rp 7.000 per kilogram, dan harga tepung tapioka Rp 3.800 per
  kilogram.

  Harga bahan baku gorengan lain, seperti tahu dan tempe, juga naik,
  bahkan sulit didapat kan akibat harga kacang kedelai melonjak di
  pasaran.

  Di Pasar Badak, tempat Slamet biasa berbelanja bahan baku, tahu
  berukuran sedang yang sebelumnya dijual Rp 500 sekarang menjadi Rp 750
  per potong. Begitu pula harga tempe berbagai ukuran, naik rata-rata Rp
  500 dari harga sebelumnya.

  Dugaan bahwa Slamet bunuh diri karena tekanan ekonomi diperkuat hasil
  visum di Rumah Sakit Umum Daerah Pandeglang. "Tidak ditemukan adanya
  bekas kekerasan fisik sehingga kasus itu murni merupakan bunuh diri.
  Besar kemungkinan penyebabnya adalah tekanan ekonomi," ujar Kepala
  Kepolisian Resor Pandeglang Ajun Komisaris Besar Mamat Surahmat.

  Slamet bukan satu-satunya warga masyarakat yang menjadikan gorengan
  sebagai tumpuan hidup sehari-hari. Ada ribuan warga yang berharap bisa
  melanjutkan hidup dengan berdagang gorengan. Namun, jika harga bahan
  baku terus melonjak, apakah tidak mungkin ada warga lain yang menjadi
  senekat Slamet: memilih bunuh diri karena putus asa melihat harga
  bahan pangan yang semakin tak terjangkau.

  Warteg juga terancam

  Di Jakarta, kemarin, sejumlah warung nasi, terutama warung tegal
  (warteg), diwarnai kekesalan pelanggan yang kehilangan lauk kesayangan
  mereka, orek (irisan kecil tempe goreng berbumbu yang dipotong
  memanjang, bercampur sedikit irisan cabai merah).

  Di lingkungan penggila warteg, orek memang hampir identik dengan
  warteg. Di samping murah meriah, cuma Rp 1.000-Rp 1.500, sebagai
  pendamping nasi, orek memang enak.

  "Saya sudah 35 tahun jualan nasi, tapi baru sekarang saya tak bisa
  menyajikan orek karena tempe menghilang dari pasar tiga hari ini,"
  kata Mu'min, pemilik Warung Nasi Ojo Lali, yang berlokasi di Jalan
  Melati, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta
  Barat.

  Ketika kerusuhan Mei 1998, menurut dia, tempe dijatah, masing-masing
  cuma dapat lima bantal tempe. "Zaman perang, zaman Bung Karno, zaman
  geger G30S, zaman Pak Harto, enggak pernah tempe sampai hilang seperti
  sekarang," katanya.

  Kebetulan warungnya mengandalkan tiga menu, orek, soto betawi, dan
  bakwan udang. Setiap hari warungnya yang buka pada pukul 10.00-20.00
  menghabiskan antara lain tempe 15 bantal, tahu besar 15 potong, tahu
  kuning 30 potong, beras setengah kuintal, dan minyak tanah 30 liter.

  Karena menu orek absen, jumlah pelanggannya tiga hari belakangan
  berkurang, dari sekitar 250 orang setiap harinya menjadi 100 orang.

  "Menu lain boleh mewah, tapi enggak laku kalau enggak ada orek. Ambil
  orek dulu, baru menu tambahan lainnya," ucap Mu'min.

  "Padahal sebenarnya, meski dengan harga tinggi, kalau tempenya
  ada,pasti saya beli karena pelanggan saya tidak keberatan harga orek
  naik," katanya menambahkan.

  Mu'min berniat menutup warungnya kalau produk tempe dan tahu
  menghilang lebih dari seminggu, atau jika harga minyak tanah mencapai
  Rp 7.000 per liter. "Semua pemilik warteg pasti punya niat yang sama
  dengan saya," tuturnya. (WIN)


   

Kirim email ke