Nah, dulu waktu kampanya FOKE bilang dia AHLINYA untuk hal-hal di bawah. So 
mana FOKE, jangan sembunyi dong !!??

Tahun lalu, ketika banjir Februari juga banyak pakar dah ngomong mestinya ini 
mestinya itu dll...
Trus aku masih inget teman-teman di IPB bikin alternatif yang PALING mudah, 
yaitu setiap rumah membuat 'pori-pori' tanah dengan membuat lubang kecil dengan 
tajuk-tajuk setiap sekian meter persegi. Dan disarankan setiap rumah yang baru 
menerapkan ini, murah dan gampang tapi efeknya besar untuk serapan air.
Nah tinggal sosialisasi serta sistem Pemerintahan mewujudkan ini, 
merealisasikan dan kalau perlu ada 'fine' sebagai ganti apa bila ada warga yang 
tidak bisa / menolak melakukan ini. FOKE sebagai AHLInya dalam hal ini mestinya 
mengerti betul apa yang mesti dilakukan. Pertanyaannya :
  1.. Apakah program dah dijalankan dan dijabarkan
  2.. Apakah dah disosialisaikan ke masyarakat
  3.. Apakah masyarakat dah ngerti
  4.. Apakah ada kontrol untuk mengetahui masyarakat emlaksanakan atau tidak
  5.. Apakah ada kompensasi apabila masyarakat tidak melaksanakan
  6.. Apakah kebijakan pembangunan infrastruktur dan perumahan di wilayah 
Jakarta dan sekitarnya sudah dipertimbangkan dari sisi ekologisnya 
  7.. Apakah sudah dilaksanakan koordinasi dengan pemerintah 'buffer' Jakarta 
agar kebijakannya terintegrasi
  8.. Apakah para pejabat dan wakil rakyat sudah survei ke bawah, bagaimana 
peran masyarakat dalam pelaksanaan ini
  9.. Apakah para pejabat dan wakil rakyat sudah survei ke bawah, mengerti 
betul sebenarnya mau masyarakat tuh seperti apa ? Masyarakat bayar pajak loh
  10.. Apakah apakah apakah apakah ....... apakah mo minta naik gaji lagi ??? 
biar bisa mengatasi banjir ??
  11.. Apakah masing-masing sudah DISIPLIN ???
halaah, bentar lagi banjir kemarin dilupain kok... dan semua berjalan seperti 
sedia kala, sambil menunggu banjir-banjir selanjutnya. hitung-hitung bisa 
menjadi komoditi persiapan tahun 2009, ketika semua mereka-mereka di panggung 
bilang 'PILIH AHLINYA"....... capek !!

before :
yUP benar sekali pendapat anda...
Anda pernah lihat yang dimanggari ada alat berat untuk angkutin sampah yang 
menumpuk akibat masyarakat yang membuang sampah sembarangan... itu juga salah 
satu peran penting dari pemerintah.
Mengeruk kali, membersihkan hulu, memperbaiki tanggul2, membangun waduk, 
membersihkan/mentertibkan warga di pinggir kali, dll.
Satu kesalahan Pemerintah Pusat atau Daerah adalah mengijinkan pembangunan 
perumahan di wilayah resapan air.
1. Kelapa Gading... merupakan daerah resapan air, menurut teman saya, dulu 
daerah ini adalah resapan air yang sangat luas, tapi karena sesuatu hal (dengan 
foto udara) akhirnya daerah ini berubah menjadi perumahan.
2. PIK (Pantai Indah Kapuk), juga awalnya merupakan resapan air
3. PLUIT
 dan masih banyak lagi perumahan2 yang dibangun di wilayah resapan air.

Satu contoh, saya ambil di wilayah PIK, memang perumahan tersbut tidak banjir 
karena sudah diuruk, tapi apakah akibatnya ketika sudah diuruk... berarti air 
terhalang langsung masuk kelaut, tapi bisa bayangkan akibat terhalangnya air 
yang akan masuk kelaut itu akan tergenang dan perumahan2 diwilayah sekitar PIK 
bahkan diwilayah kali/sungai akan terendam. Itulah yang membuat jakarta semakin 
hari semakin tinggi saja. Air dihalangi oleh perumahan2 yang telah diuruk 
lahannya.... Bahkan diwilayah BSD juga seperti itu, memang perumahan BSD tidak 
banjir karena sudah di uruk sekian meter, tapi bisa bayangkan penduduk 
disekitar perumahan tersebut????

Kayaknya untuk yang satu ini pemerintah harus sudah mulai tegas, boleh ada 
pembangunan perumahan tetapi harus dianalisis dulu apakah kedepannya akan 
berdampak buruk untuk wilayah disekitarnya???

Kirim email ke