Inna lillahi wainna ilaihi rajiun

Dilema ....................

On Tue, Mar 4, 2008 at 4:22 PM, iristiantara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Inna lillahi wainna ilaihi rajiun
>
> Sudah pantas bila Allah SWT menurunkan azabnya di bumi indonesia
> Karena para pemimpin negeri ini sudah terlenakan dan tak mampu
> melihat azab-azab kecil yang selama ini sudah ditunjukkan. Tsunami
> aceh, gempa jogja, banjir rob jakarta, lumpur lapindo, dsb..
>
> Apalagi, sekeras-kerasnya azab akan dijatuhkan kepada para pemimpin
> dan penimbang hukum yang zalim (hakim, jaksa, aparat penegak hukum
> lain), apabila mereka lalai dalam menjaga amanah, membenarkan yang
> salah dan menyalahkan yang benar, itu sudah janji Allah SWT..
>
> Wahai para bapak, jagalah istri dan anakmu, karena mereka adalah
> tanggung jawab kita terdekat..
>
> Salam,
> Arief
> Yang sudah sangat muak
>
> --- In [email protected] <IListeners%40yahoogroups.com>, º» índrí
> « º <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
> >
> > Dari milis tetangga
> >
> > sedih....
> >
> > BR
> > º» índrí «º
> >
> >
> >
> >
> > 01/03/2008 12:48 WIB
> > Ibu Hamil Meninggal Kelaparan
> > Beras 1 Liter untuk 3 Hari
> > Gunawan Mashar - detikcom
> > Makassar - Ny Basse (27), ibu hamil 7 bulan meninggal kelaparan
> setelah tiga hari tidak makan. Isi dompet ibu 4 anak ini tidak cukup
> untuk menghidupi keluarganya. Sehari-hari dia hanya mampu membuat
> bubur dari seliter beras yang dibelinya.
> >
> > Karena kondisi yang serba kekurangan, biasanya beras satu liter
> itu dimasaknya untuk tiga hari.
> >
> > "Saya sering memperhatikan Basse beli beras 1 liter untuk 3 hari.
> Kalau pagi masak bubur, siang nggak makan. Kalau malam kadang makan
> kadang nggak. Yang dimakan bubur terus supaya hemat," ujar Lina di
> Rumah Sakit Haji, Jl Daeng Ngepe, Makassar, Sabtu (1/3/2008).
> >
> > Lina adalah kerabat yang menolong Basse untuk tinggal gratis di
> rumah panggung berlantai dua yang dimiliknya. Awalnya, Basse
> membayar uang sewa untuk satu kamar di lantai atas rumahnya sebesar
> Rp 50 ribu per bulan.
> >
> > Namun melihat keadaan Basse yang serba kekurangan, Lina
> membebaskan biaya sewa kamar untuk Basse dan keluarga. Meski
> demikian, Basse tahu diri. Dia rajin mencuci pakaian dan berbenah di
> rumah Lina.
> >
> > Lina mengatakan, Basse sehari-harinya dikenal pendiam dan jarang
> bergaul oleh tetangga sekitar rumah. Basse juga tidak pernah
> mengeluh ke tetangganya kalau kekurangan uang. Selain pendiam, Basse
> juga jarang berbicara termasuk dengan dirinya.
> >
> > Lina bercerita, meskipun miskin, Basse tidak pernah meminjam uang
> kepada tetangga. Namun demikian, tetangga yang sering melihat anak
> Basse mengeluh kelaparan bersimpati dengan memberikan uang Rp 5 ribu
> kepada anak-anaknya maupun Basse.
> >
> > "Kalau dikasih syukur, kalau nggak dia tidak akan pinjem," jelas
> Lina.
> >
> > Basse dan suaminya, Basri, memiliki empat anak bernama Salma (9),
> Baha (7), Bahir (5), dan Aco (4).
> >
> > Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Basse dan anak-anaknya
> menderita kelaparan berat, sehingga menyebabkan diare akut. Penyakit
> ini tidak mampu ditanggungnya. Dia meninggal bersama janin yang
> dikandungnya. 5 Menit setelah Basse menghembuskan nafas terakhir,
> putranya Bahir (5) juga tewas.
> >
> > Dua anak Basse, Salma dan Aco, kini dirawat di Rumah Sakit Haji,
> Jalan Daeng Ngape, Makassar. Keduanya ditemani Lina.
> > ( nik / umi )
> >
> >
> > Sementara itu......... .
> >
> >
> >
> > Edisi. 01/XXXVII/25 Februari - 02 Maret 2008 Ekonomi dan Bisnis
> > Ketika Prajogo Mantu
> > Tiga menteri dan ratusan pengusaha kakap hadir di Singapura. Total
> aset mereka satu triliun dolar, ujar seorang konglomerat. Ada
> berlian 100 karat seharga 35 juta dolar. LAGU Popsicle Toes dari
> penyanyi smooth jazz Michael Franks mengalun lamat-lamat. Suara
> lembut itu akhirnya terbenam dalam riuhnya percakapan sekitar 600
> hadirin yang mengisi penuh semua kursi dalam formasi meja bundar di
> Ballroom Hotel The Ritz-Carlton Millennia, Singapura. Sabtu malam
> dua pekan lalu itu, mereka datang di pesta perkawinan putri taipan
> Prajogo Pangestu, Nancy, yang dipersunting pria Prancis, Nicolas
> Tabardel.
> > Sebuah big-band tiba-tiba menghentakkan musik pembuka acara. Sorot
> lampu benderang di panggung lalu terfokus pada para musikusnya—
> sejumlah pria bule. Hadirin terkesiap, lalu memberi aplaus ketika
> master of ceremony membuka perhelatan megah dengan sejumlah kristal
> raksasa yang menggantung di atap ruang pesta itu. Di tengah setiap
> meja terpajang tonggak warna emas dan perak berhiaskan lilin dan
> kembang sedap malam.
> > Salad lobster, sup porcini, daging wagyu kelas satu, yang diselipi
> jamur dan tomat, disajikan berurutan dalam cara hidang rijstafel.
> Pesta bernuansa Barat dalam suasana Imlek itu—banyak perempuan yang
> mengenakan busana cheongsam—diselingi toast para tamu. "Untuk
> kebahagiaan mempelai berdua, mari kita bersulang... ," teriak sang
> pembawa acara. Lalu, triiing... gelas-gelas berisi anggur kelas
> wahid Dom Perignon saling beradu. Hadirin bertepuk-tangan.
> > Glamor di seberang Teluk Singapura ini hanya bisa tertandingi oleh
> kenduri perkawinan berlian Liem Sioe Liong atau Sudono Salim. Pria
> kelahiran Fukien, Cina, hampir 92 tahun silam ini adalah pendiri
> kerajaan bisnis Grup Salim, yang pernah berpuluh tahun bertengger di
> puncak tangga orang terkaya di Indonesia. Om Liem merayakan pesta
> usia perkawinannya yang ke-60 itu di Shangri-La Island Ballroom,
> Hotel Shangri-La, di kawasan mentereng Orchard Road, Singapura,
> April 2004.
> > Saat itu hadirin betul-betul mendapat perlakuan istimewa. Mereka—
> umumnya saudagar besar dan bekas pejabat era Orde Baru—dijemput
> khusus dengan pesawat Singapore Airlines. Tampak mantan Menteri
> Penerangan Harmoko, eks Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, bekas
> Menteri Transmigrasi Siswono Yudhohusodo, dan mantan Ketua DPR Akbar
> Tandjung. Ratusan pebisnis yang namanya berkibar belakangan setelah
> Soeharto lengser ikutan hadir, semisal Harry Tanoesoedibjo dari
> Bhakti Investama dan Chaerul Tanjung, bos Bank Mega dan Trans TV
> (Tempo, 25 April 2004). lll
> >
> > Prajogo Pangestu, 64 tahun, menyambut tetamunya dengan berpidato
> memakai teks dalam bahasa Indonesia aksen Mandarin. Bos Barito
> Pacific yang dalam dua tahun terakhir namanya masuk daftar majalah
> Forbes Asia, sebagai 20 besar orang terkaya di Indonesia ini
> menyinggung sebuah kisah lama, saat si kecil Nancy dilepas belajar
> ke Singapura meski belum genap berusia empat tahun. Mata Nancy
> berkaca-kaca. Nicolas lalu didaulat menyanyikan My Way, yang biasa
> dilantunkan oleh Frank Sinatra.
> > Daya pikat pesta tak sebatas lagu-lagu nostalgia, kristal,
> semerbak bunga dan kaviar hitam dari Laut Kaspia, tapi juga pada
> seonggok benda gemerlap yang menggelayut di dada istri Prajogo,
> Herlina Tjandinegara. Tengoklah liontin putih yang terus-menerus
> berkilau "mengganggu" pandangan mata itu. Ups! ternyata berlian
> super-langka seberat 100 karat, sebesar jempol kaki orang dewasa,
> salah satu yang terbesar di dunia yang, konon, dibeli pada 1990 di
> Amerika. "Ini memang investasi saya," kata Prajogo. Harganya? Sang
> taipan hanya tersenyum. Tapi ada yang menaksir "cuma" US$ 35 juta
> atau sekitar Rp 300 miliar.
> > Tak berlebihan kalau ada yang berbisik bahwa inilah pesta taipan
> terbesar di awal Tahun Tikus. Tengoklah pula tamu-tamu yang hadir di
> sana. Di meja sentral, yang berseberangan dengan tempat sahibul
> hajat, duduk Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat
> Aburizal "Ical" Bakrie, Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu dan
> Menteri Kehutanan M.S. Ka'ban. Bersama bekas Menteri BUMN Tanri
> Abeng, mereka mengapit Madame Ho Ching, CEO Temasek Holdings, yang
> juga istri PM Singapura Lee Hsien Loong.
> > Sang Madame yang tahun lalu dijuluki majalah Time sebagai satu
> dari 100 orang berpengaruh di dunia, rupanya betah duduk hampir lima
> jam hingga acara usai. "Pestanya luar biasa dan menyenangkan bisa
> bertemu banyak orang," kata Ho Ching. Semula ia bakal disandingkan
> dengan mantan Presiden Megawati dan Taufik Kiemas, namun mendadak
> Taufik kurang sehat sehingga batal hadir. Ia mengirim putrinya, Puan
> Maharani. Sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla "mengutus"
> kerabatnya, Aksa Mahmud, bos Bosowa Grup. Solihin Kalla, putra JK,
> ikut pula meramaikan pesta.
> > Ratusan pengusaha terkemuka juga hadir. Dua konglomerat yang
> moncreng dan menjadi andalan di masa Orde Baru, Sudwikatmono dan
> Ibrahim Risjad, tampak hadir hingga acara usai. Keduanya bersama
> Liem Sioe Liong dan Djuhar Sutanto dijuluki The Gang of Four.
> Sayang, Om Liem batal hadir. "Karena flu berat," kata seorang
> panitia. Bos besar yang berpuluh tahun menjadi orang terkaya di
> Tanah Air itu diwakili putranya, Anthony Salim, CEO Salim Grup. Di
> kursi para taipan kawakan ini bergabung pula William Soeryadjaya,
> yang mulai uzur dan menggunakan kursi roda.
> > Nama-nama beken yang akrab menghiasi majalah Fortune dan Forbes
> juga tampak. Ada keluarga grup Sinar Mas, Djarum (Budi Hartono),
> Sampoerna, Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto), Wings (Eddy William
> Katuari), Berca (Murdaya Po dan Hartati Murdaya), Mukmin Ali
> Gunawan, bos Panin Bank, Sugianto Kusuma atau Aguan, bos Artha Graha
> Grup, bahkan chairman Charoen Pokphand, Summet Jiaravanon. Dari bos
> media tampak Chaerul Tanjung (Trans TV), Surya Paloh (Metro TV),
> Peter F. Gontha (Q TV). "Saya datang karena Prajogo memang hopeng
> (kawan) sejak lama," kata Peter.
> > Seorang taipan lalu berbisik, kalau ditotal, ini adalah pesta
> saudagar besar yang mempunyai aset senilai satu triliun dolar—kalau
> dikurskan ke rupiah menjadi lebih dari Rp 9.000 triliun! Nilai ini
> hampir setara dengan 12 kali APBN kita atau sekitar 3.000 kali
> pendapatan asli daerah terkaya di Indonesia, Kabupaten Kutai
> Kertanegara. Tanri Abeng, bekas CEO Bakrie Brothers, ikut
> mengangguk. Maka itulah, "Wah, kalau terjadi sesuatu di sini, kita
> bisa repot hehe," kata Tanri.
> > Coba saja dikalkulasi. Temasek, perusahaan investasi milik Negeri
> Singa itu, beraset sedikitnya US$ 100 miliar (namun ada versi lain
> yang menghitung kekayaan sebenarnya lima kali lipatnya). Merekalah
> sang empunya Singapore Airlines, dan memutar US$ 11 miliar uangnya
> di Jakarta, di antaranya untuk memborong saham Bank Danamon dan Bank
> Internasional Indonesia. Ho Ching, 54 tahun, tampak terus-menerus
> ditempel dan berbisik-bisik dengan Tanri, Anthony, dan Sofjan
> Wanandi, bos Grup Gemala.
> > Lalu Ical jangan dilupakan. Ia datang khusus dengan pesawat jet
> pribadi. Anggap saja Pak Menko, juragan Kelompok Bakrie, bekas
> saudagar besar pribumi yang tahun lalu namanya bercokol sebagai
> orang terkaya nomor wahid di republik ini. Belum lagi Anthony,
> Sukanto Tanoto (dua tahun lalu dinobatkan majalah Forbes Asia
> sebagai taipan terkaya Indonesia), Budi Hartono, dan beratus nama
> besar lainnya yang tak bisa disebutkan di sini.
> > Para taipan itu seperti hendak "membenamkan" Singapura. Tengok
> saja lobi Hotel Ritz-Carlton, Grand Hyatt, Mandarin, juga Shangri-
> La, ramai dengan tegur sapa para taipan dari Jakarta. Prajogo,
> selain menyiapkan tiket Singapore Airlines kelas bisnis, juga
> menyediakan 350-an kamar hotel berbintang untuk undangan tertentu.
> Mereka pulalah yang khusus diundang untuk pesta koktail, petang
> sebelum resepsi dan pemberkatan, dengan sajian kaviar hitam kelas
> wahid, sambil menenggak sampanye dan vodka diiringi lantunan Michael
> Franks, you're so brave to expose... all those... popsicle toes....
> > Wahyu Muryadi (Singapura)
> >
> >
> >
> >
> > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo!
> Search.
> >
> >
> >
> >
> __________________________________________________________
> _______________
> > Be a better friend, newshound, and
> > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
> >
>
>  
>



-- 
B 1101 RK

Kirim email ke