"APA KATA HAMKA MENGENAI AHMADIYAH DAN YANG SEJENISNYA
(2)

AHMADIYAH

Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan India-pun mendakwakan
pula dirinya Mahdi dan Isa. Jadi sekaligus keduanya,
berbeda dengan Al-Bab dan Bahaullah. Diapun menerima
wahyu-wahyu Illahi, menurut dakwanya.Tetapi ada
perbedaan sedikit,karena Mirza Ghulam Ahmad, katanya,
bukanlah menghapuskan syariat Muhammad dengan syariat
yang baru. Dia adalah Nabi Pengiring. Dialah Mahdi
yang ditunggu dan Isa yang dijanjikan, dan dia
pulalah Mujaddid yang mesti datang tiap seratus tahun
sekali.

Pengikut Mirza Ghulam Ahmad pun pecah menjadi dua
pula. Keduanya sama-sama bernama Ahmadiyah.
Pertama, Ahmadiyah Qadiyan, mempunyai
Kalifatul-Masih yaitu Kalifah dari Mirza Ghulam Ahmad
sendiri. Golongan Lahore memisahkan diri dan
mengakui Mirza Ghulam hanyalah semata-mata guru dan
mujaddid. Terjadi pertentangan diantara keduanya,
karena
golongan Qadiyan menuduh kafir golongan Lahore karena
hanya mengakui mujaddid saja. Golongan Lahore yang
memisahkan diri itu dikepalai oleh Maulana
Mohammad Ali dan Kawaya Kamaluddin.

Kedua golongan Ahmadiyah ini sama-sama berusaha
menyiarkan Islam, tetapi melalui dasar faham mereka
lebih dahulu, yaitu Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masih
al-Mau'ud) bagi Qadiyani, dan Mirza Ghulam Ahmad
(Mujaddid Abad ke-20) bagi kaum Lahore.


PENDAPAT KITA

Haruslah kita selidiki bagaimana besarnya
pengaruh kepercayaan kaum Syiah, terutama di Iran
dan juga di Hidustan. Menunggu kedatangan Imam
yang Ghaib, Imam Mahdi akan datang kembali dan
Nabi Isa akan turun, dan Isa dan Mahdi itu ialah yang
seorang itu juga,demikian mendalam di kalangan
Syiah, sehingga menjadi salah satu rukun kepercayaan
yang tidak dapat dipisahkan lagi dari agama.
Kadang-kadang Ahli Sunnah-pun turut juga menerima
kepercayaan ini, walupun tidak menjadi dasar
benar-benar.
Dan inipun kadang-kadang bertemu didalam sebagian
kepercayaan kaum Sufi, seperti Ibnu 'Arabi. Maka
tidaklah kita heran, kalau dari kedua negeri
inilah timbul orang-orang yang mendakwakan dirinya
nabi, atau rasul,atau Mahdi, atau Al-Bab (pintu),
atau Imam yang Ghaib telah datang, atau didakwakan
oleh muridnya.

Kita tetap memegang pendirian Ahli Sunnah, bahwa
sesudah Muhammad tidak akan datang nabi lagi. Karena
soalnya sudah habis. Kalau akan kita terima kedatangan
itu, manakah yang akan kita tetapkan? Apakah Mirza
Ghulam Ahmad, atau Mirza Ali Muhammad (Al-Bab), atau
Bahaullah? Atau kita akui semuanya, padahal diantara
satu sama lain berlawanan pula.
Atau kita akui semuanya, dan kita akui pula yang lain
yang akan mendakwakan dirinya menjadi nabi pula
nanti.

Kalau dikatakan karena dia menyerukan perdamaian
Dunia, maka dia membawa syariat baru, tidak
bolehkah Mahatma Gandhi dikatakan pula nabi? Atau
Krisna Vedanta di Colorado? yang juga menyerukan
perdamaian dunia.

Kaum Ahmadi dan Bahai mengemukakan alasan yang sama
untuk menolak pendirian umum bahwa Nabi Muhammad
"Penutup Segala Nabi," dengan ayat "Khataman
Nabiyyin." Menurut qiraat (bacaan) yang umum ayat
itu dibaca "Khatam," bukan "Khatim."
Tetapi artinya adalah "Khatim." Khatam artinya cincin,
dan Khatim artinya penutup.

Khataman Nabiyyin artinya cincin permata segala nabi.
Kalau sekiranya kita perturutkan rasa bahasa, tentu
Nabi Muhammad itu tidak nabi lagi, hanyalah
cincin perhiasan segala nabi-nabi. Yang mempunyai
cincinlah yang nabi, bukan cincin itu sendiri.

Didalam keterangan yang biasa mereka kemukakan, adalah
bahwa tidaklah perkara yang mustahil bahwa Allah akan
berkata-kata dengan hambanya. Tidaklah akan putus
sampai hari kiamat orang yang dipilih Allah buat
menumpahkan katanya. Tidaklah akan hilang begitu saja
wahyu sampai kiamat.

Tentang itu Ahli Sunnah-pun mengakui juga. Di
kalangan sahabat Nabi, ketika Nabi masih hidup
terdapatlah orang istimewa yang demikian. Yaitu
Umar bin Khattab. Sehingga Nabi Muhammad pernah
mengatakan, bahwasanya jika ada nabi sesudahku,
niscaya Umarlah orang itu. Tetapi tidak ada lagi
nabi sesudahku.

Mengapa tidak? Nabi Muhammad sendiri menjelaskan
bahwa "Ulama-ulama umatku adalah sama derajatnya
dengan nabi-nabi Bani Israil." Kalau kata nabi yang
demikian akan diperluas,maka seluruh ulama yang
berjasa membangun Islam, patutlah disebut nabi. Imam
Al-Ghazali, Imam ul Haramain, Ibnu Taimiyah, dan
muridnya Ibnu Qayyim, dan Syekh Muhammad ibnu Abdil
Wahhab, dan Said Jamaluddin Al-Afghani, dan
Syekh
Muhammad Abduh dan Said Rasyid Ridha, patutlah
disebut sebagai nabi. Karena mereka dalam sifat
keulamaannya samalah jasanya dengan nabi-nabi Bani
Israil. Dan orang Indonesia dalam kalangan Nahdhatul
Ulama patutlah menyebut kyai besarnya Hasyim
Ashari sebagai nabi, sebab jasanya besar pula.
Demikian pula Muhammadiyah dengan Kyai H.A.
Dahlannya.

Banyak diantara ulama mendapat ilham dari Tuhan,
seakan-akan wahyu Illahi. Karena mereka berfaham Ahli
Sunnah, tidaklah mereka berani mengatakan dirinya
nabi. Dan kalau mereka mendakwakan dirinya nabi, akan
musnahlah mereka.

Kalimat wahyu suci yang diberikan Tuhan, oleh faham
Ahli Sunnah telah ditentukan buat rasul
dan nabi.
Setinggi-tinggi martabat manusia ini hanyalah mendapat
hatif atau ilham, atau mimpi yang benar, atau
mahaddas. Kalau wahyu itu dikatakan akan putus
selama-lamanya, perkataan itu benar juga dari segi
lain. Lebah menurut Sabda Tuhan didalam Quran,
mendapat wahyu untuk membuat sarangnya di bukit
dan di bubungan rumah. Ibu Musa mendapat wahyu Tuhan
supaya melemparkan puteranya dalam peti di sungai Nil.
Dan lebah bukanlah nabi, padahal sampai sekarang
tidaklah putus dia mendapat wahyu itu, selama dia
masih bersarang di bukit dan di bubungan rumah. Dan
ibu Nabi Musa bukanlah nabi.


Kirim email ke