"APA KATA HAMKA MENGENAI AHMADIYAH DAN YANG
SEJENISNYA" (4)

Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang
kepada ayat yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa
Nabi Isa telah wafat. Nabi Isa telah wafat,
dengan berdasarkan kepada "mutawaffika" tadi. Dan
dia telah diangkat ke hadirat
Allah, (wa rafi'uka ilayya), sebagaimana setiap
roh yang suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat
Allah.

Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia,
sebelum hari kiamat datang, adalah hadis yang
bernama "Al-Uhad."
Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka
menurut pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau
sekiranya tidak kita jadikan menjadi pokok
kepercayaan, sebagaimana pokok kepercayaan yang
enam perkara (rukun iman), tidaklah kita keluar dari
Agama Islam.

Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak
kekuasaan Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke
dunia, tidaklah hal yang mustahil, walaupun tulangnya
telah hancur. Bukanlah didalam Al-Quran ada
tersebut cerita burung-burung yang telah dicincang
lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan.
Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke
puncak empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada
Ibrahim supaya empat burung itu dipanggil kembali.
Maka datanglah keempat burung itu, dengan izin Allah!

Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya
Nabi Isa kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau
wafat, hanyalah permulaan saja dari kebangkitan
mahluk Tuhan yang lain.Seluruh insan dihari
kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa Al-Masih
didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.

Oleh sebab itu, maka pendakwaan orang-orang seperti
Mirza Ghulam Ahmad dan Bahaullah, bahwa merekalah
Isa Al-Masih yang dijanjikan itu, tidaklah kita
percayai. Kita memandang mereka itu hanyalah sebagai
pendakwa-pendakwa kenabian yang lain juga. Sebelum
merekapun telah ada juga pendakwa kenabian itu.
Menggelegak menggejala setahun dua tahun,
taruhlah sepuluh-duapuluh tahun, kemudian padam lagi.
Dan kelak akan begitu pula. Bukan saja yang seperti
ini ada dalam Islam, juga ada dalam agama Kristen.
Bahkan kaum theosofi pernah mengemukakan Khrisna
Murti sebagai Al-Masih yang ditunggu-tunggu itu.

Kaum Bahai dan kaum Ahmadi mengambil alasan atas
kebenaran seruan mereka, ialah karena kian lama
faham mereka kian tersiar, terutama di benua Eropa dan
Amerika. Ini bukan alasan! Sebab kehausan
manusia di kedua benua itu akan tuntunan rohani,
setelah terlalu tenggelam dalam hidup kebendaan,
menyebabkan ada diantara mereka yang lekas saja
menerima suatu propaganda baru. Bukan faham Bahai
dan Ahmadi saja yang mereka terima, gerakan
yang lainpun mendapat pasaran subur juga disana. Di
Jerman telah ada pula penganut faham Buddha dan
mempunyai biara sendiri.Pelajaran tasawuf dari Inayat
Khan mendapat penganut juga. Bahkan seorang yang
mendakwakan dirinya Al-Masih dan memakai gelar Khrisna
Vedanta di negara bagian Colorado, USA, telah
mendapat pengikut pula. Demikian pula seorang kulit
hitam di Pennsylvania (Philadelphia) mengaku dirinya
Tuhan dan memakai nama Father Divine, tidak pula
kurang penganut dan pengikutnya.

Di Amerika muncul tidak kurang 200 sekte
Kristen. Masing-masing mengatakan bahwa mazhab mereka
kian lama kian besar dan melebihi yang lain.

Terutama kaum Bahai! Mereka timbul di negeri Iran
yaitu pada jaman pemerintahan Sultan Nasiruddin
Syah. Seorang syah yang terkenal kejam pemerintahannya
dan berkuasa tanpa batas. Dibantu oleh
mullah-mullah mazhab Syiah, yang bukan saja menentang
satu pendapat baru, bahkan mazhab Ahli
Sunnah-pun mereka tentang. Bahaullah pada
mulanya
mengajarkan pembelaan hak kaum wanita,
menganjurkan penghentian poligami, mengatakan bahwa
dalam ajarannya tidak ada kekuasaan kaum mullah.
Tentu saja ajaran "baru" dari Bahaullah ini
menggoncangkan politik dan susunan masyarakat
kerajaan, persekutuan kaum mullah dengan Syah.
Kaum ini dikafirkan dan diperangi. Al-Bab sampai
dibunuh dan Bahaullah dibuang keluar negeri. Padahal
setelah kecerdasan beragama maju kembali, orang telah
merasa bahwa tidak perlu ada nabi baru membawa ajaran
baru.Seruan-seruan yang diserukan Bhaullah itu
memang telah ada dalam tubuh Islam
ajaran Muhammad sendiri, dengan tidak usah keluar
dahulu dari Islam, dan membuat agama baru.

Adapun kaum Ahmadi dan usahanya melebarkan Islam ke
benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran
mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka
menafsirkan Quran kedalam bahasa-bahasa yang ada di
Eropa. Padahal di jaman 100 tahun yang lalu masih
merata kepercayaan tidak boleh mentafsirkan Quran.
Pentafsiran Quran dari kedua golongan Ahmadiyah itu
membangkitkan minat bagi golongan yang
menginginkan kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali
untuk memperdalam selidiknya tentang Islam. Orang
sekarang telah pandai menimbang. Tafsir kaum Ahmadi
itu mereka baca juga. Yang baik mereka terima dan
kepercayaan tetang kenabian,kerasulan, kemahdian,
ke-Al-Masih-an Mirza Ghulam Ahmad
mereka singkirkan ketepi. Dan tafsir-tafsir karangan
ulama Islam sendiripun telah muncul, yang isinya
jauh melebihi tafsir Ahmadi.Kelebihan tafsir Ahmadi
hanyalah karena ditulis dalam bahasa Barat, menarik
hati kaum terpelajar cara Barat, tapi kosong ilmunya
tentang bahasa Arab.

Di Indonesia sendiri, ketika gerakan-gerakan ini
mulai masuk, agak ribut juga orang menerimanya.
Apalagi mereka suka berdebat-debat sebagai alat
propaganda untuk menarik perhatian. Dalam pada itu
maka pengertian kaum Islam tentang agama
bertambah mendalam, ahli-ahli Islampun telah timbul
lebih banyak daripada dahulu. Kian lama kian sepi
gerakan mereka. Yang dapat tertarik hanyalah
orang-orang yang belum ada pengertiannya tentang
Islam. Setinggi-tinggi usaha mereka adalah
memelihara pengikut-pengikutnya. Di Tempat yang
kuat Islamnya, seperti di Padang Panjang,
terpaksa pengikut-pengikutnya itu meninggalkan
kampung
halaman, dan pindah ke kota Jakarta, sebab
"bebas"
mengerjakan kepercayaannya. Sikap merekapun telah
berubah! Jika semula pada waktu pertama kali mereka
suka mengajak berdebat, diakhir-akhir ini mereka
mengambil sikap hanya mempertahankan diri jika datang
serangan. Tandanya bahwa pasaran mereka telah mulai
sepi.

Adapun kalau ada tambahan pengikut mereka,
tidaklah hal demikian mengherankan kita di Indonesia
ini. Buka saja Ahmadiyah, Bahai-pun telah ada
pengikutnya disini. Bukan saja Bahai dan Ahmadi,
bahkan Katolik dan Protestan-pun ada juga tambahan
penganutnya disini. Bahkan orang yang masuk
komunis-pun ada. Sebabnya adalah karena Islam di
Indonesia pada jaman yang sudah-sudah terdesak oleh
beberapa desakan. Baik politik, atau ekonomi atau
kejahilan tentang ajaran agama Islam sebenarnya.

Semuanya ini adalah cemeti untuk membangkitkan
beransang kaum Muslimin, dibawah pimpinan ulama dan
pimpinanNya supaya bangkit dan berusaha menegakkan
"Dakwah Islamiyah," lebih giat daripada yang
sudah-sudah.

Alhasil, Muhammad adalah penutup dari segala
rasul, dan bukanlah dia mata-cincin dari segala
rasul. Sesudah dia tidak ada nabi lagi, baik nabi
yang menasikhkan syariat Muhammad, ataupun nabi
yang dikatakan "pengiring" Muhammad.
Dengan kedatangannya sempurnalah binaan kepercayaan
isi alam yang telah dibawa berturut-turut oleh
nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum dia. Beliau
bersabda:

"Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi
yang sebelum aku, adalah seumpama seseorang
yang membangun bangunan-bangunan. Diperindahnya dan
diperbagusnya binaan itu, kecuali (ketinggalan)
suatu batu tembok pada sudut
daripada sudut-sudutnya itu. Maka manusiapun
berkelilinglah dan takjub melihat binaan itu, dan
mereka berkata: 'Alangkah baiknya ditutupi sebuah batu
tembok yang kurang ini.' Maka akulah batu tembok
itu, dan akulah penutup segala
nabi-nabi."

Maka kalau ada orang mendakwakan dirinya nabi
sesudah Muhammad, niscaya bohonglah pendakwaannya
itu. Dan barangsiapa yang mempercayai akan
dakwaan orang itu ,mendustakanlah dia akan
pernyataan Muhammad. Sebab itu maka tidaklah dia
golongan Ummat Islam (Ummat Muhammad).

Sesungguhnya demikian, sebagai Ummat Islam yang
mengaku adanya keluasan dada (tasamuh), kita akan
bergaul juga dengan mereka sebaik-baiknya,
sebagaimana kita bergaul dengan Ummat Buddha,
Kristen dan Yahudi.

Apalagi Nabi Muhammad saw. telah pula memeberi
peringatan bagi kita bahwa sesudah beliau wafat
akan datang orang mendakwakan dirinya nabi atau
rasul. Padahal mereka adalah pembohong. Nabi
bersabda:

"Akan ada pada akhir kemudian ummatku orang-orang
dajjal pembohong. Membicarakan kepada kamu
perkara-perkara yang belum pernah kamu dengar, dan
tidak pula pernah didengar oleh nenek-moyangmu.
Maka berawas-awaslah kamu dan berawas-awaslah mereka.
Janganlah sampai mereka menyesatkan
kamu dan jangan memfitnahi kamu."

Dan sabda beliau pula:

"Sesungguhnya akan ada pada ummatku tigapuluh
orang pembohong! Semuanya mengaku bahwa dirinya
Nabi. Akulah penutup segala nabi. Tidak ada nabi
sesudah aku. Dan akan senantiasalah segolongan
dari ummatku tegak diatas kebenaran. Tidak akan
memberi bencana atas mereka siapapun yang menentang
mereka, sehingga datanglah ketentuan Allah, dan
mereka tetap saja demikian."

Cukuplah wahyu dengan turunnya penutup segala kitab
suci,yaitu Al-Quran. Bereslah risalat dan nubuwwat
dengan datangnya penutup segala rasul dan nabi yaitu
Muhammad saw.

Dengan kepercayaan yang demikianlah hidup kita
dan mati kita.

* * *

Bagaimanapun kepintaran kita dan betapapun ilmu
pengetahuan yang didapat oleh manusia di dalam alam
ini, namun rahasia yang masih tersembunyi masih lebih
banyak. Rahasia yang menjadi rahasia dari segala
rahasia adalah lingkungan "ghaib," yang hanya dapat
dirasai adanya, tetapi tak dapat dicapai oleh
pancaindera atau oleh akal sekalipun dimana letaknya.

Kita akui, memang kadang-kadang kecerdasan
berfikir dan berakal mendapat kesimpulan tentang
adanya, tetapi hanya sebagian kecil dari rahasianya.
Sebagaimana Aristoteles dan beberapa filsuf yang lain
yang menghitung "yang Ada" dengan
filsafat, akhirnya bertemu dengan keyakinan akan
adanya Tuhan. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja.
Lebih banyak yang tidak dapat kita ketahui. Maka
datanglah nabi-nabi dan rasul-rasul, dan penutup
dari segala nabi dan rasul, bercakap dengan
wahyu, menerima "kalimat" dari Allah
sendiri. Maka dengan tuntunan beliau hilanglah
keraguan kita dan teranglah bagi kita jalan kesana,
sesudah payah meraba-raba dan mencari-cari. Maka
pikiran yang beliau berikan dan cita yang beliau
tanamkan dihati kita adalah pikiran dan cita
yang sempurna, yang diwaktu hidup dapat
kita pakai dan diwaktu mati dapat kita tumpang.

Maka percayalah kita kepadanya dan kita turutlah
garis langkah yang beliau tinggalkan, yang patut kita
lalui, untuk keselamatan kita pada hidup ini dan hidup
setelah ini ...


Kirim email ke