"APA KATA HAMKA MENGENAI AHMADIYAH DAN YANG
SEJENISNYA" (3)

halaman 195
HADIST MAHDI DAN ISA

Al-Quran tidaklah memberikan tuntunan yang tegas
tentang akan turunnya Mahdi dan Isa di akhir jaman.
Padahal tiga orang yang mengaku dirinya Nabi atau
Rasul di jaman ini (Mirza Ghulam Ahmad, Miza Ahli
Muhammad dan Bahaullah), belum dapat menegakkan
pendakwaan itu, kalau tidak berdasar kepada
hadis-hadis tentang turunnya Mahdi dan Isa itu.

Seratus tahun sesudah Nabi Muhammad wafat, barulah
orang mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan hadis.
Yang lebih dahulu dikumpulkan hanyalah Quran. Jadi
dalam masa 100 tahun adalah masa "kosong" yang
merupakan kesempatan untuk membuat hadis bagi
golongan-golongan yang bertentangan.
Terutama kaum Syiah. Payahlah ulama hadis menyaring
hadis mana yang masyhur, mana yang shahih, mana
yang dhaif dan mana yang maudhu.
Pertentangan-pertentangan yang maha hebat di waktu
itu di antara beberapa firkah yang timbul karena
politik, menimbulkan golongan-golongan yang sampai
hati
membuat hadis-hadis palsu, sehingga payah
menjaringnya setelah ilmu hadis muncul sebagai ilmu
yang berdiri sendiri.
Ibnu Khuldun didalam "Muqaddamah" tarikhnya
mengkaji satu-persatu hadis Mahdi itu dan menyelidiki
sanad serta matannya sedalam-dalamnya, sehingga
kemudian diambil kesimpulan bahwasanya sebagian
besar dari hadis ini tidak dapat diterima. Oleh
sebab itu maka kaum Ahli Sunnah tidaklah menjadikan
hadis-hadis Mahdi atau nuzul Isa itu menjadi pokok
kepercayaan prinsipiil.

Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya
Nabi Isa. Lebih-lebih telah tersebut pula dalam
satu hadis, bahwa "Mahdi itu tidak lain adalah
Isa." Mereka perbincangkan apakah Isa itu masih
hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit, ataukah dia
telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan
manusia. Tuhan bersabda tentang Nabi Isa:

"Sesungguhnya Aku mewafatkan engkau dan mengangkatkan
engkau kepadaKu."

Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum
mati, dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat
ke langit dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti
yang lain dari kata "wafat" itu. Tetapi yang
berpendapat bahwa Nabi Isa mati, langsung saja
mengartikan ayat itu menurut zahir bunyinya.
Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau
diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan
yang mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak
mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.

Baik orang Bahai dan orang Ahmadi memegang tafsir
yang menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat,
telah mati. Dan kemudian dari hal itu, merekapun
menguatkan bahwa Nabi Isa akan datang kembali. Yang
datang itu bukan Isa Israili yang
dahulu, karena dia telah jelas meninggal. Yang
ditunggu kedatangannya sebagaimana tersebut dalam
hadis adalah orang lain yang membawa sifat-sifat Isa.
Kata orang Bahai orang itu adalah Bahaullah. Kata
orang Ahmadi, orang itu adalah Mirza Ghulam Ahmad.

Sebenarnya kepercayaan tentang akan datangnya Mahdi
diakhir zaman, atau Nabi Isa akan datang kembali,
atau Messiah menurut kepercayaan Yahudi, atau Buddha
Gautama bagi orang beragama Buddha, mendalam juga
dalam kalangan kaum Syiah yang selalu
menunggu-nunggu kembalinya Imam mereka yang ghaib.
Ismailliyah menunggu Ismail. Istna Asyriyah menunggu
Muhammad bin Hasan Al-Askary, Imam Syiah ke-12.
Kisaniyah menunggu datangnya kembali Muhammad bin
Ali Hanafiyah.
Semuanya itu sekarang tengah ghaib dan akan datang
kembali!

Kepercayaan seperti inipun mendalam pula pada
setengah penganut tasawuf,yang mempercayai bahwa alam
diatur oleh wali-wali Allah yang bernama "Watad,"
dan "Badal," dan "Quthub." "Quthub" itu adalah
ghaib pula. Di Indonesia kepercayaan ini sangat
mendalam dalam filsafat kejawen yang menunggu
kedatangan Ratu Adil.

Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dialah
yang ditunggu-tunggu itu. Dialah Isa Al-Masih yang
dijanjikan, dia pula Mahdi yang ditunggu-tunggu.
Dan karena ada pula sebuah hadis menyatakan bahwa
setiap 100 tahun akan datang seorang mujaddid
(pembaharu keagamaan), maka dia pulalah mujaddid
itu. Pendeknya segala yang ditunggu-tunggu itu,
tidak ada orang lain, melainkan dirinya sendirilah.

Oleh karena dialah Al-Masih, tentu dialah
nabi. Kadang-kadang Mirza Ghulam Ahmad menyatakan
bahwa dia bukanlah membawa syariat baru. Dia dengan
Nabi Muhammad saw adalah bagaikan Harun terhadap Musa
belaka. Penguat syariat Muhammad, bukan pengubahnya.
Tetapi satu hal dia menyatakan memang berubah yaitu
jihad. Jihad tidaklah dengan senjata, cukup dengan
mengemukakan alasan-alasan belaka. Adapun Bahaullah
menyatakan dirinya terang-terang nabi lain sesudah
Muhammad. Dengan kedatangannya habislah tugas agama
Al-Bab dengan kitabnya Al-Bayan. Dan dengan
kedatangan Al-Bab dahulu, habis pulalah tugas syariat
Muhammad.


Kirim email ke