Benar sekali, makna wukuf di Arafah mirip dengan 'kematian'. Inilah alam singular, dimana tidak ada pengkutuban (kiri-kanan, atas-bawah, panas-dingin, dsb) sehingga pada saat itu dilarang berpolemik. Pengkutuban adalah produk ego (otak kiri dan kanan yang saling berebut pengaruh). Terjebak pada egolah yang membikin manusia hanya mampu mengaktifkan sel2 otaknya kurang dari 10 persen, sehingga sulit menjalankan tugas sebagai khalifah. Jika memandang realitas dari fisika quantum akan sangat jelas bahwa semua materi sebenarnya kosong karena hanya merupakan quanta/gelombang (dalam fisika dikenal adanya dualisme gelombang dan cahaya). Realitas sebenarnya adalah merupakan gelombang/quantum karena memang semuanya terbentuk dari cahaya Allah. An Nur 35 menjelaskan hal ini. Cahaya di dalam tabung kaca yg berada di dalam lubang yg tak tembus. Begitulah materi mewujud, dari cahaya Nya yang difilter berlapis-lapis sehingga akhirnya jadilah dunia materi seperti apa yg kita pahami dengan panca indera. Gelombang2 Asmaul Husna mewujud dalam semua realitas, saling berinterferensi sehingga membentuk gelombang2 baru dengan fase yang berbeda-beda. Eksistensi kita terkunci pada fase tertentu yang merupakan kombinasi dari Asmaul Husna sehingga membuat kita sulit memahami Asmaul Husna. Kita menyukai sifatnya yang Maha Menghidupkan, tapi kita mungkin kurang menyukai sifat Maha Mematikan. Padahal sel2 kita memang perlu ada yg mati agar tumbuh sel baru yg lebih sehat, jika manusia tidak ada yg mati tentu bumi penuh. "Tidak ada satupun yang Engkau ciptakan secara sia-sia", karena interelasi antar makhluk akan saling mengunci fase sehingga jadilah kita seperti sekarang. Sehingga virus dan kuman sekalipun, bukanlah ciptaan yang sia2 karena mereka berperan dalam keteraturan penguncian fase. (Note: dalam gelombang ada fase, frekensi dan perioda yg saling terkait). Dengan pemahaman gelombang ini, maka sesungguhnya semua makhluk saling terhubung,namun panca indera kita tidak mampu memahaminya karena terdapat filter yg berlapis- lapis. Dengan filter yg berlapis ini dan otak yg terjebak pada ego, maka manusia sulit mencapai kesadaran tertinggi. Inilah gunanya wukuf di arafah, mematikan ego dan masuk ke alam tanpa polaritas. Pikiran harus dibikin diam. Biarkan akal yang tampil dan selanjutnya sampai pada pemahaman Tauhid yang sebenarnya. Kira2 demikian bang Eka sedikit tambahannya. Terimakasih atas masukan2nya.
----Original Message---- From: [email protected] Date: Nov 27, 2009 18:04 To: <[email protected]>, <[email protected]>, <[email protected]> Subj: [immam] Re: pertemuan ruang dan waktu Terima kasih Pak Koes atas koreksi dan tambahan informasinya, mudah- mudahan Allah swt menambahkan kemuliaan kepada bapak. Hal ini menunjukkan dua hal: pertama manusia adalah bersifat khilaf, dan kedua di antara sesama manusia hendaknya saling berwasiat dalam kebaikan. Kajian tentang hal ini perlu kita lakukan mengingat saran yang disampaikan oleh moderator<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/9957>kita. Mengenai tapak kenabian Ibrahim, hal ini menjadi renungan saya juga, seperti tergambar dalam tabel bapak bahwa perjalanan haji itu merupakan syariat yang terbangun dari perjalanan Nabi Ibrahim 'sekeluarga' untuk menjadi pelajaran bagi umat dan penyempurna dalam syariat. Mulai dari wuquf dan jumrah yang dulu dilaksanakan oleh Ibrahim dan Ismail, hingga sa'i yang dilaksanakan oleh Siti Hajar: menunjukkan keikhlasan bertauhid dan berkorban dalam suatu keluarga. Tidak ada duanya bentuk pengorbanan sebagaimana ditunjukkan oleh 'keluarga' (household) Ibrahim ini. Hal ini kiranya yang menjadi hikmah bagi kita, yang ditunjukkan melalui penyembelihan hewan qurban. Ada sedikit cerita pak dari perjalanan saya tahun lalu. Sewaktu mempersiapkan untuk haji, kami mendapatkan ceramah dari ustadz, di antaranya disebutkan sewaktu wuquf di Arafah hendaknya kita menyiapkan do'a-do'a yang spesifik. Pada waktu itu saya bertanya, bolehkah kita mendo'akan bangsa dan negara kita secara lebih spesifik, misalnya tingkat pengangguran menjadi berkurang, kesejahteraan masyarakat meningkat sekian persen, pemimpin-pemimpin kita diampunkan dosa-dosanya dan mendapatkan penerangan dalam tugas-tugasnya, dan sebagainya. Pak ustadz menjawab bahwa biasanya do'a adalah untuk diri pribadi dan keluarga, namun untuk bangsa dan negara disampaikan secara umum. Seorang rekan menyampaikan pandangan bahwa untuk pemimpin-pemimpin yang zalim sudah ada ketentuan dari Allah. Setelah itu memang kami di dalam rombongan terbagi pada dua pandangan berbeda mengenai hal ini. Sewaktu wuquf di Arafah sejak subuh hingga menjelang waktu zuhur saya hanya menangis di dalam tenda, mengharapkan bangsa ini dapat diampuni atas segala kesalahan, agar kita dapat hidup dalam saling mengikhlaskan sebagaimana telah ditunjukkan Ibrahim sekeluarga, namun diberikan penerangan dan kekuatan untuk memperbaiki kehidupan, dst. Tergerak hati untuk mengirimkan do'a bersama <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7090> melalui sms kepada beberapa sahabat. Setelah itu pada waktu masuk zuhur, do'a paling spesifik untuk pribadi dan keluarga adalah semata mohon keampunan dari Allah swt, sungguh merasa tidak pantas untuk memohon lebih dari itu. Demikian sementara waktu pak, mohon pandangannya lebih lanjut. Salam. -ekadj 2009/11/27 muhammad koeswadi <[email protected]> > > > Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah nama > yang membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan kesejajaran > dan ‘kematian’. > > Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu Allah/*dhuyufur > rahmah*) berstatus sama. Waktunya 9 *dzulhijjah* (hari Arafah) bukan 10 * > dzulhijjah*, jamnya dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat hingga > sore). Tempatnya padang Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas > adminstrasi tegas (menurut sumber ditetapkan Malaikat Jibril as.). Siapapun > yang berhaji (*wukuf*) harus masuk di dalam wilayah administrasi ini. Di > luar batas ini batal (tidak syah). Di luar batas waktu ini batal juga. > > Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak berjahit) > menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga lingkungan > hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang rumput, > pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan dilarang > mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku, rambut. > > Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu > pengetahuan (*jidal*). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 hari, > 9-13 dzulhijjah). Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran kena > saknsi denda (*dam*). > > Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian (Ibrahim > as.). (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table > Peristiwa Hajji). > > Wassalam. Koes, JKT. > > > --- On *Fri, 27/11/09, - ekadj <[email protected]>* wrote: > > > Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat abang > sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut, terutama > dari aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana hal itu > terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai Bakhtin > sampai Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum itu? > > Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan, semata-mata > berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair. > > -ekadj > 2009/11/27 <thal...@indosat. net.id<http://uk.mc244.mail.yahoo. com/mc/[email protected]> > > > >> Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi >> tertinggi, dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas >> (pengkutuban) , yg ada hanya singularitas. Tempat segala sesuatu menjadi >> tidak ada, yg ada hanya Allah. Ini dicapai dengan pernungan, meditasi, zikir >> dalam keheningan. Yg ada hanya Dia. >> Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan dalam diri >> maka lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam situasi >> stillness (diam, hening, tanpa dimensi). >> Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi menjadi >> khalifah di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan di >> 'langit'. Tapi turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit bukanlah >> turun ke dimensi yg lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga dimensi >> spirit dan fisik berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran spiritual >> tinggi. Oleh karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur dengan >> seluruh umat manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun berorientasi >> penuh (menyembah) Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada Ka'bah. >> Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 (jihad), tidak >> kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah sudah >> training menjadi khalifah yg selalu menyembahNya. >> Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan >> lil'alamin setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah menjadi >> orang yg berserah diri sepenuhnya kepadaNya (muslim). >> Sent from my BlackBerry® >> powered by Sinyal Kuat INDOSAT >> ------------------------------ >> *From: *- ekadj <4ek...@gmail. com<http://uk.mc244.mail.yahoo. com/mc/[email protected]>> >> >> > > >> Pertemuan Ruang dan Waktu >> >> Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah >> mengetahui'), yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang senior >> dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau) >> menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya nantinya >> akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu bertemunya >> tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena >> pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya adalah di >> Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan Ashar. >> Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan Tuhannya, >> yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi menyebutkan >> bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung ke muka >> bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir kepadaNya >> serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami. >> >> Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan haji, >> sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam kepadamu), >> dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan bagi engkau >> wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia pada >> siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk meminta >> ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan mempersiapkan masa >> depan; serta menyempurnakan rukun Islam. >> >> Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu bagiMu. >> Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. >> (22:27-28). >> > >
