Terima kasih Bang Thalhah, sangat mencerahkan, saya kira sudah mempertajam Descartes: cogito ergo sum. Memang pada waktu itu belum ada penjelasan secara fisika kuantum, namun saya dapat merasakan kenikmatan bertemu dengan Pencipta, yang terasa begitu dekat. Memasuki ashar terasa kehampaan semakin utuh. Walaupun tidak sampai terbang ke langit, namun terasa seperti proses pembalikan. Apakah ini momentum yang dihasilkan dari pertemuan ruang dan waktu? Kalau boleh dijelaskan juga konsep ruang dan waktu secara fisika. Sementara waktu saya rumuskan: ruang + waktu = kehampaan.
Mengenai asmaul husna saya sepakat bila itu merupakan 'sifat' Pencipta, yang berlaku pada ciptaanNya. Namun saya koq kurang sependapat dengan beberapa konsep yang berkembang selama ini bila asmaul husna itu walaupun beberapa, tertanam ke dalam ciptaanNya sebagai 'God spot', dan melalui eksplorasi tertentu kemudian sang ciptaan mengekspresikan sifat keilahiatan itu ke dalam kehidupannya. Seperti contoh 'sang pencipta' (al khaliq), walaupun similaritas bahasa dan ada kendala kebahasaan, tentunya tetap berbeda pemaknaannya dan pensifatannya kepada manusia. Apakah demikian? Sementara demikian dulu bang, terima kasih sebelumnya. Salam. -ekadj 2009/11/27 [email protected] <[email protected]> > > > Benar sekali, makna wukuf di Arafah mirip dengan 'kematian'. Inilah > alam singular, dimana tidak ada > pengkutuban (kiri-kanan, atas-bawah, panas-dingin, dsb) sehingga pada > saat itu dilarang berpolemik. > Pengkutuban adalah produk ego (otak kiri dan kanan yang saling berebut > pengaruh). Terjebak pada egolah > yang membikin manusia hanya mampu mengaktifkan sel2 otaknya kurang > dari 10 persen, sehingga sulit > menjalankan tugas sebagai khalifah. > Jika memandang realitas dari fisika quantum akan sangat jelas bahwa > semua materi sebenarnya kosong karena > hanya merupakan quanta/gelombang (dalam fisika dikenal adanya dualisme > gelombang dan cahaya). > Realitas sebenarnya adalah merupakan gelombang/quantum karena memang > semuanya terbentuk dari cahaya Allah. > An Nur 35 menjelaskan hal ini. Cahaya di dalam tabung kaca yg berada > di dalam lubang yg tak tembus. Begitulah > materi mewujud, dari cahaya Nya yang difilter berlapis-lapis sehingga > akhirnya jadilah dunia materi seperti apa yg kita pahami dengan > panca indera. Gelombang2 Asmaul Husna mewujud dalam semua realitas, > saling berinterferensi sehingga membentuk > gelombang2 baru dengan fase yang berbeda-beda. Eksistensi kita > terkunci pada fase tertentu yang merupakan kombinasi dari > Asmaul Husna sehingga membuat kita sulit memahami Asmaul Husna. Kita > menyukai sifatnya yang Maha Menghidupkan, > tapi kita mungkin kurang menyukai sifat Maha Mematikan. Padahal sel2 > kita memang perlu ada yg mati agar tumbuh sel baru > yg lebih sehat, jika manusia tidak ada yg mati tentu bumi penuh. > "Tidak ada satupun yang Engkau ciptakan secara sia-sia", karena > interelasi antar makhluk akan saling mengunci fase sehingga jadilah > kita seperti sekarang. Sehingga virus dan kuman sekalipun, > bukanlah ciptaan yang sia2 karena mereka berperan dalam keteraturan > penguncian fase. (Note: dalam gelombang ada fase, frekensi dan > perioda yg saling terkait). Dengan pemahaman gelombang ini, maka > sesungguhnya semua makhluk saling terhubung,namun panca > indera kita tidak mampu memahaminya karena terdapat filter yg berlapis- > lapis. > Dengan filter yg berlapis ini dan otak yg terjebak pada ego, maka > manusia sulit mencapai kesadaran tertinggi. Inilah gunanya wukuf > di arafah, mematikan ego dan masuk ke alam tanpa polaritas. Pikiran > harus dibikin diam. Biarkan akal yang tampil dan selanjutnya > sampai pada pemahaman Tauhid yang sebenarnya. > Kira2 demikian bang Eka sedikit tambahannya. Terimakasih atas > masukan2nya. > > > ----Original Message---- > From: [email protected] > Terima kasih Pak Koes atas koreksi dan tambahan informasinya, mudah- > mudahan > Allah swt menambahkan kemuliaan kepada bapak. Hal ini menunjukkan dua > hal: > pertama manusia adalah bersifat khilaf, dan kedua di antara sesama > manusia > hendaknya saling berwasiat dalam kebaikan. Kajian tentang hal ini > perlu kita > lakukan mengingat saran yang disampaikan oleh > moderator<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/9957>kita. > > > Mengenai tapak kenabian Ibrahim, hal ini menjadi renungan saya juga, > seperti > tergambar dalam tabel bapak bahwa perjalanan haji itu merupakan > syariat yang > terbangun dari perjalanan Nabi Ibrahim 'sekeluarga' untuk menjadi > pelajaran > bagi umat dan penyempurna dalam syariat. Mulai dari wuquf dan jumrah > yang > dulu dilaksanakan oleh Ibrahim dan Ismail, hingga sa'i yang > dilaksanakan > oleh Siti Hajar: menunjukkan keikhlasan bertauhid dan berkorban dalam > suatu > keluarga. Tidak ada duanya bentuk pengorbanan sebagaimana ditunjukkan > oleh > 'keluarga' (household) Ibrahim ini. Hal ini kiranya yang menjadi > hikmah bagi > kita, yang ditunjukkan melalui penyembelihan hewan qurban. > > Ada sedikit cerita pak dari perjalanan saya tahun lalu. Sewaktu > mempersiapkan untuk haji, kami mendapatkan ceramah dari ustadz, di > antaranya > disebutkan sewaktu wuquf di Arafah hendaknya kita menyiapkan do'a-do'a > yang > spesifik. Pada waktu itu saya bertanya, bolehkah kita mendo'akan > bangsa dan > negara kita secara lebih spesifik, misalnya tingkat pengangguran > menjadi > berkurang, kesejahteraan masyarakat meningkat sekian persen, > pemimpin-pemimpin kita diampunkan dosa-dosanya dan mendapatkan > penerangan > dalam tugas-tugasnya, dan sebagainya. Pak ustadz menjawab bahwa > biasanya > do'a adalah untuk diri pribadi dan keluarga, namun untuk bangsa dan > negara > disampaikan secara umum. Seorang rekan menyampaikan pandangan bahwa > untuk > pemimpin-pemimpin yang zalim sudah ada ketentuan dari Allah. Setelah > itu > memang kami di dalam rombongan terbagi pada dua pandangan berbeda > mengenai > hal ini. > > Sewaktu wuquf di Arafah sejak subuh hingga menjelang waktu zuhur saya > hanya > menangis di dalam tenda, mengharapkan bangsa ini dapat diampuni atas > segala > kesalahan, agar kita dapat hidup dalam saling mengikhlaskan > sebagaimana > telah ditunjukkan Ibrahim sekeluarga, namun diberikan penerangan dan > kekuatan untuk memperbaiki kehidupan, dst. Tergerak hati untuk > mengirimkan do'a > bersama <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7090> melalui > sms > kepada beberapa sahabat. Setelah itu pada waktu masuk zuhur, do'a > paling > spesifik untuk pribadi dan keluarga adalah semata mohon keampunan dari > Allah > swt, sungguh merasa tidak pantas untuk memohon lebih dari itu. > > Demikian sementara waktu pak, mohon pandangannya lebih lanjut. Salam. > > -ekadj > > 2009/11/27 muhammad koeswadi <[email protected]<m_koeswadi%40yahoo.co.uk> > > > > > > > > > Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah > nama > > yang membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan > kesejajaran > > dan ‘kematian’. > > > > Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu > Allah/*dhuyufur > > rahmah*) berstatus sama. Waktunya 9 *dzulhijjah* (hari Arafah) bukan > 10 * > > dzulhijjah*, jamnya dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat > hingga > > sore). Tempatnya padang Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas > > adminstrasi tegas (menurut sumber ditetapkan Malaikat Jibril as.). > Siapapun > > yang berhaji (*wukuf*) harus masuk di dalam wilayah administrasi > ini. Di > > luar batas ini batal (tidak syah). Di luar batas waktu ini batal > juga. > > > > Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak > berjahit) > > menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga > lingkungan > > hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang > rumput, > > pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan > dilarang > > mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku, > rambut. > > > > Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu > > pengetahuan (*jidal*). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 > hari, > > 9-13 dzulhijjah). Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran > kena > > saknsi denda (*dam*). > > > > Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian > (Ibrahim > > as.). (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table > > Peristiwa Hajji). > > > > Wassalam. Koes, JKT. > > > > > > --- On *Fri, 27/11/09, - ekadj <[email protected] <4ekadj%40gmail.com>>* > wrote: > > > > > > Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat > abang > > sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut, > terutama > > dari aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana > hal itu > > terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai > Bakhtin > > sampai Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum > itu? > > > > Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan, > semata-mata > > berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair. > > > > -ekadj > > 2009/11/27 <thal...@indosat. net.id<http://uk.mc244.mail.yahoo. > com/mc/[email protected]<com%2Fmc%2Fcompose%3Fto%3Dthalhah%40indosat.net.id>> > > > > > > > > >> Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi > >> tertinggi, dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas > >> (pengkutuban) , yg ada hanya singularitas. Tempat segala sesuatu > menjadi > >> tidak ada, yg ada hanya Allah. Ini dicapai dengan pernungan, > meditasi, zikir > >> dalam keheningan. Yg ada hanya Dia. > >> Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan > dalam diri > >> maka lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam > situasi > >> stillness (diam, hening, tanpa dimensi). > >> Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi > menjadi > >> khalifah di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan > di > >> 'langit'. Tapi turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit > bukanlah > >> turun ke dimensi yg lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga > dimensi > >> spirit dan fisik berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran > spiritual > >> tinggi. Oleh karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur > dengan > >> seluruh umat manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun > berorientasi > >> penuh (menyembah) Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada > Ka'bah. > >> Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 > (jihad), tidak > >> kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah > sudah > >> training menjadi khalifah yg selalu menyembahNya. > >> Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan > >> lil'alamin setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah > menjadi > >> orang yg berserah diri sepenuhnya kepadaNya (muslim). > >> Sent from my BlackBerry® > >> powered by Sinyal Kuat INDOSAT > >> ------------------------------ > >> *From: *- ekadj <4ek...@gmail. com<http://uk.mc244.mail.yahoo. > com/mc/[email protected]<com%2Fmc%2Fcompose%3Fto%3D4ekadj%40gmail.com>>> > > > >> > >> > > > > > >> Pertemuan Ruang dan Waktu > >> > >> Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah > >> mengetahui'), yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang > senior > >> dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau) > >> menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya > nantinya > >> akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu > bertemunya > >> tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena > >> pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya > adalah di > >> Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan > Ashar. > >> Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan > Tuhannya, > >> yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi > menyebutkan > >> bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung > ke muka > >> bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir > kepadaNya > >> serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami. > >> > >> Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan > haji, > >> sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam > kepadamu), > >> dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan > bagi engkau > >> wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia > pada > >> siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk > meminta > >> ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan > mempersiapkan masa > >> depan; serta menyempurnakan rukun Islam. > >> > >> Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu > bagiMu. > >> Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu > bagiMu. > >> (22:27-28). > >
