Wah....murah bgt motor 500rb, ini mah cuma buat beli bahan bakar motor gue nih 
untuk 3 hari...ngga cukup buat hidup motor HD gue...
 
( xixixixixiiiii....sorry yg punya motor DP gope ya jgn marah...)


--- On Tue, 8/19/08, Andry B <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Andry B <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [InBike] Motor oh Motor oh Jakarta oh Jakarta
To: "KHCC" <[EMAIL PROTECTED]>, "honda_cs1" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL 
PROTECTED], "fsrj" <[EMAIL PROTECTED]>, "inbike" <[email protected]>
Date: Tuesday, August 19, 2008, 4:57 AM



[ SUMBER ] Dalam dua minggu belakangan, saya mendapatkan beraneka macam cerita 
yang melibatkan pengendara motor yang sekarang ini sangat banyak jumlahnya. 
Mulai dari kecelakaan, diserempet, sepinya pengguna transportasi umum, sampai 
ditabrak kaca spionnya oleh pengendara motor yang melaju kencang.

Saya secara tidak sengaja, beberapa kali membaca iklan di depan dealer sepeda 
motor yang berbunyi: " DP Rp. 500.000, Bisa Bawa Pulang Motor". Mungkin itulah 
salah satu penyebab membengkaknya pengguna motor sekarang. Dengan uang muka Rp. 
500.000, sudah bisa punya motor, dengan bayar cicilan tiap bulannya.

Selain alasan ekonomi, banyak orang lebih memilih berkendara motor daripada 
kendaraan lainnya dengan alasan efektifitas waktu. Dengan menyalip dan menyelip 
di antara kendaraan lain itu lah mereka bisa lebih cepat sampai di tempat 
tujuan. Apalagi bagi penduduk yang bekerja di Jakarta, namun bertemat tinggal 
di daerah pinggiran Jakarta atau seputar Bodetabek, pada jam-jam sibuk bermotor 
akan lebih cepat daripada naik kendaraan umum atau mobil.

Memang sekarang ini, pengendara motor terlihat menyemut di mana-mana. 
Kadang-kadang saya sendiri sampai takut untuk menyeberang jalan karena 
kebanyakan mereka selalu mengendarainya dengan kecepatan yang tidak sewajarnya. 
Selain itu, kelihaian mereka menyalip dan menyelip di antara kendaraan lain pun 
luar biasa, namun cenderung membuat kita merasa tidak aman. Sering saya 
menggelengkan kepala sambil menutup telinga, melihat pengendara motor yang 
berani mengklakson dengan keras bus dan truk untuk disalipnya, kadang-kadang 
sampai hampir bersenggolan dengan kendaraan yang jauh lebih besar tersebut. 
Mereka seolah tidak takut untuk menerima resiko yang akan terjadi jika 
kendaraan yang akan disalipnya itu tidak mau mengalah.


Jum'at, 15 Juni, 2007, saya melewati Jln. Dewi Sartika ke arah Otista jam 8..00 
pagi. Ketika lampu merah di persimpangan Jambul, saya melihat deretan 
pengendara motor yang sampai menguasai setengah jalan raya tersebut, sampai ke 
ruas jalan dari arah Condet. Benar-benar pemandangan yang membuat geleng 
kepala. Sayangnya, saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengambil gambarnya, 
karena saya tidak berani mengeluarkan handphone yang akan saya pakai memotret 
di tempat keramaian seperti itu.

Ibu saya pernah menjadi korban tabrak motor. Suatu ketika Ibu sedang berkendara 
motor bersama adik saya yang masih duduk di kelas V SD. Memang Ibu saya itu, 
sangat berhati-hati (jika tidak ingin dikatakan lambat) dalam mengendarai 
motor. Tiba-tiba ada motor melaju kencang dari belakang yang akan menyalip, 
pembonceng motor itu membawa helm yang tidak dipakai hanya di pegangnya. Entah 
bagaimana helm itu tersangkut di motor Ibu saya mengakibatkan motor Ibu saya 
berhenti mendadak, kemudian Ibu dan adik saya jatuh terjungkal beberapa meter 
dari motornya. Ibu luka-luka di kaki dan tangannya, tapi Alhamdulillah tidak 
terlalu serius, sedangkan adik saya sangat mengherankan baik-baik saja. 
Pengendara dan pembonceng motor itu adalah siswa SMU. Mereka cukup bertanggung 
jawab dengan memberikan alamat rumahnya, jika Ibu saya akan minta 
pertanggungjawaban. Tetapi Ibu tidak melakukannya.

Prof. Dr. Iberamsyah, seorang Guru besar Universitas Indonesia, pada satu 
kesempatan pernah bercerita kepada saya. Suatu hari ketika beliau berkendara 
mobil bersama anaknya, tiba-tiba dari belakang ada pengendara motor yang melaju 
kencang, kemudian menabrak kaca spionnya hingga pecah. Hebatnya, pengendara 
motor itu hanya mungkin merasa kaget dan shocked, tidak terjatuh, sedikit 
melihat ke arah kaca spion yang ditabraknya, kemudian langsung tancap gas lagi 
dengan cepat. Melihat kejadian itu, Pak Prof. Iberamsyah berkomentar,"Kok bisa 
ya dia tidak jatuh, tapi malah langsung ngebut lagi begitu". Beliau bersyukur 
bahwa pengendara motor itu tidak terjatuh. Karena jika sampai terjatuh dan 
diperkarakan, biasanya pengendara mobillah yang disalahkan padahal jelas-jelas 
kesalahan pengendara motor. Prof. Iberamsyah memang seorang yang baik hati 
sehingga beliau tidak emosi dan hanya mengatakan "Biarlah saya harus mengganti 
kaca spion mobil saya".

Pada kesempatan lain ketika saya naik Mikrolet, si pengemudi mengeluhkan 
kendaraan bermotor juga. Ia mengatakan, setelah harga motor murah, penumpang 
kendaraan umumnya menjadi sepi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain 
itu, keagresifan mereka juga bukan main. Sering ketika ia berusaha menepi ke 
kiri untuk menurunkan penumpang, dari belakang seorang pengendara motor 
mengklakson keras-keras dan menyelip dari sebelah kiri untuk mendahului 
Mikroletnya. Biasanya dia langsung mengeluarkan kata-kata kasar dan balas 
mengklakson dengan keras pula.

Suatu hari ketika saya menumpang mobil Pringgo, seorang teman, dia bercerita 
sempat merasa dongkol sekaligus heran kepada pengendara motor. Di kemacetan, 
dia merasa jarak antara bumper depan mobilnya sudah cukup dekat dengan bumper 
belakang mobil di depannya, tapi ternyata masih ada juga motor yang bisa 
menyelip di antaranya dan melaju dengan bangga di sela-sela kemacetan itu. Wah, 
sabar sabar.

Beberapa kejadian di atas dapat menjadi cerminan pengendara motor di Jakarta 
ini. Betapa tidak teraturnya berkendara, seolah jalan menjadi miliknya sendiri. 
Kalo kata anak muda sekarang, memikirkannya membuat "cape deeh..."

Sesungguhnya keadaan lalu lintas itu bisa menjadi cerminan keadaan bangsa. Kita 
seharusnya malu jika melakukan hal "sradag srudug", salip kanan kiri, 
kebut-kebutan tanpa perhitungan di jalan raya. Jalan raya adalah fasilitas 
untuk umum, maka sudah selayaknya kita menghargai sesama pengguna.

Memang di Jakarta belum ada jalar khusus motor seperti di Makassar, oleh sebab 
itu saya menghimbau kepada para pengendara motor sebaiknya mereka lebih 
berhati-hati dan lebih mengindahkan peraturan dan keadaan lalu-lintas yang 
mereka lalui. Jangan merasa aman dengan anggapan "kalo kejadian kecelakaan ama 
kendaraan yang lebih gede, pasti yang gedean yang disalahin". Wah, kalo sudah 
begini, "cape deeeeeh....."

Maylina, 23 Thn
Junior Consultant
Jakarta

-- 
<Redd Cyser B 6193 KPL>
REDUCE SPEED, MAKE WAYS FOR SAFETY !
http://www.jalanraya.net/
http://gueandry.blogspot.com/
http://redd.dagdigdug.com/
----------------------------------------------





      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike)
-----------------------------------------------------------------------------------------------
We moderators work for free only for your convenience in our milis.
Help us and obey the rules or be gone!
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk mengirim ke milis email ke [email protected]
http://www.inbike.org
http://inbike-2006.fotopic.net
http://inbike.multiply.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke