kampanye safety riddingnya gagal dong.. kl masih ada yg komplen ttg pengendara motor.. usulan aja gimana jika ingin membeli motor kudu punya sertipikat SR..
2008/8/20 Budi Cahyono <[EMAIL PROTECTED]> > Wah....murah bgt motor 500rb, ini mah cuma buat beli bahan bakar motor gue > nih untuk 3 hari...ngga cukup buat hidup motor HD gue... > > ( xixixixixiiiii....sorry yg punya motor DP gope ya jgn marah...) > > > --- On *Tue, 8/19/08, Andry B <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Andry B <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [InBike] Motor oh Motor oh Jakarta oh Jakarta > To: "KHCC" <[EMAIL PROTECTED]>, "honda_cs1" < > [EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "fsrj" < > [EMAIL PROTECTED]>, "inbike" <[email protected]> > Date: Tuesday, August 19, 2008, 4:57 AM > > *[ > SUMBER<http://maylina.blogspot.com/2007/06/fenomena-motor-di-jakarta.html>] > Dalam dua minggu belakangan, saya mendapatkan beraneka macam cerita yang > melibatkan pengendara motor yang sekarang ini sangat banyak jumlahnya. Mulai > dari kecelakaan, diserempet, sepinya pengguna transportasi umum, sampai > ditabrak kaca spionnya oleh pengendara motor yang melaju kencang. > > Saya secara tidak sengaja, beberapa kali membaca iklan di depan dealer > sepeda motor yang berbunyi: " DP Rp. 500.000, Bisa Bawa Pulang Motor". > Mungkin itulah salah satu penyebab membengkaknya pengguna motor sekarang. > Dengan uang muka Rp. 500.000, sudah bisa punya motor, dengan bayar cicilan > tiap bulannya. > > Selain alasan ekonomi, banyak orang lebih memilih berkendara motor daripada > kendaraan lainnya dengan alasan efektifitas waktu. Dengan menyalip dan > menyelip di antara kendaraan lain itu lah mereka bisa lebih cepat sampai di > tempat tujuan. Apalagi bagi penduduk yang bekerja di Jakarta, namun bertemat > tinggal di daerah pinggiran Jakarta atau seputar Bodetabek, pada jam-jam > sibuk bermotor akan lebih cepat daripada naik kendaraan umum atau mobil. > > Memang sekarang ini, pengendara motor terlihat menyemut di mana-mana. > Kadang-kadang saya sendiri sampai takut untuk menyeberang jalan karena > kebanyakan mereka selalu mengendarainya dengan kecepatan yang tidak > sewajarnya. Selain itu, kelihaian mereka menyalip dan menyelip di antara > kendaraan lain pun luar biasa, namun cenderung membuat kita merasa tidak > aman. Sering saya menggelengkan kepala sambil menutup telinga, melihat > pengendara motor yang berani mengklakson dengan keras bus dan truk untuk > disalipnya, kadang-kadang sampai hampir bersenggolan dengan kendaraan yang > jauh lebih besar tersebut. Mereka seolah tidak takut untuk menerima resiko > yang akan terjadi jika kendaraan yang akan disalipnya itu tidak mau > mengalah. > > > Jum'at, 15 Juni, 2007, saya melewati Jln. Dewi Sartika ke arah Otista jam > 8.00 pagi. Ketika lampu merah di persimpangan Jambul, saya melihat deretan > pengendara motor yang sampai menguasai setengah jalan raya tersebut, sampai > ke ruas jalan dari arah Condet. Benar-benar pemandangan yang membuat geleng > kepala. Sayangnya, saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengambil > gambarnya, karena saya tidak berani mengeluarkan handphone yang akan saya > pakai memotret di tempat keramaian seperti itu. > > Ibu saya pernah menjadi korban tabrak motor. Suatu ketika Ibu sedang > berkendara motor bersama adik saya yang masih duduk di kelas V SD. Memang > Ibu saya itu, sangat berhati-hati (jika tidak ingin dikatakan lambat) dalam > mengendarai motor. Tiba-tiba ada motor melaju kencang dari belakang yang > akan menyalip, pembonceng motor itu membawa helm yang tidak dipakai hanya di > pegangnya. Entah bagaimana helm itu tersangkut di motor Ibu saya > mengakibatkan motor Ibu saya berhenti mendadak, kemudian Ibu dan adik saya > jatuh terjungkal beberapa meter dari motornya. Ibu luka-luka di kaki dan > tangannya, tapi Alhamdulillah tidak terlalu serius, sedangkan adik saya > sangat mengherankan baik-baik saja. Pengendara dan pembonceng motor itu > adalah siswa SMU. Mereka cukup bertanggung jawab dengan memberikan alamat > rumahnya, jika Ibu saya akan minta pertanggungjawaban. Tetapi Ibu tidak > melakukannya. > > Prof. Dr. Iberamsyah, seorang Guru besar Universitas Indonesia, pada satu > kesempatan pernah bercerita kepada saya. Suatu hari ketika beliau berkendara > mobil bersama anaknya, tiba-tiba dari belakang ada pengendara motor yang > melaju kencang, kemudian menabrak kaca spionnya hingga pecah. Hebatnya, > pengendara motor itu hanya mungkin merasa kaget dan shocked, tidak terjatuh, > sedikit melihat ke arah kaca spion yang ditabraknya, kemudian langsung > tancap gas lagi dengan cepat. Melihat kejadian itu, Pak Prof. Iberamsyah > berkomentar,"Kok bisa ya dia tidak jatuh, tapi malah langsung ngebut lagi > begitu". Beliau bersyukur bahwa pengendara motor itu tidak terjatuh. Karena > jika sampai terjatuh dan diperkarakan, biasanya pengendara mobillah yang > disalahkan padahal jelas-jelas kesalahan pengendara motor. Prof. Iberamsyah > memang seorang yang baik hati sehingga beliau tidak emosi dan hanya > mengatakan "Biarlah saya harus mengganti kaca spion mobil saya". > > Pada kesempatan lain ketika saya naik Mikrolet, si pengemudi mengeluhkan > kendaraan bermotor juga. Ia mengatakan, setelah harga motor murah, penumpang > kendaraan umumnya menjadi sepi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain > itu, keagresifan mereka juga bukan main. Sering ketika ia berusaha menepi ke > kiri untuk menurunkan penumpang, dari belakang seorang pengendara motor > mengklakson keras-keras dan menyelip dari sebelah kiri untuk mendahului > Mikroletnya. Biasanya dia langsung mengeluarkan kata-kata kasar dan balas > mengklakson dengan keras pula. > > Suatu hari ketika saya menumpang mobil Pringgo, seorang teman, dia > bercerita sempat merasa dongkol sekaligus heran kepada pengendara motor. Di > kemacetan, dia merasa jarak antara bumper depan mobilnya sudah cukup dekat > dengan bumper belakang mobil di depannya, tapi ternyata masih ada juga motor > yang bisa menyelip di antaranya dan melaju dengan bangga di sela-sela > kemacetan itu. Wah, sabar sabar. > > Beberapa kejadian di atas dapat menjadi cerminan pengendara motor di > Jakarta ini. Betapa tidak teraturnya berkendara, seolah jalan menjadi > miliknya sendiri. Kalo kata anak muda sekarang, memikirkannya membuat "cape > deeh..." > > Sesungguhnya keadaan lalu lintas itu bisa menjadi cerminan keadaan bangsa. > Kita seharusnya malu jika melakukan hal "sradag srudug", salip kanan kiri, > kebut-kebutan tanpa perhitungan di jalan raya. Jalan raya adalah fasilitas > untuk umum, maka sudah selayaknya kita menghargai sesama pengguna. > > Memang di Jakarta belum ada jalar khusus motor seperti di Makassar, oleh > sebab itu saya menghimbau kepada para pengendara motor sebaiknya mereka > lebih berhati-hati dan lebih mengindahkan peraturan dan keadaan lalu-lintas > yang mereka lalui. Jangan merasa aman dengan anggapan "kalo kejadian > kecelakaan ama kendaraan yang lebih gede, pasti yang gedean yang disalahin". > Wah, kalo sudah begini, "cape deeeeeh....." > > Maylina, 23 Thn > Junior Consultant > Jakarta* > > -- > <Redd Cyser B 6193 KPL> > REDUCE SPEED, MAKE WAYS FOR SAFETY ! > http://www.jalanraya.net/ > http://gueandry.blogspot.com/ > http://redd.dagdigdug.com/ > ---------------------------------------------- > > > > > -- Warm Regrads, sige [rebel rider] __________________ Stones taught me to fly Love taught me to cry Life taught me to die Save a tree...please don't print this email or the attachment unless you really need to together we can make the difference --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike) ----------------------------------------------------------------------------------------------- We moderators work for free only for your convenience in our milis. Help us and obey the rules or be gone! ----------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED] Untuk mengirim ke milis email ke [email protected] http://www.inbike.org http://inbike-2006.fotopic.net http://inbike.multiply.com -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

