---kutipan dari www.asalnimbrung.com----

karena ini dimilis dan bukan pm, boleh dong ikut nimbrung... ;)

mestinya ada beda nya  judging dengan menilai (bhs inggris nya menilai
apa yaa.. ah dasar gw katro...wong ndeso... bhs inggris aja gak
bisa...dari generasi tua...dengan nilai2 yang juga tua... kalo'
menilai masih pake tradisi lama...ah dasar gw katro---jurus laris
tukul #4: 'hina' diri sendiri)

btw, ada berapa kotak yaa di semesta ini??
ada kotak Gender... ujung2 nya jangan melecehkan
ada kotak Jadul dari generasi warkop... ujung2 nya... dasar jadul!!
butuh berapa kotak?? kotak siapa yang lebih besar??

Saya yang katro menilai kelakuan Hoshi 'Murahan' Sato di ENT
:4x18-4x19: In a Mirror, Darkly part I & II
sebagai yang Murahan krn satu starship di-'embat' semua.
sampe T'Pol heran hoshi kok masih punya 'sisa tenaga' ;)
apa di semua seri hoshi seperti itu... kayak nya enggak ;)
apa semua wanita seperti itu....oh tentu tidak  ;)

di sisi lain, secara implisit di nilai(judge??) gen. warkop yang sdh
gak lucu.

setelah ini kalo' ada yang akan 'mengutuk' saya krn penilaian saya,
gak papa krn penilaian saya memang seperti itu.
---tafsiran bebas TNG:1x01-1x02: [EMAIL PROTECTED]

tapi saya gak akan mengutuk seseorang yang meng-kotak-i saya dengan
label 'JADUL'

nih gocap 
MN


--- In [email protected], "warbird692001"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Sharif, judging ourselves is as easy as judging others. Because being
> human is basically being selfish, everything is about ourselves. Me,
> myself, my family, my house, my career, my etc, my etc. Unlike other
> mammals, humans are individualists.
> 
> So if you ask me if it's good to become the judge to ourselves, my
> answer will be: we have been the judge to ourselves for millenia. It's
> not good and it's not bad either. It's what we instinctively do. 
> Example: you judge yourself a sexyst, thus it gives you the right to
> judge Hoshi and other women for their choices. 
> 
> I have a question: 
> Can you be the jury and the executioner to yourself?
> 
> Jury analyzes the case and decides if one's guilty or not. 
> The executioner determines the penalty of your doings by looking at
> the damages you have done whether intentionally or not. 
> 
> Humans made mistakes. That we all know.
> Accepting that fact is not important. 
> The important thing is how to learn from those mistakes.
> 
> Being a judge doesn't qualify us to learn from the mistakes we made,
> but being a defendant is. It is not fair to pick out just one thing
> and left out the others.. it will be too convenient. Truth is, we've
> been conveniently living as judges. 
> 
> I'm not saying this is easy, but the best way to improve the quality
> of humanity is not to be a judge, jury or executioner to ourselves.
> Let others be the judge, jury and executioner, and let ourselves be
> the defendants. 
> 
> My two cents.
> 
> Salam,
> Indie
>   
> 
> --- In [email protected], Sharif Dayan <dayan@> wrote:
> >
> > Itulah karena saya seorang manusia, yang kodratnya tidak sempurna.
> Saya mencoba 
> > memperbaikinya dengan cara menyampaikan secara jujur. Kejujuran
> berrisiko dianggap "two 
> > cents", namun kejujuran itu saya sampaikan dengan -maunya- rendah
hati.
> > 
> > Cara saya berpikir dan bertindak seperti itu dipengaruhi antara lain
> oleh ST. "Jangan 
> > menjadi hakim bagi sesamamu", demikian yang pernah diajarkan pada
> saya. Saya sudah 
> > menghakimi dengan cara memberikan cap "murahan", namun pada saat
> yang sama saya mencoba 
> > menjadi hakim bagi diri saya sendiri dapat menjadi baik. Baikkah itu
> ? Silakan 
> > masing-masing kita bertanya pada diri sendiri.
> > 
> > 
> > Sharif Dayan
> >
>


Kirim email ke