Salam Sejahtera...

Tiap orang dilahirkan berbeda dan tumbuh dengan cara yang berbeda pula. Sesuatu 
yang 
dianggap baik pada suatu masa, belum tentu akan tetap dianggap demikian pada 
masa setelahnya.

Ketika saya untuk pertama kalinya menonton Star Trek, ada sesuatu yang asing 
yang hingga 
kini tetap tidak dapat diterangkan dengan kata-kata yang pas. Secara sederhana 
saya 
mengatakan bahwa ia mengantarkan sesuatu yang baru pada saya. Sesuatu ini pula 
yang 
membuat saya seperti yang sekarang.

Sekarang -dan demikian pula untuk seterusnya, 10 atau 1.000 tahun setelahnya- 
semakin 
banyak yang ditawarkan dan dapat dijangkau dengan mudah. Akibatnya semakin 
besar pula 
derajat perbedaan dan derajat arah vektoral tiap orang, sehingga setiap orang 
menjadi 
semakin berbeda dengan yang lainnya. Lalu, apa yang akan terjadi ?

Suka atau tidak suka, pemahaman Ptolomeus mengenai alam semesta, yaitu 
geosentris, 
merupakan salah satu batu penjuru ilmu falak. Tanpanya, mungkin tidak akan 
terjadi 
pengucilan pada Galileo Galilei, ketika ia menantang Vatikan yang berkaitan 
dengan 
pemahaman gereja mengenai alam semesta. Tanpanya pula, mungkin tidak akan ada 
Alan Guth, 
yang dikenal karena berkecimpung dalam kosmologi, khususnya tentang alam 
sejajar yang 
terbentuk setelah terbentuknya titik singularitas.

Alam yang kita kenal sekarang, terpapar sesuai dengan pemahaman berdasarkan 
penginderaan 
ragawi kita (mata, telinga, hidung, kulit dan lidah). Namun sebenarnya masih 
ada entah 
seberapa banyak lagi 'lapisan' yang belum kita kenal, karena keterbatasan 
penginderaan 
kita. Mungkin bahasa Inggrisnya adalah "level of consciousness". Mohon 
dimaklumi sekiranya 
saya kurang tepat mengenai itu.

Itulah cara saya memaknakan ST. Film ini bukan yang "ter-" sepanjang masa, 
namun ia bagi 
jendela bagi saya, karena membuat cakrawala saya menjadi luas, setidaknya 
sejauh kemampuan 
mata mengenali apa yang ada di depan sana, atau bergantung pada bidang pandang 
lensa mata 
saya. Ia menjadikan saya sampai pada -dan memilih- jalan yang kemudian menjadi 
cara saya 
memandang alam ini dan segala isinya, termasuk saya di dalamnya.

Saya terkesan pada Descartes, yang mengatakan bahwa manusia ada (came into 
being) karena 
ia berpikir. Namun saya lebih condong pada pengajaran guru agama saya, tahunan 
silam, yang 
menyampaikan bahwa manusia ada karena ia percaya. Itu artinya manusia merupakan 
bagian 
suatu sistem yang entah seberapa besar ukurannya, yang bekerja untuk 
menghasilkan sesuatu.

Sesuatu tersebut tidak dapat secara jelas kita nyatakan, namun kita percayai 
sebagai 
tempat perhentian bagi kita semua, setelah menyelesaikan tugas kita dalam 
sistem yang 
besar itu. Ia akan berjalan dengan baik, ketika kita bersedia menerima 
kenyataan bahwa 
manusia dilengkapi dengan cacat dan cela, sehingga kita bisa saling belajar dan 
memaafkan 
kelemahan yang lain.

Itulah yang menjadi dasar terbentuknya Federasi, setidaknya demikianlah 
pandangan 
Roddenberry mengenai kemungkinan masa depan penghuni Bimasakti ini. Persekutuan 
bisa 
terjadi setelah pihak-pihak yang terlibat bersedia menerima cacat yang lain 
serta menjadi 
ikut serta untuk memperbaikinya. Itu pulah yang diangankan melalui Staw Wars, 
atau Star 
Gate, atau apa pun yang dapat kita sebutkan di sini.

Lalu bagaimana dengan Anda semua, para warga yang budiman dalam milis ini ? 
Apakah Anda 
sudah mendapatkan manfaat dari minat Anda selama ini, yang menjadi pengikat 
kita sehingga 
berkumpul dalam milis ini ? Apakah Anda 'mendengar' pesan dari Sang Maha, 
melalui karya 
para seniman yang sudah menuangkannya melalui skenario serial-serial itu ? 
Ataukah itu 
hanya menjadi salah satu pernik yang tidak berarti ?

Kiranya panjang usia Anda dan sejahtera selalu...


Sharif Dayan
di Palembang

Kirim email ke