Secara ip-tek, manusia abad sekarang sebenarnya mampu menghindari kerusakan alam dan memanfaatkan kekayaan alam dng seimbang.
Dengan teknologi skrng, manusia sebenarnya bisa menghindari kerusakan dari bencana alam lokal dan pemanasan global.(dan betul, emang blum siap untuk menghadapi mega-disaster, spt ditabrak komet atau benda2 besar dari ruang angkasa, kalo yg ini sih nrimo aja untuk musnah). Tapi Dilihat dari 'laju' peradaban manusia sekarang(tdk hanya dilihat dari sisi Ip-Tek, tapi juga hukum, sosial, leadership, life-style dll dll). Kayaknya gue rada-rada pesimis untuk bisa 'revolusi' global untuk mulai menyelamatkan dan memanfaatkan bumi secara bijak dalam waktu 50 tahun kedepan. lihat saja dari sisi hukum ttg lingkungan.... kalah kuat dng kepentingan ekonomi. Sayangnya, spt lazimnya, hukum-hukum (baca: undang-undang) baru dibuat kalo sdh ada masalah (dan sudah mentok)........ hukum umumnya bukan dibuat untuk mengantispasi masalah yg datangnya dari masa depan. salam iful --- In [email protected], "Erianto Rachman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hi Nur, > > > > Wah, info dan pengalaman menarik nih., > > > > Kita butuh revolusi dalam bidang energi. Perubahan besar-besaran harus > dilakukan. Pastinya membutuhkan biaya besar. > > > > Seandainya ada yang berhasil menemukan mesin berbahan bakar air, tentunya ia > layak mendapat Nobel Prize. > > Tapi kemungkinan ia akan ditembak mati keesokan harinya oleh para panghasil > minyak bumi. > > Hehehe. seperti di film "Chain Reaction" > > > > Begitulah dilemma yang ada sekarang. > > Saat ini mesin Hybrid masih bisa diperkenalkan.. tapi saya yakin itu pun > pastinya sudah dibungkam. > > Hehehe. > > Ini sih Cuma "Conspiracy Theory" gw doang. (IMHO gitu.) > > > > Semoga generasi kita mendatang bisa lebih baik. > > > > Salam, > > Eri > > > > _____ > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > On Behalf Of Nur Abdillah > Sent: Friday, December 28, 2007 8:12 AM > To: [email protected] > Subject: RE: [Indo-StarTrek] Bumi Kita > > > > Itu yang kadang jadi pikiran gw .. > > Bgitu banyak yang ditarik dari dalam bumi keluar .. apa ngga menimbulkan > 'celah kosong' di dalam perut bumi yang akan amblas suatu saat nanti. > > Kebukti di Porong, banyak daerah yang amblas krn lumpur yang meluap keluar > bumi .. > > Trus saat mengabdi di Sumbar dulu, aku pernah diceritain bahwa di sawahlunto > khususnya kan ada tambang batubara. Hasil penelitian menunjukkan justru > cadangan batu bara terbesar berada di bawah kota sawahlunto skrg. Nah > problemnya adalah bagaimana dapat menarik batubara tersebut keluar tanpa > mengganggu struktur kota yang telah ada saat ini. > > Minggu lalu aku ke garut dan coba terus ke kamojang tempat Pembangkit > Listrik Tenaga Panas Bumi. > > Ternyata yang paling 'murah' dalam arti tidak mengeksploitasi sumber daya > bumi adalah PLTP (dan PLTN menurut ku). > > Karena cara kerjanya adalah 'memanfaatkan' panas yang berasal dari patahan > dimana terdapat dapur magma untuk mendorong air menjadi uap air bertekanan > sangat tinggi.. , bahkan sampai 9 Mega per detik?? (maaf agak lupa) .. nah > angin dari uap air yang demikian tinggi ini disalurkan melalui pipa tahan > panas untuk kemudian menggerakkan turbin sehingga menghasilkan listrik. > > Pertamina sebagai pengelola PLTP Kamojang sangat bergantung pada hujan, krn > resapan air hujan ini akan menjadi 'bahan bakar' siklus tadi.. setelah > menggerakkan turbin uap air akan dialirkan kembali ke atas untuk kembali > membentuk awan hujan .. dst .. > > Keren kan .. tinggal menjaga kualitas tanah tersebut sehingga mampu tetap > menjaga air .. so tidak terbawa ke bawah menjadi 'bencana' bagi manusia > seperti banjir dan longsor (turut berduka cita untuk korban longsor di > tawangmangu..) > > Barrier to entry-nya adalah sekali lagi investasi yang demikian besar untuk > menampung dan mengalirkan uap air yang berasal dari patahan magma tersebut > ... > > Menurutku PLTP harus digenjot .. oke investasi tinggi, tapi returnnya .. > mantap .. listrik dapet, ngga pake bahan bakar, abadi, dan menjaga hutan > tetap lestari. > > Nur Abdillah > > ... > > _____ > > From: indo-startrek@ <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com [mailto:indo-startrek@ > <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> yahoogroups.com] > On Behalf Of Erianto Rachman > Sent: Thursday, 27 December, 2007 9:38 PM > To: indo-startrek@ <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> yahoogroups.com > Subject: RE: [Indo-StarTrek] Bumi Kita > > Hahahaha ini baru lucu. > > Waktu liburan ke Malang terakhir, saya lihat tuh lumpur Lapindo yang heboh > itu.. > > Wah. kasian tuh porong. jadi kota mati deh. > > Salam, > > Eri > > _____ > > From: indo-startrek@ <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com [mailto:indo-startrek@ > <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> yahoogroups.com] > On Behalf Of Budiss > Sent: Thursday, December 27, 2007 3:06 PM > To: indo-startrek@ <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> yahoogroups.com > Subject: Re: [Indo-StarTrek] Bumi Kita > > On 27/12/2007 at 13:35 Erianto Rachman <erianto.rachman@ > <mailto:erianto.rachman%40gmail.com> gmail.com> wrote: > > > Ya betul, makanya ada pembangkit listrik tenaga panas bumi. > > > > Panas = energi > > Dan kita masih punya banyak sekali. > > ...................[disingkat]......................... > > Yang kita rasakan sebagai bencana alam adalah semata-mata reaksi bumi > > untuk menjaga keseimbangan dirinya. > > Mau nambang panas bumi ternyata yg keluar lumpur lapindo. > > Salam, > Budiss. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
