Kang Sharif,
 
Kayaknya kita sudah setuju bahwa kebenaran sejati adalah relatif.
 
Ajaran Islam dan Kristen tidak berdasarkan pada teori...
tapi pada kepercayaan akan adanya firman Tuhan.
Secara relatif, ini adalah kebenaran sejati bagi kami penganut ajaran
agama.
Misalnya, firman Tuhan ini mendiktekan keberadaan surga dan neraka.
Maka penganut agama percaya bahwa keberadaan surga dan neraka adalah
benar adanya.
Tanpa harus ada pembuktian, tanpa harus ada penjelasan ilmiah.
 
Ajaran agama tidak sama dengan teori buatan manusia.
 
Teori manusia didasarkan pada fakta hasil observasi, di mana teori
dibuat
untuk menjelaskan fakta hasil observasi.
 
Jadi, susah juga mencampuradukkan atau melakukan analogi antara teori
dan dogma.
 
 
Apa yang membuat bahwa yang definitif (ajaran menurut garis
Ibrahim/Abraham) benar dibandingkan yang infinitif (Brahmaisme) ?
 
Rasanya, di thread ini, belum ada yang membuat klaim seperti di atas,
shg sampai
anda pertanyakan. Setiap ajaran agama, karena mendasarkan pada dogma,
mengatakan
bahwa ajarannya lah yang benar. Tentu tidak bisa dijelaskan dengan bukti
ilmiah.
 
Sufisme... ahh... susah...
 
BR,
Andi.
 

________________________________

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of ext Sharif Dayan
Sent: Tuesday, April 21, 2009 4:06 PM
To: [Indo-StarTrek]
Subject: [Indo-StarTrek] Bls: "The Last Question"
Importance: High






Salam Sejahtera...

Pada Selasa, 21 April 2009, Roys A. Pangayoman menulis:

> Dahulu kala, seluruh ahli terpandai sedunia berkata bahwa bumi itu
rata.
> Semuanya bilang bahwa itu teori yg paling logis dan mutakhir. Setelah
> ditemukan bahwa bumi itu seperti bola, semua bilang bahwa teori yg
tadinya
> paling hebat itu salah besar. Makanya, yang namanya teori yg dibuat
> manusia atau mahluk apapun juga, sehebat apapun juga, pasti bukanlah
> kebenaran yang sejati.

Bisakah kita menggantikan kata "apa pun" di atas dengan "agama" dan
"keyakinan", yang juga dipengaruhi keterbatasan kemampuan pemahaman
manusia ?

Apa yang membuat bahwa yang definitif (ajaran menurut garis
Ibrahim/Abraham) benar dibandingkan yang infinitif (Brahmaisme) ?

Bagaimana species berakal pada zaman Star Trek berpikir mengenai itu ?

Sharif Dayan






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke