(Harga2 / biaya yg tercantum jgn dijadikan patokan yaa ...)

Pesona Karimunjawa

Memancing Ikan dari Kamar Penginapan
            
Sejak Kapal Kartini 1 diluncurkan awal Maret 2004 lalu, kunjungan wisata ke 
Karimunjawa terus meningkat terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Perjalanan 
Semarang-Karimunjawa yang berjarak sekitar 110 km hanya memerlukan waktu 3,5 
jam. Pada umumnya wisatawan yang berkunjung karena terpesona kondisi bawah laut 
masih alami. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Sri Mulyadi tentang kondisi 
Karimunjawa akhir-akhir ini dalam beberapa tulisan. 

Memancing ikan laut dari kamar tidur kedengarannya memang belum lazim. Namun di 
Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara, hal itu bisa dilakukan, dan kini 
dikembangkan menjadi pesona baru untuk menarik wisatawan ke pulau yang memiliki 
luas daratan 4 ribu ha dengan penduduk 8.642 jiwa tersebut. 
            
Bahkan, memancing sambil tiduran di kasur sekalipun dapat dilakukan, karena 
kamar penginapan memang sengaja dibangun di atas perairan lepas, perbatasan 
antara perairan dangkal dan dalam. 
            
Di depan kamar kedalamannya 3-4 meter, sedangkan sekitar empat meter dari kamar 
tidur kedalaman air mencapai 20 meter. Keindahan terumbu karang dan beraneka 
ikan hias juga terlihat jelas dari teras kamar karena airnya sangat jernih.
            
Konstruksinya dibikin semacam bagang (kerangka bambu yang ditancapkan di 
perairan laut berukuran sekitar 20m x 20m dan di tengahnya diberi jaring untuk 
menangkap ikan). Tiang pancang terbuat dari kayu besi (ulin) dan lantainya juga 
kayu. Sebagian bangunan berada di atas batu karang sehingga lebih kokoh dan 
tidak mengkhawatirkan sekalipun diterjang ombak.
            
Penginapan itu memang sengaja dibangun di lokasi yang aman. Bila musim angin 
timur, terlindung Pulau Karimunjawa. Namun pada musim angin barat atau sering 
disebut musim paceklik bagi nelayan karena ombak laut besar, lokasi itu 
terlindungi gugusan karang. Jadi meskipun ombak di tengah laut besar, sampai di 
lokasi penginapan sudah kecil dan tidak mengganggu. 
            
Adapun bila angin datang dari arah selatan, sudah terhalang Pulau Menjangan. Di 
Karimunjawa penginapan seperti itu ada dua tempat. Keduanya berada di dekat 
Pulau Menjangan Besar. Dari dermaga pusat kota Kecamatan Karimunjawa, untuk 
menuju ke lokasi menggunakan perahu motor cuma butuh waktu sekitar 5 menit. Dua 
tempat tersebut juga dilengkapi kolam ikan. 

Tanggul kolam dari batu karang itu diberi pengaman jaring sehingga kedalamannya 
sesuai dengan air pasang-surut. Namun karena airnya jernih, semua isi kolam 
terlihat jelas. Penginapan yang dikelola Ismarjoko Budi Santosa itu kolamnya 
diisi berbagai macam ikan hias dan kura-kura. Di penginapan milik Ismarjoko 
(biasa dipanggil Joko) inilah pengunjung bisa memancing dari dalam atau teras 
kamar tidur karena kedalaman air di depan kamar hanya 4 meter dan ikannya 
banyak.
            
Kamar yang tersedia delapan buah, masing-masing untuk dua orang. Tiga buah 
dengan kamar mandi di dalam dengan tarif Rp 50.000/malam, dan lima buah lainnya 
kamar mandinya menjadi satu dengan tarif Rp 40.000/malam. Untuk sekali makan Rp 
12.500 per orang dengan menu ikan laut, juga disediakan minuman ringan dan air 
panas untuk bikin 
kopi atau teh. Televisi atau radio juga ada, namun untuk komunikasi telepon 
harus ke wartel. Handphone (hp) tidak bisa digunakan karena tak ada sinyal.
            
Adapun di penginapan lain yang menurut informasi dikelola oleh Cuming dari 
Semarang, tersedia tujuh kamar dengan tarif dan fasilitas yang sama. Di kolam 
ikannya selain ada kura-kura, pengunjung bisa menyaksikan beberapa ikan hiu (di 
antaranya sepanjang kurang lebih satu meter), ikan kerapu yang beratnya sekitar 
30 kg, dan ikan bluntak/buntel seberat dua kilogram lebih. 
            
Namun tempatnya lebih dekat daratan, sehingga kurang ideal untuk memancing. 
Dengan tersedianya penginapan seperti itu, bisa dibilang Karimunjawa merupakan 
''surga'' bagi pecinta lautan. Bagi yang berhobi memancing jelas dijamin tak 
kecewa karena perairan di sekitar kepulauan yang ada di Karimunjawa dipenuhi 
terumbu karang, termasuk di sekitar 
penginapan. 
            
Di sekitar penginapan yang kedalaman airnya 3-4 meter, ikan yang berukuran 
besar jumlahnya memang tak banyak. Namun pada malam hari banyak juga cumi-cumi. 
Sebab, faktor penerangan di penginapan itu hanya menggunakan listrik dari 
diesel. Pada malam hari biasanya ikan dan cumi-cumi akan mendekati tempat yang 
diterangi lampu, baik 
listrik maupun petromaks. 
            
Jika mau agak ke tengah, terutama yang berkedalaman di atas 10 meter, ikan yang 
terpancing berukuran agak besar, beratnya antara 0,5 kg - 3 kg. ''Namanya juga 
memancing, kadang faktor keberuntungan yang berperan. Pernah juga ada tamu yang 
memancing di sekitar penginapan mendapat ikan jenis kakatua seberat sebelas 
kilogram. 
            
Namun di perairan dangkal pada umumnya ya cuma dapat ikan kecil,'' ungkap 
Ismarjoko.
Untuk menuju ke ''daerah ikan'' banyak tersedia kapal motor. Yang berukuran 
sedang kapasitasnya 4 atau 6 penumpang, sedangkan yang berukuran besar bisa 10 
orang lebih. Namun tarifnya untuk ukuran Jawa Tengah tergolong agak mahal. 
Perahu motor sedang sekitar Rp 100.000 - Rp 150.000 per paket (4-5 jam), 
sedangkan yang besar Rp 200.000 per paket. Namun soal tarif itu masih bisa 
dikompromikan, bergantung pada sepi atau ramainya pengunjung yang memanfaatkan 
perahu. Untuk paket satu hari, pagi sampai sore, perahu besar bisa ditawar 
sampai Rp 300.000.
            
Sebagai perbandingan, sewa perahu berukuran besar di Pantai Kartini Jepara 
berkisar Rp 125.000 - Rp 150.000 per hari, biasanya berangkat pukul 05.00 dan 
kembali pada pukul 15.00 (10 jam). Di Semarang, dengan ukuran perahu dan waktu 
yang sama, tarifnya sekitar Rp 200.000 per hari.
            
Tentang peralatan pancing, toko-toko di ibu kota kecamatan (dekat dermaga) itu 
banyak yang menyediakan. Tetapi walesan (tangkai pancing) yang tersedia pada 
umumnya sangat sederhana karena warga setempat sudah terbiasa memancing tanpa 
walesan. Cukup menggunakan gulungan senar, pancing, dan bandul timbal. Umpannya 
menggunakan cumi atau ikan kecil yang dipotong-potong. Semua itu bisa dibeli 
dari beberapa penampung ikan, termasuk Joko (panggilan akrab Ismarjoko). 
            
Umpan berupa udang mati atau hidup termasuk langka, sebab di Karimunjawa jarang 
ada tambak udang. Sebab di samping kadar garam air lautnya terlalu tinggi, 
tanahnya juga berpasir sehingga tak cocok untuk tambak udang atau bandeng. 
Pembudidayaan udang atau bandeng memang cuma cocok dilakukan di tambak yang 
berair payau dan berlumpur.
            
Berkait dengan kondisi itu, untuk memancing ikan permukaan seperti jenis jolong 
memang sulit, kecuali disiasati dengan menggunakan umpan ikan kecil hidup. 
Adapun untuk ikan jenis tengiri atau barakuda, umpan menggunakan ikan sintetis 
dengan ditarik perahu/dikalar. 
            
Pemancing dari luar daerah, biasanya membawa udang hidup (baik udang tenger 
maupun udang putih) dari Semarang atau Jepara dengan dimasukkan boks khusus, 
foam, dan ember dengan diberi airator (gelembung udara untuk menyuplai 
oksigen). Bisa juga dimasukkan plastik berisi air payau dan dimasuki oksigen.
            
Di Kecamatan Karimunjawa terdapat 27 pulau, yakni Pulau Karimunjawa, Kemujan, 
Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Besar, Cemara Kecil, Gleyang, Burung. 
Pulau Bengkoang, Parang, Nyamuk, Kembar, Katang, Krakal Besar, Krakal Kecil, 
Sintok, Mrican, Pulau Tengah, Pulau Pinggir, Cilik, Gundul, Seruni, Tambangan, 
Genting, Cendekian, Kumbang, dan Pulau Mencawakan (ada yang menyebut 
Menyawakan). 
            
Di antara pulau-pulau itu, yang berpenghuni baru Pulau Karimunjawa, Pulau 
Menjangan Besar, Pulau Menjangan Kecil.
            
Mencawakan. Antara Pulau Karimunjawa dan Kemujan, kini sudah terhubungkan 
dengan jembatan. Khusus Pulau Gundul, selama ini biasa digunakan untuk sasaran 
tembak dalam latihan militer. 
            

Homestay sambil Menikmati Ikan Bakar
Pengunjung yang merasa tidak nyaman tidur di kamar tengah laut, bisa homestay 
atau numpang tidur di rumah penduduk Karimunjawa, sambil menikmati ikan bakar. 
Tetapi meskipun istilahnya numpang tidur dan kamar yang disediakan menjadi satu 
dengan pemilik rumah, tamu tetap harus membayar.
            
Di Ibu Kota Kecamatan Karimunjawa terdapat 16 rumah yang dijadikan homestay dan 
dapat menampung 150 orang lebih. Tarif tiap kamar rata-rata Rp 35.000 - Rp 
40.000/malam. Jika dengan makan, menjadi Rp 12.500/orang sekali makan. Menunya 
bisa pesan kepada pemilik rumah.
            
Misalnya di rumah Bu Sri, sebelah kanan Kantor Telkom, menu yang ditawarkan 
layaknya di restoran. Yakni ikan bakar/goreng, cumi-cumi, ayam saos tiram, kopi 
susu, es rumput laut, jus kelapa muda, bahkan ada rujak. 
            
Juga disediakan halaman khusus yang diteduhi pohon mangga dan diberi ''lincak'' 
bambu untuk tempat duduk. Dilengkapi pula peralatan untuk membakar ikan, 
sehingga sangat cocok bagi rombongan yang ingin ramai-ramai membakar ikan 
sambil menikmati udara bebas Karimunjawa. Suasana numpang tidur di rumah 
penduduk itu memang tidak sesantai 
atau sebebas di penginapan umum,karena kita menyatu dengan keluarga pemilik 
rumah. 
            
Namun, pada umumnya keluarga pemilik rumah sudah membiasakan diri menginap di 
rumah saudara. Tamu yang ingin memasak sendiri, juga bisa. Bahkan, ada 
''petugas'' yang menemani ngobrol atau sebagai pemandu para tamu. 
            
Letak rumah untuk homestay memang strategis, di ibu kota kecamatan. Dekat 
pasar, toko-toko kelontong, kantor telepon, dan kantor kecamatan. Toko cendera 
mata juga ada. Toko ini pada umumnya menjual kaus atau barang-barang dari kayu 
stigi atau dewandaru (kayu khas Karimunjawa). Sarana telepon memang vital, 
karena di Karimunjawa tak ada sinyal, sehingga handphone (HP) tak berfungsi.
             
Dari rumah homestay ke dermaga rakyat, juga tidak jauh, hanya beberapa ratus 
meter. Di dermaga ini berjajar perahu motor yang berukuran kecil (4-6 
penumpang) dan perahu besar (di atas 10 penumpang), sehingga memudahkan 
pengunjung yang ingin berpesiar 
laut.
            
Ada dua dermaga di Karimunjawa, yakni dermaga rakyat dan ASDP (angkutan sungai, 
danau, dan penyeberangan). Pengunjung yang menggunakan kapal motor cepat 
Kartini I atau Kapal Muria, turun di dermaga ASDP. Untuk menuju ke penginapan 
atau tujuan lain, bisa menggunakan angkutan umum, mobil, atau becak. Ongkos 
naik becak sekitar Rp 5.000, sedangkan mobil Rp 25.000/angkatan atau sekali 
jalan. Tersedia 14 becak dan 10 mobil.
            
Di Kecamatan Karimunjawa yang membawahkan tiga kelurahan (Karimunjawa, Kemujan, 
dan Parang) tersebut, juga tersedia losmen dan wisma wisata yang dikelola Dinas 
Pariwisata Kabupaten Jepara. Di wisma ini tersedia enam kamar, dengan 
masing-masing dua tempat 
tidur. Empat kamar berfasilitas kipas angin, dengan tarif Rp 50.000/ kamar 
semalam. Dua kamar ber-AC Rp 90.000/kamar. Ongkos sekali makan Rp 12.500/orang.
            
''Kami juga menyediakan kapal motor berlantai tembus pandang, untuk menyaksikan 
terumbu karang. Setelah para pengunjung melihat keindahan terumbu karang, kami 
drop ke Pulau Menjangan Kecil untuk menikmati keindahan laut. Misalnya berenang 
di pantai, memancing, berjemur, menyelam, atau sekadar santai di pulau sambil 
menikmati kelapa muda. Biayanya per orang Rp 30.000, waktunya dari pukul 08.00 
hingga 12.00,'' ungkap Muchlis, salah seorang petugas di wisma wisata.
            
Kecamatan Karimunjawa dihuni beberapa etnis. Yakni etnis Jawa, Madura, Bugis 
(Sulawesi Selatan), Buton (Sumatera Selatan), dan Bajau dari Sulawesi Utara. 
Khusus perkampungan Bugis di Dusun Batulawang, Kelurahan Kumujan, mendapat 
banyak perhatian wisatawan. 
            
Jumlah mereka 300-400 orang, dan pekerjaan utama sebagai nelayan. Sebagian ada 
yang bertani kelapa, mete, dan cengkih. ''Di antara mereka ada juga yang kawin 
dengan penduduk asli,'' ungkap Ismarjoko, salah seorang pengusaha penginapan di 
Karimunjawa.
            
Pada umumnya para nelayan pendatang tersebut mempunyai ketangguhan di laut. 
Meskipun ombak besar, mereka tidak kesulitan menjual hasil tangkapannya ke 
Jepara. Biasanya mereka tidak menjual ikan di tempat pelelangan ikan (TPI), 
tetapi langsung ke pengepul.
            
Mereka juga dikenal andal menyelam, sehingga sangat cocok dengan kondisi 
perairan laut Karimunjawa. Sewaktu perburuan ikan lemak (mirip gurami atau ikan 
kakatua) masih marak karena nilai jualnya tinggi (Rp 100.000 - Rp 200.000/ 
kilogram), mereka mendominasi hasil tangkapan. Namun perburuan itu sekarang 
jarang, karena dilarang pemerintah. Cara penangkapan yang menggunakan bahan 
kimia seperti sianida (apotas), dapat merusak terumbu karang dan mengakibatkan 
ikan jenis lain mati.
            
Untuk menangkap ikan lemak, nelayan harus menyelam di bebatuan karang. Ikan 
yang terperangkap di bebatuan karang disemprot dengan bahan kimia. Setelah 
teler/keracunan, ikan ditangkap untuk dimasukkan ke tempat karantina yang 
airnya tidak tercemar. Setelah 
sehat kembali, barulah ikan laku dijual dengan harga tinggi. Jika mati, nilai 
jualnya tidak berbeda dari jenis ikan lainnya. Ikan lemak ini memang khusus 
untuk konsumsi ekspor.
            
Perburuan ikan hias dan tumbuhan laut seperti jamur mangkok untuk keperluan 
akuarium air laut, kini juga dilarang. Perburuan ini juga dianggap merusak 
lingkungan. Kalaupun sekarang di Jepara masih banyak jamur mangkok dan ikan 
hias seperti clownfish/ikan badut, itu karena memang ada beberapa nelayan yang 
nekat. Petugas dari perlindungan alam dan aparat kepolisian tidak bisa berbuat 
apa-apa, karena di Kecamatan Karimunjawa terdapat 27 pulau dengan luas perairan 
104.592 hektare. Sehingga mungkin saja perburuan ikan hias atau tanaman laut di 
pantai pulau yang jauh dari Karimunjawa, dan 
langsung dijual ke penampung di Jepara. Bisa juga dikarantina di pantai salah 
satu pulau, dan setelah terkumpul baru dikirim ke pembeli.
            
Hambatan para pengusaha dalam mengembangkan penginapan di Karimunjawa, jelas 
Ismarjoko, adalah modal. Bunga pinjaman bank yang rata-rata tiga persen per 
bulan, cukup memberatkan. Karena itu, dia berharap pemerintah ikut membantu 
memecahkan dengan memberikan subsidi atau kredit lunak berbunga rendah.

''Di sini semua bahan bangunan serba mahal, karena harus didatangkan dari 
Jepara. Misalnya semen per sak (50 kg) yang di Jepara seharga Rp 29 ribu, di 
Karimunjawa Rp 37 ribu. Upah tenaga kerja juga tinggi antara Rp 30 ribu-Rp 45 
ribu per hari. Untuk pengadaan sebuah kamar dan isinya di penginapan tengah 
laut, kami membutuhkan dana sekitar Rp 8 juta,'' ungkapnya.
            
Pengunjung dari Semarang yang ingin ke Karimunjawa, bisa menggunakan Kapal 
Motor Cepat Kartini I. Berangkat hari Sabtu dari Pelabuhan Tanjung Emas pukul 
09.00, dengan harga tiket kelas eksekutif Rp 75 ribu dan bisnis Rp 65 ribu, 
belum termasuk tiket masuk pelabuhan. 

Yang membedakan kelas tersebut, untuk bisnis di dek I (dek bawah) tanpa jendela 
dan eksekutif di dek II (dek atas) ada jendela. Namun kedua dek penumpang 
tersebut sama-sama ber-AC. Sedang buritan digunakan untuk barang. 
            
Jarak Semarang-Karimunjawa yang sekitar 110 kilometer ditempuh dalam waktu 3,5 
jam, berangkat jam 09.00 dan tiba pukul 13.30. Pada musim angin timur seperti 
sekarang ini gelombang tidak begitu besar, sehingga kapal seharga Rp 15 miliar 
lebih dan berbobot 150 ton dengan kapasitas penumpang 168 orang tersebut, bisa 
melaju dengan tenang. Kapal tersebut dibeli secara patungan antara Pemprov 
Jateng dan Pemkab Jepara. Modal Pemprov Rp 14 miliar lebih dan Pemkab sekitar 
Rp 1 miliar.
            
Saat ini jadwal pelayaran Semarang-Karimunjawa seminggu sekali, yaitu hari 
Sabtu. Sedang Karimunjawa-Semarang hari Minggu pukul 14.00 dan tiba di 
Pelabubuhan Tanjung Emas jam 15.30. Sedang untuk Jepara-Karimunjawa berangkat 
hari Minggu jam 09.00 dan Senin pukul 10.00. Sedang Karimunjawa-Jepara, Sabtu 
jam 14.00 dan Selasa pukul 09.00. Jarak Jepara-Karimunjawa yang sekitar 90 
kilometer ditempuh dalam waktu 2,5 jam.
            
Untuk Kapal Muria yang berkapasitas sekitar 300 penumpang hanya menempuh rute 
Jepara-Karimunjawa PP. Dari Jepara hari Rabu dan Sabtu pukul 09.00, sedang 
Karimunjawa-Jepara hari Senin dan Kamis pukul 09.00. Harga tiketnya untuk kelas 
ekonomi Rp 17 ribu dan VIP Rp 26.500, dengan waktu pelayaran enam jam.
            

Disediakan Pesawat untuk Jemput Tamu
Pengunjung yang menginginkan tempat menginap lain, di samping menumpang di 
rumah warga atau penginapan tengah laut, di Karimunjawa juga ada "Kura-kura 
Hotel". Bangunan tersebut milik Pemprov Jateng, namun saat ini dikontrak oleh 
biro wisata Kura-kura Resort. Di tempat itu disediakan tujuh buah kamar dan 
tiga bungalo. Setiap bungalo terdiri atas dua kamar sehingga keseluruhan bisa 
menampung 36 orang. Juga disediakan tempat tidur ekstra.
            
Kamar yang berfasilitas AC saat ini tarifnya Rp 133.100 dan yang berkipas angin 
Rp 87.400. Makan empat kali Rp 96.000/ orang (perhitungan tarif menggunakan 
standar dolar AS). "Untuk makan paketnya dihitung empat kali karena biasanya 
tamu datang Sabtu siang 
dan pulang Minggu siang," ungkap Abdul, karyawan hotel tersebut.
            
Wisatawan asing yang ke Karimunjawa pada umumnya menggunakan jasa Kura-kura 
Resort. Biro wisata "berkelas" dan merupakan satu-satunya di Karimunjawa itu 
fasilitasnya lebih lengkap. Wisatawan biasanya dijemput dengan pesawat terbang 
jenis Cessna 172 M yang berkapasitas tiga penumpang dan Cessna 402 B untuk 
penumpang minimal enam orang.
            
Mereka langsung dijemput di Bandara Adisumarmo Solo dan Adisucipto Yogyakarta 
pada pukul 08.00. Adapun yang turun atau berangkat dari Semarang dijemput pada 
pukul 08.30. Perjalanan dari Solo atau Yogyakarta ke Karimunjawa dengan Cessna 
127 M ditempuh dua jam, jika menggunakan Cessna 402 B cukup satu jam. Dari 
Semarang sekitar 45 menit dan 35 menit. Dari Lapangan Terbang Dewandaru 
Karimunjawa wisatawan diantar dengan kapal motor ke Pulau Menyawakan (ada juga 
yang menyebut Mencawakan). 
            
Penerbangan dari Solo, Yogya, atau Semarang, bergantung pada permintaan. Kalau 
musim liburan seperti pada 9 - 11 Juli lalu, wisatawan yang datang ke 
Karimunjawa mencapai 32 orang. Pada bulan Juni 55 orang, dan pada hari-hari 
nonliburan 40-50 pengunjung per 
bulan. Kebanyakan dari Korea, yaitu pasangan yang berbulan madu," ungkap Helmi, 
karyawati Kura-kura Resort di kantor pusatnya di Jepara.
            
Wisatawan yang menggunakan kapal motor cepat Kartini I atau kapal Muria 
dijemput di Karimunjawa dan ke Pulau Menyawakan menggunakan perahu motor kayu. 
Di Pulau Menyawakan tersedia lima bungalo VIP dan 10 deluxe yang semuanya bisa 
menampung 30 pengunjung.
            
Untuk paket dua hari satu malam, yang tidak menggunakan pesawat tarifnya 77 
dolar AS atau sekitar Rp 693.000, dan yang dijemput pesawat 137 dolar (Rp 
1.233.000). Bila ditambah paket diving atau menyelam, nonpesawat Rp 187 dolar 
(Rp 1.683.000) dan yang dijemput pesawat 247 dolar atau kurang lebih Rp 
2.223.000.
            
Wisatawan yang pernah ke Karimunjawa pada umumnya mengagumi kehidupan bawah 
laut yang alami banget. Selain itu, suasananya tenang. Di Pulau Menyawakan 
tidak ada telepon kabel ataupun HP. Komunikasi hanya bisa dilakukan dengan HT," 
kata Helmi.
            
Nita, juga karyawati Kura-kura Resort menambahkan, pihaknya juga melayani 
kursus diving atau menyelam. Saat ini seorang instruktur dan dua asistennya 
berasal dari Swedia. Biaya kursus untuk kategori bersertifikat (4 hari 3 malam) 
biayanya 320 dolar atau sekitar Rp 
2.880.000. Untuk tingkat pemula (2 hari 1 malam) 75 dolar atau kurang lebih Rp 
975.000. Materi kursus untuk pemula selain teori, tayangan video, juga praktik 
di kolam renang dan perairan laut. 
            
Lokasi yang dipilih biasanya sekitar Pulau Cemara Besar yang kedalaman airnya 
sekitar 12 meter. Bagi pengunjung yang tidak hobi menyelam disediakan fasilitas 
kolam renang air suling. Untuk yang hobi memancing, sekitar 200 meter dari 
pantai Pulau Menyawakan merupakan lokasi yang ideal, kedalaman airnya sekitar 
15-20 meter. Ikan yang terpancing biasanya bermacam jenis kerapu (termasuk 
kerapu merah) dan badong. Banyak juga jenis 
ikan hias seperti triger dan capung kepodang, beratnya rata-rata 0,5 kilogram. 
            
Wisatawan nonpaket biro wisata bisa menyewa peralatan menyelam lewat Muchlis, 
petugas wisma wisata atau Ismarjoko, pengusaha penginapan di tengah laut. Untuk 
snorkel sewanya sekitar Rp 30 ribu/paket, pukul 08.00 - 12.00. Peralatan 
lengkap, termasuk tabung oksigen, sewanya Rp 250.000 - Rp 300.000. Jika 
memerlukan jasa pembimbing, 
tarifnya sekitar Rp 150.000/paket.
            
Tiap tabung oksigen bisa untuk penyelaman selama satu jam. Sewa peralatan 
menyelam memang agak mahal karena harga peralatan juga tinggi, sekitar Rp 15 
juta per set. Pengisian oksigen dapat pula dilakukan di Karimunjawa, biayanya 
Rp 40.000 per tabung," ungkap Muchlis.
            
Di samping homestay, menyelam, memancing, menikmati keindahan terumbu karang 
dan ke perkampungan Bugis (jaraknya sekitar 25 km dari dermaga ASDP 
Karimunjawa), pengunjung yang datang tak sedikit pula yang melakukan ziarah ke 
makam Syeh Amir Khasan atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Nyamplungan. 
Tokoh yang dimakamkan di lereng perbukitan Karimunjawa tersebut adalah anak 
dari Sunan Muria.

"Peziarah datang dari berbagai daerah dengan maksud bermacam-macam pula. Orang 
yang permintaannya terkabul biasanya datang kembali untuk mengadakan 
selamatan," ungkap Harinto, Kasi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan Jepara.
            
Karimunjawa juga dihuni beberapa hewan langka, di antaranya elang, ular kobra, 
rusa, dan penyu. Khusus untuk menyelamatkan penyu, dibentuk Kelompok Pelestari 
Penyu Karimunjawa yang diketuai Ismarjoko Budi Santosa. Tugas kelompok itu di 
samping memberikan penyuluhan tentang arti penting penyelamatan penyu, juga 
melakukan pembesaran anak penyu.
            
Jika ditemukan lokasi bertelurnya penyu, tempat tersebut diberi tanda dan pagar 
keliling sehingga pada saat telur penyu menetas 60 hari kemudian, anakannya 
tidak langsung ke laut lepas. Anakan penyu tersebut diambil untuk dimasukkan ke 
kolam pembesaran. 
            
"Kalau telur dibiarkan tanpa perlindungan risiko kematian sangat besar. Pada 
saat menetas anakan penyu banyak yang dimakan predator seperti biawak, 
kepiting, dan burung," ungkap Ismarjoko.
            
Jenis penyu yang hidup di perairan Karimunjawa adalah penyu sisik dan hijau. 
Rata-rata beratnya 11-15 kg/ekor, namun ada juga yang mencapai berat 30 kg. 
Nelayan setempat saat ini kesadarannya sudah cukup tinggi dalam upaya 
penyelamatan. Kalau kebetulan ada yang tersangkut jaring, oleh nelayan yang 
bersangkutan penyu itu diserahkan kepada Kelompok Pelestari Penyu dan sebagai 
bentuk penghargaan, kelompok itu memberikan kaus kenang-kenangan.
            
Untuk anakan penyu yang diperhitungkan sudah kuat bertahan hidup di perairan 
lepas, dilakukan acara pelepasan sekaligus dijadikan objek untuk menarik 
wisatawan ke Karimunjawa. Saat ini di kolam pembesaran terdapat sekitar 200 
ekor anakan penyu. Selama di kolam tersebut penyu-penyu itu diberi makanan 
berupa pelet atau cacahan daging ikan.
            
Berdasar pengamatan, kehidupan bawah laut di Kepulauan Karimunjawa (meliputi 27 
pulau), sudah cukup kuat untuk menarik perhatian wisatawan Nusantara (wisnu) 
dan wisatawan mancanegara (wisman). 
            
Sarana dan fasilitas yang tersedia juga sudah memadai, bahkan lebih. Buktinya, 
tamu bisa langsung dijemput pesawat karena di Karimunjawa sudah ada lapangan 
terbang.
            
Untuk menikmati keindahan kehidupan bawah laut di Pulau Sipadan yang sudah 
mendunia, fasilitas yang tersedia tidak selengkap dan semudah di Karimunjawa. 
Untuk pergi ke pulau yang dulu disengketakan antara Indonesia-Malaysia 
(akhirnya dimenangkan Malaysia) itu, dari Kualalumpur harus naik pesawat ke 
Kinabalu dan pindah pesawat lagi ke Tawau. 
            
Dari Tawau harus melalui perjalanan darat sekitar 3 jam untuk menuju Pantai 
Semporna. Dari Semporna ke Sipadan naik perahu motor sekitar satu jam. Di Pulau 
Sipadan yang luasnya hampir sama dengan Pulau Menyawakan (Karimunjawa) itu cuma 
terdapat bungalo-bungalo yang sederhana.
            
Adapun untuk ke Karimunjawa, dari Jakarta atau bandara lain di Indonesia maupun 
luar negeri, pengunjung bisa langsung ke Bandara Solo, Yogyakarta, atau 
Semarang. Dari Bandara tersebut wisatawan langsung dijemput pesawat untuk 
diantar ke lokasi. Pengunjung juga bisa naik kapal motor cepat dari Semarang 
atau Jepara. Dari Semarang 
butuh waktu 3,5 jam dan dari Jepara 2,5 jam.
            
Sarana penginapan yang tersedia juga sudah memadai dan bervariasi. Ada 
penginapan di tengah laut, numpang di rumah warga, wisma wisata, atau hotel. 
Masyarakat setempat pun ramah terhadap siapa saja yang berkunjung. Daerahnya 
juga sangat aman, bahkan nyaris tidak pernah ada gangguan/keributan.

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/6iY7fA/5WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke