http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0409/27/teropong/1258901.htm
Senin, 27 September 2004

Ongkos Jalan Kaki Lebih Mahal daripada Naik Mobil

SAYA ingin naik kendaraan," ucap Sanip (28), ketika ditanya alasannya 
keluar dari Baduy Dalam dan berganti status menjadi Baduy Luar. Alasan yang 
sama dinyatakan Yuli (33) dan Antiwin (30) alias Erwin.
Sambil tersenyum, Sanip mengungkapkan, ia sudah bosan berjalan kaki. 
Menurut aturan adat, orang Baduy Dalam tidak diperbolehkan naik kendaraan 
jika bepergian, sedangkan orang Baduy Luar diizinkan.
Alasan ingin berkendaraan bukan tanpa perhitungan. Mereka tak sekadar ingin 
menggunakan teknologi modern untuk mempercepat mobilitas. Sanip mengatakan, 
"Menggunakan kendaraan ongkosnya jauh lebih murah daripada jalan kaki."
Jika berjalan kaki, ia bisa menghabiskan waktu 10 hari pergi-pulang 
Baduy-Jakarta- Baduy. Ongkos yang dibutuhkan untuk membeli makanan dan 
minuman Rp 100.000 hingga Rp 300.000. "Kalau keuntungan dagang sedang 
menurun, kami tak dapat membawa uang saat pulang," ungkapnya. Padahal, jika 
naik kendaraan, mereka cukup mengeluarkan ongkos pergi-pulang Rp 30.000.
Sanip, Yuli, dan Erwin sering pergi ke kota untuk berdagang. Sanip dan Yuli 
berdagang kerajinan khas Baduy lebih dari lima tahun, sedangkan Erwin 
menjual buah-buahan. Dalam sebulan Yuli dan Sanip bisa tiga-lima kali ke 
kota. Mereka biasanya mengantarkan pesanan. Kerajinan-kerajinan khas Baduy 
dikumpulkan dari para perajin di Baduy Dalam dan Luar. Sekali berdagang ia 
bisa mendapat keuntungan Rp 100.000-Rp 300.000.
Sementara itu, dari berdagang buah-buahan, Erwin bisa menghasilkan 
keuntungan sampai Rp 600.000. Sayangnya, berdagang buah-buahan tak dapat 
rutin karena harus menunggu musim panen. Erwin tidak menjual buah-buahan 
miliknya, tetapi mengumpulkan panenan buah dari beberapa petani.
Sebetulnya, aturan adat Baduy Dalam tidak memperkenankan warganya untuk 
berdagang. Namun, ini menjadi pilihan karena desakan ekonomi keluarga. 
"Kalau cuma berladang, kebutuhan rumah tangga sulit terpenuhi. Kami harus 
beli ikan asin, garam, dan pakaian," tutur Yuli. Bapak satu anak ini 
rata-rata mengeluarkan Rp 20.000 sehari.
Ia tak dapat menggantungkan hidup dari pertanian sebab adat melarang warga 
Baduy menjual padi yang ditanamnya. Sementara itu, pohon buah-buahan belum 
memberi hasil. Biasanya, masyarakat Baduy menanam pohon- pohonan setelah 
menikah dan untuk berbuah memerlukan waktu bertahun-tahun.
Hampir setiap bulan, jaro atau wakil pimpinan adat yang mengurusi warga 
mengadakan rapat. Semua warga lelaki dikumpulkan dan dinasihati agar 
menjalankan aturan adat dengan sungguh-sungguh. Salah satu nasihatnya 
adalah menegaskan kembali larangan berdagang.
"Daripada merusak adat, lebih baik saya keluar dari Baduy Dalam dan menjadi 
warga Baduy Luar," ucap Sanip. Yuli dan Erwin pun sepakat soal itu dan 
mengambil keputusan yang sama.
Sanip dan Yuli keluar dari Baduy Dalam tiga bulan lalu, sedangkan Erwin 
sudah empat tahun. Ketiganya warga Kampung Cibeo, Desa Kanekes, Kecamatan 
Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Yuli dan Erwin pindah ke Kampung 
Kaduketug, sedangkan Sanip ke Kampung Balimbing. Menurut Sanip, tahun lalu 
ada delapan warga Cibeo keluar dari Baduy Dalam. Namun, Sanip tak tahu apa 
yang menjadi alasan mereka keluar.
Untuk keluar dari Baduy Dalam, Sanip, Yuli, dan Erwin butuh persiapan 
panjang. Yuli harus menabung selama lima tahun agar bisa membangun rumah 
dan membeli tanah di Baduy Luar.
Di Baduy Dalam, tanah adalah milik seluruh warga kampung. Tiap keluarga 
bisa menggunakan tanah di mana saja untuk bertani. Sedangkan di Baduy Luar, 
orang perlu membeli tanah untuk mendirikan bangunan dan bertani. Tanah 
pertanian adalah hal yang harus dimiliki orang Baduy, baik Baduy Dalam 
maupun Luar.
Yuli menabung lebih dari lima tahun. Sedangkan Sanip dan Erwin menabung 
kurang dari dua tahun. Ketika keluar dari Baduy Dalam, Yuli mengeluarkan 
uang lebih dari Rp 70 juta. Uang itu ia gunakan untuk membangun rumah 
panggung khas Baduy di atas tanah milik kampung Kaduketug senilai Rp 16 
juta. Ia juga membeli tanah seluas 7.000 meter persegi seharga Rp 25 juta 
dan lahan kebun berisi pohon buah-buahan seluas 5.000 meter persegi seharga 
Rp 30 juta.
Sementara itu, Sanip mengeluarkan uang Rp 20 juta untuk membeli tanah dan 
membangun rumah, mengurus sertifikat tanah Rp 2,5 juta, dan membeli tanah 
seluas 7.000 meter persegi seharga Rp 10 juta. Erwin menghabiskan tabungan 
Rp 6 juta untuk membeli tanah.
Uang sebanyak itu mereka dapatkan dari pekerjaannya berkebun buah-buahan 
dan menjadi kuli. Untuk membersihkan rumput di ladang biasanya Yuli 
mendapat upah Rp 5.000, menebang pohon Rp 10.000, memanen buah Rp 50.000, 
dan mengambil kayu bakar Rp 5.000. Yuli, Sanip, dan Erwin juga mengumpulkan 
uang dari menggadaikan pohon buah- buahan. Sebatang pohon durian biasanya 
digadaikan Rp 500.000, sedangkan rambutan Rp 250.000.
Karena keluar atas kesadaran sendiri, Yuli dan Sanip bisa kembali menjadi 
warga Baduy. Namun, tidak boleh lebih dari satu tahun setelah mereka 
keluar. Ketentuan ini diberikan puun atau pimpinan adat Baduy Dalam. Namun, 
Yuli dan Sanip tak ingin menggunakan kesempatan itu. "Sudah capek-capek, 
kenapa harus kembali lagi," ujar Sanip.
Pengorbanan tak hanya sebatas materi, Erwin terpaksa harus bercerai dengan 
istri dan seorang anaknya karena mereka tidak ingin pindah status menjadi 
warga Baduy Luar. Kini Erwin menikah lagi dan dikaruniai seorang anak dari 
perempuan Baduy Luar. Sementara itu, Sanip dan Yuli beruntung karena 
seluruh keluarganya bersedia pindah menjadi Baduy Luar mengikuti kehendak 
mereka.(Y01/Y02/Y09/Y10)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke