Saya jadi inget pengalaman sendiri. Hari terakhir di Kathmandu diisi dengan salah makan. Perut mulas dan muntah. Saya mencoba mengingat apa yang saya makan sebelumnya. Tidak ingat. Akhirnya berdamai bahwa hampir semua traveller ke wilayah itu (India dan Nepal) hampir semua mengalami hal yang sama.
Sebenarnya ada tindakan pencegahannya. Salah satu adalah berhati-hati membeli makanan dan minuman (air putih sekalipun). Makanan yang dijual di pinggir jalan memang menarik sekali. Buah2an segar yang menggairahkan sepertinya membuat ngg tahan. Belum lagi produk es beraneka macam. Kualitas air bersih di negara tersebut bisa dibilang dibawah standar. Karena itu diwanti-wanti lebih baik minum teh (panas dan hasil didihan air) ketimbang air putih biasa. Saya pun sudah bawa tablet penjernih air jika didepan saya terlihat meragukan. Tapi namanya sudah merasa perut karet mungkin saya alpa ketika eksperimen berbagai makanan/minuman disana. Seperti Aris bilang bahwa mempelajari negara/tempat destinasi tidak hanya object menarik disana tapi juga mempersiapkan perubahan diet dan gaya hidup. Obat pribadi, inseminasi (untuk travelling biasanya lengkap dari typhoid hingga hepatitis), juga P3K. Biasakan bawa sekotak kecil P3K untuk kepentingan darurat. Salam, Ambar -- In [email protected], Aris <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > sekedar info, selanjutnya silahkan pelajari sendiri.. > > untuk tau apakah daerah akan di kunjungi adalah endemic, saya selalu > menyarankan untuk mempelajari destination yang akan di visit! > > nah, karena sebagian besar hutan di Indonesia... termasuk Endemic of > Malaria, bukan berarti harus takut masuk hutan atau hidup di wilayah > endemic., umumnya penduduk yang tinggal di wilayah endemic sudah > kebal... sama malaria! >
