Dear moderator,
mohon ijin untuk memposting email di bawah. Mudah-mudahan bisa menambah 
informasi buat  rekan2 sekalian para backpackers dan traveller tentang Komodo. 

salam,
katherina
marine science coord.
PT.Putri Naga Komodo




Dear rekan-rekan Indobackpackers…
 
Terima kasih banyak atas masukan dan pertanyaan yang sangat baik ini. Kami 
sadar, kami masih punya banyak PR, terutama dalam mengkomunikasikan berbagai 
kegiatan dan kebijakan yang diberlakukan di Komodo, terutama kebijakan CCF 
(Contribution to Conservation Fund / Dana Kontribusi Konservasi). Untuk itu, 
mudah-mudahan rekan-rekan tidak keberatan jika saya mencoba memulai arus 
komunikasi, terutama untuk para wisatawan lokal, melalui milis ini. Agak 
panjang nih… gak pa2 ya…
 
Agak-agak susah memang menjelaskan tentang Komodo. Pengelolaan di Komodo saat 
ini merupakan model pengelolaan kawasan konservasi yang baru pertama kali 
dilakukan Pemerintah Indonesia (dlm hal ini Departemen Kehutanan, Dirjen PHKA), 
yaitu menggunakan pendekatan kolaborasi. Memang pengelolaan berbasis 
kolaboratif sudah pula dijalankan oleh beberapa taman nasional yang lain, tapi 
tidak dalam skala yang sebesar dan sekompleks ini. Sebuah model ideal yang, 
terus terang saja, sering dihadang banyak tantangan dalam menjalankannya, 
apalagi dalam menjelaskannya dengan kata-kata. (Yang paling enak adalah 
rekan-rekan datang ke sini, dan dijelaskan sambil meninjau lokasi-lokasi dan 
melihat program-program... baru lebih mudah dimengerti... but, I’ll try my 
best, selama pada gak bosen bacanya...)
 
Dengan keunikan dan kekayaan sumber daya alam hayati di darat maupun di 
perairannya, Pemerintah Indonesia menyadari bahwa Komodo perlu dilindungi. 
Untuk itu, kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional. Mungkin perlu 
dimengerti bahwa status ”taman nasional” berarti pengelolaannya diatur 
berdasarkan sistem zonasi, yaitu peruntukan bagian-bagian dari kawasan bagi 
aktivifitas-aktivitas tertentu, termasuk aktivitas pemanfaatan sumber daya, 
baik untuk masyarakat di sini (perikanan) maupun untuk pariwisata dan 
penelitian.
 
Tapi lebih dari sekedar dilindungi, Pemerintah juga sudah menyadari bahwa 
mereka tidak bisa bekerja sendiri. Ada banyak pihak yang memiliki kepentingan 
di Komodo. Pihak-pihak ini disebut ”stakeholders” atau para pemangku 
kepentingan. Kepentingan-kepentingan stakeholders ini bisa saling bertentangan 
dan jika tidak dijembatani dengan arif, alam-lah yang akhirnya paling 
dirugikan. Dan pada gilirannya, akan merugikan kita semua. Tidak akan ada lagi 
“karpet” dan “istana-istana” terumbu karang cantik dan ikan-ikan warna-warni 
berenang riang untuk dinikmati para penyelam. Gugusan bukit megah yang 
menghiasi kawasan ini tidak akan lagi menjadi rumah yang nyaman bagi satwa 
purba Komodo kebanggaan kita semua. Alunan lagu burung kepodang yang merdu dan 
celoteh cerewet kakatua sulphurea mungkin sudah tidak terdengar lagi. Yang ada 
hanya angin, gulungan ombak (yang semakin ganas karena hutan bakau dan padang 
lamun pun sudah menjadi area pemanfaatan) dan
 mentari panas Flores yang mungkin akan terasa makin menyengat.
 
Karena itulah, Pemerintah kemudian berinisiatif untuk merangkul para pemangku 
kepentingan, melibatkan mereka semua dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional 
Komodo. Stakeholders ini terdiri dari pemerintah pusat (Dephut, Dijen PHKA - 
melalui ”kepanjangan-tangannya” di Labuan Bajo, yaitu Balai Taman Nasional 
Komodo), pemerintah daerah (Pemkab Manggarai Barat) beserta seluruh jajarannya, 
para penyedia jasa pariwisata (dive operators, live-aboard operators, hotel, 
restoran, travel agents, dll), LSM, sektor-sektor lainnya yang secara langsung 
maupun tidak langsung memiliki kepentingan di Komodo dan... last but not 
least... para pengguna utama sumber daya alam itu sendiri, yaitu masyarakat di 
dalam dan di sekitar kawasan taman nasional.
 
Sebuah kerangka pun lahir, yang bernama Komodo Collaborative Management 
Initiative (KCMI), di mana para pemangku kepentingan berupaya bersama-sama 
berbagi tanggungjawab dan turut memikirkan, menjembatani dan mencari solusi 
atas berbagai kebutuhan, keinginan, keluhan, harapan, cita-cita dan mimpi di 
Komodo ini. Tentunya semua upaya ini harus tetap dipayungi dan dilandaskan satu 
tema inti, yakni KONSERVASI. Hasil akhir haruslah kelestarian Komodo untuk 
sekarang dan generasi mendatang.
 
Di dalam kerangka KCMI ini, kami dari PT. Putri Naga Komodo (PNK) merupakan 
unit implementasi. Segala keputusan, kebijakan dan program-program KCMI, 
kamilah yang menjalankan, bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Komodo 
(BTNK). Gampangnya, PNK dan BTNK seperti suami-istri. Kadang-kadang mesra, 
kadang-kadang musuhan. Tapi tetap setia dalam berbagi hak dan tanggungjawab 
untuk mencapai cita-cita masa depan yang lebih cemerlang. Nah, Taman Nasional 
Komodo adalah rumah kami. Para pemangku kepentingan adalah anak-anak, 
saudara-saudara, kerabat-kerabat, handai taulan tercinta. Mereka adalah 
keluarga besar kami.. yang terkadang ngambek, terkadang nyusahin, terkadang 
banyak maunya, terkadang datang bermanja-manja dan berair mata… Seperti rumah 
tangga lainnya, kami tidak bisa menyenangkan semua orang. Pasti ada saja yang 
kecewa. Tapi kami tetap berusaha untuk melihat ke depan, karena sesungguhnya 
apa yang kami lakukan akan berbuah manis bagi semuanya di masa
 yang akan datang.
 
Menjaga dan melestarikan “rumah” kami ini, biayanya tidak murah. Kapal patroli 
untuk menjaga seluruh kawasan setiap hari, speedboat-speedboat yang membawa 
team kami untuk melakukan monitoring, pembangunan kawasan pariwisata, serta 
untuk menjalankan program-program pemberdayaan masyarakat, membutuhkan biaya 
yang sangat besar. Padahal, Komodo ingin mandiri. Komodo ingin, agar secara 
finansial, kehidupan dan kelestariannya berkelanjutan, supaya Komodo bisa 
berbagi semua keindahan dan keagungannya pada dunia. Karena Komodo adalah Cagar 
Biosfir (ditetapkan oleh UNESCO tahun 1986) dan Kawasan Warisan Dunia 
(ditetapkan oleh UNESCO tahun 1991). Kawasan ini bukan hanya milik Manggarai 
Barat, bukan hanya milik Flores, bukan hanya milik NTT, bahkan bukan hanya 
milik Indonesia semata... melainkan milik DUNIA. Tanggungjawab besar ada di 
bahu kita semua untuk menjaga dan melestarikan warisan anak-cucu kita ini.
 
Namun, berbagi keindahan dengan dunia sekaligus menjaga kelestariannya, tidak 
semudah yang dibayangkan. Ajak turis banyak-banyak ke sini, maka mereka akan 
membayar dan berbelanja di sini... dan selesailah masalah kita. Tidak bisa 
seperti itu. Daya dukung Komodo tidak akan pernah mampu menampung arus 
pariwisata masal seperti di Bali atau di Jogja. Komodo hanya bisa menampung 
pariwisata ”minat khusus”. Ekowisata. Untuk menikmatinya, kita harus ”setengah 
berpetualang”. Jiwa adventurir dan cinta alam sangat dibutuhkan di sini.
 
Terbatasnya jumlah pengunjung yang bisa diakomodasikan di sini menyebabkan kami 
harus mengatur strategi dan rencana matang untuk menuju pengelolaan yang 
mandiri dan berkelanjutan. Untuk itulah, sejak 1 Mei 2006, Taman Nasional 
Komodo memberlakukan CCF, di samping juga menarik biaya masuk (entrance fee) 
dan tiket retribusi Manggarai Barat, yang besarnya bergantung pada lamanya 
kunjungan.
 
Contribution to Conservation Fund (CCF)
Length of StayForeign VisitorIndonesian Nationality, KITAS HolderNTT 
ResidentIndonesian Student
1 - 3 daysUS$ 15Rp.   75,000,-Rp. 10,000,-Rp. 1,000,-
4 - 8 daysUS$ 25Rp. 125,000,-
9 - 15 daysUS$ 35Rp. 175,000,-
16 days or moreUS$ 45Rp. 225,000,-

 
 
Park Entrance & Regional Compensation Fees
FeeLength of StayForeign / KITASDomestic
KNP Entrance Fee1 - 3 daysRp. 20,000,-Rp.   2,000,-
West Manggarai Compensation Fee1 - 3 daysRp. 20,000,-Rp. 10,000,-

 
Untuk kantong orang Indonesia , banyak memang yang musti dibayar, apalagi kalau 
dibandingkan dengan biaya masuk ke taman nasional lainnya di Indonesia ini, 
biaya di atas jauh lebih mahal. Namun, tunggu dulu. Apakah tidak seharusnya 
kita mulai memberlakukan biaya yang “masuk akal” untuk mengelola kawasan alam 
kita? Di luar negeri, biaya masuk ke kawasan-kawasan konservasi terbilang cukup 
tinggi, karena memang pengelolaan dan pemeliharaannya jauh lebih rumit dan 
lebih membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, dibandingkan kawasan rekreasi buatan 
manusia.
 
Tapi semua itu terdengar seperti pembelaan diri belaka. Rekan-rekan tentunya 
ingin tahu bagaimana biaya konservasi ini kami kelola untuk kepentingan 
konservasi dan program-program pendukung di Komodo ini. Baiklah…
 
Dana Bantuan Konservasi atau CCF, selama setahun lebih ini belum kami gunakan 
sama sekali. Semuanya masuk ke dalam satu rekening khusus dan sama sekali belum 
disentuh. Kenapa? Karena, sebagai unit implementasi, pada tahun awal PNK 
mendapatkan dana bantuan dari donor-donor, yakni TNC (The Nature Conservancy) 
dan IFC (ini adalah financing-arm dari World Bank). Sambil dimulainya upaya 
pendanaan mandiri melalui CCF (dan juga produk-produk ekowisata yang akan 
dikembangkan kemudian), beberapa tahun awal ini PNK masih memakai dana dari 
donor untuk melaksanakan pengelolaan, sehingga koleksi dana CCF tidak perlu 
disentuh sama sekali. Namun dengan berjalannya waktu (rencananya selama 7 
tahun... doakan yaaa...), sedikit demi sedikit bantuan donor akan dikurangi dan 
sama sekali habis pada akhir periode yang ditentukan itu.
 
Karena itu, rencananya lagi, CCF akan sedikit demi sedikit pula dinaikkan 
(aduuuh... jangan protes dulu dong...) Seiring kenaikan jumlah pengunjung (yang 
kami harapkan bisa mencapai sekitar 30.000 orang per tahun, dan tidak lebih 
dari ini), serta kenaikan nilai CCF, maka diharapkan pada akhir periode 7 tahun 
itu, Taman Nasional Komodo memiliki dana yang cukup untuk mengelola kawasan ini 
secara mandiri.
 
Lebih dari itu, penggunaan dan pengelolaan CCF dilakukan oleh KCMI, melalui dua 
badan pengurusnya, yaitu FKM (Forum Komunikasi Masyarakat) yang beranggotakan 
sekitar 50-an orang, mewakili masing-masing pemangku kepetingan, dan KPK 
(Komite Pengelolaan Kolaborasi) yang terdiri dari Kepala BTNK, Presdir PNK dan 
3 orang wakil dari FKM.
 
Merekalah yang menentukan seperti apa penggunaan CCF itu nantinya. Namun secara 
garis besar, dana bantuan dari donor maupun koleksi CCF (nanti setelah mulai 
digunakan), akan membiayai program Taman Nasional Komodo yang, dalam kerangka 
KCMI, terdiri dari 3 pilar utama: Konservasi, Pemberdayaan Masyarakat 
(Community Development), serta Ekowisata dan pembiayaan berkelanjutan 
(ecotourism & sustainable financing).
 
Hingga saat ini, inilah berbagai progam yang telah dan sedang kami lakukan 
dengan dana bantuan dari donor, dan... nantinya... dengan dana kontribusi 
konservasi / CCF:
 
1.      Konservasi
Reef health monitoring - untuk memantau tutupan karang / kesehatan karang.
Spawning aggregation site monitoring - untuk memantau area-area pemijahan ikan 
(tempat ikan kawin).
Resource use monitoring - untuk memantau pemakaian sumber daya di kawasan, baik 
oleh pengguna tradisional (nelayan) maupun oleh wisatawan.
Incidental monitoring - untuk memantau hal-hal lainnya yang bersifat 
insidentil, seperti jalur migrasi cetacean (lumba-lumba, paus, dll).
Dukungan 3 kapal patroli dan awak kapalnya (floating ranger station / FRS) 
untuk kegiatan surveillance & enforcement yang dilakukan oleh BTNK.
Evaluasi - semua data monitoring digunakan sebagai basis untuk membuat 
kebijakan / keputusan bagi pengelolaan taman nasional.
Terrestrial monitoring - memantau sumber makanan utama bagi hewan Komodo (rusa, 
babi hutan, dll), selain juga memantau populasi Komodo, yang dilakukan 
bekerjasama dengan San Diego Zoo.
Pengamanan terrestrial yang dilakukan oleh BTNK dari 9 pos ranger yang tersebar 
di sudut-sudut strategis di Pulau Komodo dan Pulau Rinca.
Pendidikan konservasi yang fun dan interaktif bagi anak-anak SD di dalam 
kawasan (ada panggung boneka juga lho...)
Pelatihan bagi guru-guru SMA di Labuan Bajo dan sekitarnya, agar mereka dapat 
memasukkan pendidikan konservasi di dalam muatan lokal.
 
2.      Pemberdayaan Masyarakat
Pembentukan Unit Manajemen Keuangan Desa (UMKD) di desa-desa di dalam kawasan 
(Desa Komodo, Desa Papagarang dan Desa Pasir Panjang), yang seluruhnya dikelola 
oleh masyarakat dan ditujukan untuk memberikan fasilitas kredit mikro bagi 
usaha-usaha mata pencaharian alternatif yang ramah lingkungan.
Program Dokter Keliling yang dilakukan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan 
Manggarai Barat dan BTNK, yaitu program 2-mingguan yang menyediakan jasa medis 
gratis bagi masyarakat di dalam kawasan (dan kini sudah berkembang ke 4 desa 
lainnya di luar kawasan).
Bantuan penyediaan fasilitas kebersihan/kesehatan (WC umum, tempat sampah, 
sumur, dll) dan fasilitas pendidikan (rehabilitasi sekolah, rumah guru, 
penyediaan buku-buku, baju seragam, meja dan kursi, dll).
Bantuan penyediaan fasilitas ibadah.
Dukungan atas mata pencaharian alternatif seperti pembuatan patung Komodo untuk 
dijual ke wisatawan sebagai cinderamata.
 
3.      Ekowisata & Pembiayaan Berkelanjutan
CCF
Token of Appreciation - pembuatan gelang komodo dari batok kelapa yang 
dilakukan oleh kelompok perempuan di Desa Komodo dan Desa Rinca, untuk 
dibagikan kepada beberapa target wisatawan (seperti cruise ships passengers, 
dll).
Pelatihan pemandu wisata alam (Naturalist Guide) bagi masyarakat maupun bagi 
para jagawana.
Penerbitan berbagai materi komunikasi (introductory brochures, posters, display 
banners, dll).
Pembangunan sarana pra sarana di Loh Liang & Loh Buaya (dua pintu masuk utama 
ke taman nasional) yang telah dimulai tahun ini, dengan fokus pembangunan Tahap 
I di Loh Liang, Pulau Komodo.
Keikutsertaan dalam berbagai ajang wisata, baik skala lokal, nasional dan 
internasional (datang dong ke booth kami di PATA Travel Mart, Bali Convention 
Center, 25 - 28 September 2007)
 
Ini baru beberapa dari sekian banyak program-program KCMI di Taman Nasional 
Komodo. Tidak mungkin dijabarkan dan diurut satu per satu. Ini aja udah 
kepanjangan J Tapi percayalah, apapun yang kami lakukan di Komodo, tujuan kami 
sama dengan rekan-rekan semua. Melestarikan Komodo yang indah dan unik ini demi 
masa depan kita bersama. Kalau masih ada pertanyaan atau concern, jangan 
ragu-ragu layangkan email kepada kami ya!
 
Salam manis dari Komodo yang manis,
Rini Sucahyo
Communications Coordinator
PT. Putri Naga Komodo
Email: [EMAIL PROTECTED]
 
 
 
Komunitas Backpacker Indonesia 
2. 
(no subject) From: ::Aris Kunlun 
3a. 
View All Topics | Create New Topic 
Messages 
1. 
 
(no subject) 
Posted by: "::Aris Kunlun" [EMAIL PROTECTED]   kunlun_it 
Tue Sep 11, 2007 3:16 am (PST) 
Mas Yo, kapan mau Dive di Komodo? saya sangat keberatan dengan Opini anda, 
orang flores kebanyakan jadi preman di Jakarta,
coba nanti datang ke Flores kunjungi labuan Bajo, ruteng, bajawa, moni, 
maumere, atau larantuka

saya kasih gambaran sedikit tentang Flores ! flores adalah one of paradise in 
the world... dan orang nya walaupun keliatan kurang friendly, mereka adalah 
orang orang2x yang sangat friendly, nggak ada tuh tukang parkir yang minta 
uang, atau tukang palak seperti di Jakarta..
justru, kalau di jakarta saya paling khawatir dengan kebnayakan Preman berdasi, 
terlalu banyak memakan uang negara...hehe!

cerita Merpati, ini bukan hanya di flores... lho, walaupun transnusa di majalah 
nya begitu manis tcerita entang conecting kota-kota di flores, ternyata hanya 
di ambisi doang.. faktanya, ternyata banyak Jalur penerbangan nya tak pernah 
ada lagi, alias karena nggak ada penumpang...
jadi wajar, kalau pas lagi rame! harga naik, karena hukum ini juga laku di 
kota2x lain di indonesia

alam flores ini indah, orang nya juga ramah2x... dan nggak heran, kalau flores 
overland banyak sekali di minati turis asing, jadi semoga aja teman2x yang 
berpikir Flores Pulau tertinggal.. jalan nya buruk sudah saat nya jauhkan dari 
pandangan.! dan coba Visit Flores, tapi siapkan Duit yang banyak ya... karena 
trip kalau via Flight, flight nya aja bisa makan 2 juta sendiri

nah, kalau soal komodo????? what they to do with de NP? with permit entrance 
hampir 180 rb / orang, donation untuk Lokal Rp. 75.000 / 3 hari atau untuk 
orang asing USD15 ? where is the money dengan ribuan turis asing yang 
berkunjung? ini keluhan bule yang datang kesana...

saya sendiri seneng2x aja, dengan Donasi wajib untuk lokal hampir RP. 100 rb / 
orang... asal, sesuai dengan tulisan di donasi for Community development. .. 
for environment. . coba datang beberapa kali dalam selang tahun, lalu siapakah 
penikmat dari uang donasi? penduduk komodo atau... orang berdasi?

salam
ARIS

Destination is nothing journey is everything 
http://www.indoback packer.com
http://backpacking. indobackpacker. com
http://odesya. multiply. com


       
____________________________________________________________________________________
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for 
today's economy) at Yahoo! Games.
http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow  

[Non-text portions of this message have been removed]



"No SPAMMING or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
backpacking trip visit http://backpacking.indobackpacker.com
Photogallery visit http://photogallery.indobackpacker.com

"Sebelum membalas email, Mohon potong bagian yang tidak Perlu dan kkutip bagian 
yang perlu saja"

Milis tidak bisa menerima ATTACHMENT, untuk menghindari Virus dan Menghemat 
Bandwidth.

- Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
- No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
- menerima email: [EMAIL PROTECTED]
- berhenti dari milist kirim email kosong : [EMAIL PROTECTED]
- Begabung kembali ke milist kirim email kosong : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke