Mas Budhi dan Joe, Saya jadi inget ketika di Kalimantan didampingi guide seorang Dayak Penan (Malaysia). Meski masih memegang adat, ia ini tampil modern sekali loh! Di puncak gunung, ia dunlud email lewat PDA-nya, membalas dengan bahasa inggris dengan pendaki untuk ekspedisi mendatang. Saya sendiri yang merasa pengen 'go-native" tanpa hape atau alat komunikasi malah jadi terasa ironis.
Pertanyaan pertama itu tadi sebaiknya ditanyakan ke mereka, para suku terasing. Banyak sekali rekan2 kita di pedalaman yang masih berpikir makan untuk hari ini. Masih memasang jerat untuk menangkap celeng hutan, masih tidur di rumah pohon. Coba bayangkan, kemudian kita (manusia modern dengan baju, kamera, alat komunikasi canggih dan atribut lain) bertemu mereka untuk pertama kalinya. Konsep modern itu belum ada dalam benak mereka. Nilai materalis ataupun kepemilikan individu belum dikenal. Adanya yah semangat komunitas. Mangan ra mangan kumpul. Berburu untuk semua anggota suku. Nah yang dikecam adalah usaha Pak Kelly ini yang 'sengaja' mencari untuk bertemu suku terasing dengan bayaran yang tinggi (hiks nyaris US $7K). First contact bisa membawa hal yang baik dan bisa sebaliknya. Dulu abad 20an, kebanyakan para adventurer di daratan Papua jika bertemu suku2 ini yah berakhir mati. Apakah suku terasing itu jahat? yah kita coba lihat dari kacamata mereka. Apa yang akan dilakukan jika rumah kita dimasuki tanpa ijin? Saya kira kawan2 yang mengunjungi Baduy atau suku terasing (anyway Baduy mah bukan suku terasing karena akses kesana kan jelas) pastilah bermaksud baik. Ingin melihat kehidupan yang berbeda. Mancari refleksi atas apa yang kita punya dan kita perbuat di dunia modern. Saya kembalikan ke kawan2 yang pernah bertemu suku unik atau terasing untuk bertanya pada diri sendiri. Apa sih yang didapat dari "menonton" mereka? Salam, Ambar On 14 Sep 2007, at 11:42, B. Prasetya wrote: > Dilematis booo....pertanyaannya adalah: > > 1. Apakah suku baduy mau selamanya di sebut suku terasing? Mereka juga > pastinya pengen dong chating - browsing > > 2. Para kaum IBP pastinya ndolanan ke Suku Baduy hanya tuk hilangin > penat > Jakarta....cerita ke teman2 kantor "aku dah dari Baduy"..Apakah > Suku Baduy > bangga terus disebut kaum terasing dan hanya jadi tontonan para IBP? > > Salam > > _budhi_ [Non-text portions of this message have been removed]
