Kalo boleh sedikit saran mengenai topik ini.

Beberapa kenyataan :
1. IBP seperti yang sudah ditulis oleh yang lain, malah sudah menjadi
semacam barometer wisata bagi banyak kalangan khususnya yang memiliki akses
internet
2. Saya juga yakin banyak sekali orang-orang yang bergerak di bidang
pariwisata menjadi member di sini.
3. Ulasan dan informasi yang disampaikan baik di milis ini maupun di web IBP
sangatlah komprehensif
4. Kegiatan dari IBP yang sangat mendukung hidupnya pariwisata Indonesia
terutama dengan kegiatan masalnya.
5. Banyaknya program bertemakan pariwisata yang bisa kita jumpai di televisi
6. Kurangnya support dari instansi terkait
7. Yang paling penting adalah seperti yang ditulis juga oleh rekan-rekan
lain, bahwa Indonesia ini super duper kaya akan tempat wisata dan keragaman
budaya, namun sepertinya belom pernah dimanage secara baik dan serius.

Menurut saya, seharusnya IBP bisa menjadi 1 motor penggerak pariwisata
Indonesia dengan cara (mungkin, ini sekedar usulan) :
1. Menjadi bagian dari propaganda wisata Indonesia, dengan cara misalnya :
   - Sticker propaganda wisata Indonesia di tiap kunjungan IBP (mirip
cuti-cuti Malaysia getoh deh)
   - Penulisan artikel wisata Indonesia bukan hanya di milis dan web IBP
tapi juga di beberapa media lain yang bisa diakses oleh orang banyak. Bahkan
mungkin IBP bisa menjadi source dari banyaknya program wisata tv dan media
eletronik dan cetak lainnya.
   - Banner exchange dengan berbagai tour and travel Indonesia
   - Bahkan mungkin membentuk 1 badan yang nantinya bisa memanage tentang
pariwisata kecil-kecilan Indonesia, misalnya dengan mengadakan penyuluhan
kepada beberapa management wisata yang terpilih. Jadi, katakanlah ketika
mengadakan gathering di satu tempat, sekaligus kita memberikan penyuluhan
kepada para pekerja wisata di sana mengenai hal-hal yang penting dan bisa
membangkitkan daya tarik wisata di tempat itu sendiri. Mulai dari management
peoplenya, kemudian tempat perbelanjaan, manner bagaimana menghadapi turis,
mungkin juga pelajaran bahasa inggris, dll dll (ini mungkin agak muluk, tp
why not? :P)
2. Bekerjasama dengan pihak terkait seperti ASITA untuk mengadakan event
pariwisata yang lebih menarik.

Malah yang sempat terpikir oleh saya, dan mungkin juga beberapa rekan, yaitu
mengenai IKON JAKARTA sendiri (maaf, bukan karena saya orang Jakarta, tapi
Jakarta kan sebagai pusat perhatian di Indonesia).
Ketika kita jalan ke luar negeri, banyak sekali kita temukan souvenir berupa
GANTUNGAN KUNCI, asbak, tempelan kulkas, dll bertemakan nama dari tempat
wisata tersebut. Sampai kadang kala ketika ada rekan yang pergi ke luar
negeri, kita sering berujar "Awas loe yee, jangan sampe oleh-olehnya
gantungan kunci lagi..." :P
Namun kesemua merchandise itu tetap diproduksi dan tetap LAKU..
Di Jogja, Bandung, dan Bali mereka punya sesuatu yang menjadi daya tarik dan
memang identik dengan tempat tersebut dengan Dagadu, dan Jogernya.

Bagaimana halnya dengan Jakarta? to be frank, we have NOTHING! :P
Jadi kalo mungkin misalnya ada kreatifitas di antara rekan-rekan di sini,
bisa aja kita misalnya bikin Kaos ala Jakarta, gantungan kunci, asbak, dll
Penjualannya bagaimana? yah mungkin dengan cara awal, misalnya dengan bazaar
yang bisa diadakan di mana saja, atau bahkan mungkin dnegan memiliki satu
stand kecil permanen di bilangan monas, atau juga dnegan memanfaatkan para
penjual di sana dengan cara bagi hasil...

Kemudian yang sempat membuat saya heran adalah, ketika mengunjugi Volendam
(satu desa nelayan kecil di Belanda), terdapat banyak sekali photography
shop yang menawarkan jasa pemotretan dengan baju khas nelayan Volendam
dengan harga yang menurut saya MAHAL, mungkin karena euro.. :P
Sangat sederhana, namun dikerjakan secara sangat professional.
Di dindingnya banyak sekali foto-foto customer yang cukup terkenal, dan yang
paling banyak malah dari Indonesia... ironis? :P
Kenapa kita ga punya photography shop untuk baju khas BETAWI?
Di Bali mungkin ada, tapi itupun tidak semua orang tau...

Well, hanya sharing aja.. semoga berkenan..

Let's Do More for Better Indonesia...

Salam,
Yus


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke