Kris, Ada perbedaan perilaku yang saya amati antara orang jawa (maaf tidak primordial tapi saya sendiri orang jawa tulen) dan orang inggris kalau tiba di bandara. Orang jawa begitu datang segera menyapa petugas, clingak clinguk cari tempat. Gagal, bertanyalah pada orang atau siapapun yang terlihat pake seragam. Lah mereka kan pasti lebih tahu. Sedang orang inggris kagak pake basa basi terus aja. Membaca situasi lihat 'tanda-tanda alam' misalnya papan penunjuk. Bertanya adalah urusan kesekian.
Rupanya memang saya masih mengandalkan komunikasi verbal untuk mendapatkan informasi, sedang mereka lebih mengandalkan komunikasi visual. Papan penunjuk, peta lantai itu sangat penting. Tanpa petugas bagian informasi-pun kalau dua hal tadi ada akan sangat memudahkan penumpang. Saya mengibaratkan bandara Sukarno Hatta itu alas gung liwang-liwung. Kalau bukan yang sering kesana, mana tau hal sekecil begitu. Belum penitipan tas, warnet saja nylempit hanya satu. He he he...memang itulah uniknya Kris. Kalau ngga beda mana ada cerita. Salam, Ambar --- In [email protected], krisna diantha <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > dua hal yang mungkin membuat negeri ini begitu susah : > terlalu banyak yang harus dilayani dan mutu sdm yang > rendah. > > setidaknya, terkesan dalam kunjungan kesekian ke tanah > air saya ini belakangan ini. > > kisah untuk mendapatkan penitipan barang di bandara > soekarno hatta, begitu menjengkelkan. mungkin karena > saya yang terbiasa dengan kehidupan swiss yang sangat > efisien, begitu mendapatkan kesulitan kecil ini, > akhirnya terasa menjengkelkan. >
