Melly, Ada beberapa cara kalo mo berpetualang utk waktu yg lama:
1. Tinggalkan dulu pekerjaan sementara (6 bln - 1 thn). Tapi ini syaratnya berat yah. Pertama2, kita harus nabung dulu supaya dapat dana cukup untuk hidup tanpa bekerja 1,5 thn. Utk traveling 1 thn, sisanya nanti 6 bln lagi buat cari kerja :) Caranya gimana: yah selama kerja, demi untuk cita2 traveling, kita harus hidup sederhana. Lupakan makan di restoran-restoran enak n mahal, lupakan dulu deh kehidupan dugem. Liburan2 kecil dilupakan. Kecuali yg punya pekerjaan yg gajinya gede yah:). Buat planning untuk jalan-jalannya kemana, juga buat rencana darurat (misalnya: kl tiba2 abis duit di tengah jalan, apa yg harus dilakukan). Intinya: kita punya mental dan mau untuk berpetualang. Terus, juga yakinkan diri bahwa skill kita itu masih bisa diterima di dunia kerja setelah kita selesai berpetualang (saya tidak bicara untuk yg punya bisnis sendiri tapi untuk kita yg orang kerja). Ukur dulu juga skill kita (misalnya apakah kita lulusan S1 atau S2 yg lebih gampang dpt kerja, misalnya : IT, Akuntansi, Arsitek, Sipil, etc....). Jangan kita cuma lulusan SMA, tapi PD banget buat traveling lama. Saya bukan mengecilkan arti yg lulusan SMA/sederajat, tapi realitas di Indo, kalo mo cari kerja, layer pertama yg mesti dihadapin itu adalah ijasah........ Masalahnya, kalo begini pasti banyak tanggapan mengatakan ngapain belain jalan-jalan daripada karir. Emang bisa dimakan tuh pengalaman jalan-jalan/adventure? Yah, mungkin beberapa orang tidak mempunyai hati yg sama, bagi mereka mungkin cukup berlibur 7 - 10 hari dalam setahun, udah cukup. Tetapi, jika kita ingin menuruti kata hati, ada resiko-resiko yg harus diambil. Tapi, memang itu kan choice masing-masing. Pengalaman adventure, memang nggak bisa diukur dengan materi. Menjelajahi suatu daerah, dengan budaya dan kebiasaannya masing, bisa memperkaya wawasan, pengalaman hidup dan membuat pikiran kita nggak sempit bahwa there are other cultures and habits beside ours. 2. Kalo anda punya residence di negara2 welfare state (Ausi, New Zealand, Amrik or West European countries) ini lebih enak. Saya banyak ketemu "bule-bule" yg mengandalkan biaya jalan-jalannya dari tunjangan pengganguran dari pemerintahnya. Jadi, daripada mereka hidup di negaranya mahal, mereka tinggal di wilayah-wilayah yg jauh lebih murah (Asia Tenggara) dan mereka bisa jadi raja dah. Saya pernah dapat info dari orang Finlandia bahwa tunjanganya sebulan adalah US$ 1,000 (bayangin). Cuma untuk hidup backpack di Asteng or kawasan lain yg lebih murah, enak nggak.... :) Anyway, it's all about choice. Rgds Hendry At 11:49 AM 4/4/2008 +0700, you wrote: >nge-backpack gratis itu yang aku impikan selama ini. untuk pencarian dana >sekarang lagi kepikiran bikin proposal buat keliling indonesia. cuma >kendala yang ada sekarang gimana mau keliling indonesia wong aku orang >kantoran biasa. yang cuma punya 12 hari dlm setahun untuk cuti. > >aq sering banget bertanya2 sendiri, org2 yang suka keliling2 gitu apa >mereka meninggalkan kerja kantoranny ya trus kerjaanya apan sich. kok bisa >ya. aq sendiri kalo liburan paling cuma bisa sehari-duahari kalo lebih >dari itu harus mengambil jatah cuti tahunan. berdasarkan cerita pak aris >tentang pak sugiono yang butuh waktu 2 bulan untuk jalan kaki ke ujung >kulon berarti harus meninggalkan kerjaanny selama itu. cutikah dia atau >malah resign dari kerjaanya. mohon maaf kalo pertanyaanq kurang berkenan. >tapi emang seperti itulah yang aku pikirkan. kalo tentang jalan kaki dari >sini kesono, sepedaan, bagiq itu bisa aja, tapi yang jadi kendalaq adalah >waktu yang harus dialokasikan dengan jadwal kerja. >kepikiran juga mau ganti profesi dari engineer yang kantoran menjadi >engineer yang surveyor/inspektor >atau bahkan dari engineer menjadi pembawa acara pelancong (he..he..he..). >sekali lagi mohon maaf jika kurang berkenan. > >menyinggung tentang survival, mau share pengalaman dikit. >dulu jaman kuliah pernah ikut diklatsar pecinta ala di kampus. pas waktu >diklat lapangannya dalam schedule yang ada dalam 1 hari itu aja para >peserta diwajibkan menyerahkan semua logistik yang dibawa kepanitia. >kemudian kita dibawa ke suatu lembah pringgodani namanya di lereng gunung >arjuno, kemudian kita diminta untuk membuat masakan dari tumbuh2an yang >ada disekitar lembah. >semua peserta juga diminta untuk memanfaatkan ilmu meng-inventarisir tanaman2. >kita diwajibkan juga menyebutkan nama tanaman2 apa yang kita makan, >beruntung gak disuruh menyebutkan nama latinnya. he...he...he... >waktu itu kelompokkq menggunakan akar2 tumbuhan apa gitu aq gak tahu nama >tumbuhan. aq gak peduli namanya yang penting aq bisa makan. ini karena >salah satu temen sekelompokq ada yang perbendaharaan pengetahuan tentang >jenis tumbuhannya cukup banyak. akhirnya oyot2an (akar2an) itu bisa >disulap menjadi masakan yang cukup enak(ya iyalah di hutan apa aja yang >penting bisa dimakan jadi enak). >akibat ketidaktahuanq tentang nama jenis tumbuhan itu aku dihukum push-up >2 set oleh instruktur2q. >sejak saat itu aq baru tahu kenapa aq mesti belajar tentang jenis >tumbuh2an.(waktu diklat ruang aq sebel banget krn harus belajar nama2 >tumbuhan, pikirq aq sekolah teknik ngapain harus belajar yg beginian). >yang hebat lagi kelompok lain, mereka selain menggunakan tumbuhan sebagai >survival juga menggunakan cacing tanah yang kemudian di oseng2 >(hieeeee,,,,,mana mau aku makan begituan)tapi kata temen2q enak2 aja kok. >kalo diingat2 sekarang keren juga kali ya makan cacing dihutan, tp kalo >pas ngelakuin pikir beberapa kali.he...he..he... > >gitu aja dech sori kalo kepanjangan. > >warm, >melly. >
