Ris, aturan Nepal itu udah lama kok. Ngga cuma tahun lalu. Alasan utama bukan karena banyak yang ilang, tapi mereka berusaha memproteksi taman nasional dan memberikan peran besar industri trekking & pariwisata untuk penduduk lokal. Termasuk setiap trekker/climber harus mendapatkan trekking/climbing permit sebelumnya. Lah kan TN perlu uang untuk memperbaiki kerusakan atas jejak langkah kita (bayangkan 100ribu orang menjejak tanah dalam setahun, berapa dampak lingkungan yang dihasilkan?).
Saya sih positif saja. Sebagai penikmat alam, semua tidak datang tanpa biaya. Siapa yang merasa mengklaim TN itu milik rakyat? iyah tapi tidak gratis. Siapa sih yang bayarin jagawana (yang gajinya menyedihkan tapi bertanggung jawab soal nyawa orang). Siapa yang mau memberi makan relawan atau tenaga SAR pencari misalnya. Nepal itu salah satu negara termiskin dengan kemungkinan problem lingkungan yang besar (hasil omongan Nanung dengan sesama backpacker yang bapaknya kerja untuk Unesco). Turisme/trekking adalah satu2nya sumber utama. Sawah ngga terlalu subur, laut ngga ada, politik carut marut. Beda sekali dengan Indonesia :D Saya kira aturan dibuat untuk menjamin keselamatan pendaki. Ribet memang tapi it's for your safety. Pernah saya berargumen tentang pendaki masal vs pendaki independen (tidak harus solo tapi dibatasi). Alasan saya adalah impact yang dihasilkan terhadap lingkungan. Misalnya 100 orang mengunjungi gunung salak dibanding 5 orang. Betul impact sampah yang dihasilkan, kerusakan alam yang dibuat 100 orang lebih besar daripada 5 orang itu. Tapi pendakian massal itu lebih terkontrol. Ada mekanisme yang membuat pergerakan 100 orang ini dibatasi. Artinya rutenya jelas, jalannya ya lewat itu karena si leader melapor dulu. Nah bagaimana dengan 5 orang itu? Tanpa kontrol, kelima orang ini bisa memberikan dampak yang lebih luas. Mereka bisa membuat rute baru, membongkar jalur dan hutan yang dilindungi. Juga jagawana tidak bisa mengetahui kondisi terakhir jika mereka hilang. Siapa yang dihubungi, siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang bersedia mencari. Jadi saya berhati-hati dengan tipe pendakian massal. Bukan anti tapi ternyata itu salah satu kontrol trekking yang ampuh. Apalagi buat pendaki baru yang belum tahu kondisi di lapangan. Yang saya tegaskan soal mendaki massal adalah kita menjadi tergantung pada orang lain (kawan, leader). Jadi kemandiriannya kurang. Juga resikonya lebih besar karena beragamnya kemampuan dan stamina. Keuntungannya sih murah, enak, jalur tinggal ngikut dan more fun (yang terakhir ini relatif sih). Saya ambil contoh TN New Zealand (kebetulan Rinjani mengambil beberapa sistem dari sana). Walaupun pendaki diminta bawa guide & porter tapi pendaki independen dipersilakan. Dengan catatan ia bisa menunjukkan pengalaman atau sudah pernah trekking didaerah situ. Biasanya permit independen trekker diberikan pada pendaki lokal atau negara tetangga. Nah sama kan dengan Indoensia. Kalau kita kliatan udah biasa naik gunung (he he he tampang cukup membantu) memberi ID yang jelas, biasanya sih dilepas. Nah kalau udah sejak di ijin awal ngga bole sendirian nah berarti tingkat hilang/mortalitas di gunung itu tinggi. Ngga ada salahnya sih ditemani dan ngga ada jeleknya berbagi rejeki membayar porter 50ribu. Kalau buat safety, kenapa tidak? Salam, Ambar > > Tahun lalu, seluruh organisasi dan guide adventure travel di Nepal menyuarakan tentang " solo trekkingTidak boleh di lakukan lagi di Nepal alasanya banyak yang hilang"atau...???Petisi nya, semua turis atau penginjung wajib membawa guide hiking maupun trekking di seluruh destinasi Di Nepal..Ada yang bilang " halah, ini semata2x agar semua guide bisa dapat uang daripekerjaan tidak jelas nya"Ada yang bilang " karena jasa guide di Nepal terlalu murah",Ada yang bilang " karena Nepal menjadi destinasi No. 1 di dunia untukpenggila trekking. Bagaimana di Indonesia? Aturan di buat bukan belajar dari kesalahan, tapiaturan di buat untuk masing2x cari selamat dari protes. ini agak payah!Di Rinjani, saya pernah hiking solo, petugas Cuma bilang.. " hati2x dijalan, " coba kalau naik gunung gede, mana bisa.. karena minimal harus 3,Herannya, kadang aturan max pendakian nggak pernah di batasi...Ada yang setuju dengan pendakian missal? Saya termasuk yang anti pendakianmassal..SalamARIS > . > >
