Numpang cerita juga ah, kurang lebih satu tahun yang lalu saya bepergian ke salah satu suku di papua, yaitu suku knasiamos di kepala burung, tepatnya di Kabupaetn sorong Selatan, ini merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten induk yang sebelumnya adalah Kabupaten Sorong. Di sorong sendiri ada beberapa kabupaten pemekaran lain, yaitu Kabupaten Raja Ampat. Tapi pengalama ini saya bepergian ke salah satu wilayah adapt suku Knasiamos yaitu wilayah adat Seremuk.
Memang yang menajdi kendala kalo mo traveling ke daerah papua adalah cost yang tinggi, kebetulan saya ada pekerjaan kantor dan juga memang ada teman orang local yang bisa membantu kalo mau mencari informasi tentang tempat2 eksotik di Papua. Yang paling terkenal sih adalah Raja Ampat, karena memiliki trubu karang yang paling indah sedunia katanya. Kembali ke Knasiamos, suku ini berada di tengah hutan belantara, danuntuk mencapainya kita mesti melakukan perjalan selama 2-3 hari. Bisa jalan darat dan bisa juga jalan sungai, kalo jalan darat kita harus naik travel yang menuju Teminabuan dan selanjutnya kita akan naik ojek sampai di batas hutan dan melanjtkan perjalanan kurang lebih 1 hari. Kalo naik perahu kita akan menyusuri sungai Klamono yang berkelak kelok seperti ular, dan jalan yang kedua ini yang saya ikuti. Wuih.sepanjang perjalanan menggunkan perahu temple orang local menyebutnya, yaitu perahu dari kayu dan menggunkan emsin speedboat, perjalan ini memakan waktu hamper 1 hari. Sepanjang perjalan kita akan melihat hal-hal yang sangat eksotik, kaya masyarakat adat papua yang naik perahu dan mendayung sambil ambil sagu sepanjang sungai kalmono, dan juga hutan nipah sejauh mata memandang. Mata kita dimanjakan oelh banyaknya satwa liar, seperti buaya, urung kakatua, cendrawasih yang masih terlihat di sepanjang sungai klamono ini. Pokoknya klo kita melihat filem nasional geografi, hampir kaya gitu deh suasananya. Dan bagi photografer pasti tidak mungkin meninggalkan moment2 seperti ini. Sekita jam 4 sore aku baru nyampe di muara sungai yang menuju kampung yang merupakan salah satu kampung pertaman sebelum ke kampung Mangroholo (nama kamung suku knasimos ini). Karena hari sudah hampir malam, dan ternyata air juga tidak mendukung untuk menyelusuri sungai sampai ujung, karena kena air surut, sehingga pilihanya adalah menginap dahulu satu malam di muara sungai sampai menunggu air naik lagi. Ternyata tidur diatas perahu juga menajdi pengalama yang sangat tidak mudah terlupakan, bergoyang-goyang karena ada gelombang, dan juga langsung mata dimanjakan oelh ribuan atau jutaan mungkin milyaran kunang-kunang di pohon, aku tadinya berpikir apakah ada kampung atau rumah yang penuh lampu, setelah aku liat lebih dekat ternyata satu pohon penuh dengan kunang-kunang, dan baru pertama kali ini aku melihat begitu banyaknya kunang-kunang yang memenuhi satu pohon, mungkin milyaran ekor. Gila bener...sangat menajubkan seperti pohon natal hidup, dalam hati aku berdoa, maha besar tuhan. Paginya aku baru menelusuri sungai, hampir 2 jam menggunkan perahu dan selanjutnya jalan kaki kurang lebih1 jam untuk sampai kampung yang pertaman, dan dari kampung ini menuju kampung mangraholo kurang lebih 6 jam perjalan yang penuh dengan darah-darah, karena banyak sekali pacetnya, jadi sore sampai dikampung seluruh kaki dari jempol sampai kelingking penuh darah dan lintah yang ngejendol sebesar jempol. Selama 3 hari aku berada di kampung mangroholo ini di salah satu suku Knasiamos, Papua. Perjalanan yang tidak pernah terlupakan, tapi yang mesti dipikirkan adalah cost yang snagat tinggi, untungnya aku dibiayai oleh kantor. Kalo ada teman n teman yang butuh bantuan info tentang papua, mungkin aku bisa bantu sedikit2 , dan itulah pengalaman solo travel pertama diriku, senang bercampur dak dik duk...dan sangat menegangangkan berpetualang di alam liar papua. Regards Harry _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of harly ramayani Sent: 19 Nopember 2008 16:01 To: indobackpacker Subject: [indobackpacker] Re: Solo Traveller : trend baru? Pengalaman pribadi saya 1 tahun terakhir ini nyoba backpacking sendirian karena temen2 ga ada yang berani jalan2 berdasarkan info2 yang dikumpulin hanya dari internet, sedikit keberanian, rajin bertanya ke penduduk lokal, mengumpulkan banyak brosur & petunjuk jalan dan semuanya diurus sendiri tanpa agent dan tanpa teman2 di tempat yang dikunjungi tsb. Penjelajahan pertama kali ke luar negeri (Singapore, Malaysia, Thailand), sebenernya sekarang lagi planning mencoba yang dalam negeri, tetapi ternyata susah sekali mendapatkan info2 transportasi (angkot, bus, kereta) dan hostel atau terpaksa memilih budget hotel. Rasa2nya kalau dilihat dari sisi biaya keliling dalam negeri sama bahkan bisa lebih mahal daripada ke luar negeri. Sebagai contoh : hostel yang tidak terlalu banyak tersedia di Indonesia, padahal akomodasi ini yang paling cocok buat solo traveler dari pada budget hotel yang lebih cocok buat traveler yang berkelompok. Pertimbangan lainnya dalam hal keamanan untuk perempuan yang backpacking seorang diri juga yang selalu menjadi ganjalan utama. Saya sering mendapat tugas kantor untuk ke kantor2 cabang yang tersebar di kota2 besar di Indonesia. Dikesempatan itu saya sering bertanya kepada supir kantor atau teman2 dikantor2 cabang tentang transport untuk berkeliling di kota tersebut, kebanyakan dari mereka tidak terlalu tau rute2 angkot/bus. Info2 transportasi itu juga sangat susah didapat jika melihat brosur2 yang didapat dari bandara2 di kota2 Indonesia (taraf internasional / domestik), sedangkan brosur2 lengkap untuk transportasi ini sangat mudah didapat di bandara luar negeri atau kantor tourism board. Pengalaman seru saat imigrasi diperbatasan Sadao (Kedah,MY - Songkhla,TH) naik taxi Kedah sendirian lalu di stop dan di tanya2 karena sedang ada razia, karena setiap weekend banyak wanita2 yang pergi ke provinsi Songkhla untuk bekerja part-time di tempat karaoke2. Tidak terlalu lama ditanya2 dan dapat ucapan selama berlibur dari Pak Polisi setelah saya menunjukkan tiket pulang ke Indonesia. Keuntungan cewe backpacking sendirian yang saya dapat pada saat di Hat Yai mau pergi ke Patung Budha di puncak bukit, saya jadi di anterin pake motor ama bapak2 yang awalnya cuma saya tanya2 gimana cara untuk mendaki bukit itu. Turun dari bukit itu juga di anterin ama bapak2 penjaga kuil disana, sedangkan turis2 lain yang saya temui disana semua menyewa taxi atau ikut tour harian :) Dari backpacking ke luar negeri ini membuat saya menyadari kalau tempat2 pariwisata Indonesia ga kalah dengan negara2 itu jika informasi2 berupa brosur2 tempat2 wisata di berikan detil2 transportasi dan tarif tetap atau perkiraan tarif dari kendaraan2 tersebut. Supaya turis lokal dan LN yang solo traveler menjadi lebih mudah menyalurkan hobi nya. Dari beberapa kali perjalanan sendirian itu pengetahuan tentang suatu daerah, budaya dan penduduknya jadi bertambah banyak dan pengalaman itu terasa lebih seru jika dibandingkan travelling berkelompok. Regards, Harly (Mei) [Non-text portions of this message have been removed]
