Ehm..Kalo Kep. Raja Ampat, memang indah dan eksotik, karena hampir 500 pulau
yang mengeliling ujung pulau papua ini, atao juga bisa di sebut dengan
Kepala Burung. Kabupaten yang memiliki wewenang administratif adalah
Kabupaten Raja Ampat, yang ibukotanya berada di Pulau WAGIO, kuranglebih 30
menit perjalan dengan menggunkan kapal cepat dari Sorong. Kalo masyarakt
bilang tanah besar, akrena sorong sendiri berada di Pulau Papuanya sedangkan
Wagio adalah bagian dari pulau Raja Ampat.

 

Aku pernah melakukan perjalanan ke beberapa pulau di Kepulau Raja Ampat,
yaitu pulau Salawati, pulau Zedman. Pulau Bantata dan pulau Dom. Semuanya
berada dalam kawasan kepulauan raja ampat ini. Memang kalo mendengar Raja
AMPAT jadi pulaunya cuman ada 4 doang, pikiran anda pasti salah, akrena
menurut hitungan beberapa penelitian kepulauan raja ampat ini hampir 1000
pulau kecil yang tersebar sekelilinya. Dan untuk bawah lautnya?
Hem....hem..hem...luar biasa sekali. Indah tenan, dan mungkin satu-satunya
yang terindah di dunia. Dan aku pernah ngobrol ama angkat laut yang beraada
di sorong, mereka kadang2 di minta untuk mengawal kapal pesiar orang2 kaya
amerika latin untuk melakukan diving di kepulauan Raja Ampat.

 

Hal yang menarik adalah wisata baharinya, dan mungkin salah satu tivi di
negeri ini pernah tuh nanyanginnya, lewat program "Jejak Petualang". Memang
ada beberapa lembaga internasional seperti Consrvation internasional yang
merupakan lembaga lingkungan yang memiliki site kerja di Kepulaaun Raja
Ampat ini, mereka juga memiliki cotage untuk para turis yang di kelola oleh
orang indonesiane juga. Kawan2 bisa cek di wibsitenya :
www.conservationinternasional.org
<http://www.conservationinternasional.org/>  ato dengan profesor Google,
tinggal klik : RAJA AMPAT, pasti deh udah banyak info yang bersileweran
disana.

 

Yang jadi masalah bagi kita para turis lokal (turlok) adalah cost yang besar
kalo mesti pergi ke sono, ada alternatif lain trasport selain pesawat
terbang, kita bisa naek kapal laut dan emang butuh waktu agak lama, yaitu
sekitar 5 hari, dan kadang2 bisa sampai satu minggu dari pulau jawa untuk
sampai ke Sorong, karena routenya biasanya adalah : Surabaya-balikpapan,
pare-pare-ambon-sorong-. Kalo sudah sampai di sorong banyak kok perahu2
kecil yang bisa kita sewa untuk antarin ke pulau2 yang kita inginkan. Dan
aku sarankan bagi penggemar mancing inilah surganya buat pemancing.

 

Aku pernah bercanda sesama temans ekantor, klo aku dipilih untuk pilihan
untuk tinggal antara jakarta, kalimantan, Sulawesi dan papua, aku akan ambil
papua, akrena indah dan eksotik. Pertama karena emang orang dan budaya
sangat2 berbeda dengan indonesia bagian barat (kalimantan, jawa dan
sumatera), warna kulit, termasuk juga makanan, walaupun jaman soeharto di
seragamkan tapi maslah selera kan ngga bisa seragam. 

 

Beberapa bisnis yang menonjol di Kepulaun Raja Ampat adalah Budidaya
Muntiara ada yang warna item dan warna putih, dan murah2 lagi dan ini kita
bisa dapat di sepanjang pantai "tembok berlin" istilah orang lokal menamai
pantai mereka yang ada depan kota Sorong dan juga ada budidaya Taripang oleh
masyarakat lokal. Kalo yang hoby makan seafood, wah surganya ini,...pokoknya
sepanjang pantai tembok berlin ini orang banyak sekali menjajakan/jualan
seafood, dan masih segar2 lagi, ngga ada yang namanya formalin segala semua
ikan dan kerangnay baru diangkat dari laut boo.

 

Di Pulau WAGIO, ada seorang bapak2 yang bisa memanggil burung Cendrawasijh
untuk datang menarik dari alam, ini antraksi khusus dan biasanya kita memang
harus memberi tip buat pawangnya, bagi yang senang diving sok,..ada beberapa
tempat yang bisa menyewakan alat diving plus instrukturnya. Jadi anda tak
perlu takut untuk ngga bisa ngapa-ngapain kalo udah sampai di sorong, Papua.

 

Sekelumit cerita tentang rajaampat, salam/harry   

 

 

 

 

 

  _____  

From: Adolf I T [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 20 Nopember 2008 15:05
To: 'indobackpacker'; Harry Gunawan; Kang Giman
Subject: Re: [indobackpacker] Alam Liar papua

 

Alam Papua pernah diulas salah satu majalah wisata....Very
menarik......demikian yang disebut rekan Giman perihal Raja Ampat....Sebagai
divers merupakan kerinduan bisa turun di salah satu "best site coral in the
wordl", Raja Ampat. Cuma kalau ngelihat harga, terpaksa gigit jari.....15
juta untuk 7 hari.....hhhmmm......

 

Memang menarik bahwa akhirnya ada orang bule yang menjadi pengelola wisata
di Raja Ampat. Dia bisa begitu pertama punya modal.... Kedua, punya dan
menerapakn manajemen rapi....Ketiga, yang juga penting, bisa membidik market
tertentu. Artinya, dia sudah tahu kalau market lokal akan sulit karena nilai
rupiah...Sebaliknya mereka bidik target market bule atau orang asing, yang
paham betul perilaku dan kebiasaan bule-bule berlibur. Misalnya rata-rata
menghabiskan waktu bisa seminggu lebih....Berarti bisa dikalkulasi balik
modal...Keempat, paham birokrasi perijin-an atau perilaku birokrat
disana....paham lingkungan, masyarakat, dll.... 

 

Pertanyaannya, apakah pengusaha lokal tidak mampu atau tidak punya
modal....? kalau dibilang ngga punya modal saya kira kog tidak....Saya yakin
banyak pengusaha yang punya banyak modal...Pertanyaan-nya mau atau tidak
garap bisnis ini....? senang ngga dengan laut...?suka diving ngga.....?
Punya duit tapi ngga suka diving, ngga suka laut...ya percuma........ 

 

Ya semoga aja Papua bisa semakin di akses....Saya masih punya cita-cita
terpendam selain diving ke Raja Ampat juga ingin ke Merauke. Mau pegang 'n
berfoto ria di tugu yang hanya ada 2 yaitu di Sabang dan Merauke. Kalau di
Sabang sudah pernah, tinggal Merauke-nya....Cuma kesana-nya itu
lho......hhhhmmmm.........gigit jari lagi dech......

 

cheers

 

----- Original Message ----- 

From: Kang Giman <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  

To: 'indobackpacker' <mailto:[email protected]>  ; Harry
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>  Gunawan 

Sent: Thursday, November 20, 2008 12:40 PM

Subject: Re: [indobackpacker] Alam Liar papua

 

Thanks for sharing, Mendengar Papua dan Raja Ampat, mengingatkan aku pada
email di milis sebelah, dimana atas sebuag usaha dari 1 orang berkebangsaan
belanda, dan 1 orang berkebangsaan jerman untuk memperkenalkan raja 4 ke
dunia luar, sehingga raja 4 mejadi cukup terkenal dan sempat mendapat award
juga bantuan dari bank dunia, dan kalau tidak salah juga pernah di ulas di
elshinta TV 

mungkin kin juga bisa menjadi motivasi buat IBP untuk membuat catatan
perjalanan di daerah nya agr supaya lokasi wisata di daerah nya terkenal
bisa dengan e-mail ke milis ini atau menuangkanya pada sebuah website,
karena kebanyakan backpaker mencari infoemasi juga dari internet

misal bandung, ada apa dengan bandung kemudian bagaimana menempuhnya dan
kisaran tarifnya 
mungkin ini akan sangat membantu, bukan hanya para backapker tapi juga
wisatawan lain yang suka dengan kegiatan traveling 

bagaimana, ada yang mau cuba ? 

----- Original Message ----- 
From: Harry Gunawan 
To: 'indobackpacker' 
Sent: Thursday, November 20, 2008 10:37 AM
Subject: [indobackpacker] Alam Liar papua

Numpang cerita juga ah, kurang lebih satu tahun yang lalu saya bepergian ke
salah satu suku di papua, yaitu suku knasiamos di kepala burung, tepatnya di
Kabupaetn sorong Selatan, ini merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten
induk yang sebelumnya adalah Kabupaten Sorong. Di sorong sendiri ada
beberapa kabupaten pemekaran lain, yaitu Kabupaten Raja Ampat. Tapi
pengalama ini saya bepergian ke salah satu wilayah adapt suku Knasiamos
yaitu wilayah adat Seremuk. 

Memang yang menajdi kendala kalo mo traveling ke daerah papua adalah cost
yang tinggi, kebetulan saya ada pekerjaan kantor dan juga memang ada teman
orang local yang bisa membantu kalo mau mencari informasi tentang tempat2
eksotik di Papua. Yang paling terkenal sih adalah Raja Ampat, karena
memiliki trubu karang yang paling indah sedunia katanya. Kembali ke
Knasiamos, suku ini berada di tengah hutan belantara, danuntuk mencapainya
kita mesti melakukan perjalan selama 2-3 hari. Bisa jalan darat dan bisa
juga jalan sungai, kalo jalan darat kita harus naik travel yang menuju
Teminabuan dan selanjutnya kita akan naik ojek sampai di batas hutan dan
melanjtkan perjalanan kurang lebih 1 hari. Kalo naik perahu kita akan
menyusuri sungai Klamono yang berkelak kelok seperti ular, dan jalan yang
kedua ini yang saya ikuti. 

Wuih.sepanjang perjalanan menggunkan perahu temple orang local menyebutnya,
yaitu perahu dari kayu dan menggunkan emsin speedboat, perjalan ini memakan
waktu hamper 1 hari. Sepanjang perjalan kita akan melihat hal-hal yang
sangat eksotik, kaya masyarakat adat papua yang naik perahu dan mendayung
sambil ambil sagu sepanjang sungai kalmono, dan juga hutan nipah sejauh mata
memandang. Mata kita dimanjakan oelh banyaknya satwa liar, seperti buaya,
urung kakatua, cendrawasih yang masih terlihat di sepanjang sungai klamono
ini. Pokoknya klo kita melihat filem nasional geografi, hampir kaya gitu deh
suasananya. Dan bagi photografer pasti tidak mungkin meninggalkan moment2
seperti ini. 

Sekita jam 4 sore aku baru nyampe di muara sungai yang menuju kampung yang
merupakan salah satu kampung pertaman sebelum ke kampung Mangroholo (nama
kamung suku knasimos ini). Karena hari sudah hampir malam, dan ternyata air
juga tidak mendukung untuk menyelusuri sungai sampai ujung, karena kena air
surut, sehingga pilihanya adalah menginap dahulu satu malam di muara sungai
sampai menunggu air naik lagi. Ternyata tidur diatas perahu juga menajdi
pengalama yang sangat tidak mudah terlupakan, bergoyang-goyang karena ada
gelombang, dan juga langsung mata dimanjakan oelh ribuan atau jutaan mungkin
milyaran kunang-kunang di pohon, aku tadinya berpikir apakah ada kampung
atau rumah yang penuh lampu, setelah aku liat lebih dekat ternyata satu
pohon penuh dengan kunang-kunang, dan baru pertama kali ini aku melihat
begitu banyaknya kunang-kunang yang memenuhi satu pohon, mungkin milyaran
ekor. Gila bener...sangat menajubkan seperti pohon natal hidup, dalam hati
aku berdoa, maha besar tuhan.

Paginya aku baru menelusuri sungai, hampir 2 jam menggunkan perahu dan
selanjutnya jalan kaki kurang lebih1 jam untuk sampai kampung yang pertaman,
dan dari kampung ini menuju kampung mangraholo kurang lebih 6 jam perjalan
yang penuh dengan darah-darah, karena banyak sekali pacetnya, jadi sore
sampai dikampung seluruh kaki dari jempol sampai kelingking penuh darah dan
lintah yang ngejendol sebesar jempol. Selama 3 hari aku berada di kampung
mangroholo ini di salah satu suku Knasiamos, Papua.

Perjalanan yang tidak pernah terlupakan, tapi yang mesti dipikirkan adalah
cost yang snagat tinggi, untungnya aku dibiayai oleh kantor. Kalo ada teman
n teman yang butuh bantuan info tentang papua, mungkin aku bisa bantu
sedikit2 , dan itulah pengalaman solo travel pertama diriku, senang
bercampur dak dik duk...dan sangat menegangangkan berpetualang di alam liar
papua.

Regards

Harry 

_____ 

From: indobackpacker@ <mailto:indobackpacker%40yahoogroups.com>
yahoogroups.com [mailto:indobackpacker@
<mailto:indobackpacker%40yahoogroups.com> yahoogroups.com]
On Behalf Of harly ramayani
Sent: 19 Nopember 2008 16:01
To: indobackpacker
Subject: [indobackpacker] Re: Solo Traveller : trend baru?

Pengalaman pribadi saya 1 tahun terakhir ini nyoba backpacking
sendirian karena temen2 ga ada yang berani jalan2 berdasarkan info2
yang dikumpulin hanya dari internet, sedikit keberanian, rajin
bertanya ke penduduk lokal, mengumpulkan banyak brosur & petunjuk
jalan dan semuanya diurus sendiri tanpa agent dan tanpa teman2 di
tempat yang dikunjungi tsb.

Penjelajahan pertama kali ke luar negeri (Singapore, Malaysia, Thailand),
sebenernya sekarang lagi planning mencoba yang dalam negeri, tetapi
ternyata susah sekali mendapatkan info2 transportasi (angkot, bus,
kereta) dan hostel atau terpaksa memilih budget hotel. Rasa2nya kalau
dilihat dari sisi biaya keliling dalam negeri sama bahkan bisa lebih
mahal daripada ke luar negeri.
Sebagai contoh : hostel yang tidak terlalu banyak tersedia di
Indonesia, padahal akomodasi ini yang paling cocok buat solo traveler
dari pada budget hotel yang lebih cocok buat traveler yang
berkelompok.
Pertimbangan lainnya dalam hal keamanan untuk perempuan yang
backpacking seorang diri juga yang selalu menjadi ganjalan utama.

Saya sering mendapat tugas kantor untuk ke kantor2 cabang yang
tersebar di kota2 besar di Indonesia. Dikesempatan itu saya sering
bertanya kepada supir kantor atau teman2 dikantor2 cabang tentang
transport untuk berkeliling di kota tersebut, kebanyakan dari mereka
tidak terlalu tau rute2 angkot/bus.
Info2 transportasi itu juga sangat susah didapat jika melihat brosur2
yang didapat dari bandara2 di kota2 Indonesia (taraf internasional /
domestik), sedangkan brosur2 lengkap untuk transportasi ini sangat
mudah didapat di bandara luar negeri atau kantor tourism board.

Pengalaman seru saat imigrasi diperbatasan Sadao (Kedah,MY -
Songkhla,TH) naik taxi Kedah sendirian lalu di stop dan di tanya2
karena sedang ada razia, karena setiap weekend banyak wanita2 yang
pergi ke provinsi Songkhla untuk bekerja part-time di tempat karaoke2.
Tidak terlalu lama ditanya2 dan dapat ucapan selama berlibur dari Pak
Polisi setelah saya menunjukkan tiket pulang ke Indonesia.

Keuntungan cewe backpacking sendirian yang saya dapat pada saat di Hat
Yai mau pergi ke Patung Budha di puncak bukit, saya jadi di anterin
pake motor ama bapak2 yang awalnya cuma saya tanya2 gimana cara untuk
mendaki bukit itu. Turun dari bukit itu juga di anterin ama bapak2
penjaga kuil disana, sedangkan turis2 lain yang saya temui disana
semua menyewa taxi atau ikut tour harian :)

Dari backpacking ke luar negeri ini membuat saya menyadari kalau
tempat2 pariwisata Indonesia ga kalah dengan negara2 itu jika
informasi2 berupa brosur2 tempat2 wisata di berikan detil2
transportasi dan tarif tetap atau perkiraan tarif dari kendaraan2
tersebut. Supaya turis lokal dan LN yang solo traveler menjadi lebih
mudah menyalurkan hobi nya.

Dari beberapa kali perjalanan sendirian itu pengetahuan tentang suatu
daerah, budaya dan penduduknya jadi bertambah banyak dan pengalaman
itu terasa lebih seru jika dibandingkan travelling berkelompok.

Regards,
Harly (Mei)

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke