Thanks for sharing, Mendengar Papua dan Raja Ampat, mengingatkan aku pada email 
di milis sebelah, dimana atas sebuag usaha dari 1 orang berkebangsaan belanda, 
dan 1 orang berkebangsaan jerman untuk memperkenalkan raja 4 ke dunia luar, 
sehingga raja 4 mejadi cukup terkenal dan sempat mendapat award juga bantuan 
dari bank dunia, dan kalau tidak salah juga pernah di ulas di elshinta TV 

mungkin kin juga bisa menjadi motivasi buat IBP untuk membuat catatan 
perjalanan di daerah nya agr supaya lokasi wisata di daerah nya terkenal bisa 
dengan e-mail ke milis ini atau menuangkanya pada sebuah website, karena 
kebanyakan backpaker mencari infoemasi juga dari internet

misal bandung, ada apa dengan bandung kemudian bagaimana menempuhnya dan 
kisaran tarifnya 
mungkin ini akan sangat membantu, bukan hanya para backapker tapi juga 
wisatawan lain yang suka dengan kegiatan traveling 

bagaimana, ada yang mau cuba ?  


 


  ----- Original Message ----- 
  From: Harry Gunawan 
  To: 'indobackpacker' 
  Sent: Thursday, November 20, 2008 10:37 AM
  Subject: [indobackpacker] Alam Liar papua


  Numpang cerita juga ah, kurang lebih satu tahun yang lalu saya bepergian ke
  salah satu suku di papua, yaitu suku knasiamos di kepala burung, tepatnya di
  Kabupaetn sorong Selatan, ini merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten
  induk yang sebelumnya adalah Kabupaten Sorong. Di sorong sendiri ada
  beberapa kabupaten pemekaran lain, yaitu Kabupaten Raja Ampat. Tapi
  pengalama ini saya bepergian ke salah satu wilayah adapt suku Knasiamos
  yaitu wilayah adat Seremuk. 

  Memang yang menajdi kendala kalo mo traveling ke daerah papua adalah cost
  yang tinggi, kebetulan saya ada pekerjaan kantor dan juga memang ada teman
  orang local yang bisa membantu kalo mau mencari informasi tentang tempat2
  eksotik di Papua. Yang paling terkenal sih adalah Raja Ampat, karena
  memiliki trubu karang yang paling indah sedunia katanya. Kembali ke
  Knasiamos, suku ini berada di tengah hutan belantara, danuntuk mencapainya
  kita mesti melakukan perjalan selama 2-3 hari. Bisa jalan darat dan bisa
  juga jalan sungai, kalo jalan darat kita harus naik travel yang menuju
  Teminabuan dan selanjutnya kita akan naik ojek sampai di batas hutan dan
  melanjtkan perjalanan kurang lebih 1 hari. Kalo naik perahu kita akan
  menyusuri sungai Klamono yang berkelak kelok seperti ular, dan jalan yang
  kedua ini yang saya ikuti. 

  Wuih.sepanjang perjalanan menggunkan perahu temple orang local menyebutnya,
  yaitu perahu dari kayu dan menggunkan emsin speedboat, perjalan ini memakan
  waktu hamper 1 hari. Sepanjang perjalan kita akan melihat hal-hal yang
  sangat eksotik, kaya masyarakat adat papua yang naik perahu dan mendayung
  sambil ambil sagu sepanjang sungai kalmono, dan juga hutan nipah sejauh mata
  memandang. Mata kita dimanjakan oelh banyaknya satwa liar, seperti buaya,
  urung kakatua, cendrawasih yang masih terlihat di sepanjang sungai klamono
  ini. Pokoknya klo kita melihat filem nasional geografi, hampir kaya gitu deh
  suasananya. Dan bagi photografer pasti tidak mungkin meninggalkan moment2
  seperti ini. 

  Sekita jam 4 sore aku baru nyampe di muara sungai yang menuju kampung yang
  merupakan salah satu kampung pertaman sebelum ke kampung Mangroholo (nama
  kamung suku knasimos ini). Karena hari sudah hampir malam, dan ternyata air
  juga tidak mendukung untuk menyelusuri sungai sampai ujung, karena kena air
  surut, sehingga pilihanya adalah menginap dahulu satu malam di muara sungai
  sampai menunggu air naik lagi. Ternyata tidur diatas perahu juga menajdi
  pengalama yang sangat tidak mudah terlupakan, bergoyang-goyang karena ada
  gelombang, dan juga langsung mata dimanjakan oelh ribuan atau jutaan mungkin
  milyaran kunang-kunang di pohon, aku tadinya berpikir apakah ada kampung
  atau rumah yang penuh lampu, setelah aku liat lebih dekat ternyata satu
  pohon penuh dengan kunang-kunang, dan baru pertama kali ini aku melihat
  begitu banyaknya kunang-kunang yang memenuhi satu pohon, mungkin milyaran
  ekor. Gila bener...sangat menajubkan seperti pohon natal hidup, dalam hati
  aku berdoa, maha besar tuhan.

  Paginya aku baru menelusuri sungai, hampir 2 jam menggunkan perahu dan
  selanjutnya jalan kaki kurang lebih1 jam untuk sampai kampung yang pertaman,
  dan dari kampung ini menuju kampung mangraholo kurang lebih 6 jam perjalan
  yang penuh dengan darah-darah, karena banyak sekali pacetnya, jadi sore
  sampai dikampung seluruh kaki dari jempol sampai kelingking penuh darah dan
  lintah yang ngejendol sebesar jempol. Selama 3 hari aku berada di kampung
  mangroholo ini di salah satu suku Knasiamos, Papua.

  Perjalanan yang tidak pernah terlupakan, tapi yang mesti dipikirkan adalah
  cost yang snagat tinggi, untungnya aku dibiayai oleh kantor. Kalo ada teman
  n teman yang butuh bantuan info tentang papua, mungkin aku bisa bantu
  sedikit2 , dan itulah pengalaman solo travel pertama diriku, senang
  bercampur dak dik duk...dan sangat menegangangkan berpetualang di alam liar
  papua.

  Regards

  Harry 

  _____ 

  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
  On Behalf Of harly ramayani
  Sent: 19 Nopember 2008 16:01
  To: indobackpacker
  Subject: [indobackpacker] Re: Solo Traveller : trend baru?

  Pengalaman pribadi saya 1 tahun terakhir ini nyoba backpacking
  sendirian karena temen2 ga ada yang berani jalan2 berdasarkan info2
  yang dikumpulin hanya dari internet, sedikit keberanian, rajin
  bertanya ke penduduk lokal, mengumpulkan banyak brosur & petunjuk
  jalan dan semuanya diurus sendiri tanpa agent dan tanpa teman2 di
  tempat yang dikunjungi tsb.

  Penjelajahan pertama kali ke luar negeri (Singapore, Malaysia, Thailand),
  sebenernya sekarang lagi planning mencoba yang dalam negeri, tetapi
  ternyata susah sekali mendapatkan info2 transportasi (angkot, bus,
  kereta) dan hostel atau terpaksa memilih budget hotel. Rasa2nya kalau
  dilihat dari sisi biaya keliling dalam negeri sama bahkan bisa lebih
  mahal daripada ke luar negeri.
  Sebagai contoh : hostel yang tidak terlalu banyak tersedia di
  Indonesia, padahal akomodasi ini yang paling cocok buat solo traveler
  dari pada budget hotel yang lebih cocok buat traveler yang
  berkelompok.
  Pertimbangan lainnya dalam hal keamanan untuk perempuan yang
  backpacking seorang diri juga yang selalu menjadi ganjalan utama.

  Saya sering mendapat tugas kantor untuk ke kantor2 cabang yang
  tersebar di kota2 besar di Indonesia. Dikesempatan itu saya sering
  bertanya kepada supir kantor atau teman2 dikantor2 cabang tentang
  transport untuk berkeliling di kota tersebut, kebanyakan dari mereka
  tidak terlalu tau rute2 angkot/bus.
  Info2 transportasi itu juga sangat susah didapat jika melihat brosur2
  yang didapat dari bandara2 di kota2 Indonesia (taraf internasional /
  domestik), sedangkan brosur2 lengkap untuk transportasi ini sangat
  mudah didapat di bandara luar negeri atau kantor tourism board.

  Pengalaman seru saat imigrasi diperbatasan Sadao (Kedah,MY -
  Songkhla,TH) naik taxi Kedah sendirian lalu di stop dan di tanya2
  karena sedang ada razia, karena setiap weekend banyak wanita2 yang
  pergi ke provinsi Songkhla untuk bekerja part-time di tempat karaoke2.
  Tidak terlalu lama ditanya2 dan dapat ucapan selama berlibur dari Pak
  Polisi setelah saya menunjukkan tiket pulang ke Indonesia.

  Keuntungan cewe backpacking sendirian yang saya dapat pada saat di Hat
  Yai mau pergi ke Patung Budha di puncak bukit, saya jadi di anterin
  pake motor ama bapak2 yang awalnya cuma saya tanya2 gimana cara untuk
  mendaki bukit itu. Turun dari bukit itu juga di anterin ama bapak2
  penjaga kuil disana, sedangkan turis2 lain yang saya temui disana
  semua menyewa taxi atau ikut tour harian :)

  Dari backpacking ke luar negeri ini membuat saya menyadari kalau
  tempat2 pariwisata Indonesia ga kalah dengan negara2 itu jika
  informasi2 berupa brosur2 tempat2 wisata di berikan detil2
  transportasi dan tarif tetap atau perkiraan tarif dari kendaraan2
  tersebut. Supaya turis lokal dan LN yang solo traveler menjadi lebih
  mudah menyalurkan hobi nya.

  Dari beberapa kali perjalanan sendirian itu pengetahuan tentang suatu
  daerah, budaya dan penduduknya jadi bertambah banyak dan pengalaman
  itu terasa lebih seru jika dibandingkan travelling berkelompok.

  Regards,
  Harly (Mei)

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke