Saya sudah baca artikelnya. Sepertinya penulis merasa jengah dengan popularitas LP yang sukses menjadi 'buku suci' backpackers. Makanya dia lebih banyak menyoroti dampak negatif LP dengan asumsi nyaris semua backpackers menelan mentah2 isi LP. Dengan asumsi itu Agustinus Wibowo, sang penulis, berani menyatakan kadar ruh berpetualang dari para backpackers masa kini beda jauh dengan zaman dulu kala.
Saya berbeda pendapat. Karena berdasarkan pengalaman saya menggelandang di belasan negara ( tentu belum sebanyak si penulis artikel), hampir semua backpackers yang saya temui atau saya amati, tidak menelan mentah-mentah isi buku LP. Mereka juga cukup cerdas sehingga tak pernah berdebat soal selisih harga penginapan,makanan,transport dsb, hanya karena buku LP mereka bukan edisi terbaru. Karena mereka tak menelan mentah-mentah maka tersesat di jalan menjadi hal biasa. Makan atau menginap di tempat yang beda dengan yang terdaftar di LP juga acap terjadi. Bertanya alamat sampai ngobrol dengan penduduk lokal juga sering dilakoni selama menjalani petualangan mereka. Jadi, meski mereka memegang buku panduan yang sama, tetap saja pengalaman mereka beda-beda. Soal persaingan yang tidak sehat akibat penilaian LP ( atau buku panduan lain), saya malah melihat sebaliknya. Dengan adanya rekomendasi, setiap tempat berlomba untuk memberikan service dan kualitas layanan terbaik dengan harga tetap terjangkau. Bukankah itu kompetisi yang sehat ? Jadi kalau ada restoran/penginapan tidak dilirik oleh para backpackers sangat mungkin karena layanan mereka memang tidak memadai. Mati hidupnya sebuah restoran/penginapan bukan karena buku panduan (promosi), tapi lebih ditentukan oleh pelayanan. Sebab, berdasarkan pengalaman saya, saat backpacker menemukan resto/penginapan yang masuk list di panduan tak memuaskan, dia akan pindah mencari yang lebih oke. Jadi kata siapa backpackers generasi sekarang hanya menelan mentah2 buku panduan? Astari Yanuarti --- On Fri, 12/5/08, Stephanie Sisca <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Stephanie Sisca <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [indobackpacker] Backpacking yang hanya ikut buku panduan To: [email protected] Date: Friday, December 5, 2008, 7:11 AM Baru saja saya membaca tulisan mas Agus Weng di Kompas.com. Judulnya: Hidup Menurut Buku Panduan. Tulisan itu membuka mata saya, bahwa menjadi backpacker itu tidak selalu harus mengikuti buku panduan. Kalau seorang backpacker hanya tergantung semata-mata pada buku panduan seperti Lonely Planet, dia tidak akan punya semangat menggali dan mengeksplore sendiri. Karena apa yang ada dibuku panduan itulah yang akan diikuti. Mau cari hotel atau penginapan, lihat dulu buku panduan. Jadi hotel-hotel dan restoran yang ada dalam buku panduan semakin laris, sementara yg nggak masuk buku akan tersingkir. Ada persaingan yang tidak sehat akan terjadi. Semangat petualangan untuk mengalami sesuatu yang baru, yang orisinal kita temukan sendiri menjadi hilang. Padahal dengan penemuan kita sendiri, petualangan kita akan lebih seru. Kalau kita berhasil menginap ditempat yg kita temukan sendiri ketika tersesat dijalan, makan di warung dipinggir jalan misalnya...akan jauh lebih menarik daripada hanya mentah-mentah ikut rekomendasi buku panduan. Artikel lengkapnya disini: http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 12/02/0759116/ titik.nol. 87.hidup. menurut.buku. panduan Salam, Sisca _
