Cuman sedikit memberikan kontribusi, Sepanjang saya ber-pergian, dalam dan luar negeri, terus terang saya tidak pernah membeli atau membawa LP / atau buku apapun sebagai petunjuk. Seringnya saya mempunyai memo sendiri yang berisi sedikit riset saya tentang daerah tersebut.
riset itu kini sudah makin gampang, dengan kencangnya internet dan informasi yang ada, saya bayangkan jaman sebelum th 93-95 ketika saya harus ke perpustakaan atau nanya2 ke orang ketika mau bepergian. sebenarnya alasan saya kenapa saya tidak memberi LP adalah, 1.harganya lumayan, untuk saya yang selalu ambil budget traveling....harga tersebut sudah bisa buat nginep di dorm 1 hari + lunch. 2.saya punya ketertarikan spesifik terhadap daerah yang saya kunjungi, jadi info itu bisa saja tidak lengkap di LP ataupun LP menyediakan info yg terlalu banyak, hingga yg terjadi bukan informasi tapi noise. 3. saya lebih suka info saya gali dari orang lokal, misal petugas youth hostel yang hampir pasti selalu dengan ringan memberi info, atau dengan berkenalan di jalan (saya selalu berhasil nambah teman native di setiap negara / kota yang saya kunjungi,....kecuali Singapore) - contoh yg mengagumkan baru terjadi 2 minggu yg lalu, ketika saya kenalan dengan seorang wanita di Airport frankfurt waktu transit hendak ke Mexico city,...nah ternyata dia adalah yg punya salah satu resto paling original di Mexico yg punya culinary2 pre-spanish....jadi masih ada masakan Telor Semut, Belalang, dan sebagainya... 4. yang saya heran, terus terang, karena saya suka traveling alone dan selalu menjadi penghuni Youth Hostel Dorm dimana2, (walaupun saya sudah bukan youth lagi) saya belum pernah sekalipun ketemu dengan orang Indonesia...padahal mungkin musimnya dan destinasinya lumayan yang rame...dari ASEAN saya yg pernah ketemu hanya orang Malaysia di sebuah youth hostel di Paris. bukannya saya anti LP,...tapi ya begitulah, saya agak kurang suka diatur, walaupun oleh buku, hehehhee...kan tiap hari udah diatur orang lain di kantor.....masa liburan diatur orang lain, no offense... Cheers, Tito --- On Thu, 12/4/08, Astari Yanuarti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Astari Yanuarti <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [indobackpacker] Backpacking yang hanya ikut buku panduan To: [email protected] Date: Thursday, December 4, 2008, 10:35 PM Saya sudah baca artikelnya. Sepertinya penulis merasa jengah dengan popularitas LP yang sukses menjadi 'buku suci' backpackers. Makanya dia lebih banyak menyoroti dampak negatif LP dengan asumsi nyaris semua backpackers menelan mentah2 isi LP. Dengan asumsi itu Agustinus Wibowo, sang penulis, berani menyatakan kadar ruh berpetualang dari para backpackers masa kini beda jauh dengan zaman dulu kala. Saya berbeda pendapat. Karena berdasarkan pengalaman saya menggelandang di belasan negara ( tentu belum sebanyak si penulis artikel), hampir semua backpackers yang saya temui atau saya amati, tidak menelan mentah-mentah isi buku LP. Mereka juga cukup cerdas sehingga tak pernah berdebat soal selisih harga penginapan,makanan, transport dsb, hanya karena buku LP mereka bukan edisi terbaru. Karena mereka tak menelan mentah-mentah maka tersesat di jalan menjadi hal biasa. Makan atau menginap di tempat yang beda dengan yang terdaftar di LP juga acap terjadi. Bertanya alamat sampai ngobrol dengan penduduk lokal juga sering dilakoni selama menjalani petualangan mereka. Jadi, meski mereka memegang buku panduan yang sama, tetap saja pengalaman mereka beda-beda. Soal persaingan yang tidak sehat akibat penilaian LP ( atau buku panduan lain), saya malah melihat sebaliknya. Dengan adanya rekomendasi, setiap tempat berlomba untuk memberikan service dan kualitas layanan terbaik dengan harga tetap terjangkau. Bukankah itu kompetisi yang sehat ? Jadi kalau ada restoran/penginapan tidak dilirik oleh para backpackers sangat mungkin karena layanan mereka memang tidak memadai. Mati hidupnya sebuah restoran/penginapan bukan karena buku panduan (promosi), tapi lebih ditentukan oleh pelayanan. Sebab, berdasarkan pengalaman saya, saat backpacker menemukan resto/penginapan yang masuk list di panduan tak memuaskan, dia akan pindah mencari yang lebih oke. Jadi kata siapa backpackers generasi sekarang hanya menelan mentah2 buku panduan? Astari Yanuarti
