Kalau cuma punya 1 pekan sebaiknya fokus ke salah satu saja: Kathmandu atau 
Lhasa.  Kathmandu atau Lhasa memang identik dengan Nepal dan Tibet.  Di paruh 
awal 90-an di Lombok ada slogan "di Lombok Anda bisa melihat Bali", di 
Kathmandu pun kita bisa melihat (sebagian) dari Tibet.  Di sebelah timur 
Kathmandu, paling tak sampai 6km di luar kota, ada komunitas orang Tibet 
bernama Boudnath (Buddha).  Keempat sekte Buddha Tibet (Gelugpa, Nyigmapa, 
Kargyupa, Sakyapa) punya gompa di sana.  Di sana ada stupa besar dan setiap 
saat ada ritual yang serupa dengan yang dilakukan orang di depan Podrang Potala 
maupun Jokhang.

Jika 1 pekan tetap dipaksakan mau Kathmandu - Lhasa, jalan darat via Friendship 
Highwaynya saja makan waktu sekitar 5 hari.  Itu baru jalannya, belum keribetan 
administrasinya.  Dalam situasi sekarang boleh jadi untuk urusan Tibet Permit 
hanya perlu 2-3 hari.  Tapi jangan lupa, untuk masuk Tibet orang tetap harus 
punya visa Cina.

Bagaimana kalau dari Cina?  Saya kurang tahu situasinya sekarang.  Boleh jadi 
aturan masuk ke Tibet agak lebih longgar ketimbang tahun lalu.  Juni 2008 lalu 
saya masuk lewat Chengdu.  Di Chengdu ada hostel yang pemiliknya orang 
Singapura.  Hostel inilah yang menguruskan Tibet Permit.  Tak seperti yang 
ditulis panduan bahwa orang tak pernah bisa melihat seperti permit itu.  Oleh 
pemilik hostel, permitnya sempat diperlihatkan tapi saya tak boleh mengopy atau 
memotret untuk arsip.  Permit itu dikeluarkan dari Lhasa (dikirim lewat 
faksimili), tertulis dalam huruf Tibet (yang konon turunan dari huruf 
Dewanagari).

Saat itu, karena menjelang Olympiade dan 3-4 bulan sebelumnya di Lhasa pecah 
kerusuhan, perlu 3 hari untuk ngurus Tibet Permit.  Setelah permit didapat 
masih ada beberapa syarat lagi.  Orang asing hanya bisa masuk Lhasa via udara.  
Ini bisa dimaklumi agar memudahkan pengawasan.  Orang hanya bisa membeli tiket 
pesawat jika bisa menunjukkan Tibet Permit.

Apa setelah tiket dan permit didapat semuanya lancar?  Saya sempat 5 kali 
di-pingpong (bahasa Mandarin untuk Tenis Meja) di counter check in.  Diminta 
pindah ke sana, ke sini, menghubungi manager in duty.  Hampir saja nyerah dan 
balik kanan ke hostel sebab 15 menit pesawat akan take off belum juga bisa 
check in.  Ransel sudah saya bawa ke luar bandara, tapi untung istri masih mau 
nyoba sekali lagi.  Akhirnya kami dibolehkan check in.  Selesai?  Pemeriksaan 
masuk ruang tunggunya seketat mau masuk US.  Sepatu, kaos kaki, jaket, bahkan 
'bagasi bimbit' harus ditunjukkan isinya satu per satu pada petugas.  
Malangnya, karena tergesa-gesa, obat batuk anak sayapun kena cekal.

Salam dari Sangatta
6-Januari-2009  


 



________________________________
From: teresita listyani <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, 5 January 2009 8:12:00
Subject: Re: [indobackpacker] Nepal / Tibet?


Mbak Elok, Mas Rio, Mas Yudhi, Mas Puguh
 
Thanks heaps for the quick reply... Saya perlu mencerna info-info ini dulu, and 
shall return to you soon with more questions :-D Makasih juga kalau temans yang 
lain masih ada yang mau berbagi info.
 
Sepertinya memang sulit untuk masuk ke Tibet, tapi SAYA BELUM MENYERAH...
 
Oh ya, salut untuk member-member indobackpacker yang sangat responsif..
 
salam,
-tereSita-


Recent Activity
        *  94
New MembersVisit Your Group 
Yahoo! News
Fashion News
What's the word on
fashion and style?
Yahoo! Finance
It's Now Personal
Guides, news,
advice & more.
Yahoo! Groups
Going Green Zone
Learn to go green.
Save energy. Save the planet.
. 
 


      ______________________________________________________________________
Search, browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel.
http://sg.travel.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke