Salam Backpacking,
Minggu lalu salah satu kawah terbesar di area komplek kawah sikidang yaitu
kawah sibanteng meletus yaitu pada sore hari tanggal 17 jan, untungnya sedang
tidak ada pengunjung dan suasana sedang sepi, karena sedang hujan dan orang
enggan kekawah. Tiba tiba ada suara dentuman keras seperti ledakan menyembur
keatas, dan ada lontaran mud volcano,gas dan material dari dalam kawah
sibanteng.
Akibat dari letusan ini, adalah mengakibatkan orang yang berada disekitar kawah
sibanteng berhamburan melarikan diri, dan menjauh dari radius gas yang bisa
mengandung racun sianida dikawatirkan seperti letusan sebelumnya yang
mengandung gas beracun sianida dan membunuh banyak penduduk disekitar dieng.
Untuk kondisi saat ini kompleks dieng adalah ditutup untuk wisata, dan hanya
diperbolehkan berada dalam radius aman 300 mtr dari kawah. Jadi bisa mendekati
kawah dan berdiri melihat dari puncak bukit misalnya.Jadi untuk teman yang mau
backpacking kesana disarankan pergi minggu depan saja, dan usahakan tinggal di
Dieng dan harus pagi sekali jalan mendekati kawah, karena cuaca selalu kabut.
Pengalaman saya, begitu mendengar kabar ada kawah meletus di Dieng, saya
langsung meluncur kesana, karena kebetulan saya tinggal di Yogya, dan hanya
berjarak 3 hours lewat jalan pintas dengan motor. Hobbi saya memang adalah
mengejar gunung atau kawah yang aktif, atau yang mau meletus. Dan kalau
mendekati kawah usahakan menggunakan masker dan kacamata.
Saya tiba di Dieng pukul 5 pagi hari, cuaca sangat dingin karena di Dieng
ketinggian paltonya sudah + 2200 m, dan sangat berkabut. Disini saya sengaja
datang subuh pagi untuk menghindari petugas atau polisi yang memblokade area
itu. Kemudian saya mengambil jalan alternatif yang ke desa, dan trekking
sedikit menuju ke kawah lewat geothermal pipe dekat kawah.
Disana ternyata hanya ada satu orang, yang datang bersamaan dengan saya, dan
ternyata adalah jurnalis. Dan kami menelusuri kondisi kawah berdua dan
mengambil foto. Kondisi kawah sudah sangat lebar dan membesar, dengan diameter
12 mt, sedangkan dulunya hanya 1 m. Siencetificaly: Letusan yang terjadi adalah
tipe letusan Phreatic, yang disini diakibatkan oleh hujan yang deras dan
menumpuk memenuhi luang kawah, dan material tanah erosi yang dibawa dari atas
bukit. Disini menimbulkan penumpukan yang mengakibatkan tersumbatnya lubang
kawah, dan tidak mengalirnya aliran lumpur panas dan gas untuk keluar. Dan
diakibatkan oleh tekanan magma yang terus mendesak untuk keluar, maka
terjadilah penumpukan kekuatan dan meletus disertai tekanan gas yang kuat
keatas, dan membongkar sisi kawah disekitarnya.
Letusan ini biasa terjadi dari kawah yang berupa danau atau kawah yang berisi
larutan, seperti juga di kawa Ijen, dan kawah Kelud. tetapi di Kelud, sekarang
menimbulkan bahan pertanyaan para peneliti, karena tipe letusan yang berubah
dan membuat fenomena baru. Yang tadinya bertipe phreatik tetapi berubah dengan
akmulasi lava dome..????
Ok deh..ayo backpacking kesana....kalau saya jelaskan semua nanti masih
panjang..he..he
Salam
Andi
[Non-text portions of this message have been removed]