Mas Puguh saya juga sering "ngiri" sama pelancong2 yg liburnya sampe bulan2an gitu hehe. Setahu saya untuk di Indonesia memang beluma da yg menerapkan hal seperti ini. Mungkin karena hal pencarian jati diri masih kurang diperhatikan disini.
Untuk cuti diluar tanggungan, dulu di tempat kerja saya ada hal begini. Tapi ini khusus jika kita memiliki hal2 yang urgent seperti sakit keras yang berkepanjangan. Inipun dibatasi, jika kita terlalu lama cuti diluar tanggungan, bisa-bisa kita dipanggil HRD sambil ditanya, "Jadi gimana? masih niat nggak kerja disini??" Tapi hal terakhir yang dibilang Mas Puguh saya setuju. Kadang kita butuh waktu untuk "sharping the saw'. Malahan kalau di tempat saya kerja dulu, jangankan Sabatical Leave, cuti seminggu buat pulang kampung aja susahnya minta ampun. Musti booking cuti berbulan2 sebelumnya. Mirip booking tiket promo gitu hehe.. Percaya nggak percaya hal inilah yang jadi salah satu pemicu saya untuk keluar dari perusahaan saya dulu Yudasmoro Minasiani www.mahavishnu8.multiply.com 0812 100 100 23 --- On Fri, 8/14/09, puguh_imanto <[email protected]> wrote: From: puguh_imanto <[email protected]> Subject: [indobackpacker] Sabatical Leave (was: Re: Jumlah minimun) To: [email protected] Date: Friday, August 14, 2009, 6:32 AM Temans, Beberapakali saya mendengar pengelana dari negara maju yang bisa pergi sekian lama karena mengambil 'sabatical leave'. Cuti selama sekian bulan dan nanti kembali ke tempat kerjanya. DI indonesia sabatical leave tampaknya belum banyak diadopsi dalam peraturan kepegawaian. Saya pernah dengar kalo pegawai negri punya "cuti di luar tanggungan kantor" tapi saya kurang jelas apakah ini bisa dikatagorikan seperti sabatical leave. Kalopun sudah ada aturan didalam pedoman kepegawaian, biasanya si pegawai yang takut untuk mengambil 'sabatical leave', karena takut mejanya diambil orang... Mungkin karena sulitnya mendapat pekerjaan di negara berkembang seperti Indonesia dan hasil kerja yang secara financial yang tidak memungkinkan untuk melakukan bertahan lama tanpa mendapatkan penghasilan bulanan tetap. PAdahal, saya lupa baca dimana, sabatical leave terbukti bagus buat si pemberi kerja dan si pekerja, karena memberikan kesempatan untuk si pekerja menemukan kembali apa yang dia mau lakukan dalam hidupnya, dan buat si organisasi, orang yang jenuh cenderung turun produktifitasnya, dan pikirannya hanya menunggu pensiun...dan mencari kesempatan menyalahgunakan wewenang...kalo bisa... tabik, Puguh --- In indobackpacker@ yahoogroups. com, Putrimona Minarosa <putrimonam502@ ...> wrote: > > Adakah perusahaan di sini yang memberi cuti sampai 3 bulan ? > Ada, mas Joko, secuti-cutinya. > Saya pernah dapat satu bulan aja, bikin iri kawan di kantor dan diluar. > Ada juga salah satu anggota di sini, karena dapat undangan utk Schengen, > hanya minta 2 minggu ke kantor utk cuti, nggak dikasih. Karena ticket sudah > dibeli, > visa sudah dapat, akhirnya, dipilih untuk jalan-jalan dan secuti-cutinya. > Balik Jakarta, cari kerja lagi. > >
